WARNING!!
Ini Novel Dewasa, so bocil-bocil jangan baca, ntar malah heboh dikolom komentar, ini novel khusus 21+
Sebuah rasa cinta pada seseorang terkadang terlambat untuk disadari. Sekalipun menyadarinya sejak dini, namun kadang hati enggan menunjukan rasa tersebut. Hingga akhirnya menjadi sebuah perasaan yang terpenjara oleh kepura-puraan.
Ini adalah sebuah kisah seorang gadis muda mantan narapidana yang jatuh cinta pada sahabat kecilnya, hingga dia mengagalkan acara lamaran lelaki pujaannya, serta memaksa lelaki tersebut menikahinya. Maka, pernikahan tanpa hitam diatas putih pun terjadi, tapi pernikahan yang dijalaninya penuh intrik dimana dia dibenci oleh keluarga lelakinya.
Disamping kehidupan rumah tangganya yang tidak harmonis, dia harus bergelut mencari tahu penyebab kematian orang-orang terdekatnya.
Mampukah dia mencari kebenaran dibalik kematian orang-orang terdekat dan menumbuhkan cinta dalam pernikahannya?
#Cinta segitiga #Pembunuhan #Pernikahan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mrs.Kang Chi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Salah Paham
Disebuah kamar, Khalisa terlihat gelisah memikirkan perkataan Vino tadi siang mengenai kasus kematian kedua orang tuanya. Khalisa mulai berjalan mondar-mandir tidak menentu. Sampai akhirnya dia meraih ponselnya lalu
menelpon seseorang.
“ Vin! Oke aku mau membantumu!”
“Benarkah Lisa? Sungguh? Serius kamu mau membantuku! Oh oke aku tunggu besok kamu di toko Ibu!”
Vino menyambutnya dengan girang mendengar persetujuan Khalisa untuk mengulik kembali kasus kematian kedua orang tuanya, namun dia dengan Vino sepakat untuk mengadakan penyelidikan dengan sembunyi-sembunyi, dan tidak melibatkan pihak kepolisian terlebih dahulu.
“Iya, Vin! Sampai ketemu besok!”
“ Tunggu Lisa mulai besok kamu lembur bisakah? Aku akan menunjukan sesuatu padamu!”
“Iya Vin!”
Percakapan keduanya pun berakhir, Khalisa kembali melirik ke arah kopernya, Vino sempat menawarinya untuk tinggal diapartemennya untuk
memudahkan penyelidikan tapi Khalisa masih ragu, meskipun statusnya tidak jelas
dirumah tersebut, tapi dia masih menghargai Rendy yang belum menjatuhkan talak.
Tok tok tok
Khalisa kembali melangkahkan kakinya menuju pintu dan membuka sedikit pintu kamarnya, kembali terlihat wajah Rendy yang kesal terpampang dihadapanhya. Khalisa mengeryitkan dahinya melihat Rendy yang jadi lebih sering menemuinya.
Ada apa lagi dia! Kenapa sekarang dia sering sekali memicu pertengkaran! Batin Khalisa sambil
melipat tangannya di dada.
“Ada perlu apa Ren?” Tanya Khalisa datar.
“Khalisa kamu harus tahu batasanmu! Kamu masih berstatus sebagai isteriku! Kenapa kamu begitu rakus sampai harus berkencan dengan lelaki demi mendapatkan uang! Apa uang dariku tidak cukup?” Bentak Rendy dengan
dinginnya.
“Apa maksudmu? Aku berkencan? Jangan ngawur!” sanggah Khalisa.
“Kamu tidak mau mengaku? HEH aku masih ingat kamu mengenakan baju jelekmu itu direstoran jepang dengan seorang lelaki!”
Deg
Khalisa mulai tersentak mendengar Rendy berkata demikian, dia merasa heran , kenapa Rendy bisa mengetahuinya tadi siang dia pergi makan
dengan Vino.
“Wah kamu hebat Ren, bisa mengetahui kemana pun aku pergi, apa kamu menyimpan cctv di hpku?”
