Ravka terbangun di sebuah kamar hotel disamping gadis tak dikenal hanya berbalutkan selimut. Belum sadar sepenuhnya, kedua orang tua Ravka beserta tunangannya menerobos masuk ke dalam kamar.
Pernikahan yang tinggal menghitung hari akan tetap dilaksanakan, tapi yang menjadi pengantin wanitanya bukanlah sang tunangan. Melainkan gadis yang telah menghancurkan hidupnya.
"Jangan harap aku akan menceraikanmu dengan mudah. Aku akan membuatmu merasakan penderitaan yang teramat sangat karena menjeratku dalam pernikahan brengsek ini," Kemarahan berkelabat di sorot mata Ravka, menghujam tepat ke manik mata gadis berparas ayu yang meringkuk ketakutan di atas ranjang pengantinnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tsabitah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PPA 12# Mabuk
Alea menyeret langkahnya ke kamar mandi. Membasuh wajah yang sudah sembab karena kebanyakan menangis.
Gadis itu kemudian menghadap pada Sang Khalik, mengadukan nasib yang kini dideritanya. Hanya kepada-Nya lah Alea dapat berkeluh kesah. Mengurangi beban yang menyesakkan dada.
Menikah di usia muda tidak pernah ada dalam daftar rencana hidupnya. Apalagi menikah dengan seseorang yang begitu menampakkan kebencian dihadapannya. Bahkan di malam pengantin yang seharusnya membahagiakan bagi semua wanita yang akan menyongsong masa depan, Alea justru merasa terpuruk.
Hingga fajar menyingsing, wanita itu masih bersimpuh diatas sajadahnya. Merintih di dalam isak tangis yang tiada habis.
Suara ketukan pintu mengagetkan gadis yang masih menengadahkan tangannya kehadapan Sang Maha Pemurah. Dengan segera ia melepaskan mukena yang sedang dikenakan dan merapikan perlengkapan sholatnya.
"Maaf Non, mengganggu istirahat anda sepagi ini. Tapi ini Den Ravka sepertinya mabuk Non," Ucap Bi Mimah saat Alea telah melebarkan pintu kamarnya. Alea melihat seorang pria mengenakan seragam satpam memapah Ravka yang sudah tidak sadarkan diri.
"Bawa masuk Bi," Ucap Alea.
Satpam yang bernama Tito tersebut kemudian membawa Ravka ke dalam kamar dan merebahkannya di atas kasur.
"Tolong bawakan saya air hangat dan handuk kecil yah, Bi," Ucap Alea kepada Bi Mimah.
"Baik, Non," Bi Mimah kemudian mengajak Pak Tito keluar kamar. Meninggalkan Alea yang tengah menyibukkan diri dengan pria yang sudah terlelap dalam alam bawah sadarnya.
Gadis itu menanggalkan sepatu suaminya. Kemudian beranjak ke lemari, mencari pakaian Ravka yang bisa ia pakaikan untuk suaminya itu.
"Ini Non air hangat dan handuk kecilnya," Ucap Bi Mimah yang sudah kembali ke kamar Ravka sembari meletakkan barang yang ia sebutkan ke atas nakas di sebelah tempat tidur.
"Bi Mimah, jangan pergi dulu yah. Tolong bantu Al untuk mengganti pakaian Mas Ravka terlebih dahulu," Ucap Alea melemparkan tatapan memohon kepada Bi Mimah.
"Baik, Non," Ucapa Bi Mimah menghampiri Alea yang terlihat kesulitan membuka baju Ravka saat pria tersebut menggeliat dan menepis tangan Alea dalam tidurnya.
"Mas Ravka sudah biasa minum yah Bi?" Tanya Alea takut-takut. Ia khawatir sudah salah bertanya. Namun, rasa penasaran akan keseharian pria yang sudah menjadi suaminya itu begitu menggelitik hatinya.
"Setahu saya, Den Ravka itu tidak suka minum Non. Baru kali ini Den Ravka pulang dalam kondisi mabuk seperti ini. Saya justru khawatir kalau Nyonya dan Tuan mengetahui Den Ravka pulang dalam kondisi seperti ini. Mereka pasti akan marah besar," Ucap Bi Mimah dengan kecemasan menggelayuti wajahnya.
"Kalau begitu, jangan sampai orang rumah mengetahuinya yah Bi," Ucap Alea kemudian.
Apa sebegitu bencinya kamu dengan pernikahan kita Mas? Sampai-sampai kamu mabuk-mabukan begini? Apa yang harus aku lakukan Mas? Aku benar-benar bingung harus bagaimana - Keluh Alea dalam hatinya. Setitik air kembali terbit di ujung matanya, merasa kalut dengan apa yang harus dilakukannya demi menghadapi pria yang kini menjadi jaminan surganya.
"Apa Bibi tahu bagaimana Mas Ravka bisa mabuk begini?" Tanya Alea kemudian.
"Bibi tidak tahu Non. Kata Pak Tito Den Ravka dijemput temannya tengah malam tadi. Terus pulangnya diantarkan taksi, Non," Jawab Bi Mimah. "Untung orang rumah belum ada yang pulang Non, jadi tidak ada yang mengetahui keadaan Den Ravka kecuali saya Non," Lanjutnya lagi.
