NovelToon NovelToon
BERMUKA DUA

BERMUKA DUA

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:807.3k
Nilai: 5
Nama Author: Mizzly

Kehidupan sempurna bak putri kerjaan yang Inez rasakan mendadak berubah total ketika Rara menjalankan misi balas dendamnya. Rasa sakit hati kehilangan Papanya membuat Rara ingin membuat Inez merasakan apa yang Ia rasakan.

Tanpa Inez sadari, Rara selalu memakai topeng. Baik di depan dan busuk di belakang. Satu persatu kebahagiaan yang Inez miliki perlahan hilang, termasuk kesuciannya. Apa lagi yang akan Rara renggut lagi dari Inez?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mizzly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hari pertama kerja

"Jadi gue diterima kerja nih? Beneran?" tanya Inez tak percaya.

"Beneran lagi.....beneran lagi... Nih anak enggak percayaan banget sih jadi orang? Gue tuh beneran eh kok gue jadi ikut ngomong beneran juga ya? Er... maksudnya lo tuh resmi gue terima kerja. Ngomong beneran lagi gue jitak lo ya!" omel Rio panjang lebar.

"Terus gue gak pake interview atau bawa CV segala gitu? Apa mau pake CV yang gue bawa hari ini?" Inez memberikan amplop cokelat berisi CV miliknya yang sudah Ia print.

"Gak usah pake interview. Lo pake jalur khusus dari gue. Ntar gue bilangin ke HRD. Udah ah lo gangguin gue makan aja. Cepet habisin tuh lobster lo. Gak enak kalau dingin!"

"Siap, Pak Bos!" Inez menyunggingkan senyum lebarnya. Akhirnya Ia akan mendapatkan pekerjaan dan bisa membantu pengobatan Papa dan mengurangi beban pikiran Mama.

"Nah gitu dong. Senyum. Kayak berat banget beban hidup lo, Nez." celetuk Rio dengan asal.

"Lo gak tau aja apa yang udah gue alamin karena ulah kita malam itu." balas Inez. Inez mulai memakan lagi lobsternya.

"Emang apa aja yang lo alamin? Karena gue putus sama Rara jadi gue lost contact aja sampai gak tau keadaan lo."

"Udah ah gak usah diceritain. Biarlah berlalu. Yang penting gue sekarang udah dapet kerjaan. Tenang aja Pak Bos, gue akan bekerja dengan sungguh-sungguh dan tidak akan mengecewakan Pak Bos!" kata Inez serius. Inez seperti caleg yang sedang kampanye menyuarakan janji-janji politik.

"Iye... iye...Nez... Serah... Makan cepetan. Gue ambil nih lobster lo. Mahal tuh!" ancam Rio.

"Yeh jangan. Enak tau. Jarang-jarang gue makan makanan mahal kayak gini!" Inez menjauhkan piringnya dari Rio agak lobster miliknya tidak dicomot Rio.

"Pelit. Tadi aja nolak eh doyan juga."

"Iyalah, mahallllll"

*******

"Cantik banget sih anak Mama. Cie... yang mau kerja hari pertama?" Mama Olive memuji penampilan Inez yang terlihat cantik dengan kemeja dan rok hitamnya.

"Bagus gak sih Ma?" Inez seakan tidak percaya diri dengan penampilannya.

"Bagus banget malah. Udah gak usah minder. Kamu tuh cantik Sayang. Semoga Tuhan memudahkan hari-hari kamu di kantor ya Sayang." doa Mama dengan tulus.

"Amin."

Inez menatap sekali lagi wajahnya di cermin. Sudah rapi dan cantik.

"Inez berangkat dulu ya Ma." pamit Inez. Inez memeluk Mama Olive dan mencium pipi Mama tersayangnya.

"Hati-hati ya Sayang."

"Iya, Ma. Inez mau pamit sama Papa dulu ya." Inez lalu ke ruang makan. Sudah ada Papa yang sedang membaca koran sambil menonton berita di TV.

"Pa, Inez berangkat dulu ya. Rotinya dimakan, Pa. Jangan didiemin aja. Mumpung masih hangat roti bakarnya nanti dingin gak enak loh." Inez teringat perkataan Rio kemarin dan tanpa sadar menasehati Papa dengan nasehat yang Rio berikan.

"Iya, Sayang. Papa lagi asyik baca berita politik nih. Makin seru. Sesama wakil rakyat tapi saling menjatuhkan. Kamu hati-hati ya di jalan." kata Papa menasehati Inez.

"Iya, Pa. Papa juga yang rajin terapi dan latihan di rumahnya ya. Biar bisa Inez ajak jalan-jalan ke mall pakai gaji pertama Inez. Oke?"

