Kalian tahu Reuni itu apa?
Kalian tentu sudah tahu.
Pertemuan kembali setelah berpisah cukup lama.
REUNI betul-betul mengubah hidupku.
Aku bertemu dengan jodohku saat REUNI.
REUNI mempertemukanku kembali, dengan siswa terpintar saat SMA dulu. Sampai benih-benih cinta tumbuh diantara kami. Dan kami pun sepakat mengikat janji suci dalam pernikahan.
Namun siapa sangka?
REUNI yang telah mempertemukan aku dengan jodoh.
Namun REUNI pula membuat rumah tanggaku nyaris berantakan.
Ketika seorang pria yang tidak pernah diperhitungkan di masa lalu. Tiba-tiba hadir dengan segudang pesonanya.
Rumah tanggaku pun dipertaruhkan.
****************
Author : INA AS
Facebook : INA AS
Instagram: INA AS
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ina As, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12. Dalam Masalah
Tadi ia menyesali tiga panggilan telepon Bimasena yang terlewatkan. Namun begitu panggilan yang sudah lama dinanti-nanti itu kembali menderingkan ponselnya, Nadia hanya menatap ponsel itu dengan mulut setengah terbuka.
Jantungnya kembali tidak bisa diajak kerjasama. Berdebar tidak karuan. Belum apa-apa juga tubuhnya sudah panas dingin. Tanpa terhindarkan bulir-bulir keringat dingin mengembun di dahinya.
Apakah itu merupakan gejala awal penyakit jantung? Mungkin sebentar lagi ia akan terkena serangan jantung. Atau merupakan tanda fisik orang yang sedang jatuh..... Ah malu untuk meneruskannya.
Ia berusaha menormalkan degup jantungnya sebelum menjawab telepon Bimasena, karena bila tidak, ia malah akan tergagap seperti kemarin-kemarin. Dan tentu sangat tidak elegan, mirip anak sekolahan yang baru kasmaran, padahal ia sudah berumur.
Mengapa juga Bimasena membuatnya serasa anak sekolahan yang baru mengenal lawan jenis? Padahal usianya 30 tahun belum memasuki fase Pubertas Kedua, dimana ada dorongan gairah yang menggebu-gebu pada usia 35-40 tahun.
Dengan tangan gemetar ia meraih ponsel yang tergeletak di depannya, di atas kasur. Baru hendak menggeser tombol berwarna hijau, namun panggilan Bimasena sudah berhenti.
Ia mendesah tidak percaya, ia baru saja melewatkan panggilan keempat Bimasena. Betul-betul sial.
Mau menelpon kembali sungguh malu rasanya. Jangan sampai Bimasena berpikir bahwa ia adalah perempuan kesepian yang sangat mudahan. Tidak boleh. Jangan sampai.
Anggap saja bukan rezeki. Kalimat untuk menghibur hati yang penuh kegundahan sembari masih menunggu panggilan kelima dari Bimasena. Berdiri di atas gengsi, maka menunggu adalah pilihan terbaik ketimbang harus menelepon Bimasena.
Namun lebih dari setengah jam ia menunggu, dusuk manis memeluk lutut, menatap ponsel yang tergeletak di atas kasur dengan penuh harap ponsel itu akan berbunyi, namun ternyata hanya bel rumah yang berbunyi. Ia pun mendengus kecewa.
Mungkin ia lupa menutup jendela ruang tamu sehingga security membunyikan bel rumahnya. Atau Tristan pulang lebih awal?
Ia pun menyambar kimono tidur dan ia kenakan untuk menutupi ********** yang terlalu minim, terlalu rendah pada bagian dada, dan terlalu tinggi pada bahagian paha.
Namun begitu keluar kamar, ia melihat jendela sudah tertutup, berarti bukan security. Bisa jadi Tristan sudah pulang.
Waduh! padahal tidak ada stok makanan untuk makan malam Tristan. Otaknya pun berpikir mau memasak apa dengan bahan yang tersedia di kulkas. Ia masih memiliki nugget ayam dan udang yang disimpan di freezer, touge dan kangkung, bisa diolah menjadi lauk dan sayur dalam waktu yang relatif singkat. Urusan makan malam Tristan aman.
