Kisah Pendekar Pedang Langitan, merupakan petualangan Bagaga di Jawa Dwipa bersama Ngo Cian, gadis cantik yang mungil dari negeri Champa.
Bagaga di Jawa Dwipa lebih dikenal dengan Pendekar Pedang Langitan, karena itulah senjata yang selalu dia gunakan.
Bagaga dan Ngo Cian terlibat dalam upaya menyelamatkan kelahiran bayi suci yang membawa takdir langit atas tanah Jawa Dwipa dan Nusantara.
Semua berawal dari Bagaga mengalami peristiwa barasihan dan menerima wangsit dari Maharesi Pawitra alias Maharesi Semeru Anakan.
Banjir darah melanda Jawa Dwipa bagian timur karena perbedaan cara pandang para Maharesi dan juga para Penguasa.
Mari nikmati kisah Pendekar Pedang Langitan Bagaga dan Dewi Pengendali Api Ngo Cian menjelang kelahiran Ken Arok, bayi suci yang akan membawa takdir langit atas tanah Jawa Dwipa.
Seperti biasa. Pendekar Pedang Langitan adalah sekelumit kisah fiksi dengan latar belakang sejarah.
Terimakasih
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heryando Palar Vinkoert, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9. Kanjeng Agung
Pandeka Pedang Suling Kumala mengedarkan pandangannya. Ada hamparan rumput luas, dipinggir halaman rumput yang luas itu ditanami aneka bunga.
Rumah ini sungguh luar biasa. Tidak mudah untuk menemukan rumah ini... Pikir Bagaga. Diam diam Bagaga Alam menarik nafas dalam dan panjang.
"Silahkan masuk tuan Pandeka." Pria yang membawa Bagaga Alam mendorong pintu rumah kayu hingga terbuka.
Ada ruangan besar dibalik pintu. Diujung ruangan ada sebuah meja kayu hitam dengan permukaan dilapisi batu marmer putih. Ada enam kursi mengelilingi meja kayu besar itu.
Seorang pria gagah yang terlihat penuh kharisma duduk di ujung meja. Ada banyak jenis makanan terhidang diatas meja. Pria gagah dan berkharisma itu berdiri dari kursinya. Sikapnya terlihat sangat tenang seperti sebuah telaga.
"Terimakasih sudah mau datang memenuhi undangan dariku Pandeka Pedang Suling Kumala. Aku Agung, mereka memanggil ku dengan kanjeng Agung. Anda cukup memanggil ku dengan ki Ageng saja.
Oh iya... Mari silahkan duduk."
"Terimakasih ki Ageng." Ucap Bagaga dan duduk di kursi yang di tunjuk ki Ageng. Dia kembali bertanya begitu duduk.
"Ada apakah ki Ageng meminta aku datang...?"
"Sebaiknya maru kita makan malam bersama dahulu. Kebetulan semua makanan telah terhidang. Tidak baik jika dibiarkan sampai menjadi dingin." Ucap ki Ageng dengan suara yang tenang.
"Mamang, tolong kamu panggil Ni Kirana dan Danang Wesi kesini. Katakan saya mengajak mereka makan bersama.
Beberapa waktu kemudian seorang gadis cantik masuk bersama seorang pemuda tampan. Gadis cantik dan pemuda tampan itu bersikap agung dan mereka memancarkan aura bangsawan. Disamping itu kedua orang ini juga memancarkan aura yang sangat kuat. Ni Kirana memancarkan aura seseorang pendekar suci awal tengah. Sedangkan Danang memancarkan aura seseorang pendekar suci awal akhir. Diam diam Pandeka Pedang Suling Kumala memuji kedua orang muda itu dalam hati.
"Kirana, Danang, kenalkan ini adalah tuan Bagaga. Tuan Bagaga mereka berdua adalah putera ku Danang Wesi dan Ni Kirana." Mendengar ki Ageng memperkenalkan dirinya, Bagaga berdiri dan menjura kepada Danang Wesi dan Kirana.
"Salam dariku Bagaga Alam untuk dua kebanggaan ki Ageng yang luar biasa."
Danang Wesi dan Ni Kirana hanya mengangguk kecil. Lewat sorot mata keduanya. Sangat terlihat mereka menakar dan tidak begitu menghargai Bagaga.
Pandeka Pedang Suling Kumala kembali duduk. Ada senyuman samar diwajah tampannya. Ki Ageng merasa sedikit kurang nyaman dengan sikap kedua anak anaknya. Namun jauh didalam hati pria itu. Dia juga merasa sangat penasaran. Kenapa dia yang harus menyambut kedatangan Bagaga Alam.
"Tuan Bagaga, aku mohon maaf atas sikap Danang Wesi dan Ni Kirana."
"Romo, mohon maaf. Tidak perlu bersikap begitu rendah. Sungguh aku tidak merasakan kekuatan apapun dari tuan muda Bagaga.
Ini akan menjadi tugas berat bagiku dan Ni Kirana untuk mengawal dia sampai ke Tumapel." Danang Wesi berucap kurang senang. Ni Kirana mengangguk mendukung ucapan Danang Wesi.
"Kirana pikir, kang mas Danang benar Romo."
