NovelToon NovelToon
Liontin Dewi: Jalan Sang Raja Obat

Liontin Dewi: Jalan Sang Raja Obat

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nissa Safira

Rizky Pratama adalah lambang kegagalan; hidup miskin, sering dipecat, dan selalu sial, sampai sebuah kecelakaan tragis merenggut segalanya. Namun, maut justru membawakannya keajaiban berupa Liontin Dewi yang menyatu dengan tubuhnya, memulihkan lukanya secara instan dan melambungkan kecerdasannya di atas rata-rata manusia. Lebih gila lagi, liontin itu memberinya kemampuan mengendalikan tanaman, dari mempercepat pertumbuhan, menemukan herba langka, hingga menciptakan varietas obat ajaib yang belum pernah ada sebelumnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22

Suasana sore di Klinik Bintang Abadi terasa sangat tenang dan damai setelah hiruk pikuk berita pagi tadi.

Rizky sedang duduk merapikan catatan pengeluaran kebun di ruang istirahat klinik sambil menyesap teh hangat.

Ponsel pintarnya tiba-tiba bergetar hebat di atas meja kaca memecah keheningan ruangan.

DRRR DRRR.

Layar ponsel itu menampilkan deretan nomor tidak dikenal yang tidak ada di daftar kontaknya.

Rizky mengangkat telepon itu dan menempelkannya ke telinga kanannya dengan santai.

"Halo, dengan siapa ini?" sapa Rizky membuka percakapan.

"Ini aku Bang Codet, orang yang nyawanya kau selamatkan di pasar gelap pelabuhan beberapa hari lalu."

Terdengar suara serak khas dari seberang telepon yang membalas sapaan Rizky dengan tempo cepat.

"Oh Bang Codet, ada urusan apa calo informasi paling hebat di pelabuhan menghubungiku sore-sore begini?"

"Dengar anak muda, waktumu tidak banyak jadi aku akan langsung bicara pada intinya saja."

Suara Bang Codet terdengar sangat tegang dan terburu-buru seperti orang yang sedang bersembunyi.

"Direktur Hendra dari Medika Raya baru saja bebas dari kantor polisi dengan uang jaminan besar siang ini."

"Lalu apa hubungannya masalah itu denganku Bang Codet?" tanya Rizky sengaja memancing reaksi.

"Orang tua bangka itu benar-benar mengamuk dan membuang uang puluhan miliar ke pasar gelap hari ini juga."

Bang Codet menarik napas panjang dan berat sebelum melanjutkan kalimatnya.

"Dia menyewa seratus preman bayaran bersenjata tajam dari Sindikat Naga Hitam untuk meratakan kebunmu malam ini."

Rizky sama sekali tidak menunjukkan reaksi panik atau ketakutan mendengar ancaman mengerikan tersebut.

"Seratus orang preman bayaran? Bos Hendra rupanya benar-benar sudah putus asa karena perusahaannya hancur ya."

"Ini bukan lelucon anak muda, Sindikat Naga Hitam terkenal kejam dan tidak pernah membiarkan targetnya hidup."

Bang Codet terdengar sangat cemas karena ia merasa sangat berhutang budi pada pemuda jenius ini.

"Mereka akan berangkat ke lahan perbukitanmu setelah matahari terbenam nanti malam."

"Terima kasih atas informasi berharganya Bang Codet, aku akan mengurus sisanya sendiri di kebun."

"Larilah keluar kota malam ini juga kalau kau masih sayang nyawa, aku sudah memperingatkanmu sebagai balas budi."

KLIK.

Sambungan telepon diputus dari seberang sana dengan sangat tergesa-gesa.

Indah Sari yang baru saja masuk ke ruangan membawa setumpuk dokumen menatap Rizky dengan raut wajah heran.

"Siapa yang meneleponmu barusan Rizky? Wajahmu terlihat sedikit lebih serius dari biasanya hari ini."

Rizky meletakkan ponselnya di atas meja dan menatap rekan bisnisnya itu dengan tatapan tenang.

"Itu tadi telepon dari informan rahasiaku di pasar gelap Nona Indah."

"Bos Hendra rupanya tidak terima dipermalukan dan menyewa seratus preman untuk menyerang kebunku malam ini."

BRUK.

Tumpukan dokumen di tangan Indah langsung jatuh berserakan ke lantai saking kagetnya ia mendengar berita itu.

"Seratus preman? Rizky, kita harus segera menelepon polisi atau meminta bantuan pengawal pribadi Tuan Darmawan sekarang juga."

Indah mulai panik dan buru-buru merogoh ponsel pintarnya di saku jas putih laboratoriumnya.

