NovelToon NovelToon
Hujan Teluh

Hujan Teluh

Status: tamat
Genre:Fantasi / Horor / Cintapertama / Supernatural / Pembunuhan / Kumpulan Cerita Horror / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:253.5k
Nilai: 5
Nama Author: Alexza Kim

Cerita ini bercerita tentang seorang anak perempuan yang harus mati berkali-kali, untuk menebus dosa-dosa di kehidupan masa lampaunya.

Melin adalah pemilik Jiwa Suci, jiwa Malaikat Penjaga yang mati ribuan tahun lalu.

Dia diberi kesempatan untuk lahir sebagai manusia sebanyak 7 kali. Dia harus bertahan hidup sampai melewati Bulan Merah pertamanya.

Bulan Merah hanya muncul selama 20 tahun sekali.

Melin adalah Jiwa Suci ke 7 yang harus melewati Bulan Merah pertamanya.

Tapi para Siluman menginginkan kematiannya agar mereka bisa hidup bebas di dunia manusia.

Akankah Melin bisa bertahan dari semua serangan Siluman yang ternyata sudah merencanakan sebuah ritual untuk menghancurkan Jiwanya tepat saat Bulan Merah terjadi, untuk merusak perbatasan antar Dunia Manusia, Dunia Ghoib dan Dunia Siluman.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alexza Kim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Arinda Dan Melin

"Kita harus tanya, apa iya Hujan Teluh itu emang ada?!" kata Jendral.

"Ahhhh kamu, tadi aja pura-pura nggak tertarik!" kata Sandi.

Jendral memang nggak tertarik, tapi jika kutukan Hujan Teluh memang ada, dan gadis yang sudah membuatnya terpesona benar adalah tumbalnya. Maka Jendral harus tertarik dan mencoba melakukan sesuatu, tak mungkin pria itu hanya duduk diam. Sementara seorang gadis mungkin akan menjadi santapan demit.

Kedua cowok SMU itu segera naik motor Jendral, dengan cepat meinggalkan parkiran berbayar itu. Meski belom bayar kepada sang empunya halaman yaitu Mang Kodel.

"Oyyyyy pilat nian, duo budak tu. Awas be besok bayar dobel Nga!" teriak Mang Kodel.

Jendral tak peduli dengan sumpah serapah Mang Kodel. Lelaki muda itu terus memacu kuda besinya dengan kecepatan yang bikin merinding.

Entah apa yang mendorongnya melakukan itu, tapi Jendral ingin sekali mengetahui rahasia Penumbalan Hujan Teluh itu.

Setelah menyalip ratusan kendaraa  lain, Jendral berhasil mendarat selamat di halaman rumah embahnya Sandi yang terletak di Desa Sumber Agung. Desa yang terletak di sebelah kiri Desa Air Keruh.

"Gimana kalau embahku nggak mau cerita?!" tanya Jendral.

"Di paksa--lah!" kata Jendral.

Pria muda itu malah mengacungkan tinjunya, membuat Sandi takut sendiri.

"Cemen, beraninya mukul embah-embah!" ejek Sandi.

"Siapa yang mau mukul embahmu?" tanya Jendral dengan wajah datarnya.

Kedua pemuda belia itu segera masuk ke dalam rumah sedrhana tapi asri dan nyaman milik Mbah Sadino.

"Wahhhh tumben cucu mbah, mampir kemari?!" suara lelaki renta menyambut ke datangan duo begajulan abal-abal itu.

Netra yang sudah lemah tapi masih bisa membedakan mana cucu dan temannya.

"Kamu cucunya Wuji--kan?" tanya Mbah Sadino pada Jendral.

"Mbah tau?" tanya Sandi pada mbah kakungnya.

"Tau lah, dulu kami waktu masih muda juga berteman seperti kalian.

"Ayooo masuk, biar bibimu siapin makan siang!" ujar Mbah Sadino.

Pria tua renta itu memang tak tinggal sendirian dia tinggal dengan anak perempuan terakhirnya yang sudah menikah.

"Mbahhhh, duduk sini!" Sandi memuntun Mbah Kakungnya untuk duduk di kursi kayu ruang tamu rumah itu.

