Jatuh dari puncak kejayaan menjadi lelucon sekota dalam semalam, nasib Ye Xuan tampaknya telah berakhir. Namun, keputusasaan itu justru menjadi kunci pembuka rahasia kuno yang tertidur di dalam sebuah liontin tua. Di bawah bimbingan jiwa naga kuno, Ye Xuan mempelajari rahasia kultivasi yang menyimpang dari hukum langit. Dari turnamen kota kecil hingga medan perang antar benua, Ye Xuan menelan setiap rintangan dan kesengsaraan ilahi. Dunia menganggapnya sampah, namun ia akan membuktikan bahwa dirinya adalah penguasa sejati yang akan membelah surga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33: Pembantaian di Bawah Kabut dan Pedang yang Patah
Kata-kata Ye Xuan bagaikan tamparan keras yang mendarat tepat di wajah Gu Chen dan keempat murid Sekte Pedang Surgawi.
Sebagai elit dari sekte beraliran pedang yang sangat menjunjung tinggi keangkuhan dan kehormatan, disamakan dengan "anjing liar yang menggonggong" adalah penghinaan yang tak bisa dimaafkan. Wajah Gu Chen yang awalnya dingin, kini berubah menjadi merah padam penuh amarah.
"Bocah tak tahu diuntung!" raung Gu Chen, mengarahkan ujung pedangnya tepat ke wajah Ye Xuan. "Kau pikir karena kau berhasil mengalahkan Zhao Feng yang menggunakan pil cacat, kau bisa bersikap sombong di hadapanku?! Saudara-saudara, bunuh dia! Cincang tubuhnya menjadi ribuan potong daging, biarkan anjing-anjing liar di hutan ini memakan sisa kesombongannya!"
"Baik, Kakak Senior Gu!"
Keempat pemuda berjubah putih itu secara serempak meledakkan aura Qi mereka. Tiga di antaranya berada di Alam Pembentukan Fondasi Awal Puncak, dan satu orang berada di Pembentukan Fondasi Menengah.
SRIIING!
Keempat pedang spiritual itu berdengung nyaring. Mereka bergerak dengan formasi yang sangat teratur, mengepung Ye Xuan dari empat arah mata angin. Pedang mereka memancarkan cahaya putih keperakan yang menyilaukan, mengiris kabut kelabu di sekeliling mereka.
Seni Pedang Empat Penjuru - Jaring Pembantai Bintang!
Ini adalah formasi serangan gabungan yang sangat mematikan. Empat bilah pedang menenun jaring Qi yang mengunci semua rute pelarian, berniat memotong Ye Xuan dari segala arah.
Su Yan, yang terkapar di tanah beberapa belas meter dari sana, membelalakkan matanya ngeri. "Ye Xuan, awas! Jangan biarkan jaring pedang itu menyentuhmu!"
Namun, Ye Xuan bahkan tidak melirik ke arah Su Yan. Ia berdiri dengan santai di tengah kepungan jaring pedang mematikan itu.
Tombak Besi Hitam-nya masih tersandar di bahunya. Tidak ada fluktuasi Qi yang meledak dari tubuhnya. Di mata keempat penyerangnya, Ye Xuan tampak seperti orang bodoh yang pasrah pada kematian.
"Mati!" teriak murid di sebelah kanan, pedangnya tinggal satu jengkal dari leher Ye Xuan.
Pada detik terakhir itu, mata Ye Xuan berkedip dengan kilatan petir keemasan.
"Terlalu lambat. Terlalu lemah," bisik Ye Xuan, suaranya terdengar jelas di telinga keempat murid tersebut mengalahkan suara deru angin pedang mereka.
Tubuh Ye Xuan sedikit merendah. Dengan kekuatan fisik yang kini telah mencapai seratus lima puluh ribu kati, ia mengayunkan Tombak Besi Hitam seberat sembilan puluh ribu kati itu membentuk satu putaran penuh di sekeliling tubuhnya.
Tidak ada teknik. Tidak ada Qi Emas. Murni hanya kekuatan otot dan inersia baja absolut!
BZZZTTT—DUAAAAAARRRR!!!
Kecepatan ayunan tombak raksasa itu memampatkan udara hingga menciptakan ledakan sonik berbentuk cincin yang menyapu ke segala penjuru!
Sebelum ujung pedang keempat murid itu sempat menyentuh pakaian Ye Xuan, tekanan angin dari ayunan tombak itu menghantam mereka layaknya dinding besi tak kasat mata.
