NovelToon NovelToon
Cewe Cegil Vs CEO Dingin

Cewe Cegil Vs CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Nikah Kontrak
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Nalara amora

"Apa gunanya menjadi istri CEO kalau hatinya saja sedingin es kutub?"

Hidup Aratala Arasunya Grita tak pernah mudah. Sejak kecil di panti asuhan hingga berjuang demi biaya kuliah semester dua, Aratala sudah kenyang dengan kerasnya hidup. Namun, sebuah insiden sepeda listrik mempertemukannya dengan seorang wanita elegan—yang secara mengejutkan memintanya menjadi istri anaknya.

Elio Lerian Raymond, CEO muda yang dingin dan ceplas-ceplos, bukanlah pria yang mudah ditaklukkan. Awalnya Aratala menolak, namun angka fantastis yang ditawarkan mampu membungkam egonya.
Lagipula, ini cuma kontrak, pikir Aratala.
Namun, bagaimana jika pernikahan atas dasar kontrak dan kebutuhan biaya panti ini justru membawanya ke dalam pusaran perasaan yang tidak pernah ia rencanakan? Apalagi saat sang CEO mulai menunjukkan sisi posesifnya yang tak terduga.

Selamat datang di kehidupan penuh drama antara Cewe Cegil vs CEO dingin

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nalara amora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

makan malam.

Dua puluh menit kemudian, suasana di lantai atas rumah megah itu tampak hening, namun ketegangannya masih terasa pekat di udara. Elio, yang sudah berganti setelan jas navy yang rapi, berdiri di dekat kaki tangga utama, melipat tangan di dada dengan rahang yang mengeras. Jam di pergelangan tangannya menunjukkan pukul 18.45. Aratala telah menghabiskan waktu lebih dari cukup di dalam kamar.

Tepat saat Elio hendak kehilangan kesabaran untuk kedua kalinya hari itu, derap langkah kaki terdengar menuruni anak tangga.

Elio mengangkat pandangannya, dan seketika itu juga, napasnya seolah tercekat di tenggorokan. Aratala muncul di hadapannya, tampak anggun sekaligus menantang dalam balutan gaun malam yang membalut tubuhnya.

Gaun strapless berwarna putih pucat itu memiliki potongan square neck klasik yang menonjolkan bahu jenjang dan tulang selangka gadis itu dengan indah. Bagian bodice-nya dirancang pas badan (bodycon) dengan detail ruched atau kerutan halus di sepanjang sisi, menciptakan siluet jam pasir yang sempurna. Tali bahunya tipis, dihiasi aksen manik-manik halus yang berkilau lembut di bawah cahaya lampu kristal. Panjang gaun itu sendiri mencapai tepat di atas mata kaki, memberikan kesan dewasa namun tetap elegan.

Di tangan kirinya, Aratala menenteng sebuah tas tangan kecil berwarna senada, sementara rambut hitam panjangnya yang bergelombang dibiarkan tergerai bebas, sebagian disematkan ke belakang dengan jepit rambut mutiara sederhana.

Aratala menatap Elio dengan ekspresi datar, sedikit menantang. Ia tahu elio itu akan mengomel soal pakaian "kurang bahan" lagi.

Dan benar saja. Begitu Aratala mencapai anak tangga terakhir, Elio langsung mendekat dengan langkah cepat, memangkas jarak di antara mereka hingga atmosfer di sekeliling mereka terasa mendadak panas dan menyesakkan. Tatapan mata Elio menajam, menyapu seluruh penampilan istrinya dengan sorot mata posesif yang kelam.

"Ganti pakaian kamu sekarang, Aratala," desis Elio tepat di depan wajah sang istri, suaranya rendah, dingin, dan penuh penekanan mutlak.

Aratala mendengus keras, menolak mundur walau tubuhnya terkurung oleh aura intimidasi Elio. "Kenapa lagi, sih?! Ini dress sopan, pa Elio! gak lihat panjangnya sampai mata kaki? ini juga namanya fashion!"

rahang Elio justru semakin mengeras. Entah kenapa, melihat istrinya tampil seseksi dan secantik itu untuk dilihat oleh dunia—terutama oleh keluarga besarnya—memicu gelombang kecemburuan buta yang irasional di dalam dirinya. Padahal, jika itu adalah Anggel atau wanita lain, ia mungkin akan memuji atau bahkan membayarnya mahal. Namun untuk Aratala? Rasanya berbeda. Ia ingin menyembunyikan kecantikan itu rapat-rapat hanya untuk dirinya sendiri.

Elio menundukkan wajahnya, mendekatkan bibirnya ke telinga Aratala, memberikan ultimatum yang tidak bisa dibantah.