"Oke Sayang. Kamu kerja yang bener ya. Papa yakin putri Papa adalah anak pintar. Inget satu hal ya, kerja harus jujur dimana pun kamu berada." nasehat Papa. Dulu Papa juga dinasehati oleh Kakek seperti itu makanya karir Papa lumayan sukses karena kejujurannya tersebut.

"Iya, Papa. Inez akan selalu inget pesan Papa. Dah Papa...."

Inez pun melangkahkan kakinya keluar dari rumah. Dengan sepatu kerjanya yang mulai lusuh karena seringnya dipakai melamar pekerjaan, Ia berjalan menuju halte bus.

Sudah ada beberapa orang yang menunggu bus bersama Inez. Mereka juga yang terbiasa pulang dan pergi kantor dengan jarak jauh.

"Hmm... Jadi seperti inilah rasanya berangkat kerja pagi-pagi bareng para pencari uang lainnya. Rasanya kok gue kayak punya teman yang senasib ya." gumam Inez dalam hati.

Bus yang Inez tunggu pun tiba. Ia antri untuk naik ke dalam bus. Untunglah Inez mendapat tempat duduk, lumayan sampai kantor tidak pegal karena berdiri.

Perjalanan Inez termasuk dalam kategori lancar. Tidak terlalu macet dan sudah sampai kantor setengah jam sebelumnya.

Inez menekan lift dan memilih lantai 8. Lift berhenti di lantai yang Inez tuju.

Suasana kantor masih sepi. Untungnya resepsionis sudah datang dan sedang make up di tempatnya. Inez menghampiri resepsionis dan meminta bertemu dengan Rio.

"Hmm... kantornya masih sepi. Silahkan tunggu di kursi tunggu dulu nanti kalau Bapak Rio sudah datang akan diberitahu." kata resepsionis yang menurut pengamatan Inez berusia sama dengannya.

"Iya. Terima kasih." Inez menuju kursi yang ditunjukkan oleh resepsionis tersebut dan menunggu Rio datang. Ia ingin mengirimi pesan pada Rio namun saat ini posisinya bukan sebagai teman Rio melainkan sebagai bawahannya.

Inez tidak menyangka hubungannya dengan Rio akan dekat seperti sekarang. Karena ulah Rio semua kacau balau kayak sekarang. Tapi apa dengan marah bisa mengembalikan kesehatan Papa seperti dulu? Apa dengan meminta Rio tanggung jawab maka semuanya akan happy ending? Hidup gak semudah itu.

Sebenarnya Inez merasa janggal dengan kejadian malam itu. Inez merasa dirinya masih utuh, tidak seperti cerita yang Ia baca di internet kalau setelah berhubungan akan terasa sakit. Ia tidak merasakan apa yang dirasakan orang lain. Kecuali berkas kissmark di leher dan diatas dadanya sisanya tidak ada tanda-tanda kalau Ia telah melepas keperawanannya.

Tanpa ada yang tahu, Inez memeriksakan dirinya ke dokter kandungan setelah Inez mendapati test packnya negatif, tentunya setelah Papa dan Mama sudah pindah di rumah. Inez beralasan kalau mau melamar pekerjaan padahal tidak. Ia butuh bukti yang kuat yakni pernyataan Dokter yang lebih paham kondisinya saat ini. Inez sengaja diam-diam karena Ia harus merahasiakan semuanya dari semua orang.

Ternyata dugaan Inez benar. Dirinya masih suci. Masih virgin. Begitu yang dikatakan oleh dokter kandungan. Itulah kenapa Inez agak ragu saat Rio menawarkan pertemanan dengannya. Rasa penasaran Inez atas skenario yang Rio buat membuatnya mau menerima pertemanan yang Rio tawarkan.

Bukan hanya pertemanan yang Rio tawarkan, ternyata Rio juga menawarkan pekerjaan yang Inez butuhkan. Sekali tepuk dua lalat bisa mati. Gak ada salahnya berteman dengan Rio. Gak ada yang Inez rugikan.

Sementara Inez singkirkan niat mencari tahu skenario yang Rio buat. Inez mau fokus dengan pekerjaannya dulu. Selain butuh uang untuk biaya terapi Papa, Ia juga butuh pengalaman kerja untuk jenjang karirnya yang lebih baik lagi. Banyak perusahaan yang menolaknya karena Ia masih fresh graduate.

"Udah nunggu lama, Nez?" Rio yang baru tiba di lantai 8 menyapa Inez yang melamun di kursi tunggu.

"Eh... belum lama kok, Yo. Eh maksudnya belum lama Pak." Inez yang kaget berkata dengan gugup dan terbata-bata.

"Ayo ikut ke ruangan saya." ajak Rio.

Inez mengikuti langkah Rio ke dalam ruangan. Banyak pasang mata yang mengikuti dirinya, termasuk resepsionis di depan yang penasaran siapakah Inez?

