NovelToon NovelToon
Menjadi Petani Sukses ( Sistem Bertani )

Menjadi Petani Sukses ( Sistem Bertani )

Status: tamat
Genre:Hiburan / Balas dendam. / Tak berguna / Fantasi Urban-Mendadak kaya / Fantasi Urban-Mengubah takdir / Sistem / Tamat
Popularitas:920k
Nilai: 4.8
Nama Author: tompealla kriweall

Jamal, pemuda desa yang tidak diperbolehkan ibunya untuk pergi bekerja ke kota. Mengikuti jejak teman-temannya yang lain.

Alasan ibunya sangat klise. Dia tidak mau jauh-jauh dengan anaknya itu. Padahal Jamal juga tidak bisa melakukan apa-apa di desanya. Karena sedari kecil, Jamal memang anak yang bodoh.

Tapi karena suatu kejadian, Jamal mendapatkan sistem bertani secara tidak sengaja.

Mampukah Jamal yang bodoh mengikuti aturan sistem bertani yang dia miliki?

Atau, dia akan menjadi pongah? hanya karena merasa lebih hebat dari temannya yang lain.

Yuk ikuti perjalanan Jamal. Pemuda desa yang ditolak para gadis-gadis, karena hanya berkubang dalam lumpur sawah saja.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tompealla kriweall, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Cinta Nyasar

"Silahkan duduk sini!"

Jamal berdiri, dan meletakkan piringnya. Dia mengurungkan niatnya untuk makan siang, sebab ada tamu yang datang.

Meskipun tamu tersebut hanya teman sepermainan, tapi tentunya tidak sopan jika harus makan sendirian juga.

"Kalian ikut makan ya!" ajak Jamal, yang sekarang beranjak dari tempat duduknya. Dia berniat untuk pergi menemui Ami nya, untuk menyiapkan makan siang tamunya.

"Eh, gak usah Mal! Kita cuma mampir tadi. Itu lho, liat rumah Kamu yang sedang direnovasi. Apa mau diperbesar juga?"

Hendra gegas menyahuti ajakan Jamal, yang meminta dirinya dan juga Lina untuk ikut makan siang bersama dengan Jamal.

"Ah gak kok. Gak cukup uangnya untuk renovasi rumah. Maksudnya bongkar dan diperbesar juga. Kapan-kapan ajalah. Yang penting ini gak bocor lagi pas musim ujan."

Hendra mengangguk-anggukkan kepalanya, mendengar penjelasan yang diberikan oleh Jamal padanya.

"Oh ya, memangnya mau ke mana Kamu Hen?" tanya Jamal ingin tahu. Dia tidak melihat ke arah Lina, yang sedari diam saja di sampingnya Hendra.

"Ini, mau pergi sama Lina ke pasar. Sebenarnya sih mau ngajak Kamu juga. Tapi udah siang, Kamu juga sibuk pastinya kan!"

Hendra mengatakan niatannya yang tadi. Meskipun pada akhirnya mengurungkan niatnya juga.

"Iyalah. Aku gak mungkin gak sibuk. Secara ini ada tukang. Jika sudah selesai pun, Aku sama Ami harus beres-beres biar cepat rapi."

"Oh, ya sudah. Aku lanjut jalan ya!"

Hendra pamit pada Jamal. Tapi Lina tetap diam dan tidak mengatakan apa-apa pada Jamal. Yang melirik-lirik ke arahnya.

"Iya-iya silahkan. Hati-hati ya di jalan!"

Hanya itu yang bisa dikatakan Jamal, di saat Hendra pergi bersama Lina. Meskipun sebenarnya dia merasakan rasa sedih di dalam hatinya.

Lina adalah gadis yang masih ada di dalam hatinya hingga saat ini. Meskipun Lina sendiri tidak pernah menyukai dirinya. "Lalu, bagaimana dengan Hendra sendiri?" gumam Jamal bertanya.

Jamal hanya bisa menghela nafas panjang. Karena dia tidak mungkin mengatakannya pada Lina juga.

Takutnya, Lina justru salah paham dan menganggapnya sebagai perusak hubungan antara dirinya dan Hendra.

"Jamal, makan nya udahan belum? ada Handra sama Lina kan tadi, ajak makan sekalian aja!" Dari arah dapur, Umi berteriak meminta Jamal untuk mengajak kedua tamunya tadi untuk ikut makan bersama.

"Hendra sama Lina udah pergi Ami," sahut Jamal dari tempatnya duduk.