"Mbahhhh kami mau tanya tentang Hujan Teluh di Desa Air Keruh Mbah!" ujar Sandi pada Mbahnya.

"Usiamu berapa Sandi?" tanya Mbah Kakungnya.

"Tahun ini 18 tahun Mbah!" jawab Sandi.

"Lha kamu Nakkk?" Mbah Kakung Sandi bergabtu tanya ke Jendral.

"Saya 17 tahun Mbah!" jawab Sandi.

"Baiklah, dengarkan baik-baik.

"Kalian berhak tau, ini adalah yang embah saksikan dan alami saat masih remaja dulu!" kata Mbah Sadino.

Pria tua renta itu beralih memandang ke arah jendela yang terbuka, dia memandang ke arah itu lekat-lekat.

Mencari memori lama di ingatannya yang mungkin sudah kabur. Tapi tampaknya pria tua itu menyimpan kenangan itu sangat rapat dan tak terlupakan olehnya.

Mbah Sadino mulai bercerita tentang masa mudanya, 60 tahun yang lalu.

.

.

.

.

Adrian dan Melin melanjutkan jalan-jalan sore mereka ke pasar kecil di Desa Air Teluh.

Gadis SMU itu ingin membeli beberapa kebutuhannya. Meski pun sudah keliling pasar mini itu, Melin sama sekali tak mendapatkan apa yang dia cari.

Melin butuh senjata rahasia, tapi di pasar itu hanya ada senjata tajam yang mencolok. Dia harus bersiap, meski dia yakin nggak akan ada gunanya. Tapi apa salahnya sedia payung sebelum hujan.

Meski hujan yang akan datang adalah badai kencang yang panjang. Dan payung saja tak akan bisa membuatnya bertahan dari badai itu.

"Apa yang kamu cari?" tanya Adrian pada Melin.

Gadis manis itu terus saja celingak-celingguk ke sana-kemari. Dia masih mencoba mencari sesuatu yang tak bakal ada di tempat terpencil ini.

"Enggak kok,Om! Aku hanya lihat-lihat saja!" kata Melin.

Dia tak mungkin membocorkan rahasia pada musuhnya. Bagi Melin, Adrian adalah musuh dalam selimut.

Sebejat-bejatnya manusia, mana mungkin mau disuruh menyetubuhi keponakannya sendiri. Meski dengan alasan apa pun, itu tak bisa dibenarkan.

Melin akan pura-pura menyerah dan akan percaya pada wanita paruh baya yang muncul di dalam mimpinya.

Meski iblis harus dia percaya, Melin tak keberatan. Karena manusia bahkan bisa lebih jahat dari iblis, jadi tak papa musrik sekali-kali. Melin juga tak punya pilihan lain.

Meski dia bisa kabur, gadis belia itu juga akan kabur kemana. Satu-satunya cara adalah menyerah, dan menghindar di saat-saat yang tepat.

"Mas Adrian lama nggak jumpa," seorang gadis berjilba tapi pakaiannya seksi tengah menyapa Adrian.

Sapaan gadis modis tapi norak itu membuat pria itu berhenti sejenak.

Hal itu dimanfaatkan Melin untuk masuk ke dalam sebuah toko perkakas dapur.

Dia berkeliling di dalam toko itu dan mencoba mencari benda tajam yang berbahaya tapi dapat berkamuflase.

Akhirnya Melin membeli sebuah pisau lipat kecil, dan sebuah mug. Dia harus punya alasan agar Adrian tak curiga pada Melin.

Setelah membayar dua benda tersebut Melin melihat sekitar dan tak menemukan Adrian. Melin sih santai saja, dia benar-benar merasa tak nyaman di dekat Omnya itu.

Melin memutuskan berjalan-jalan sendirian, siapa tau dia menemukan barang yang lebih bahaya lagi.

Di tengah kerumunan pasar itu. Manik mata Melin tak sengaja menangkap sosok wanita yang masuk ke dalam mimpinya.

Melin pun segera mengejar wanita berbaju hijau tersebut. Melin yakin sekali bahwa wanita paruh baya itu adalah wanita yang menemuinya di mimpinya.

