Sudah direvisi lebih bagus, silakan dibaca dari awal. Terima kasih!
Tidak kenal, tapi menikah. Nadin menyetujui surat perjanjian karena ditolong oleh tuan muda, saat hendak dijual dengan temannya sendiri. Nadin tidak menyia-yiakan kesempatan, dia berusaha membuat Argan jatuh cinta padanya. Akankah dia berhasil mencapai tujuannya, disaat banyak rintangan yang menghalangi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhiy Navya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kagum Tapi Gengsi
Keesokan harinya, Nadin masih di rumah sakit. Saling diam, namun keduanya saling membatin.
”Ah iya, aku selalu saja merasa semuanya seolah nyata. Padahal aku dan dia hanya suami istri di atas kertas, bukan istri sungguhan di hati masing-masing.” Nadin mengingat acara pernikahan itu.
”Mengapa dia memberiku lampu bola kristal, atau sengaja biar trauma kambuh lagi. Setelah itu, dia ingin menikah lagi. Hidup bahagia, menertawakan kuburan ku setiap hari.” batin Argan.
Nadin!
Tuan muda!
Keduanya memanggil secara bersamaan.
"Tuan saja yang bicara duluan."
"Kamu saja yang berbicara duluan."
"Baiklah, boleh aku bertanya?"
"Bertanya apa?"
"Kalau boleh tahu, Mama tuan muda ke mana?"
"Kamu tidak perlu tahu, tidak penting juga diketahui." jawab Argan, dengan ketus.
Nadin diam saja kalau sudah seperti itu, malas untuk bertanya lebih lanjut. Yang ditakutkan malah perang di dalam ruangan.
"Apa Dera tidak memberitahumu, supaya jangan banyak basa-basi."
"Dia sudah memberitahu aku tuan."
"Laksanakan tanpa bertanya kenapa." Argan beranjak dari duduknya.
Dia meraih handle pintu, namun mengucapkan sebuah kalimat terlebih dahulu. "Aku akan lembur hari ini. Banyak kerjaan kantor yang harus diurus, nanti asisten Dera yang akan menemani di sini."
Nadin mengangguk. "Baik tuan."
Setelah selesai mengutarakan hal itu, dia segera pergi dengan tenang. Tak berselang lama, tampaklah Dera yang masuk ke dalam ruangan. Dia duduk di kursi sofa, yang ada di ruangan tersebut.
"Asisten Dera!" panggil Nadin.
"Hmmm..." Dera sibuk dengan ponselnya.
"Boleh aku bertanya?"
"Hmmm..."
"Mamanya tuan muda ada di mana sekarang?"
"Terlalu banyak basa-basi, akan membuat nona mendapatkan masalah."
”Lagi-lagi, kata-kata itu yang diucapkannya.” batin Nadin.
Sahara mondar-mandir dengan wajah tampak cemberut, karena sedang menunggu kedatangan seseorang.
"Kakak mutiara belum pulang dari rumah sakit Pa. Kenapa Papa tidak mau menjenguknya?" tanya Sahara pada Hadi.
"Kamu tidak usah terlalu dekat dengan dia. Kamu tidak tahu saja kalau dia tidak baik." Hadi menghasut putrinya.
"Aku ingin dekat dengan dia. Bagiku dia baik, aku pernah dikepang olehnya, saat tidur di kamar Kak Argan. Bahkan dia membelai pipiku saat hendak tidur, benar-benar terasa nyaman."
"Kamu masih kecil, tidak tahu mana yang baik dan mana yang buruk."
Sahara tampak lesu mendengar jawaban dari papanya, seraya bergerak mengerucutkan bibirnya.
"Menurut lah sama papa, kamu baru saja mengenalnya. Kamu tidak tahu 'kan, isi hatinya?"
Sahara menggeleng, dia tidak tahu bahwa Hadi sangat benci pada Nadin. Sejak Nadin masuk ke dalam kehidupan keluarganya, sejak itulah akar busuk tumbuh di hatinya.
”Aku akan bertanya pada kak Heru tentang kakak ipar.” batin Sahara.
Waktu makan siang tiba, Nadin tetap tidak mau makan. Dera sudah bolak-balik menyendok nasi, namun Nadin terus menggeleng. Dera memilih menyuapi diri sendiri, kebetulan belum sempat sarapan.
"Nona berbuat seperti ini, sama saja menyusahkan aku." ujar Dera.
"Aku tidak selera makan." jawab Nadin.
"Orang sakit biasanya seperti itu, bukan hanya nona muda saja." Dera mengunyah makanannya.
"Bilang pada tuan muda, aku butuh ditemani saat makan." jawab Nadin.
Dera ternyata merekam ucapan Nadin, lalu mengirimkannya ke Argan. Di ruang meeting, langsung terkejut dengan bunyi getaran ponsel. Argan penasaran dengan pesan suara dari Dera, sengaja menyudahi meeting untuk mendengarkan suaranya.