"Oh ya sudah. Kamu buruan makannya! Setelah itu bantu Ami beresin kamar. Atapnya mau di ganti sama pak tukang."

"Iya Ami."

Akhirnya Jamal melanjutkan makannya, meskipun sudah tidak lagi berselera. Tapi dia tidak mau melihat makanan yang terbuang begitu saja. Karena Jamal sangat tahu, bagaimana susahnya menanam padi hingga bisa menjadi nasi. Seperti nasi yang ada di dalam piringnya saat ini.

*****

Di perjalanan menuju ke pasar.

Hendra dan Lina berdebat tentang acara lamaran yang akan mereka adakan sekitar seminggu lagi.

"Kamu sudah bilang sama ibu dan bapakmu?" tanya Hendra pada Lina.

"Belum Mas."

Mendengar jawaban yang diberikan oleh Lina, tentu saja membuat Hendra bingung. Sekarang, dia menghentikan sepeda motornya ke tepi jalan.

"Maksud Kamu bagaimana Lina? Kamu minta Aku untuk segera melamar. Tapi Kamu gak bicara sama orang tua Kamu. Ini maksudnya bagaimana?"

Hendra tidak habis pikir, mengapa Lina yang minta di lamar olehnya, tapi ternyata tidak memberitahu pada kedua orang tuanya sendiri. Yang seharusnya tahu, sebelum Hendra datang melamarnya ke rumah.

"Aku... Aku takut Mas."

"Takut apa?" tanya Hendra cepat. Dia merasa jika Lina sedang mempermainkan perasaannya saja.

"Aku... Aku takut, jika Mas Hendra hanya main-main dengan Lina. Makanya Lina pengen Mas Hendra datang untuk melamar Lina sama bapak."

"Yasalam... Lina! Jadi ini hanya gertakan saja? Cuma buat meyakinkan hati Kamu, apakah Aku serius atau tidak dengan Kamu. Begitu ya?" tanya Hendra cepat.

Dia merasa dipermainkan oleh Lina.

Lina menganggukkan kepalanya dengan takut-takut. Dia tahu jika dia salah. Karena tidak jujur dengan Hendra, jika dia hanya ingin menyakinkan dirinya sendiri dengan hubungan mereka ini.

"Kenapa Kamu ragu dengan hubungan kita ini Lina?" tanya Hendra lagi, yang sedari awal memang tidak ada cinta dengan Lina.

Dalam hati dia pun berharap, agar Lina memutuskan hubungan mereka saja. Dari pada harus setengah hati dan membuat Jamal bersedih hati.

"A_Aku sebenarnya hanya ingin memastikan, apakah mas Hendra sungguh-sungguh. Atau hanya merasa tidak enak hati, saat Aku spontan mengatakan suka sama mas Hendra."

Penjelasan yang diberikan oleh Lina, membuat Hendra menepuk keningnya sendiri. Menyadari kekeliruannya pada waktu itu.

"Jadi... sebenarnya Kamu itu sukanya sama Jamal atau Aku sih Lin?" tanya Hendra gemas.

"Waktu itu kan mas Jamal nembak di warung. Ada orang banyak. Aku malu lah Mas, jika langsung menerima mas Jamal."

"Lagian ya, waktu itu mas Jamal habis kalian olok-olok. Karena dia hanya kerja di sawah. Ya Aku pikir emang bener sih dia cuma kerja di sawah, jadinya gak bisa modis."

Hendra masih mendengar penjelasan yang diberikan oleh Lina padanya. Dia juga tidak pernah sejauh itu berpikir, jika olok-oloknya pada Jamal waktu itu, membekas di hati Lina.

"Lalu?" tanya Hendra, yang menginginkan Lina untuk melanjutkan penjelasannya lagi.

"Aku malu jika menerima mas Jamal. Makanya Aku pura-pura bilang, jika Aku lebih milih mas Hendra. Toh setelah itu mas Hendra balik ke kota lagi dalam waktu yang lama."

"Tapi ternyata setelah itu, Jamal tidak lagi mau bicara denganku. Cuek dan sepertinya dia marah gitu sama Lina, Mas Hendra. Bagaimana ya sebaiknya?'

Dengan menghela nafas panjang, kemudian membuangnya perlahan-lahan, Hendra mengelengkan kepalanya beberapa kali. Dia sangat terkejut dengan pengakuan Lina kali ini, yang ternyata hanya menggunakan dirinya sebagai alat untuk menguji sejauh mana perasan Jamal padanya.