KRAAAK! KLANG!
Keempat pedang spiritual tingkat menengah itu hancur berkeping-keping menjadi serpihan logam dalam sekejap mata! Jaring pedang kebanggaan mereka lenyap tanpa sisa.
Namun, mimpi buruk itu belum berakhir. Sisi tumpul dari gagang tombak Ye Xuan menghantam tubuh keempat pemuda itu secara bergiliran dalam hitungan milidetik.
Terdengar rentetan suara ledakan daging dan tulang yang sangat memuakkan. Keempat elit Sekte Pedang Surgawi itu bahkan tidak sempat menjerit. Tubuh mereka meledak menjadi kabut darah di udara, hancur sepenuhnya oleh kekuatan fisik yang tidak manusiawi!
Sisa-sisa gelombang kejut dari ayunan Ye Xuan terus melaju, menghancurkan belasan pilar batu purba di sekeliling mereka hingga rata dengan tanah, menyapu kabut kelabu dalam radius seratus meter.
Keheningan seketika turun menyelimuti hutan tersebut, hanya menyisakan suara jatuhnya serpihan batu dan hujan darah.
Mata Gu Chen terbelalak hingga nyaris keluar dari kelopaknya. Rahangnya jatuh, seluruh tubuhnya bergetar hebat. Jantungnya berdegup kencang seolah mau merobek rongga dadanya.
"B-bagaimana mungkin..." Gu Chen mundur tiga langkah, pedang di tangannya bergetar. "Tanpa menggunakan Qi... menghancurkan empat ahli Pembentukan Fondasi hanya dengan satu ayunan fisik?! K-kau bukan manusia!"
Di belakang Ye Xuan, Su Yan dan dua murid Awan Azure lainnya menahan napas hingga nyaris pingsan. Pemandangan brutal dan dominasi absolut ini menghancurkan akal sehat mereka berkeping-keping.
Ye Xuan menghentikan putaran tombaknya dan menancapkannya kembali ke tanah dengan santai. Ia menepuk sedikit noda debu dari lengan jubahnya, lalu menatap Gu Chen dengan pandangan bosan.
"Hanya itu? Dan kau berani menyebut orang lain sebagai anjing?" Ye Xuan memiringkan kepalanya. "Sekarang, giliranmu. Tunjukkan padaku apa yang membuatmu begitu sombong."
Kemarahan dan teror bercampur aduk di dalam dada Gu Chen. Ia tahu berlari bukanlah pilihan; kecepatan Ye Xuan yang bisa mengayunkan senjata seberat itu berarti tubuh pemuda itu menyimpan daya ledak yang mengerikan. Satu-satunya jalan keluar adalah membunuhnya!
Gu Chen menggigit ujung lidahnya dan menyemburkan esensi darahnya ke bilah pedang di tangannya.
"JANGAN MEREMEHKANKU! AKU ADALAH JENIUS PERINGKAT DUA SEKTE PEDANG SURGAWI!" raung Gu Chen, melepaskan seluruh kultivasi Puncak Pembentukan Fondasi Menengah-nya tanpa sisa.
Seni Pedang Hukuman Langit - Penghakiman Bintang Jatuh!!
Pedang Gu Chen memancarkan cahaya keemasan yang luar biasa menyilaukan, membentuk ilusi pedang raksasa sepanjang dua puluh meter di udara. Hawa membunuh dari pedang itu begitu kental hingga mengukir retakan di tanah berbatu di bawahnya. Ini adalah teknik pamungkas yang bisa mengancam bahkan kultivator Pembentukan Fondasi Akhir!
Ilusi pedang raksasa itu meluncur turun, menargetkan Ye Xuan dengan kecepatan meteor.
Menghadapi teknik pamungkas itu, Ye Xuan tidak lagi diam. Ia mencabut tombaknya. Pusaran naga di dalam perutnya berputar liar, mengalirkan Qi Emas yang kini jauh lebih padat sejak ia menembus tingkat Menengah.
WUSSH!
Api hitam keemasan—Api Naga Gagak—meledak, menyelimuti seluruh tubuh Ye Xuan dan tombaknya. Suhu udara di sekitar langsung melonjak drastis, membakar sisa-sisa kabut miasma menjadi ketiadaan.
Langkah Guntur Sembilan Bayangan!