“Aku melihatmu dengan mata kepalaku sendiri!”
“Oh, kenapa kamu harus melihatnya!” kata Khalisa pelan tapi masih cukup terdengar oleh Rendy.
“Selama kamu disini jangan bawa kebiasaan menjadi j***** dirumahku! Karena aku tidak mau terkena azab akibat ulahmu!” Ketus Rendy cukup
membuat Khalisa terdiam menahan hinaan tersebut.
“ Apa Ren! Jaga ucapanmu! Aku sudah memintamu menceraikanku Ren! Kenapa kamu masih tidak menjatuhkan talak juga! Cukup Ren! Kamu dan keluargamu sama saja memandangku hina!” Kata Khalisa sambil mengigit bibir bawahnya.
“Ya! Maka dari itu jangan bersikap hina dihadapanku!”
“CUKUP REN!” Teriak Khalisa menatap Rendy sambil berkaca-kaca tidak mampu meluapkan emosinya yang terus tertahan.
Belum sempat Rendy menimpali perkataan Khalisa, pintu kamar lebih dulu ditutup dengan keras oleh Khalisa dan menguncinya. Khalisa begitu tertekan dia menekan dadanya yang terasa sakit setelah menahanya begitu lama karena
harus menerima hinaan yang tidak berujung.
------------****---------
Pagi tiba, mentari menyapa dengan lembutnya. Suasana pagi dengan sarapan di meja makan adalah ritual pagi bagi keluarga Rendy. Khalisa
sudah jarang ikut bergabung sarapan bersama. Hal itu justru semakin meembuat keluarga Rendy bahagia.
“Bi, apakah Khalisa sering makan?” Tanya Rendy saat melewati pintu kamar Khalisa yang tertutup rapat.
“Non Khalisa hanya sesekali sarapan dirumah, kadang dia buru-buru keluar rumah setiap jam setengah 8.”
“Hmm! Suruh dia selalu sarapan pagi sebelum berangkat!” Kata Rendy sambil melangkah pergi.
“Tumbenan Pak Rendy mulai memperhatikan non Khalisa!” Ujar pembantu tersebut sambil menghela nafas.
Ceklek.
Pintu terbuka menampilkan wajah Khalisa, terlihat dia sudah berpakain rapi, pembantu tersbeut segera menghampiri Khalisa yang nampak akan
berangkat kerja.
“Non Khalisa sudah mau berangkat lagi? Padalah ini baru jam 6 pagi non!”
“Iya Bi, aku mau beres-beres dulu di toko,” Kata Khalisa sambil tersenyum hendak meninggalkan tempat tersebut.
“Non kata Pak Rendy, non Khalisa harus sarapan dulu sebelum pergi!”
Sejak kapan Rendy mulai memperhatikan sarapanku segala, ada angin bohorok dibalik awan cerah!Batin Khalisa kesal sambil menyungingkan bibirnya.
“Aku tidak bisa sarapan Bi, Aku mau makan diluar saja Bi!”
“Duh Non, sebaiknya sarapan dulu, nanti kalau ketahuan non Khalisa tidak sarapan saya bakal kena omelan pak Rendy!”
“Hmmm... Bibi tenang saja, biar saya yang bicara kalau Rendy mengomel!” Kata Khalisa sambil menyungingkan senyumannya lalu melangkah
menjauhi tempat tersebut.
Pembantu tersebut terlihat menghela nafasnya melihat Khalisa yang enggan sarapan dan memilih mengabaikan perintah Rendy.
Di Kantor
Rendy terlihat serius memperhatikan grafik penjualan, sesekali matanya membaca beberapa laporan dari tiap divisi. Sejenak dia bisa melupakan pertengkarannya dengan Khalisa saat sedang berhadapan dengan urusan pekerjaan. Tidak lama kemudian ponselnya bergetar.
“Iya hallo?”
“Kakak! Kak Kaif tetap tidak mau menikah dengan Laila!”
“Laila, kakak sedang kerja, bisakah nanti kita bahas ini!”