Rio mempersilahkan Inez masuk ke ruangannya dan menutup pintu. Ia tak mau karyawannya yang super ingin tahu menguping pembicaraan mereka.

"Kenapa ditutup, Yo?" tanya Inez bingung.

"Nanti karyawan gue kepo dan nguping pembicaraan kita. Biar gue panggil manajer HRD buat datang langsung ke ruangan gue buat ngurus surat-surat lo. Habis ini kita semua meeting, kita mau audit perusahan XY. Jadi nanti lo ikut ke perusahaan XY buat terjun langsung ke lapangannya." Rio memberikan Inez tugas pertamanya di perusahaan ini.

"Gue? M..maksudnya saya Pak?" Inez tak mau seperti Rio yang bicara santai dengannya. Bagaimanapun Rio adalah atasannya. Takut kebiasaan kalau didepan karyawan lain keceplosan gimana.

"Nih anak dibilangin kalau sama gue gak usah kaku. Santai aja kenapa sih." keluh Rio.

"Bukan gitu. Gak enak kalau yang lain denger." protes Inez.

"Iya juga sih. Gini aja deh. Kalau lo cuma berdua sama gue kayak gini, kita santai ya ngomongnya gue lo. Tapi kalau ada yang lain kita bicara formal. Setuju?"

"Iya setuju aja." kata Inez kalah. Atasan selalu benar, kacung kampret mah ikut aja.

"Oke. Nanti gue akan bikin team audit dan kalian akan ke perusahaan XY."

"Tapi gue kan belum pengalaman. Emangnya gue bisa?" Inez merasa tidak percaya diri dengan kemampuannya sendiri.

"Justru karena lo anak baru dan kurang pengalaman. Tugas lo tuh melaporkan semua hasil audit yang sebenarnya sama gue." perintah Rio.

"Jadi kayak mata-mata gitu?" tebak Inez.

"Yup. Benar. Jujur aja nih, sejak beberapa bulan belakangan ini, setiap perusahaan yang kita audit hasilnya selalu bagus. Gak mungkin kan perusahaan selamanya mulus? Gue takutnya dari team audit gue ada yang bermain curang di belakang gue dengan kerja sama sama si perusahaan."

"Terus kalau kerja sama sama perusahaan emang salahnya dimana?" tanya Inez bingung.

"Ya salah atuh Inez Sayang. Perusahaan gue kan perusahaan audit independen yang dinilai bagus kredibilitasnya. Kalau ternyata perusahaan tersebut jelek tapi dapat nilai bagus nanti kredibilitas perusahaan gue akan jelek di mata perusahaan lain. Ngerti gak lo?"

Inez mengangguk. Inez baru menyadari kepintaran yang Rio miliki. Pantas saja Rara menyukainya. Rio cerdas juga ternyata. Cocok deh orang pintar dan orang cerdas bergabung. Ah sayangnya mereka sudah putus sih. Kalau mereka sampai bergabung dan menikah, gak bisa dibayangkan deh bakal ada Einstein kedua di dunia.

"Nez.. Inez! Lo gak dengerin gue ngomong dari tadi?" Rio membuyarkan lamunan Inez lagi.

"Eh... denger kok."

"Apaan?" uji Rio.

"Itu.. lo mau gue memperbaiki kredibilitas perusahaan lo kan dengan memberitahu siapa yang bermain curang di belakang lo?" kata Inez dengan asal. Ternyata tebakan Inez benar.

"Iya bener. Tadi lo ngelamun tapi masih bisa dengerin gue. Hebat juga lo." puji Rio.

"Gue bukan melamun tapi kagum sama lo. Ternyata lo tuh cerdas ya. Kirain gue, lo cuma anak orang kaya yang suka mabok dan nidurin anak orang sembarangan." sindir Inez pedas.

"Kalau suka mabok bener. Kalau nidurin anak orang sembarangan enggak." elak Rio.

"Buktinya gue. Masih mau ngelak?" Inez sengaja memancing Rio namun sepertinya Rio tak mudah memberikan informasi yang Inez mau.

"Udah gak usah bahas masa lalu kita. Sebentar lagi manager HRD dateng. Lo harus bersikap kalau kita murni rekan kerja, oke?"

"Iya. Dari tadi juga gue ngomong formal, lo aja yang santai dari tadi." gerutu Inez pelan.

"Hah? Lo bilang apaan barusan?" ternyata Rio mendengar gerutuan Inez.

"Enggak. Gak bilang apa-apa kok." elak Inez.

"Yaudah siap-siap ya. Itu Hanny lagi jalan ke ruangan gue. Hanny itu tangan kanan bokap gue. Jadi hati-hati sama Dia. Oke?" Rio berpura-pura duduk di tempatnya sambil menginterview Inez. Aktingnya amat jago, justru saking jagonya membuat Inez makin yakin kalau dalang semua kejadian yang menimpanya adalah Rio.