"Pilihan ada dua, Aratala," bisik Elio serak, matanya menyala berbahaya. "Kamu masuk lagi sekarang, ganti gaun itu dengan sesuatu yang lebih tertutup—setidaknya sampai leher dan bahu kamu tertutup kain—atau kamu pakaikan cardigan tebal di atas gaun itu detik ini juga. Kalau kamu tetap berani keluar dengan penampilan seperti itu... saya pastikan makan malam keluarga ini batal, dan kamu akan saya kurung di kamar semalaman untuk menerima hukumanmu."

Mendengar ancaman serius yang terdengar nyata itu, Aratala mendengus kesal. Ia tahu percuma berdebat dengan Elio yang sedang dalam mode diktator. Dengan wajah cemberut dan gerakan kasar, Aratala berbalik badan dan menaiki kembali dua anak tangga untuk mengambil cardigan rajut tipis berwarna biru cukup senada dengan jas Elio.

Dua menit kemudian, Aratala kembali turun. Kali ini, gaun strapless-nya sudah tertutup oleh sebuah cropped cardigan rajut lengan panjang berwarna biru muda yang serasi. Meskipun cardigan itu tipis dan pas badan, setidaknya kini pundak dan tulang selangka indahnya sudah tidak lagi terekspos.

Elio menghela napas pelan melihat penampilan istrinya yang jauh lebih 'tertutup' sesuai standarnya. Meski masih tidak sepenuhnya puas karena lekuk tubuh istrinya masih terlihat jelas, setidaknya egonya sedikit terobati. Dengan raut wajah yang kembali tenang, Elio meraih tangan kanan Aratala yang dingin dan menggenggamnya erat, lalu menuntunnya keluar menuju pintu utama di mana mobil mereka sudah siap sedia untuk menjemput.

"Bagus," bisik Elio singkat dan dingin tepat di telinga Aratala saat mereka berjalan menuju mobil. "Jangan pernah coba-coba melanggar perintah saya lagi malam ini, Aratala. Kamu tidak akan suka konsekuensinya."

Aratala tetaplah aratala ia mengejek elio dari belakang dengan ekspresi wajah nya.

Di balik punggung Elio yang sedang membukakan pintu mobil untuknya, Aratala buru-buru mengubah ekspresinya. Gadis itu memutar kedua bola matanya malas, lalu sengaja menarik lidahnya dan membuat gestur seolah ingin muntah ke udara untuk mengejek sang suami yang tidak melihatnya.

Dih, sok banget jadi penguasa! Dikit-dikit atur, dikit-dikit ancam! batin Aratala menggerutu kesal di dalam hati, melampiaskan kekesalannya lewat kerutan hidung dan tatapan sinis ke arah punggung lebar Elio.

Begitu Elio berbalik badan untuk menatapnya, seketika itu juga ekspresi Aratala berubah 180 derajat. Wajahnya kembali dipasangi topeng dingin, datar, dan angkuh, seolah tidak terjadi apa-apa.

"Masuk, Aratala," ujar Elio singkat, mengisyaratkan sang istri untuk segera masuk ke dalam mobil.

Aratala mendengus pelan, lalu dengan gerakan ogah-ogahan ia melangkah masuk dan duduk di kursi penumpang bagian belakang. Mobil sedan mewah itu pun langsung meluncur meninggalkan pelataran rumah, membelah jalanan malam kota menuju restoran tempat keluarga besar Elio sudah menunggu kehadiran mereka.

🌴🌴🌴

Perjalanan malam itu ditemani keheningan yang kaku di dalam kabin mobil. Tidak ada satu pun dari mereka yang membuka suara; Aratala sibuk membuang muka ke luar jendela, menikmati lampu-lampu kota yang berpendar cepat, sementara Elio fokus mengemudi dengan raut wajah dingin tanpa ekspresi.

Tak lama kemudian, mobil mewah itu memasuki area parkir sebuah restoran privat berbintang lima yang terletak di pusat kota—tempat di mana keluarga besar Elio telah memesan satu ruangan eksklusif untuk makan malam keluarga.

Begitu mobil berhenti sempurna di depan lobi, Elio turun lebih dulu, lalu membukakan pintu untuk Aratala. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, tangan pria itu langsung terulur menggenggam pergelangan tangan Aratala erat-erat, menuntun langkah gadis itu memasuki restoran mewah bernuansa klasik modern tersebut.

Pelayan restoran yang berpakaian rapi segera membimbing mereka menuju sebuah private dining room berukuran besar di lantai dua. Begitu pintu kayu jati berukir itu dibuka perlahan, suara perbincangan hangat dan gelak tawa dari dalam ruangan seketika mereda.