“Dasar kakak tidak pengertian! Laila pokoknya gak terima kak Kaif mau nikahnya sama Khalisa! Laila sudah cinta mati sama kak Kaif!”
Barulah Rendy berhenti dari pekerjaannya saat mendengar nama ‘Khalisa’ disebutkan. Rendy menyenderkan tubuhnya ke kursi kebesarannya. Dia mulai serius mendengarkan ocehan adik perempuannya.
“Laila pokoknya maunya sama kak Kaif, kak. Tapi kak Kaif tetep menolak Laila! Hiks hiks hiks” Terdengar suara disebrang sana sedang menanggis hebat.
“Kamu tenang saja! Kakak akan usahakan kamu tetap menikah
dengan Kaif!”
“ Janji kak? Kakak awas kalau ingkar!”
“ Iya kakak janji!”
Panggilan telpon pun berhenti, Rendy menghela nafasnya. Jauh dalam otaknya dia juga kebingungan bagaimana caranya membujuk Kaif agar mau menikah dengan adiknya. Rendy pun meraih ponselnya dia menelpon sekertarisnya.
“Ryuichi! Masuk ke ruanganku!”
“Baik pak!”
Ryuichi yang berstatus sebagai sekertaris Rendy pun masuk ke dalam ruangan dengan hormat, tidak lupa mengetuk pintu terlebih dahulu,
meskipun Rendy tidak akan menyahutinya, dia ssegara menghadap Rendy yang tengah duduk di kursi kebesarannya.
“Ada apa pak memanggil saya?”
“Tolong cari informasi mengenai keluarga Kaif! Tolong cari kelemahan keluarga tersebut agar bisa menekannya!”
“Baik pak siap laksanakan!”
“Aku tunggu secepatnya!”
“Iya pak!”
Sekertaris Rendy pun segera menghilang dibalik pintu, dia segera mengerahkan segala tenaganya untuk mendapatkan semua informasi mengenai
keluarga Kaif sebanyak-banyaknya.
Sementara di dalam ruangan sana, Rendy tengah memandang foto masa kecilnya. Foto ini menampilkan wajahnya saat usia 14 tahun bersama dengan seorang wanita. Matanya menatap dingin foto tersebut. Namun lamunannya segera buyar saat Kaila memasuki ruangannya.
“Ren, bagaimana hubungan kamu sama Khalisa? Kapan kalian akan berpisah!” Kata Kaila sambil menghempaskan pantatnya disofa dengan kesal.
Rendy yang segera memasukan foto tersebut kedalam laci dan menguncinya hanya melemparkan senyumannya pada kekasihnya tersebut. Kaila dengan Khalisa memang beda ibu dan ayah, kecantikan mereka juga berbeda. Memang Khalisa memiliki kecantikan lebih dari Kaila. Tapi bukan soal fisik yang menjadikan Rendy jatuh cinta tapi soal ketulusan hati.
“Sabaarlah Kai, semua akan indah pada waktunya!” Kata Rendy sambil berjalan duduk disamping Kaila.
“Tapi aku sudah tidak sabar, dan kamu tahu setiap malam aku juga cemburu, aku memikirkan kamu mungkin sedang menyentuh tubuh adik tiriku!”
Ujar Kaila sambil mengkrucutkan bibirnya.
Rendy hanya terkekeh mendengarnya, merasa lucu melihat kekasihnya itu tengah cemburu padanya, dan andaikan Kaila tahu, bahkan Rendy
belum pernah tidak sekasur dengan Khalisa. Sejauh ini hal yang pernah dilakukannya secara tidak sengaja kemarin saat dia mengenggam tangan mungil Khalisa yang terasa lembut ditangannya, kalau harus jujur Rendy merasakan jalaran aneh merasuk ke jantungnya saat mengengam tangan mungil itu.
# Bersambung....
ayo Vinnn
keluarkan jurus maut merebut hati Khaila...
klo perlu langsung lamar... masih perawan loh.. tanpa status janda pula..