Note : Novel ini gabungan dari tiga novel, Anak genius : Melahirkan Anak CEO, Bos Tampan Pemilik Hati, Anak Buah Kesayangan , dan Cinta pertama dan terakhir jadi biar tahu mereka ini anak siapa baca dulu ya Novel yang aku sebutin.
Alta Putera Bakrie adalah seorang pewaris utama dari kerjaan bisnis keluarga Bakrie, bahkan sejak kecil pria genius ini sudah bisa membangun perusahaannya sendiri.
Merasa jenuh dengan pekerjaan yang selama ini digelutinya, Alta mencoba beralih profesi menjadi seorang dosen. Hingga akhirnya Alta dipertemukan dengan Mahasiswinya yang tengil dan menyebalkan bernama Bianca Megantara.
Kekocakan dan perseteruan diantara keduanya menambah keseruan cerita cinta diantara mereka berdua.
Akankah Alta bisa jatuh cinta kepada Mahasiswinya sendiri, yang merupakan wanita tengil dan selalu membuat onar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon poppy susan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bee Yang Lucu
🌍
🌍
🌍
🌍
🌍
Hari ini adalah hari minggu, setiap hari libur Alta dan ketiga sahabatnya suka berolahraga bareng. Biasanya mereka akan melakukan olahraga footsal dua lawan dua dan yang kalah harus mengikuti keinginan yang menang.
Tapi karena Seno baru saja sembuh, jadi mereka mencari olahraga yang aman yaitu golf. Itu juga Seno hanya bisa diam memperhatikan ketiganya, dia masih belum boleh banyak bergerak.
Sementara Bee, setelah membuatkan sarapan untuk Alta, ia izin keluar sebentar entah mau kemana.
"Ah, jenuh juga ngelihatin kaliam bermain," keuh Seno.
"Sabar, minggu depan kita footsal lagi," sahut Gibran.
Dari kejauhan, seorang gadis cantik tampak menatap tajam ke arah empat pria tampan itu.
"Lah, bukannya itu Polisi yang waktu itu ya," gumam Erika.
Gadis cantik itu ternyata Erika, saat ini dia sedang menemani sang Daddy bermain golf walaupun pada kenyataannya Erika hanya duduk-duduk saja.
"Sayang, lihat deh banyak anak teman Daddy yang nanyain kamu, apa kamu tidak mau berkenalan dulu dengan mereka?" seru Daddy Edrik.
"Enggak ah Daddy, Erika lagi males."
"Jangan begitu, apa perlu Daddy jodohkan kamu dengan salah satu anak dari rekan bisnis Daddy."
"Idih, Daddy apa-apaan sih main jodoh-jodohin segala memangnya Daddy pikir Erika itu ga laku apa," ketus Erika.
"Ya kali aja kamu ingin nikah muda gitu, Daddy bisa jodohkan kamu."
"Ogah..."
"Ya sudah, Daddy lanjut main lagi."
"Jangan lama-lama Daddy, Erika sudah bosan ini."
"Iya sebentar saja."
Daddy Edrik pun kembali bermain dengan rekan bisnisnya, tiba-tiba seorang pria menghampiri Erika.
"Hallo Nona, kamu puterinya Tuan Edrik ya?" tanya pria yang bernama Diki itu.
"Sudah tahu masih nanya lagi," ketus Erika.
"Ya ampun judes banget, tapi aku suka gadis judes. Perkenalkan nama aku Diki."
Erika terlihat acuh dan tidak membalas uluran tangan Diki, membuat Diki kembali menarik tangannya dengan senyumannya.
"Kamu ternyata lumayan sombong juga ya seperti Tuan Edrik."
"Sudah tahu sombong, terus ngapain masih di sini sudah sana pergi," usir Erika.
"Jangan terlalu sombong Nona, jadi perawan tua baru tahu rasa kamu."
"Apa? jadi kamu nyumpahin aku? hai asalan kamu tahu, aku itu sudah punya kekasih dan itu kekasih aku," tunjuk Erika.
Diki mengikuti telunjuk Erika...
"Wah aku kira si empat serangkai itu tidak menyukai wanita, kamu pacarnya siapa? apa jangan-jangan kamu jadi wanita yang di gilir sama mereka," cibir Diki.
Erika tampak mengepalkan tangannya, kemudian Erika mengambil air mineral botol dari atas meja dan menumpahkannya di kepala Diki.
"Kalau ngomong jangan sembarangan."
"Kamu...."
Diki berdiri dan menunjuk wajah Erika dengan menggeretakan giginya karena merasa geram dengan kelakuan wanita yang ada di hadapannya itu.
"Apa? kamu mau apa?" tantang Erika.
