Sofia tidak pernah menyangka akan terbangun di dalam dunia novel yang ia kenal dan lebih buruknya lagi, ia kini menjadi Christine Daaé.
Mengetahui kisah tragis yang menantinya, Sofia bertekad mengubah takdir.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ricca Rosmalinda26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sosok di Balik Topeng
Kami bergegas menyusuri lorong menuju ruang perjamuan.
Aku hampir tersandung ujung gaunku sendiri beberapa kali karena Meg terus menarik tanganku.
“Kita terlambat!”
“Aku tahu!”
Namun, untungnya, kami tiba tepat ketika manajer baru mulai berdiri di hadapan para tamu.
Ruangan itu jauh lebih meriah daripada yang kubayangkan.
Meja-meja panjang dipenuhi hidangan, kue, buah-buahan, dan botol anggur. Lilin-lilin menyala di sepanjang dinding, memantulkan cahaya keemasan pada ornamen-ornamen megah di langit-langit.
Para pemain dan pekerja gedung opera berkumpul dalam kelompok-kelompok kecil.
Namun meskipun suasananya tampak meriah, aku bisa merasakan sesuatu yang berbeda.
Ada kegelisahan yang tersembunyi di balik tawa mereka.
Mungkin karena kematian Joseph masih terlalu segar untuk dilupakan.
Manajer baru berdiri di depan ruangan dengan segelas anggur di tangannya.
Ia tersenyum lebar.
“Teman-teman!”
Percakapan perlahan mereda.
“Aku ingin mengucapkan terima kasih atas jamuan selamat datang yang telah kalian persiapkan untukku malam ini.”
Ia mengangkat gelasnya.
“Aku merasa terhormat mendapatkan kesempatan untuk bekerja di gedung opera kelas dunia seperti ini.”
Beberapa orang tersenyum.
“Aku berharap kita semua dapat saling membantu. Dengan kerja sama yang baik, aku yakin kita mampu membawa gedung opera ini menuju kejayaan yang lebih besar.”
Tepuk tangan terdengar.
Namun tepuk tangan itu terasa hambar.
Sebagian besar orang hanya bertepuk tangan karena sopan santun.
Tidak ada antusiasme yang benar-benar terpancar dari wajah mereka.
Aku memperhatikan satu per satu.
Mungkin mereka masih memikirkan Joseph.
Aku sendiri juga tidak mampu melupakannya.
Seorang pekerja yang berdiri tidak jauh dariku tiba-tiba berbisik kepada temannya.
“Aku tidak peduli soal membawa gedung opera ini ke tingkat yang lebih tinggi.”
Ia mendengus.
“Aku hanya berharap manajer baru ini tidak melakukan sesuatu yang membuat Phantom murka.”
Aku menoleh.
“Dia terlihat seperti orang yang bahkan tidak tahu apa-apa.”
Temannya segera memberi isyarat agar ia diam.
Aku kembali menghadap ke depan.
Namun perkataan itu terus terngiang di kepalaku.
Jangan menyinggung Phantom.
Aku tidak tahu mengapa, tetapi mendadak aku merasa khawatir tentang masa depan gedung opera ini.
...----------------...
“Christine.”
Suara Meg membuatku tersadar.
“Sudah.”
Ia tersenyum.
“Waktunya bersantai. Kau boleh berhenti mengerutkan kening sekarang.”
“Aku tidak mengerutkan kening.”
“Kau melakukannya.”
Ia menunjuk wajahku.
Aku tertawa kecil.
Kemudian pandanganku jatuh pada meja hidangan.
Meg mengikuti arah mataku.
“Aku melihatmu memperhatikan kue-kue di atas meja tadi.”
Aku langsung memalingkan wajah.
“Aku hanya melihat-lihat.”
“Benarkah?”
Meg menyeringai.
“Kau ingin kue?”
“Sedikit.”
“Kalau begitu, jangan menggodaku.”
Ia mengambil satu kue.
“Aku tidak akan membantumu mengambilnya kalau kau terus mengejekku.”
Aku tertawa.
Untuk beberapa saat, ketegangan yang sejak tadi memenuhi dadaku menghilang.
Musik mulai dimainkan.
Orang-orang kembali berbicara.
Beberapa penari bahkan mulai menari.
Gelas-gelas anggur diangkat.
Satu demi satu orang mulai melupakan kekhawatiran mereka.
Malam semakin larut.
Tawa memenuhi aula.
Orang-orang bersulang dan menikmati jamuan seolah-olah tidak pernah terjadi kematian di gedung ini.