"Iya." jawab Inez pendek.

Tak lama pintu ruangan Rio pun diketuk.

"Permisi, Pak Rio." sapa Hanny setelah membuka pintu sedikit.

"Masuk Bu Hanny." Rio berdiri untuk menghormati kedatangan Bu Hanny. Ia harus mendapat kesan bagus agar saat Bu Hanny laporan dengan Papinya kelak Ia mendapat nilao yang bagus pula.

"Silahkan duduk, Bu." Rio mempersilahkan Bu Hanny duduk di samping Inez.

"Terima kasih, Pak." kata Ibu Hanny dengan sopan. Ibu Hanny pun duduk dan memperhatikan Inez.

"Ini Inez... Bu Hanny. Yang kemarin saya ceritakan di telepon sama Bu Hanny." Rio memperkenalkan Inez pada Bu Hanny.

"Hanny." Ibu Hanny mengulurkan tangannya terlebih dahulu.

"Inez." balas Inez menjabat tangan Bu Hanny.

"Seperti cerita saya, kemarin pas saya lagi di Gedung B, saya ketemu sama Inez. Kebetulan saya sempat mendengar interview Inez dan staff HRD di Gedung B. Hasil interview Inez bagus tapi perusahaannya tidak mau terima karena alasan masih fresh graduate. Saya tertarik dan saya rekomendasiin deh Inez untuk kerja di kantor ini. Gimana Bu Hanny?"

"Mm... kok Pak Rio bisa denger hasil interviewnya Inez dan HRD nya ya? Bukannya kalau interview itu private ya Pak?" Ibu Hanny curiga dengan alasan yang Rio berikan.

"Ah gimana sih Rio? Alesan lo cuma bikin Ibu Hanny makin curiga sama gue tau." gerutu Inez dalam hati.

Rio tersenyum. Mungkin selama ini Ibu Hanny menganggapnya bocah bodoh yang seenaknya aja memimpin perusahaan tanpa adanya skill. Tapi Rio cerdas, Ia tidak semudah itu terjebak dengan alasan yang Ia buat sendiri.

"Ya dengerlah, Bu. Kan saya kebetulan lagi ketemu sama HRDnya yang juga teman saya. Kita memang janjian mau ada kerja sama bisnis. Saya nungguin di depan ruangan teman saya sampai Inez keluar dari interview dengan muka di tekuk. Saya nanya ke teman saya jawaban Inez gak diterima selain gak ada koneksi juga karena masih fresh graduate. Saya lihat nilai interview dan psikotesnya bagus." kata Rio beralasan.

"Lalu tujuan Bapak memanggil saya kesini adalah....?"

"Adalah untuk memasukkan Inez ke dalam perusahaan kita. Kebetulan bagian audit sisa 1 orang. Saya rekomendaaiin Inez. Gimana bu?"

1
Ran Aulia
ceritanya bagus banget, sudah pasti ada momen terharu lah ya bikin mewek

terima kasih ya kak 😍😍😍😍
Evayanti Sagala
Luar biasa
dream
baik
Susivira Wati97
hampir semua karyanya aq baca thot suka alur cerita ringan
L2h
Kecewa
Mari Anah
akhir y selesai jg,makasih ya thor udh buat novel yg superrrr keren🤗🤗sukses trs bwt karya2 y ya thor😍😍🤩🤩
Mari Anah
emang ya si rara itu hati y busuk bgt,secara g langsung dy yg udh bikin papah willy meninggal
Mari Anah
nah loh kaget kan rio🙄
Mari Anah
gara2 salah faham inez jdi elffil deh sma rio,udh balikan lgi ajah sma andrew nez,hati rio msh ska goyah😁lanjut thor
Mari Anah
si rara murahn bgt ya🙄
Mari Anah
owh ternyata ky gtu toh cerita y,lanjut thor
Mari Anah
duuuuuhhh kpn sih rio cerita sbnr y k inez,ko aku yg jdi geregetan sndri ya🙄🙄🙄
Mari Anah
ada typo thor😁tante vio kli bkn tante video🤣
Mari Anah
idiiiiihh si rara g berubah2 ya msh ajah itu hati y julid,,klo aku mah ogah punya temen ky gtu,tmn bgt mending d tenggelam kan ajah🙄
Mari Anah
ky y inez lbh cocok sma rio deh,klo andrew trllu sempit cara pemikiran y
Mari Anah
Luar biasa
Mari Anah
cocok lah visual rara,ky judes2 julid gtu muka y
Mari Anah
aku hadir thor,ko aku tkt ya kl inez mau ngenalin k andrew,g tkt apa kl andrew hati y pindah haluan🤔
Yosfi Sofianti
Luar biasa
Lusiana_Oct13
udah rara di jodohin sama mantan nya inez aja sama2 bermulut pedas 😂😂 klo aku suka inez sama rio
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!