Percikan petir meledak di bawah kaki Ye Xuan. Di bawah tekanan gravitasi purba yang lima kali lipat lebih berat, Ye Xuan justru melesat ke depan, meninggalkan sembilan bayangan ilusi yang terbuat dari kilat dan api hitam!
Gu Chen kehilangan jejak Ye Xuan. "D-dimana dia?!"
"Terlalu lambat."
Suara kematian itu berbisik tepat di telinga Gu Chen.
Ye Xuan muncul di udara, tepat di samping ilusi pedang raksasa Gu Chen. Ia mengayunkan Tombak Besi Hitam-nya dari atas ke bawah.
Tebasan Pemecah Bintang!
BOOOOOOM!
Tombak berlapis api hitam keemasan itu menghantam ilusi pedang raksasa milik Gu Chen. Tidak ada kebuntuan. Api Naga Gagak dengan brutal memakan dan menghancurkan Qi pedang tersebut, meremukkannya seperti kaca rapuh dalam sekejap mata!
Tombak itu terus meluncur tanpa kehilangan momentum, menghantam pedang asli di tangan Gu Chen.
PRANG!
Pedang tingkat menengah puncak milik Gu Chen patah menjadi dua.
BAMMMM!!
Ujung tumpul tombak itu kemudian bersarang telak di dada Gu Chen.
"UAAKKK!" Gu Chen memuntahkan darah hitam yang bercampur dengan organ dalamnya. Tubuhnya terlempar ke belakang dengan kecepatan peluru, menghantam sebuah akar pohon raksasa hingga akar berbatu itu hancur berantakan.
Gu Chen merosot ke tanah. Matanya terbuka lebar, penuh dengan ketidakpercayaan dan keputusasaan. Dadanya telah hancur sepenuhnya. Ia menatap Ye Xuan yang mendarat dengan ringan di tanah, mencoba mengangkat tangannya, namun akhirnya nyawanya melayang sebelum ia bisa merangkai satu kata pun.
Pertempuran itu selesai. Lima elit Sekte Pedang Surgawi rata dengan tanah.
Ye Xuan dengan santai berjalan ke arah mayat Gu Chen dan empat gumpalan darah di kejauhan. Menggunakan sedikit manipulasi Qi, ia menarik lima Cincin Penyimpanan dari mayat-mayat itu dan memasukkannya ke dalam sakunya sendiri.
"Lautan sumber daya gratis," gumam Ye Xuan puas.
Setelah selesai menjarah, Ye Xuan berbalik, berniat meninggalkan tempat itu untuk mencari tanaman spiritual lainnya.
"Ye... Ye Xuan... tunggu!"
Suara lemah Su Yan menghentikan langkahnya.
Su Yan memaksakan diri untuk berdiri, dibantu oleh pedangnya. Wajahnya merah padam, campuran antara rasa malu, syukur, dan emosi yang rumit. Ia menatap punggung tegap pemuda yang baru saja menyelamatkan nyawanya.
"Terima kasih... kau telah menyelamatkan nyawa kami," ucap Su Yan dengan nada yang jauh lebih merendah dari biasanya. Harapan kecil tiba-tiba muncul di hatinya. Apakah dia masih memiliki perasaan padaku? Apakah dia melacakku untuk melindungiku? pikir Su Yan dalam hati.
Ye Xuan menghentikan langkahnya. Ia memutar kepalanya sedikit, menatap Su Yan dari sudut matanya. Sorot mata Ye Xuan begitu dingin dan tak acuh, layaknya menatap orang asing yang tak sengaja ia temui di jalan.
"Jangan salah paham," suara Ye Xuan sedingin es, memecahkan khayalan Su Yan seketika. "Aku tidak membuang waktuku untuk menyelamatkanmu, dan aku juga tidak peduli apakah kau hidup atau mati di tempat ini."
Ye Xuan melirik tumpukan mayat murid Sekte Pedang Surgawi. "Aku membunuh mereka hanya karena mereka menghalangi jalanku dan kebetulan memiliki cincin penyimpanan yang berharga. Jika kalian tidak ingin mati lebih cepat..."
Mata Ye Xuan memancarkan kilatan peringatan yang membekukan darah Su Yan dan kedua murid lainnya.
"...jangan coba-coba mengikutiku."
Setelah mengucapkan kata-kata itu, tubuh Ye Xuan berkedip, berubah menjadi kilatan petir emas, dan menghilang ke dalam pekatnya kabut hutan purba.