Yakin Tristan yang pulang malam itu, Nadia langsung memutar kunci pintu dan membuka pintu lebar-lebar.
Namun malah ia memekik kaget, karena bukan Tristan yang pulang, tapi......
Bimasena yang datang.
Panggilan telepon Bimasena saja membuat ia berdebar tidak karuan, apalagi sekarang.
Bimasena tiba-tiba berdiri mengulum senyum di depannya.
Cobalah bayangkan bagaimana keadaan dirinya sekarang, yang jelas ia tidak dalam keadaan baik-baik. Kejutan apa lagi yang ia dapat malam-malam begini.
Nadia hanya melongo dengan mulut menganga memandangi Bimasena yang tersenyum padanya. Sungguh ia tidak percaya, keberanian Bimasena datang saat malam semakin larut. Nadia bahkan tidak sadar, ekspresinya sangat tidak keren.
Membuat Bimasena yang awalnya tersenyum manis, berganti dengan tawa tertahan, demi mencegah ketersinggungannya bila Bimasena lepas tawa karena ekspresi lucu wajahnya.
Bila Bimasena sering mengagetkannya seperti ini, maka ia ragu apa bisa berumur panjang. Karena kejutan-kejutan pada jantungnya, bisa membuat jantungnya berhenti memompa darah seketika.
"Nadia! belum tidur?" Sapaan Bimasena membuat kaki Nadia kembali berpijak pada bumi setelah sebelumnya ia seperti berada di udara.
"Be...belum. Bima kamu dari mana?, eh maaf, masuk dulu!" Nadia bahkan lupa bila harus menyilahkan tamunya masuk ke ruang tamu.
"Nggak usah Nadia, ini sudah malam. Nggak baik masuk malam-malam begini sementara suamimu tidak di rumah. Aku dari apartemen. Datang kesini hanya untuk memastikan keadaanmu. Karena kamu tidak menjawab panggilanku berkali-kali. Membuat aku khawatir. Kamu baik-baik saja?" tutur Bimasena dengan serius seraya menatap lekat mata Nadia.
Perhatian kecil yang sangat bernilai besar. Terlebih bagi jiwa sepi Nadia yang sudah lama tidak mendapat perhatian dari suaminya. Sampai ia lupa bagaimana rasanya diberi perhatian oleh orang yang spesial. Kini kembali ia merasakannya.
Ucapan Bimasena menggetarkan jiwanya, mengalirkan rasa hangat nan nyaman ke relung hati sanubarinya. Sekedar datang hanya untuk memastikan keadaannya. Membuatnya serasa menjadi orang yang sangat berarti.
Sudah menjadi fitrah bagi seorang perempuan bila ingin dilindungi, bukan karena ia lemah, namun lebih karena perasaannya sendiri.
"Iya, aku baik-baik saja. Maaf tadi nggak sempat menjawab teleponmu," ucap Nadia tanpa bisa menyembunyikan kegugupannya.
"Nggak apa-apa, tidak ada kewajiban harus menerima teleponku." Bimasena berbicara dengan tenang. Ia melanjutkan lagi,
"Terimakasih Nadia sudah menerimaku datang malam ini, aku sudah lega kamu baik-baik saja."
"Sebenarnya aku ingin ngobrol banyak denganmu, tapi malam sudah terlalu larut. Mungkin lain kali kamu bisa sisihkan waktu untukku atau menjawab teleponku."
"Masuklah ke dalam, pastikan pintu dan jendela sudah dikunci." ujar Bimasena sambil tersenyum.
Nadia mengangguk mengiyakan, namun tetap terpaku pada tempatnya. Ia belum rela bila Bimasena pulang secepat itu, namun tidak mungkin ia mencegahnya.
Mereka tetap berdiri berhadapan di ambang pintu.
Sesaat mereka hanya saling memandang tanpa suara, lalu sama-sama tersenyum.
