Menjadi seorang single parent tak membuat Alleyah berkecil hati. Ia justru semangat dalam usahanya untuk mendapatkan kebahagiaan bagi dirinya dan juga putrinya yang masih berumur enam tahun.
Pekerjaan menjadi seorang sekretaris dari bos yang arogan tak menyurutkan tekadnya untuk terus bekerja. Ia bahkan semakin rajin demi rupiah yang ia harapkan untuk memenuhi kebutuhan dirinya dan juga anaknya.
Namun, perjuangannya menjadi single parent tak semudah bayangannya sebelumnya. Ditengah isu yang merebak di kantornya dan juga imej seorang janda memaksanya menjadi wanita yang lebih kuat.
Belum lagi ujian yang datang dari mantan suaminya, yang kembali muncul dan mengusik hidupnya.
Mampukah, Alleyah bertahan dan mampu memperjuangkan kebahagiaannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon annin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.13 Kembali Kerja
Masa cuti Alle sudah berakhir, setelah kemarin ia meminta tambahan cuti satu hari lagi pada bosnya. Alle ingin menemani Chilla sampai putrinya itu keluar dari rumah sakit.
Hari ini, setelah kembali bekerja, ia langsung menemani Aksa meninjau tempat yang akan jadi proyek baru mereka. Rencananya mereka akan membangun perumahan bersubsidi untuk menyasar para karyawan atau masyarakat ekonomi menengah. Ditemani oleh seorang arsitek dan juga mitra bisnis yang akan bekerja sama mengembangkan proyek ini, Alle dan Aksa terlihat bersemangat.
"Menurut saya, perumahan bersubsidi ini memang memiliki keuntungan yang tidak terlalu besar, tapi dalam hal pemasaran akan lebih mudah. Sebab sasaran kita adalah para pekerja pabrik atau karyawan kantor, di mana mereka berpemikiran memiliki gaji tetap untuk bisa mengatur keuangan. Jadi, meski keuntungannya tidak bisa dibandingkan dengan proyek pembangunan apartemen, tapi saya yakin jika proyek ini akan sukses dan membuat perusahaan kita akan semakin maju," ujar Alle ikut meyakinkan.
Terlihat raut percaya dari Pak Dirga, calon mitra yang akan diajak untuk bekerja sama dalam proyek ini. "Baiklah, nanti kita urus kontrak kerjasama kita di kantor saja. Sesuai dengan berkas pengajuan kemarin mungkin harus ada sedikit yang dirubah dari isi yang tertera."
"Baiklah, Pak. Nanti kami akan datang membawa berkas-berkas untuk kerjasama kita ini ke kantor Bapak," jawab Alle.
Pak Dirga mengangguk setuju.
Pak Andika sebagai orang yang akan mendesign perumahan itu juga setuju dengan pemikiran Alle. Ini bukan kali pertama arsitek itu bekerjasama dengan perusahaan milik Aksa, dan ia selalu yakin jika proyek-proyek yang Aksa jalankan selalu berhasil.
Di samping Alle ada Aksa yang terus memperhatikan sang sekretaris dengan tatapan kagum. Alle sangat membantu pekerjaannya, tak jarang sekretarisnya ini bisa ikut menyakinkan calon mitra untuk men-deal-kan suatu proyek.
"Pak ... Pak Aksa." Alle menepuk bahu Aksa setelah memanggil pria itu beberapa kali.
"Eh ... iya," Aksa tersentak.
"Mari kembali ke kantor," ajak Alle.
Aksa yang baru tersadar dari lamunannya melihat Pak Dirga dan Pak Andika sudah berjalan lebih dulu meninggalkan lahan yang mereka tinjau. Ada rasa sedikit malu tapi tak ingin Aksa perlihatkan, ia tetap harus menjaga wibawanya meski ketahuan melamun. Dengan angkuhnya Aksa berjalan lebih dulu dan meninggalkan sekretarisnya di belakang.
Alle yang sudah hapal di luar kepala sikap dari bosnya hanya bisa geleng-geleng kepala.
Dalam perjalanan menuju kantor, Alle yang duduk tepat di samping Aksa mengucapkan terima kasih atas hadiah Aksa untuk Chilla. Tidak disangka jika bos dingin dan arogannya ini bisa juga perhatian pada anaknya.
"Saya tidak menyangka Bapak pandai dalam memilih boneka. Chilla senang sekali mendapat hadiah dari Bapak," ujar Alle sembari menoleh agar bisa melihat Aksa yang sekarang sedang mengemudi.
Tidak biasanya pria ini mengemudi sendiri karena ada supir yang selalu mengantar ke mana-mana. Namun, tadi sebelum pergi ke proyek, Aksa menolak untuk diantar supir. Ingin menyetir sendiri katanya.