...----------------...
“Manajer sebelumnya itu seorang pengecut.”
Suara manajer baru terdengar dari tengah kerumunan.
Ia sudah minum cukup banyak.
Pipinya memerah dan langkahnya sedikit goyah.
“Aku bahkan curiga ada sesuatu yang salah dengan pikirannya.”
Beberapa orang tertawa kecil.
Ia mengangkat botol anggurnya.
“Dia mengatakan sesuatu yang sangat konyol kepadaku.”
Ia berhenti.
Tentunya untuk membuat semua orang penasaran.
“Dia bilang gedung opera ini... dihantui.”
Tawa yang sebelumnya terdengar tiba-tiba menghilang.
Musik berhenti.
Para wanita berhenti menari. Beberapa pria menurunkan gelas mereka. Keheningan menyelimuti seluruh aula. Aku menatap wajah-wajah di sekelilingku. Mereka semua tampak tegang.
Manajer baru justru tertawa.
“Kalian semua percaya pada omong kosong itu?”
Tidak ada yang menjawab.
Ia berjalan sempoyongan menuju meja.
“Dia bahkan meninggalkan daftar aturan untukku.”
Ia mengambil selembar kertas.
“Sebagian besar aturan di atas memang cukup normal.”
Ia tertawa kecil.
“Namun semakin ke bawah...”
Ia mengangkat alis. “Isinya semakin konyol.”
Aku menahan napas.
“Bahkan ada aturan mengenai kontrak dengan hantu.”
Suasana berubah dingin. Aku melihat beberapa pekerja saling bertukar pandangan.
Ada yang menundukkan kepala. Ada pula yang terlihat gelisah.
(Kontrak dengan hantu?)
Aku mengerutkan kening.
Manajer itu mengangkat kertasnya lebih tinggi.
“Dua ribu franc!”
Ia tertawa keras.
“Dua ribu franc yang harus dibayarkan kepada Phantom setiap bulan!”
Ia menepuk kertas tersebut.
“Dua ribu franc! Kalian sungguh mengharapkan aku percaya pada hal seperti ini?”
Seseorang dari antara para penari akhirnya bersuara.
“Itu bukan lelucon.”
Manajer itu menoleh.
“Apa?”
“Phantom benar-benar ada.”
Beberapa orang langsung menoleh kepadanya.
“Banyak orang pernah melihatnya.”
Manajer baru mendengus.
“Ah, cukup dengan omong kosong itu.”
Ia mengangkat gelasnya.
“Bagaimana mungkin ada hantu di gedung ini?”
Ia tertawa.
“Aku sudah berada di sini selama beberapa hari dan tidak melihat satu hantu pun.”
Ia membuka kedua tangannya.
“Jika memang ada, suruh dia menunjukkan dirinya kepadaku sekarang.”
Jantungku tiba-tiba berdegup lebih cepat.
Aku tidak tahu mengapa.
Namun ada perasaan tidak nyaman yang muncul begitu mendengar kata-kata itu.
Manajer itu melanjutkan.
“Aku tidak tahu apa yang sebenarnya dipikirkan manajer sebelumnya.”
Ia mengangkat kertas tersebut.
“Tapi mulai hari ini, aku akan membuat aturan baru.”
Ia tersenyum.
“Dan tidak ada Phantom yang akan menghalangiku.”
Hening.
Aku menatap sekeliling.
Tidak ada seorang pun yang tertawa.
Seolah-olah semua orang sedang menunggu sesuatu.
Kemudian—
KRAAANG!
Suara pecahan kaca menggelegar.
Aku mendongak.
Mataku membelalak.
Lampu gantung besar di atas aula tiba-tiba terlepas.
Dalam sekejap...
BRAAAK!
Lampu itu jatuh menghantam lantai.
Pecahan kristal berhamburan ke segala arah.
Cahaya yang sebelumnya memenuhi aula menghilang.
Lilin-lilin di sepanjang dinding bergetar tertiup angin, meninggalkan cahaya yang redup dan berkedip-kedip.
Jeritan pecah di seluruh ruangan.
“Aaaah!”
“Cepat pergi!”
“Menjauh!”
Orang-orang berlarian.
Kursi terjatuh.
Gelas pecah.
Meja bergeser.
Dalam kekacauan itu, aku melihat manajer baru terkapar di dekat meja.
Aku tidak tahu apakah ia terluka.
Aku sendiri hampir tidak mampu berpikir.
“Christine!”
Meg menggenggam tanganku.