"Kenapa belum masuk?" tanya Bimasena.
Membuat wajah Nadia merona malu.
"Tamuku belum pulang," akhirnya Nadia sukses membuat alasan tentang etika menerima tamu. Bila tamu telah berpamitan, seyogyanya ikut mengantarkan keluar rumah untuk melepas kepergiannya
Bimasena tertawa. "Aku harus memastikan kamu sudah berada di dalam rumah, sudah mengunci pintu baru aku pulang Nadia. Bila tidak maka aku akan kembali khawatir."
Namun Nadia tetap bergeming pada tempatnya. Sampai akhirnya mereka saling tertawa karena tidak ada yang mengalah.
"Nadia, kamu tahu apa masalahku sekarang?" Bimasena memecah kesunyian.
Nadia menggeleng, tanpa sadar tangannya meremas kimononya.
"Aku selalu memikirkanmu," lanjut Bimasena menatap dalam pada mata Nadia, seolah berusaha menyelami kedalaman hati Nadia. Bagaimana respon Nadia terhadapnya.
Seketika itu juga Nadia merasakan desiran aneh pada tubuhnya demi mendengar kalimat itu. Hatinya berdebar-debar. Ia mengangkat wajahnya, balas menatap mata Bimasena, mencari kejujuran di sana.
Tanpa sadar Nadia menggigit bibir bawahnya lalu menunduk untuk menyembunyikan wajahnya karena ternyata ia tak mampu beradu pandang dengan Bimasena. Ia lalu menarik nafas panjang, mencoba mengatur keseimbangan tubuhnya yang mendadak mengalami gangguan.
"Kadang aku bertanya-tanya, juga tidak habis pikir mengapa kamu sangat mempengaruhi aku. Apa karena kecantikan?, penampilan?, attitude?, atau karena dulu pernah ada rasa yang terpendam?. Kamu membuat sesuatu yang baru dalam diriku."
"Tanpa sadar juga membawa aku ke dalam masalah besar, karena aku mulai tidak mampu mengendalikan diriku sendiri. Sementara untuk mewujudkannya, lebih dari sekedar menyeberangi lautan, ataupun mendaki gunung tertinggi."
"Kamu tidak perlu terpengaruh ataupun terbebani dengan ucapanku, karena aku masih akan berusaha mengendalikan pemikiran irasionalku. Bagaimanapun juga aku tidak ingin merusak kebahagiaan orang, apalagi teman sendiri."
"Hanya saja kadangkala rasa ini tidak mengerti." Suara Bimasena semakin pelan dan lebih mirip gumaman.
Nadia merasa ia tidak bisa bernafas dengan normal. Ia masih menunduk, menunggu Bimasena melanjutkan perkataannya. Ia tidak dapat mengatakan apa-apa. Pria di depannya terlalu menarik, percaya diri, dan memiliki sikap yang sempurna sehingga kemampuan diri yang dimiliki Nadia amblas, lenyap tak bersisa. Nadia merasa mereka berdua terlalu timpang. Lalu mengapa bisa dipertemukan seperti ini?.
Tanpa memandang Bimasena, ia bisa merasakan bahwa pandangan Bimasena menghujam ke arahnya, seolah-olah menelanjanginya. Membuat lututnya gemetar, begitu sulit menyanggah tubuhnya. Telapak tangannya pun basah oleh keringat dingin. Sikap yang sangat menggelisahkan.
Bimasena melanjutkan lagi,
"Namun bila aku tidak mampu menguasai diri dan dikalahkan oleh ego, maka kuatkanlah benteng pertahananmu."
Wajah Nadia memerah dan degup jantungnya meningkat.
Apa itu berarti Bimasena mengungkapkan perasaan, tapi meminta dirinya untuk menolak sedapat mungkin? menghindari sebisa mungkin? Bahasa Bimasena terlalu sulit untuk dimengerti.
"Masuklah ke dalam Nadia. Kunci pintu, lalu masuk ke kamar!. Setelah itu baru aku pulang. Sudah larut malam." Suara Bimasena terdengar kembali.