Rizky berdiri dan menahan tangan Indah dengan sangat lembut namun cukup kuat untuk menghentikannya.

"Tidak perlu melibatkan pihak kepolisian atau merepotkan Tuan Darmawan dalam urusan kotor seperti ini Indah."

"Tapi kau dan Bang Jali bisa mati terbunuh dicincang di atas bukit sana Rizky, ini bukan adegan film laga."

"Aku memang bukan jagoan bela diri yang kebal senjata tajam Indah, tapi jangan lupa kalau aku adalah seorang ahli obat."

Rizky tersenyum misterius dan menatap lurus ke dalam mata Indah yang masih memancarkan ketakutan.

"Dan ramuan buatanku tidak hanya bisa menyembuhkan orang sakit, tapi juga bisa memberikan mimpi buruk yang paling mematikan."

Tepat saat Rizky menyelesaikan kalimatnya yang penuh teka-teki itu, suara notifikasi mekanis berbunyi nyaring di dalam kepalanya.

TING.

[Peringatan Sistem: Waktu pertumbuhan telah selesai.]

[Teratai Es Kematian telah mencapai fase mekar sempurna dan siap untuk dipanen hari ini.]

Mata Rizky langsung berbinar terang menyambut kabar gembira yang sangat tepat waktu dari sistem liontin di dadanya tersebut.

"Senjata utamaku sudah siap dipanen sekarang Indah, aku harus pergi ke pelabuhan utara dulu untuk mengambilnya."

"Ke pelabuhan utara? Bukannya kau harus segera ke kebun untuk mengevakuasi Bang Jali dan anak buahnya agar mereka selamat?"

"Aku sudah menyuruh Bang Jali meliburkan anak buahnya malam ini dengan alasan perbaikan saluran air kebun."

Rizky merapikan kerah jaketnya dan melangkah dengan mantap menuju pintu keluar ruang istirahat.

"Tetaplah di klinik dan kunci semua pintu rapat-rapat bersama satpam keamanan Nona Indah."

"Hati-hati Rizky, kalau sampai terjadi apa-apa padamu, aku sendiri yang akan membakar gedung bos Medika Raya itu."

Rizky hanya mengangguk pelan mengiyakan kecemasan Indah lalu segera berlari menuju jalan raya untuk mencari taksi.

Satu jam kemudian, Rizky sudah berdiri kembali di depan gerbang besi karatan bekas pabrik kimia PT Nusantara Emas.

Langit senja sudah mulai gelap dan udara di sekitar area pabrik itu terasa jauh lebih dingin dari dua hari yang lalu.

Rizky membuka gembok besi kusam itu dan melangkah masuk ke dalam area pabrik dengan kewaspadaan penuh.

KREEEK.

Langkah sepatunya terdengar menggema bergesekan dengan batu kerikil di tengah keheningan pabrik yang sangat mencekam.

Begitu ia sampai di area halaman belakang pabrik, pemandangan yang tersaji di depannya sungguh luar biasa menakutkan dan indah secara bersamaan.

Seluruh genangan limbah beracun seluas lapangan basket itu kini telah membeku total menjadi bongkahan es hitam pekat yang padat.

Di tengah lapangan es mematikan itu, sebuah bunga teratai seukuran bola basket mekar dengan sangat anggunnya.

Kelopak bunganya terbuat dari kristal es transparan berwarna biru terang yang terus memancarkan cahaya menyilaukan.

Udara di sekitar bunga itu dipenuhi oleh kabut putih tebal yang bergulung-gulung bergerak layaknya makhluk hidup.

SST SST.

Suara desisan udara beku terdengar jelas bergesekan setiap kali kabut itu menyentuh tanah dan membekukan batu di sekitarnya.

1
Abady Ehm
cerita sampah, seharusnya dia obati dulu ibunya yg sakit2an, habis beli lahan, carilah pekerja untuk dibersihkan dan dipagar keliling, lalu dibuatkan pondok untuk preman penjaga lahan tuh, jgn ngsal gitu ceritanya, baru bab 11 udah bosan bacanya,.....
Nissa Safira: Terima kasih atas kritiknya kak😅
Saya paham concern-nya soal ibu Rizky dan pengelolaan lahan.
Semua itu sengaja belum dieksekusi sekarang karena ada konflik dan konsekuensi yang mau saya bangun di bab-bab selanjutnya.
Kalau Rizky langsung "sempurna" dari awal, cerita dan pertumbuhannya jadi kurang greget.
Mohon bersabar ya, saya janji bakal dijawab semua di bab bab berikutnya 🙏😅
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!