Tan Keira bukan orang bodoh. Dia tahu dirinya bukan cucu kandung Engkong Budiman -- hasil tes DNA di tangannya sudah membuktikan itu. Dia juga tahu bahwa suatu hari, cucu asli keluarga Tan akan muncul dan merebut segalanya: rumah, warisan, nama keluarga, bahkan kasih sayang satu-satunya orang yang pernah mencintainya.
Tapi Keira tidak akan duduk diam menunggu kehancuran.
Di sebuah lounge mewah di SCBD Jakarta, dia mengeksekusi rencana pertamanya: menjebak Lim Renata -- mantan jenderal, CEO Lim Group, sahabat mendiang papanya, dan satu-satunya pria yang cukup berkuasa untuk melindunginya dari badai yang akan datang.
Renata dingin. Renata menakutkan. Seluruh Jakarta tunduk padanya.
Tapi di depan Keira yang gemetar (pura-pura) dan bermata basah (juga pura-pura), pria itu... lembek.
"Om, saya takut."
Satu kalimat itu mengubah segalanya.
Yang Keira tidak tahu: Renata bukan pria yang bisa dijebak. Dia pria yang *memilih* untuk masuk ke jebakan. Dan alasannya... jauh lebih dalam dari yang Keira bayangkan.
Saat cucu asli keluarga Tan akhirnya muncul, saat kebohongan Keira mulai terbongkar satu per satu, saat seluruh dunianya runtuh -- hanya ada satu pertanyaan yang tersisa:
*Apakah Renata akan tetap memilihnya, setelah tahu semuanya palsu?*
Jawabannya ada di dua kata yang akan menghancurkan dan menyembuhkan Keira sekaligus.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Olivia Renata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 33
Dan Richard kehilangan satu lagi alasan untuk menyebut dirinya hanya sebagai pelindung.
Keira menyimpan rahasia gaun bunga itu sendirian selama dua hari.
Ia tidak menyinggungnya di meja makan. Tidak menatap pintu kamar Richard terlalu lama ketika lewat. Tidak bertanya pada Jason yang jelas-jelas tahu ada sesuatu yang salah dengan suasana Villa Awan. Ia hanya memakai parfum lily of the valley sedikit lebih tipis dari biasa, cukup untuk membuat Richard sadar, tidak cukup untuk memberinya alasan menuduh.
Richard juga tidak bertanya.
Mereka hidup seperti dua orang yang sama-sama berdiri di depan kaca retak dan sepakat tidak menyebut suara retaknya.
Pada Jumat sore, Kevin datang lagi.
Kali ini ia tidak membawa bunga. Ia membawa map dokumen dan wajah orang yang ditekan bank dari tiga arah. Jason menerima tamu di ruang depan, lalu memberi tahu Richard.
"Boss, Ong Kevin datang. Katanya ada draft konsep acara pertunangan."
Richard yang sedang membaca laporan Arief mengangkat mata. "Usir."
Keira meletakkan cangkir teh. "Om."
"Tidak."
"Saya perlu lihat draft-nya."
"Aku bisa meminta Jason mengambil."
"Kalau Kevin tidak bertemu saya, dia akan curiga saya hanya boneka Om."
Richard menutup map laporan. "Kamu bukan boneka siapa pun."
"Maka biarkan saya bicara."
Beberapa detik berlalu.
Jason pura-pura tidak ada.
Akhirnya Richard berkata, "Lima belas menit."
Kevin masuk dengan langkah yang lebih hati-hati daripada kunjungan sebelumnya. Ia melihat Richard duduk di sisi ruangan, lalu cepat menunduk.
"Om Lim."
Richard tidak menjawab.
Keira tersenyum lembut. "Kevin, duduk."
Senyum itu membuat Richard menoleh.
Keira tahu ia melihat.
Ia sengaja menuang teh untuk Kevin. "Kamu kelihatan lelah."
Kevin tampak terkejut, lalu sedikit luluh. "Beberapa hari ini berat."
"Aku dengar Ong masih menahan beberapa vendor."
"Kami berusaha. Kalau acara pertunangan diumumkan minggu depan, pasar akan lebih tenang."
"Minggu depan terlalu cepat."
"Keira..."
Ia memanggil nama Keira dengan nada lama, nada yang dulu mungkin pernah membuat gadis polos merasa dipilih. Kini nada itu hanya membuat Keira ingin membersihkan telinga.
Namun ia tetap tersenyum.
"Aku bukan menolak. Aku hanya tidak mau acara terlihat panik. Kalau keluarga Ong ingin memakai nama keluarga Tan, lakukan dengan layak."
Kevin menatapnya. "Kamu benar."
Richard meletakkan dokumen.
Suara kertas itu kecil, tetapi Kevin langsung kaku.
Keira tidak berhenti. "Undangan harus melalui Engkong setelah beliau pulang dari Singapura. Lokasi jangan hotel yang biasa dipakai launching produk Ong. Itu terlihat seperti promosi perusahaan, bukan pertunangan keluarga."
"Baik. Kamu mau di mana?"
"Rumah Tan. Atau ballroom kecil yang punya nilai keluarga."
"Kalau Rumah Tan, Vanya..."
Keira menatapnya dengan mata lembut. "Vanya kenapa?"