"Mengapa istriku ini, seperti mengejar ku. Aku harus jual mahal padanya, jangan luluh Argan." Mengingatkan diri sendiri.
Malam hari baru ke rumah sakit, untuk menjenguk Nadin. Dia juga ingin memeriksa, apa perempuan itu sudah makan. Saat masuk ke dalam ruangan, hanya terlihat Dera yang sibuk menyuruhnya makan.
"Ulangi lagi dari luar, ucapkan salam lebih dulu." pinta Nadin.
"Aku tidak mau." jawab Argan.
"Aku juga menolak untuk makan, termasuk hak diriku." ujarnya.
"Makanlah, kemudian minum obat." Argan menyendok nasi bubur dan menyodorkannya ke mulut Nadin.
Nadin menggeleng, dan Argan keluar dari kamar. Setelah mengucapkan salam, baru masuk ke dalam. Nadin menerima suapan dari Argan, setelah usai membaca doa.
”Awalnya ingin bermain-main, sekarang malah masuk perangkap.” batin Heru.
”Tuan muda sepertinya jadi bucin, sama nona muda.” batin Dera.
Kompak sekali dua asisten itu iya. Bukan hanya siaga dalam perintah tuan muda, tapi siaga juga, untuk membatin kemesraan mereka.
"Tuan tidak makan?" tanya Nadin.
"Nanti saja, aku tidak lapar."
Kruyuk! Kruyuk!
Perut Argan tidak bisa berbohong, cacing yang ada di dalam sana kompak untuk berdemo. Nadin yang mendengarnya jadi tersenyum.
"Ayo makan saja bersamaku."
Argan menggelengkan kepala.
"Ayolah!" ajaknya lagi.
”Sungguh berani dia memaksaku. Kalau tidak sedang sakit, mungkin sudah aku hukum dia.” batin Argan.
"Aaaa..." Nadin menyendok makanan, ke mulut Argan.
Akhirnya Argan mau menerimanya, Heru sibuk menyenggol Dera. Argan menyuruh Dera, untuk menonton drama romantis di depannya.
"Apaan sih kamu Heru." ucap Dera ketus.
"Galak sekali sih, aku mau seperti mereka."
Heru mulai memepetkan tubuhnya pada Dera, namun dengan cepat Dera mendorongnya. "Asisten galak, dingin, judes, ngeselin..." Belum selesai Heru berbicara, Dera sudah memotongnya.
"Sudah pidatonya?"
Heru menepuk jidatnya. "Aku sedang berbicara bukan pidato."
"Pidato juga sama bicara. Kamu kira kegiatan pidato bernyanyi." jawab Dera, dengan entengnya.
”Mengesalkan sekali dia, bisa-bisanya aku harus bertemu setiap hari.”
batin Heru.
"Bisakah kalian diam, kenapa sibuk?" Argan berdecak kesal.
"Maaf tuan muda, ini semua karena ada biang masalah." jawab Dera.
Heru melotot merasa Dera sedang mengatainya, meski tidak menyebutkan nama.
"Maaf tuan muda, kami tadi lupa karena membayangkan dunia milik berdua." Heru sedikit melirik Dera.
Dera mengepalkan kedua tangannya, dia menyeret Heru keluar dari luar ruangan itu. Argan yang melihatnya hanya geleng-geleng kepala. Nadin tidak sadar bahwa Argan dari tadi memperhatikannya, yang sedang melihat pintu arah keluar. Dia menatap jejak-jejak orang, yang kini sering ada didekatnya.
"Kamu kenapa sampai melihat Heru seperti tadi?" selidik Argan.
"Tidak apa-apa, aku hanya senang bisa mengenal mereka. Bagiku mereka itu unik." Nadin berbicara sambil terus tersenyum, seolah dia merasa kagum.
"Jangan melirik Heru, biasa saja jadi perempuan. Dia juga tidak tampan, masih beda jauh denganku sekitar 50 persen." ucap Argan, dengan percaya diri.
"Aku hanya melihatnya sekilas tuan muda." jawab Nadin, dengan jujur.
"Sekilas atau sudah puas?" Argan bertanya, namun memastikan yang sebenarnya.
Nadin menggeleng. "Tidak tuan, aku hanya lihat sekilas kok."
Argan meletakkan mangkuk bekas bubur di atas meja. Meski kesal, namun masih membantu merebahkan tubuh Nadin. Argan menyelimuti tubuhnya dengan telaten, supaya Nadin tidak tidur dengan kedinginan.
maaf krn sukak dg ceritax,semiga makin sukses..💪💪💪
yg jahat tp nanti bucin
walau crt sama tp beda nama doang
tp aku suka crt ceo
mbek mbek mbek 😂😂😂