“Aku di sini!”
Aku menoleh kepadanya.
“Kau baik-baik saja?”
Ia tiba-tiba melihat tanganku.
“Jarimu!”
Aku menunduk.
Sebuah pecahan kaca kecil telah menggores jariku.
Darah perlahan merembes keluar.
Aku menatapnya.
Entah mengapa, melihat darah itu membuat perasaan tidak nyaman semakin kuat.
Seolah-olah kejadian ini bukan sekadar kecelakaan.
Seolah-olah sesuatu baru saja dimulai.
“Aku akan mencari obat.”
Meg berbalik.
“Meg—”
Aku ingin memperingatkannya.
Entah tentang apa.
Aku sendiri tidak tahu.
Namun Meg sudah berlari menjauh.
Pintu besar ruang perjamuan tiba-tiba bergerak.
Perlahan.
Sangat perlahan.
Kreeeet...
Semua suara seakan menghilang.
Aku menatap pintu itu.
Seseorang berdiri di ambangnya.
Seorang pria.
Tinggi.
Terlalu tinggi untuk tidak menarik perhatian.
Ia mengenakan jubah berwarna gelap seperti langit tengah malam.
Cahaya lilin yang redup menyentuh sebagian tubuhnya, tetapi wajahnya tetap tersembunyi dalam bayangan.
Aku tidak dapat melihat wajahnya dengan jelas.
Hanya siluet.
Hanya bayangan panjang yang membentang di lantai.
Bayangan itu bergerak mengikuti kedipan cahaya lilin.
Aku menahan napas.
Kemudian mataku menangkap sesuatu.
Di dadanya.
Sekuntum mawar.
Merah.
Merah seperti darah.
Tubuhku membeku.
(Mawar merah?)
Aku menatapnya tanpa berkedip.
(Apakah ini hanya kebetulan?)
Tidak.
Aku tidak tahu mengapa, tetapi seluruh tubuhku menolak mempercayai itu.
Tiba-tiba aku merasakan sesuatu.
Sebuah tekanan.
Seolah-olah seluruh udara di dalam ruangan menjadi berat.
Kekuatan yang mengerikan.
Namun anehnya...
kekuatan itu tidak diarahkan kepada orang lain.
Ia diarahkan kepadaku.
Pria itu mengangkat kepalanya.
Kemudian perlahan menoleh.
Tepat ke arahku.
Jantungku berhenti sejenak.
(Apakah dia... melihatku?)
Aku tidak mampu bergerak.
Cahaya lilin berkedip.
Untuk sesaat, wajahnya terlihat.
Pucat.
Sangat pucat.
Kemudian aku melihatnya.
Sebuah topeng putih menutupi sebagian wajahnya.
Tidak ada ekspresi.
Tidak ada senyum.
Hanya sepasang mata yang menatap lurus ke arahku dari balik bayangan.
Aura dingin menyelimutinya.
Bukan dingin seperti udara malam.
Melainkan dingin yang membuat tulang-tulangku terasa membeku.
Aku ingin berteriak.
Aku ingin memanggil Meg.
Aku ingin memberitahu semua orang bahwa Phantom berdiri di sana.
Namun...
tidak ada suara yang keluar dari tenggorokanku.
Aku mencoba lagi.
Tetap tidak ada.
Aku memandang orang-orang di sekitarku.
Tidak ada yang menunjuk ke arahnya.
Tidak ada yang berteriak.
Tidak ada yang tampak menyadari keberadaannya.
Hanya aku.
Hanya aku yang melihatnya.
(Mengapa?)
(Apakah aku satu-satunya orang yang bisa melihatnya?)
Tatapan pria itu tidak pernah meninggalkanku.
Dan untuk alasan yang tidak dapat kupahami...
aku merasa seolah-olah tatapan itu bukan tatapan seseorang yang baru pertama kali melihatku.
Melainkan tatapan seseorang yang telah menungguku.
Seseorang yang mengenalku.
Seseorang yang sudah mengetahui bahwa aku akan datang.
Aku menatap mawar merah di dadanya sekali lagi.
Kemudian sebuah pikiran yang membuat darahku terasa semakin dingin muncul di kepalaku.
(Kalau dia benar-benar Phantom...)
Pria bertopeng itu tetap berdiri dalam diam.
Bayangannya membentang panjang di antara pecahan kristal.
Dan di tengah kekacauan yang memenuhi aula..
aku merasa seolah-olah seluruh dunia telah berhenti bergerak.
Hanya aku.
Dan dia.