Nadia mengangkat wajahnya, sehingga mereka kembali saling berpandangan. Bimasena mengangguk dan tersenyum. "Masuklah!"
Entah keberanian darimana yang Nadia dapatkan sehingga ia menggeleng. Jauh di lubuk hatinya belum menginginkan Bimasena pulang.
Bimasena lantas tertawa. "Bila kamu nggak masuk, kita akan berdiri berhadapan di ambang pintu sampai pagi Nadia. Aku pria yang egois."
Nadia balas tertawa dan mulai berani menantang tatapan Bimasena.
"Masuklah!" ucap Bimasena sekali lagi.
"Nggak apa-apa aku tinggalkan? Aku tutupin pintu trus matiin lampu?" Seolah faktor Etika menerima tamu membuatnya tetap bergeming, padahal sesungguhnya ia masih ingin menahan Bimasena.
"Bukankah aku yang memintamu? Tidak ada yang perlu dikhawatirkan." Bimasena kembali tersenyum.
Tidak ada alasan lagi bagi Nadia untuk tetap terpaku di tempatnya. "Aku masuk dulu Bim."
Bimasena mengangguk.
Ia menutup pintu dengan perlahan, juga menguncinya dengan perlahan. Lalu mengintip pada kaca jendela dengan menyibak sedikit kain gorden.
Tanpa disangka ia malah bertemu mata dengan Bimasena. Ketahuan lagi mengintip.
Bimasena tetap berdiri di tempatnya dan memberi isyarat pada Nadia untuk mematikan lampu dan masuk ke kamarnya.
Untuk pertama kalinya seorang pria memperlakukannya seperti ini. Mengatur sampai hal terkecil. Namun ternyata Nadia sangat menyukai bentuk perhatian Bimasena.
Ia pun berjalan menekan saklar lampu sehingga ruang tamu menjadi gelap. Bukannya masuk ke kamar, ia kembali ke jendela untuk mengintip. Toh Bimasena tidak bisa melihat dirinya lagi karena ruang tamu sudah gelap.
Melihat punggung Bimasena berjalan keluar, naik ke atas mobil, dan menutup pintu mobil. Ternyata Bimasena menurunkan kaca mobil, melihat ke dalam rumah dan membunyikan klakson sekali seolah berpamitan.
Apa Bimasena tahu kalau ia mengintip lagi? Ah tidak mungkin Bimasena bisa melihatnya ke dalam.
Sampai mobil yang dikendarai Bimasena menghilang dari pandangan, barulah Nadia masuk ke kamarnya.
Nadia sempat melirik ke arah cermin saat melewati meja rias, dan mendadak ia berhenti. Ia lalu menghadap cermin, melihat baik-baik pantulan dirinya di dalam cermin.
Nadia shock seketika.
Ia baru sadar menemui Bimasena yang ia pikir Tristan, dengan pakaian tidur. Kimononya begitu transparan memperlihatkan dalaman yang ........
Yang membuatnya ingin pingsan seketika.
Ia sudah menemui Bimasena dengan sangat vulgar. Memalukan. Sangat memalukan.
*********
Readersku tersayang,
Selamat Hari Raya Idul Fitri bagi yang merayakan.
Mohon maaf lahir bathin.
Maaf, minggu ini karena kesibukan hari raya,
Update novel tidak menentu.
- Aaliyah: Siapa Yang Kau Cinta?
- (Tak Bisa) Ke Lain Hati
- Pesona Nada
Semoga kalian tetap sehat dan bahagia selalu.
😘😘😘
Nadia: Apakah kamu sering tidur dg banyak wanita sblm denganku, Bim.karena sbg seorang jejaka kamu sangat pro dlm sex?
itu diotakku, ternyata beda yg diotak kak Ina..🤣🤣
tentulah kalo jadi iatri Tristan, akan pilih selingkuh dg Bima.Kalau istri Adit akan pilih setia,krn suami sdh baik, sayang, kaya lagi..hehe
.hehehe