Ki Ageng menghela nafas dalam. Dia bisa mengerti sikap Danang dan Kirana. Dia sendiri berfikir Bagaga Alam adalah seorang pendekar yang sangat sakti. Dia tidak pernah mengira, orang yang menjadi kunci masalah kemelut besar yang akan terjadi di wilayah timur Jawa Dwipa hanya seorang pemuda yang sangat tenang dan dalam. Namun sedikitpun tidak memancarkan aura seorang pendekar.
Namun ki Ageng dan kedua anaknya kaget. Mereka mendengar suara yang begitu tenang.
"Kalian tidak perlu mengantar ku. Juga kalian tidak punya cukup kemampuan untuk melindungi aku. Hanya tingkat pendekar suci awal, dan tingkat pendekar suci puncak, itu tidak cukup."
Wajah ki Ageng sekilas berubah, hanya sekilas dan kembali normal. Namun itu tidak luput dari Bagaga.
"Sombong...! Apakah dengan kondisi mu, engkau mampu mengimbangi aku ?" Ni Kirana berkata dengan ketus. Danang Wesi juga menatap tajam penuh tekanan pada Bagaga.
Ki Ageng baru saja mau berkata untuk menengahi. Namun dia didahului oleh Bagaga.
"Cukup dengan satu serangan." Suara tenang, bening dan tidak ada riak sedikitpun.
Pandeka Pedang Suling Kumala sengaja berkata begitu. Dari percakapan yang telah terjadi. Bagaga bisa meraba mereka adalah utusan dari Maha Resi Pawitra. Namun Bagaga juga merasa aneh dengan cara ki Ageng menemui dirinya. Bagaga berfikir pastilah Ni Kirana yang telah menyuruh seorang bocah untuk menyerahkan kepadanya.
Namun sikap ki Ageng meski terlihat ramah, namun itu hanyalah selapis tutupan awal saja. Karena itu, Bagaga sengaja menantang mereka untuk membuka mata mereka bertiga.
Mendengar ucapan Bagaga Alam, wajah Danang Wesi dan Ni Kirana menjadi merah padam. Mereka berdua merasa sangat terhina. Bagaimanapun juga mereka berdua adalah dua orang yang mempunyai bakat yang sangat tinggi. Ini terbukti sebagai pemuda 23 tahun, Danang Wesi sudah berada ditingkat pendekar suci awal akhir. Lebih hebat lagi Ni Kirana. Gadis cantik itu baru saja 20 tahun, tapi sudah berada ditingkat pendekar suci awal pertama.
"Kalau begitu kenapa kita tidak mencoba. Pastilah akan jauh lebih akrab setelah bertukar ilmu. Kita orang rimba persilatan memang sudah begitu adatnya."
"Romo benar. Aku setuju sepenuhnya. Tuan Bagaga aku menantang mu. Mari kita ke halaman rumput belakang." Ni Kirana segera bangkit, berdiri. Danang Wesi ikut berdiri dan melangkah ke sebelah Ni Kirana.
Bagaga Alam tersenyum ringan. Satu senyuman unik yang sangat ditakuti lawan lawannya. Namun kali ini senyuman ringan itu sedikit berbeda dari biasa.
"Silahkan..." Ucap Bagaga dan kemudian mengikuti Ni Kirana dan Danang Wesi yang sudah berjalan lebih dulu. Ki Ageng juga ikut berdiri dan menyusul di belakang Bagaga.an
Berada di halaman rumput belakang, Bagaga melihat hamparan rumput yang lebih luas. Setelah hamparan rumput itu, ada kebun sayuran dan buah. Semua tertata rapi dan bersih terawat.
Ni Kirana telah berdiri di tengah lapangan. Sebilah pedang bewarna putih tergenggam ditangannya. Saat itu sedang bulan purnama. Cahaya lembut rembulan membuat Ni Kirana terlihat lebih cemerlang. Gadis itu terlihat jauh lebih cantik dari mempesona. Bahkan cahaya bulan menimbulkan siluet tubuh yang sangat menawan.
Bagaga melangkah ketengah halaman rumput dan berhenti tiga tombak di depan Ni Kirana.
"Silahkan Ni Kirana."
"Jangan memandang rendah lawan mu tuan Bagaga. Keluarkan senjata mu."
Setelah menghela nafas dalam, Bagaga menjangkau kearah langit. Sebuah suling perak muncul dari kehampaan.
"Hee... Bukankah engkau bergelar Pandeka Pedang Suling Kumala ? Keluarkan pedang mu."
"Pedang ku, aku tinggal bersama istri ku yang sedang hamil. Jadi aku akan menghadapi engkau dengan suling perak ini."
"Terserahlah. Ingat pedang tidak bermata saat bertarung."
Bagaga hanya tersenyum mendengar ucapan Ni Kirana. Jauh dalam hatinya Bagaga merasa gadis ini cukup baik dan seorang gagah.
"Majulah Ni Kirana."
"Baiklah lihat pedang...!" Ni Kirana berseru dan melesat menerjang kearah Bagaga Alam. Kilau cahaya pedang melesat membelah lapisan udara tipis, menderu menuju Bagaga.
\=\=\=\=\=***\=©