Semua pasang mata di meja makan bundar yang besar itu langsung tertuju ke arah pintu. Kehadiran Elio dan Aratala otomatis menjadi pusat perhatian seluruh anggota keluarga besar yang sudah duduk melingkar.

Dan detik itu juga, Aratala—dengan balutan gaun malam yang kini dilapisi cropped cardigan rajut, rambut bergelombang yang tergerai indah, serta paras cantiknya yang menonjol—mendadak menjadi magnet utama yang menyedot atensi setiap orang di ruangan tersebut.

Beberapa kerabat pria tampak terpana seketika, sementara beberapa bibi dan anggota keluarga wanita mengamati penampilan Aratala dari ujung kepala hingga kaki dengan tatapan menyelidik, menilai, dan penuh rasa ingin tahu.

Aratala, yang tidak biasa menjadi tontonan banyak orang penting sekaligus, reflek meneguk ludahnya. Ia bisa merasakan cengkeraman tangan Elio di pinggangnya tiba-tiba mengerat dengan mutlak, seolah sedang menegaskan kepada seluruh dunia—dan keluarganya sendiri—bahwa wanita di sampingnya ini adalah benteng kekuasaannya yang tidak boleh disentuh oleh siapa pun.

Sebelum Elio sempat merapatkan jarak untuk melindungi zonanya, suasana meja makan yang semula kaku mendadak pecah oleh derap langkah yang antusias.

Maria—ibu kandung Elio—langsung berdiri dari kursinya. Wanita paruh baya berpenampilan mewah itu berjalan mendekat dengan senyum lebar terkembang di wajahnya. Tanpa membuang waktu, Maria langsung menyambar tangan Aratala dengan penuh kehebohan, menarik gadis itu menjauh dari sisi sang putra.

Elio, yang sama sekali tidak menduga pergerakan kilat sang ibu, terpaksa melonggarkan dan melepaskan cengkeramannya dari pergelangan tangan Aratala. Rahang pria itu langsung mengeras seketika, matanya menatap tajam ke arah tangan ibunya yang kini menggenggam erat tangan istrinya, seolah ingin merebut kembali apa yang menjadi hak mutlaknya.

"Heiii, akhirnya datang juga!" seru Maria dengan suara menggelegar penuh semangat, menarik Aratala masuk lebih dalam ke tengah-tengah keluarga sambil menoleh bangga ke arah seluruh kerabat yang hadir. "Nih, kenalin menantuku! Cantik kan?"

Kehebohan Maria sontak mengundang riuh kecil dan decak kagum dari beberapa anggota keluarga besar yang duduk mengelilingi meja makan.

Aratala yang tadinya tegang dan bersiap memasang benteng pertahanan mendadak salah tingkah. Ia tidak menyangka ibu mertuanya akan menyambutnya sehangat dan se-ekstrovert itu, sangat kontras dengan perang dingin yang biasa ia hadapi dari Elio di rumah.

"Ah... Halo, Tante—eh, Ma..." cicit Aratala kikuk, tersenyum canggung saat beberapa pasang mata kini menatapnya dengan binar kekaguman yang tulus.

Di tempatnya berdiri, Elio mengepalkan kedua tangannya di sisi tubuh. Pria itu menatap punggung Aratala dengan sorot mata yang sulit diartikan—antara tidak suka melihat istrinya menjadi tontonan banyak orang, dan rasa asing melihat Aratala yang mendadak melunak di hadapan keluarganya sendiri.

🌴🌴🌴

Baru up nih jangan lupa like 🤌🏻😉

1
partini
elio kata"mu itu weleh
Nalara amora: tenang kaaa😭🙏
total 1 replies
partini
masih juga nyalahin orang lain situ tuh yg sarappp pak elio,, jangan lah unboxing kaya gitu trauma loh bukanya suka malah benci
Nalara amora: kaaaaaaa😭😭
total 1 replies
partini
good story
Nalara amora: ahhhhhh makasihh kaaa😄🤭🤭
total 1 replies
partini
busettt agresif sakleeee angel ini pura ' nih ceo ga mau di kokop 🤭
aduh mau di apain si cegil jangan kokop pula biar liur najis angel ilang
ko bisa sih Thor angel bebas masuk apa ga ada bodyguard satpam gitu
Nalara amora: tebak hayoo kaa🤭🤭
total 1 replies
partini
ya elah di tuduh menggoda dasar CEO 1/2 ons ,,noh si angel datang jadikan pelampiasan emosi mu dasar CEO murahan
partini: esmosi aku thor🤭🤭 ,cegil ga boleh bersentuhan ma laki" lain eh dianya mah bebas grepek"😂
total 2 replies
Nalara amora
bagus bgt nih cerita nya, rekomendasi buat yg pengen baca yg manis manis plus ada tom and jary nya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!