Melin terus berjalan di belakang wanita itu, dan Melin semakin yakin jika wanita yang diikutinya adalah sosok yang pernah masuk ke dalam mimpinya.

Dengan cepat Melin menghalangi langkah santai Arinda.

"Tante kenal saya?" tanya Melin ke arah Arinda yang pandangannya kosong.

Karena dihadang oleh Melin, Arinda menghentikan langkahnya. Dan manik mata kosong itu mengarah ke wajah Arinda yang sedang berharap banyak pada Arinda.

Wajah wanita paruh baya itu masih saja datar. Tapi dia memeluk Melin, dan membisikkan sesuatu.

Kata-kata yang disebutkan Arinda aneh, Melin sama sekali tak mengerti apa yang dikatakan wanita yang tengah memeluknya kini.

Apakah sebuah mantra.

Arinda sudah memegang pisau lipat yang dibeli Melin tadi. Dengan tanpa berpikir Arinda membuka lipatan pisau itu dan....

Jlebbbbbbbbbbbb

Pisau lipat itu tertancap di bahu kiri Melin.

Gadis manis itu hanya bisa diam, meski dia merasakan sakit yang amat sangat.

Tak hanya di tancapkan, Arinda menarik pisau itu ke bawah dan membuat sayatan yang cukup lebar di bahu kiri Melin.

Gubrakkkkkkkkk

Tubuh Arinda terpental cukup jauh, padahal hanya sebuah tinjuan yang melayang ke arah perut wanita paruh baya itu.

Untung Adrian cepat datang dan segera menghentikan Arinda melukai Melin lagi.

Rasa sakit masih menjalar di bahu Melin, gadis itu terduduk dan mendekap lukanya dengan tangan kanannya.

Darah segar sudah membasahi telapak tangan gadis belia itu. Tak hanya bahunya yang sakit, kini Melin merasakan sakit di kepalanya juga. Serasa mau pecah, sakitnya bahkan lebih menyakitkan dari luka sayatan dalam di bahu kiri gadis manis itu.

"Akkkkkkkk! Sakittttt!!!" teriak Melin.

Kedua telapak tangannya yang sudah penuh darah itu segera mencengkeram kepalanya. Sakitnya semakin bertambah sampai pandangan Melin menjadi gelap dan telinganya menjadi sunyi.

Rasa sakit itu seketika hilang, tapi bayangan lain. Sedang berputar di otak Melin saat ini.

___________BERSAMBUNG_____________

JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤

1
Shinta Teja
kasih terjemahan ke bahasa Indonesia lah Thor. soalnya aku ga ngerti bahasa Palembang itu...
Raditya Fathir
org desa,nama metropolitan.
ga sesuai dg latar
Arra
katanya full serem min ngga ada haha hihi. 🤭 ini bikin senyum loh
Arra
Malaikat izrail apa ya kak? 🤔
Arra
arinda atau si pembunuh ya
Arra
semangat thor. keren. meskipun aku bacanya pusing kalau berbau bunuh2an tapi kok kepo. hadeh 🤭 semoga ngga kebawa mimpi
Arra
ngeri kali 😱
Arra
okay lanjut kak
Dee Adee
terkejut aku Thor 😲
autophia
Ilmu teknologi dan psikologi membuktikan melinda punya jiwa iblis? Kok agak gak make sense ya
autophia
Nyampe sini Agak bosen ya ceritanya
autophia
Kenapa kalo kerumah arinda jadi sial?
PaiZem LopeKITA💘
pertama kali baca,seremnya langsung dapet👻
autophia
Ternyata asia
Winna
Jenk kok gak up up lagi? Dah ku vote lagi loh.. biar naik ceritanya..
Winna: Siaaap🤣👍🏻
total 2 replies
Winna
Gak sabar nungguin niiih jeenk🤭
Winna
Sakit banget ya mencintai itu.. 😭
Winna
Siip jendral.. tp sayang nya aku cinta nya sm adrian😛
Winna
Wooww wooww manteeeb planing nya.. gk ngira👍🏻
Winna
Aaahhh.. sesediih ini kah cintaa? Baper deh😢😢
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!