"Awas kamu."
Diki kemudian pergi meninggalkan Erika dengan kesalnya.
"Tuh cowok kayanya ketahuan selingkuh makannya di guyur pake air satu botol," seru Seno.
"Sangat mengenaskan," sambung Gibran.
Alta dan Rayyan hanya melihat ke arah wanita yang posisinya saat ini membelakangi mereka maka dari itu mereka tidak bisa melihat wajah Erika.
"Sudah ah, aku bersih-bersih dulu ga enak lengket," seru Alta.
Setelah olahraga memang kebiasaan empat serangkai mandi di tempat dan mengganti pakaiannya. Keempatnya sangat tidak betah dengan tubuh yang keringetan.
Sementara itu, Bee tampak berjalan dengan langkah gontai. Bee sudah mendatangi tempat-tempat yang biasa Rega datangi, tapi sayang Bee tidak menemukan keberadaan Rega.
"Sialan, kamu pergi kemana Rega," geram Bee.
Bee terduduk di kursi taman, merenungi nasibnya yang sangat menyedihkan. Setelah beberapa saat Bee terdiam, Bee pun memutuskan untuk pulang karena sebentar lagi sudah menunjukkan jam makan siang.
Bee tidak mau sampai dapat semprotan dari Alta, Bee mulai menaiki motornya dan melajukannya dengan santai. Di saat Bee sedang asyik-asyiknya mengendarai motor, tiba-tiba terlihat seorang anak kecil menangis dengan sangat kencangnya karena balon yang baru saja dia beli terlepas.
"Mama, aku ingin balon itu."
"Susah Nak, sudah terbang."
"Pokoknya aku ingin balon itu," rengek anak kecil itu.
"Adik kecil jangan nangis lagi ya, biar Kakak yang coba menangkap balon itu. Bu, tolong jagain motor saya sebentar."
"Iya Neng."
Bee pun mulai mengejar-ngejar balon itu,higga di saat Bee berada di tengah jalan, Bee berhasil menangkap balonnya. Tapi sayang, di saat Bee berada di tengah jalan itu tiba-tiba tiga mobil mewah datang dengan kecepatan tinggi membuat Bee terduduk di jalan karena terkejut.
Ketiga mobil itu langsung berhenti tepat waktu, membuat orang yang berada di dalam mobil itu keluar semua karena takut gadis itu terluka. Orang-orang yang sedang berada di sekitar taman pun berbondong-bondong melihat keadaan sang gadis.
"Kamu tidak apa-apa, Nona?" tanya Gibran.
Bee pun mendongakkan kepalanya dan seketika Bee tampak melongo bahkan mulutnya menganga melihat empat pria tampan berada di hadapannya.
"OMG, apa saat ini aku sudah berada di surga? kenapa mereka tampan-tampan sekali," batin Bee.
"Hai Bianca Anggita, kalau mau bunuh diri jangan di jalan seperti ini, tuh di jembatan sana," sentak Alta.
Bee yang merasa kenal dengan suara itu langsung menoleh dan benar saja di sana sudah berdiri Alta dengan wajahnya yang seperti biasa kaya kanebo kering.
"Allohuakbar...menyeramkan sekali wajahnya," gumam Bee.
"Apa kamu bilang?"
Bee langsung berdiri...
"Ah, tidak apa-apa kok Pak."
"Perasaan aku pernah lihat kamu tapi dimana ya?" seru Rayyan.
"Iya, wajahnya kaya familiar," sambung Gibran.
Bee kembali membelalakan matanya saat melihat Polisi tampan yang waktu itu sudah menyebutnya stres.
"Kamu kenal Ta, sama dia?" tanya Gibran.
"Dia mahasiswiku sekaligus tukang masak di rumahku," ketus Alta.
"Oh...jadi ini tukang masak baru di rumah kamu, wow bisa aja kamu Bambang cari tukang masak, daun muda, cantik pula," goda Gibran.
"Ah...aku baru ingat, kamu wanita yang waktu itu teriak-teriak di jalan kan?" seru Rayya.
Ketiga pria tampan itu menoleh ke arah Rayyan setelah itu kembali menoleh ke arah Bee.
"Teriak-teriak? ngapain kamu teriak-teriak di jalan kaya orang gila," sentak Alta.
Bee hanya meringis dan merasa malu di tatap empat pria tampan sekaligus. Alta melihat ke arah jam tangan mahal yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Sebentar lagi waktunya makan siang, pulang."
"Ba--baik Pak."
Bee segera berlari dan memberikan balon itu ke anak kecil yang tadi menangis, setelah itu Bee langsung menaiki motornya dan kemudian pergi.
"Sepertinya kita harus mencoba masakan dia," seru Gibran.