Kevin menelan ludah. "Dia mungkin merasa tidak nyaman."
Ponsel Kevin kembali menyala. Kali ini bukan hanya nama Vanya, tetapi potongan pesan terlihat di layar.
Vanya: Jangan terlalu lama di sana. Ingat kamu datang untuk perusahaan, bukan untuk dia.
Keira membaca sekilas sebelum Kevin cepat menutup layar.
Ada rasa dingin yang naik ke tenggorokannya. Bukan cemburu. Bukan pada Kevin. Yang ia rasakan adalah jijik yang nyaris tenang. Dua orang itu masih saling menjaga kepentingan, tetapi ingin memakai nama Keira sebagai payung.
"Vanya khawatir?" tanya Keira lembut.
"Dia cuma tidak mengerti situasi."
"Situasi bahwa kamu perlu aku?"
"Keira..."
"Tenang. Aku tidak marah."
Justru karena tidak marah, Kevin terlihat lebih takut.
Richard memperhatikan semuanya dari sofa tunggal. Ia melihat cara Keira menurunkan suara tepat saat Kevin mulai defensif, melihat cara ia memberi jeda agar rasa bersalah pria itu tumbuh sendiri. Adegan itu terlalu halus untuk disebut kebetulan belaka.
"Ini pertunangan kita atau kenyamanan Vanya?"
Pertanyaan itu manis seperti gula, tetapi menusuk sampai dasar.
Kevin cepat berkata, "Kita. Tentu kita."
Richard berdiri.
Keira menoleh. "Om?"
"Waktu habis."
"Masih sepuluh menit."
"Aku bilang lima belas menit sejak aku tidak suka melihatnya."
Kevin memucat, tetapi tidak berani membantah.
Keira berdiri mengantar sampai pintu. "Kirim revisi draft ke email saya."
"Keira, kamu benar-benar akan membantu saya, kan?"
Keira menatapnya. "Selama kamu menepati bagianmu."
Kevin tampak ingin memegang tangan Keira.
Belum sempat, Richard sudah berdiri di belakang Keira.
Kevin menarik tangannya secepat tersengat.
"Saya pulang dulu."
Setelah Kevin pergi, ruang tamu terasa terlalu sunyi.
Keira berbalik dan menemukan Richard menatapnya dengan wajah yang tidak bisa dibaca.
"Apa?"
"Kamu pandai merayu, ya."
Kalimat itu pelan.
Keira membeku.
Ia pernah membuat banyak orang percaya pada wajah polosnya. Kevin, Pak Dharma, dosen pembimbing Vanya, bahkan sebagian staf Lim Group. Richard selama ini tampak melihat, tetapi membiarkan. Kali ini, nada suaranya berbeda. Bukan hanya cemburu. Bukan hanya marah.
Ia seperti sedang menyentuh tepi topeng Keira dengan ujung jari.
"Om bilang apa?"
"Senyummu tadi. Teh yang kamu tuang. Cara kamu menyebut Vanya tanpa terlihat menusuk. Cara kamu membuat Kevin merasa masih punya kesempatan."
Keira menahan napas.
Richard berjalan mendekat. "Kamu tahu persis apa yang kamu lakukan."
"Saya hanya bernegosiasi."
"Dengan suara selembut itu?"
"Kalau saya kasar, Kevin akan defensif."
"Kalau kamu terlalu lembut, dia akan mengira boleh mendekat."
"Om cemburu lagi?"
Richard tidak terpancing. Itu lebih menakutkan.
"Aku sedang bertanya apakah kamu selalu seperti ini."
Darah Keira terasa turun ke kaki.
Untuk pertama kalinya sejak ia mendekati Richard, ia merasa panggung di bawahnya miring. Bukan karena Richard marah. Ia bisa menghadapi kemarahan. Masalahnya, Richard mulai melihat pola.
Ia mulai melihat Keira bukan hanya sebagai korban yang cerdas, tetapi sebagai pemain.
Keira tersenyum, tipis dan rapuh. "Kalau saya memang pandai merayu, Om akan membenci saya?"
Richard menatapnya lama.
"Tidak."
Jawaban itu tidak membuatnya lega.
"Tapi Om akan percaya saya?"
"Itu pertanyaan yang berbeda."
Keira tersenyum lebih pucat. "Berarti belum tentu."
"Kepercayaan bukan karena seseorang tidak pernah berbohong." Richard berhenti tepat di depannya. "Kadang karena aku tahu dia berbohong, tapi tetap ingin mendengar alasan sebenarnya."
Keira hampir mundur.
Kalimat itu terlalu dekat dengan rahasia yang belum siap ia buka. Ia tiba-tiba teringat hasil tes DNA di laci, mimpi rumah sakit, semua kebohongan kecil yang sudah ia susun agar Richard tetap berada di sisinya.
Jika Richard sudah tahu sejak awal bahwa ia tidak polos, apa sebenarnya yang sedang pria itu tunggu?
Karena setelah jeda pendek, Richard menambahkan, "Tapi aku akan ingin tahu siapa yang sebenarnya sedang kamu rayu."
Keira terdiam.
Di dalam dadanya, sesuatu berdenyut tajam.
Apakah Richard mulai melihat melalui sandiwaranya?