"Oh ia Bi, bolehkah Al meminta bantuan Bi Mimah?" Tanya Alea ragu disela-sela kegiatannya yang tengah mengusap badan Ravka menggunakan handuk yang sudah ia basahi dengan air hangat.
"Tentu Non. Kalau Bibi bisa melakukannya, tentu dengan senang hati Bibi akan membantu Non Alea,"
"Bi, Al tidak mengenal siapapun di rumah ini. Dan mungkin sesungguhnya keberadaan Al dirumah ini tidak dikehendaki," Alea berucap dengan penuh keraguan.
Dia memperhatikan dengan sekasama wajah Bi Mimah yang terlihat datar. Gadis itu tidak dapat menebak apa yang sedang dipikirkan oleh wanita paruh baya itu akan penuturan yang baru saja keluar dari mulutnya. Namun sebersit senyuman mengular di wajah Bi Mimah demi mendukung Alea untuk meneruskan ceritanya. Gadis itu kemudian menarik nafas panjang sebelum kembali memulai bicaranya.
"Bagaimanapun sekarang Al adalah istrinya Mas Ravka. Al hanya ingin melakukan kewajiban sebagai seorang istri berdasarkan tuntunan agama. Tapi Al butuh seseorang untuk membantu, agar bisa melakukannya di dalam rumah ini," Lanjut gadis itu terus bicara sembari tangannya terus membersihkan tubuh suaminya.
Ucapannya terjeda saat ia dengan susah payah mengenakan piyama tidur ke tubuh suaminya yang kekar. Setelah selesai mengganti pakaian Ravka, Alea menyelimuti lelaki yang terlihat tampan dalam tidur lelapnya. Alea mengalihkan pandangannya kepada Bi Mimah. Menatap wanita paruh baya itu dengan wajah sendu.
"Bi, Al meminta tolong Bi Mimah untuk bisa mengenal dan memahami Mas Ravka begitupula keluarga ini. Al ingin bisa diterima di keluarga ini sebagai bagian dari keluarga, bukan hanya sekedar pelengkap yang tidak diinginkan disini," Ucap Alea dengan mata berkaca-kaca.
"Tentu Non, Bibi pasti akan membantu Non Alea. Non Alea tidak perlu khawatir. Non bisa mengandalkan Bibi," Bi Mimah berucap sembari meraih tangan Alea. Menggenggam tangan itu demi menyalurkan kekuatan ke dalam diri gadis dihadapannya.
Ia dapat melihat ketulusan yang terpancar di kedua mata majikan barunya itu. Gadis itu terlihat begitu tegar menghadapi persoalan yang membelenggunya. Meski usianya masih muda, tapi Alea justru menampilkan kedewasaan dalam caranya berbicara dan berfikir. Sungguh beruntung Ravka memiliki Gadis seperti Alea sebagai pendampingnya. Namun, sayangnya Ravka tidak bisa menyadari itu semua.
"Terimakasih banyak Bi, atas pengertian Bi Mimah,"
"Sama-sama Non. Sekarang apa yang akan Non lakukan?"
"Sebaiknya kita menyiapkan sesuatu untuk meredekan efek minuman keras saat Mas Ravka terbangun nanti. Pokoknya jangan sampai siapapun mengetahui kejadian hari ini Bi. Tolong katakan juga kepada satpam yang tadi mengantarkan Mas Ravka kesini,"
"Baik Non, nanti Bibi akan sampaikan kepada Pak Tito untuk menutup mulut terkait kejadian barusan,"
*******************
Ravka mengerjapkan matanya perlahan. Matanya serasa sakit saat seberkas cahaya menusuk ke dalam retinanya melalui jendela kaca kamarnya.
Mentari sudah semakin meninggi di ufuk timur. Memberikan sengatan cahaya yang teramat sangat bagi orang-orang yang memutuskan berjalan di luar rumah tanpa perlindungan.
Ravka memijat pelipisnya perlahan. Pengar sehabis mabuk semalam menghantam kepalanya tanpa ampun. Tanpa disadarinya sedari tadi seorqng gadis yang memicunya meminum banyak minuman keras sedang memperhatikannya dari samping.
"Mas, ini minum dulu," Ucap Alea menyodorkan segelas air kepada Ravka. Ia berniat membantu Ravka menghadapi pengar yang menghantam suaminya itu.
"Aku tidak butuh bantuanmu," Ucap Ravka menepis gelas di tangan Alea hingga air di dalamnya berhamburan ke lantai. Beruntung gadis itu memegang gelas ditangannya dengan erat sehingga tidak membuat gelas itu ikut terjatuh.
"Baiklah kalau begitu, aku akan meminta
Bi Mimah untuk membantumu," Alea bergeas turun ke lantai satu mencari keberadaan kepala asisten rumah tangga tersebut.
Sementara di dalam kamar, Ravka masih berusaha menahan cahaya yang menembus ke dalam matanya sembari memijat pangkal hidungnya. Saat Bi Mimah memasuki kamarnya, pemuda itu sudah duduk di tepi ranjang. Menahan bobot tubuhnya dengan kedua tangannya agar dapat duduk dengan tegak.
sebenarnya kata2 yg diucapkan ravka yg seperti ini sudah jatuh talak satu loh thor iya ngak sih kalau dlm agama? karna dia mengatakan melepaskan?
mana udah dibelikan kalung milyaran sm ravka
alex sm ravka bisa di bodoin uler