Dia yang sudah merasa paling beruntung, karena Lina memilihnya, dan juga punya kekasih lain di kota. Tapi kini dia merasa sangat sedih, karena kenyataannya jauh berbeda.

"Jadi mau Kamu bagaimana?" tanya Hendra berusaha untuk sabar.

"Maaf Mas Hendra. Sebenarnya, Lina tidak berniat mempermainkan mas Hendra. Tapi pada waktu itu, mas Hendra keburu balik ke kota. Lina tidak ada waktu untuk memberikan penjelasan."

"Dan ini, Lina ajak ke pasar itu sebenarnya hanya alasan saja untuk bicara soal ini."

Lina bicara panjang lebar, memberikan penjelasan kepada Hendra tentang kebenaran perasannya.

"Lin. Sebenarnya Aku juga mau jujur Lin. Aku... aku sebenarnya sudah punya pacar di kota. Dan Aku juga merasa kasian dengan Jamal. Seandainya kita jadi menikah."

Sekarang, gantian Hendra yang mengatakan kebenaran hatinya. Dia juga merasa tidak enak hati, jika harus terus menerus membohongi Lina.

"Jadi sekarang ini kita..."

"Iyalah! Aku juga pasti mau bantu Kamu, buat perjuangin cinta Kamu yang kemarin nyasar. Hahaha..."

"Ihsss... hehehe..."

1
Memyr 67
𝖻𝖺𝗋𝗎 𝖺𝗐𝖺𝗅 𝖽𝖺𝗁 𝗍𝗒𝗉𝗈. 𝗍𝖺𝖽𝗂 𝗄𝖺𝗍𝖺𝗇𝗒𝖺 𝗃𝖺𝗆𝖺𝗅 𝗉𝖺𝗇𝗀𝗀𝗂𝗅 𝗂𝖻𝗎𝗇𝗒𝖺 𝖺𝗆𝗂, 𝗄𝗈𝗄 𝗆𝖺𝗅𝖺𝗁𝖺𝗇 𝗃𝖺𝖽𝗂 𝗎𝗆𝗂? 𝖪𝖤𝖯𝖱𝖨𝖡𝖤𝖭
Hidayat 92a
woy, udah g gadis kalee
Harman Loke
kuaaaaaaaaaaaaaaaaatkaaaaaaaannn teruuuuuuuuuuuuuuuuuuuuusssssss tekaaaaaaaaaaaaaaaaadmuuuuuuuuuu Jamal
Fano Jawakonora
dari awal bgs pada dekat"akhir cerita author bikin jengkel dasar kentut, nyesal sdh ikuti dari awal lain kli jgn lg bikin novel ya karwna jelek skl dn amburadul cerita mu
Fano Jawakonora
mls baca cerita jadi awal kmbali dasar author tdk profisional dlm membuat cerita author kentut bau
Fano Jawakonora
ujung lina pura" baik jg ank biar kawin sma jamal dasar murahan
Fano Jawakonora
ternyatanya koq jd jelek diahir ya
Fano Jawakonora
cerita kabualan masa sistim apaan sdh sukses tba"mulai ulg dari awal ceooooooo thor kentut bau, bgt juga dgn kina knp tdk mati sj orgjht bgt
Fano Jawakonora
knp lina tdk ikut meninggal juga
Fano Jawakonora
diundang je planey sistim hny ngeyel gk tau ngapain disitu
Fano Jawakonora
knp dibiarkan lina apem bau mencret dn hendra babi itu bebas, krn mereka jamal kehilangn sitim jamal juga kekewat baik smbagaikn sapi ditusuk hidung
Fano Jawakonora
si lina bau punya perbuatan itu, knp tdk ada yg bisa nebak sih
Fano Jawakonora
ohh hendra biadap, memang
Fano Jawakonora
si hendra juga goblok apa ya atau juga punya rencana hancurkn jamal
Fano Jawakonora
hufff goblok trllu berkebihan hny salamatan empat bulan hamil sj bikin sampai jatuh takabir pada hl dibaluk itu asa yg berencna lick dgn usulan acara tersebut yg tntunya silina bau apem busuk sebusuk"nya
Fano Jawakonora
percuma punya sistim tpi mendekteksi ada bhy datang utk jamal dn indah
Fano Jawakonora
gk kapok" si lina dasar apem bau kentut busuk
Fano Jawakonora
alaaah si lina kentut masih bereaksi
Fano Jawakonora
cerita hanya kawin dan dalam celana aja nih🤣
Fano Jawakonora
si jamal gara"minum susu campur madu kudapannya semakin kuat kaya rudal aja kekuatannya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!