"Setuju," sahut Rayya.
Keempatnya masuk ke dalam mobil masing-masing kecuali Seno yang ikut ke mobil Alta di karenakan masih kurang sehat. Keempatnya menuju rumah Alta sekaligus ingin merasakan masakan Bee.
Sesampainya di rumah Alta, Bee dengan cepat menuju dapur baru saja Bee memakai celemek, ponsel Bee pun berbunyi. Bee melihat ternyata pesan dari Alta bahwa teman-temannya pun mau makan siang di rumah.
"Astaga, apa yang di katakan Alsya benar, mereka tampan-tampan sekali bikin jantung ga sehat," gumam Bee.
Bee pun mulai meracik bumbu..
Keempat pria tampan itu tiba dan langsung duduk di ruangan tv.
"Bee...bikinin minuman buat teman-temanku!" teriak Alta.
"Siap Pak."
Bee dengan cepat membuatkan minuman dingin untuk keempatnya, setelah selesai Bee mengantarkannya ke ruang tv.
"Siapa namamu?" tanya Seno dingin.
"Bianca Tuan, tapi biasa di panggil Bee. Maaf Tuan, kalau begitu saya kembali masak dulu."
Bee pun kembali melanjutkan acara masak-memasaknya, keempat pria tampan itu bisa melihat kegiatan Bee karena tidak ada sekat yang menghalanginya.
Gibran bangkit dari duduknya dan menghampiri Bee yang sedang memasak kemudian duduk di kursi yang ada di dapur.
"Bukannya kamu yang waktu itu datang ke restoran Seno bersama Tito?"
"Ah...iya Tuan."
"Kamu pacarnya Tito?" tanya Gibran.
"Bukan Tuan."
"Lah, tapi kamu terlihat mesra bersama Tito?"
"Itu tuntutan pekerjaan, Tuan."
Gibran menaikkan satu alisnya, begitu pun dengan ketiga pria tampan itu menatap Bee membuat Bee meringis.
"Pekerjaan apa maksudnya?" tanya Alta.
"Saya bekerja sampingan sebagai pacar sewaan."
"Pacar sewaan?" seru keempatnya bersamaan.
"Iya, saya bekerja di sebuah jasa perjodohan online jadi siapa pun bisa menyewa saya bagi yang membutuhkan," sahut Bee sembari tetap memasak.
Rayyan merasa tertarik dan ikut menghampiri Bee ke dapur dan duduk di samping Gibran.
"Terus kamu sudah di pegang-pegang sama siapa pun dong?" tanya Alta yang sudah berdiri di samping Bee dengan melipat kedua tangannya di dada.
"Oh tidak seperti itu cara mainnya," seru Bee dengan menggoyangkan jari telunjuknya ke arah Alta.
"Terus seperti apa?" tanya Seno.
Sekarang keempat pria tampan itu berada di dapur melihat Bee memasak membuat Bee lagi-lagi merasa gugup.
"Ada persyaratannya Tuan, bagi yang memesan jasa saya tidak boleh pegang-pegang, g***e-g***e, apalagi cium-cium, big no."
Keempat pria tampan yang terkenal seperti kanebo kering itu terlihat menyunggingkan senyumannya, entah kenapa Bee sangat lucu di mata mereka dan mempunyai daya tarik sendiri.
"Tapi kan waktu sama Tito kamu pegangan tangan," seru Alta.
"Bisa pegangan tangan tapi di kenakan biaya tambahan."
"Ya ampun, pegangan tangan juga ada biaya tambahan...sungguh pintar," seru Rayyan.
"Iyalah Pak, zaman sekarang itu harus pintar-pintar memanfaatkan keadaan, apa pun yang kita lakukan harus dapat uang."
"Dasar mata duitan," cibir Alta.
Bee hanya mencebikkan bibirnya ke arah Alta, Bee kembali fokus memasak sedangkan keempat pria tampan itu memilih menunggu di meja makan.
🌍
🌍
🌍
🌍
🌍
Jangan lupa
like
gift
vote n
komen
TERIMA KASIH
LOVE YOU
Huwaaaaa,,,alsyaaaaaa🥺😭
aku suka aku suka...
baca novel ini tuu ngk henti" nyaa🤣...
pokoknya the Best....
yg pastiiii bakal kngen sama 4serangkai n pasangan mereka...apa lagi oppa alta❤️bee...
huwaaaa cuman sdih bnget sad end ntuk gibran&alsya😢,rasanya ngk ikhlas,hmmm💔..
but apapun thanks author sudah bikin cerita yg bagus ini..big 👏👏 for you🌷💟..
tetap semangat dalam berkaryaa✨