"Bukan aku yang pilih bonekanya, aku meminta bantuan Silvi agar membeli hadiah itu dan mengirimnya ke rumahmu. Tantu saja supaya anakmu tidak mengataiku pelit karena datang tanpa membawa apa pun kemarin," jawab Aksa jujur.
Alle tersenyum tipis. Ia sudah tahu jika hadiah-hadiah itu bukan Aksa yang membelinya apa lagi memilihnya, pasti bos kaya ini meminta bantuan orang lain. Sebab tidak mungkin Aksa bisa memilih boneka barbie yang begitu pas dan disukai oleh Chilla.
"Siapa pun yang beli, hadiah itu atas nama Bapak jadi tetap saya harus berterima kasih pada Bapak."
Aksa menoleh ke samping sembari mengangkat bahunya.
"Chilla titip salam buat Bapak, dia mengucapkan terima kasih banyak atas hadiahnya."
"Hmmm."
Sampai di kantor, Alle dan Aksa yang berjalan beriringan membuat sebagian orang yang melihatnya langsung memberikan tatapan iri. Rupanya gosip tentang kedekatan Alle dan atasannya belum juga reda. Bahkan mungkin makin deras saja gonjang-ganjing tentang mereka berdua. Terlebih hari ini kabar tentang Aksa yang tidak mau ada supir di antara mereka. Semakin menambah kecurigaan dan prasangka-prasangka buruk antara Alle dan Aksa.
Walaupun mendengar kabar-kabar miring tentang kedekatan dirinya dan Aksa, Alle berusaha mengabaikan. Toh, semua itu hanya gosip belaka. Sebab ia tak merasa demikian. Fokus Alle adalah mempertahankan kinerjanya sebaik mungkin agar ia bisa terus dipakai di perusahaan ini. Sebab di sini lah Alle mengais rejeki.
Dari perusahaan Aksa ini, Alle bisa bertahan selama hampir empat tahun tanpa suami. Janji Fadil yang dulu akan memberikan nafkah setiap bulan pada Chilla, rupanya tinggal janji belaka.
Mantan suaminya itu hanya tiga kali memberikan nafkah untuk Chilla, setelah itu tidak ada kabar apa lagi transferan. Pria itu mendadak menghilang bak di telan bumi. Alle tak tahu lagi nomor Fadil yang bisa dihubungi.
Sejak itulah Alle tak lagi mau bergantung pada mantan suaminya itu untuk memberikan nafkah bagi putri semata wayangnya. Ia bekerja dan siap mengambil lembur, semua demi Chilla dan masa depan mereka.
Untuk Chilla, Alle bahkan melupakan tentang urusan pribadinya. Hampir empat tahun menjanda, tak sekali pun Alle menjalin hubungan dengan seorang pria.
Bukan karena tidak ada yang mendekati, justru banyak pria yang tertarik dengan Alle. Entah itu rekan kerjanya atau bahkan dulu ada tetangga yang terang-terangan ingin melamar Alle yang belum lama menjanda. Namun, Alle menolak mereka semua dengan halus.
Luka yang dulu dibuat oleh mantan suaminya ternyata masih membekas. Kenangan tentang pengkhianatan membuat Alle tak berani mengambil langkah cepat dalam menerima tawaran sebuah hubungan.
Terlebih ada Chilla bersamanya. Ia juga harus memikirkan putrinya tersebut. Kebahagiaan Chilla lebih utama dari sekedar urusan percintaannya.
"Hari ini kamu boleh pulang cepat, tidak ada lembur. Pasti Chilla sudah menunggumu di rumah," ujar Aksa ketika jam pulang kerja sudah tiba.
Mata Alle berbinar mendengarnya. "Terima kasih, Pak."
Alle keluar dari ruangan Aksa setelah menyerahkan berkas-berkas pekerjaannya. Meninggalkan pria itu sendiri saja di kantornya.
Alle segera membereskan segala barang-barangnya. Memasukkannya ke dalam tas dan bersiap pulang. Seperti biasa Alle memesan taksi online. Sebelumnya ia mampir dulu untuk membeli martabak manis kesukaan Chilla.
Tak terbayang dalam pikirannya betapa Chilla akan senang melihatnya pulang cepat dan membawa martabak cokelat-keju kesukaannya. Senyum di bibir Alle terus terukir membayangkan.
"Chilla pasti suka," ucapnya dalam hati.
Sampai di depan rumah, Alle berseru dengan lantang. "Chilla, Mama pulang, Sayang."
Langsung Alle membuka pintu rumahnya. Matanya membelalak lebar seketika. Bibirnya tak mampu berkata-kata. Martabak di tangannya langsung terjatuh begitu saja melihat sang putri duduk bersimpuh di ruang tamu rumahnya.
"Chilla," lirihnya.
harta juga nggak jadi penolong Fadil diakhir hidup nya.