CINTA SEMANIS PARE
Seorang playboy komersil yang terkenal di kampusnya, sangat terkejut ketika bangun tidur mendapati tubuhnya berubah menjadi seorang wanita cantik.
Wanita cantik itu sebenarnya adalah Awen, seorang mahasiswi tercantik di kampus namun sudah meninggal beberapa hari yang lalu.
Alu mempunyai saudara kembar bernama Afu, di mana Afu sangat menyukai awen pada saat Awen masih.
Seiring perjalanan waktu, dari kerumitan yang dialami alu dan perjalanan hidupnya Dia pun akhirnya benar-benar menjadi Awen.
Walaupun awalnya sempat terkendala tentang hubungan darah.
Akhirnya Afu dan Awen, yang sebelumnya adalah alu, akhirnya mereka berpacaran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agung Khan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MENYANGKAL PERUBAHAN
Alu tidak memercayai perkataan Afu bahwa dirinya telah berubah. Dia merasa Afu sedang mempermainkannya.
“Apa yang terjadi sama lo? Kenapa tubuh lo berubah? Bahkan suara lo juga?” tanya Afu.
Alu bangkit dari tempat tidur, kemudian berkacak pinggang.
“Lo nggak usah ngeledek gue! Cowok seganteng gue kok lo bilang jadi cewek? Dasar gila!”
Afu menunjuk ke arah cermin.
“Kalau lo nggak percaya, lihat sendiri noh di cermin!”
Alu mendengus, kemudian melangkah dengan menghentakkan kakinya ke lantai hingga terdengar suara cukup keras.
Dia berdiri di depan cermin, tetapi sangat tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Dia bahkan memeriksa cermin tersebut, mengangkatnya untuk memeriksa bagian belakangnya, lalu mengambil cutter untuk menggores tepian cermin. Namun, dia tidak menemukan tanda-tanda bahwa Afu telah menyabotase cermin itu.
“Astaga! Lo apain wajah gue, Afu? Pasti lo udah nyewa tukang makeup, ya?”
Afu tidak menjawab. Dia sibuk mengunyah makanan yang baru saja dibelinya. Dia hanya bergumam dalam hati.
Dasar, udah gue kasih tahu malah menyangkal.
Namun, Afu juga merasa penasaran. Dia pun berkata dengan nada cuek kepada Alu.
“Kalau lo nggak yakin sama yang lo lihat, coba masuk ke kamar mandi dan periksa apakah Brontosaurus lo masih ada di tempatnya!”
Mendengar perkataan saudara kembarnya, Alu bergegas menuju kamar mandi dan memeriksa seluruh tubuhnya.
Benar saja, tak berapa lama kemudian terdengar teriakan dari dalam kamar mandi.
“Afu! Ini gila! Nggak masuk akal!”
Teriakan panik Alu ditanggapi Afu dengan senyum santai.
“Ngapain lo teriak-teriak? Ada yang aneh?”
“Aduh, Mak! Brontosaurus gue berubah jadi ikan pari! Kotak-kotak di perut gue tinggal dua. Itu pun posisinya malah naik ke atas! Gimana ini, Afu?”
Afu menjawab dengan suara agak keras, tetapi nadanya sedikit meledek.
“Coba lo ingat-ingat, hari ini lo udah melakukan apa aja yang kira-kira menyebabkan lo kena kutukan gila itu.”
Di dalam kamar mandi, Alu duduk sambil memegang gayung, sementara matanya masih memandangi pantulan dirinya di cermin.
Dia pun teringat kejadian beberapa saat sebelumnya di sebuah area pemakaman.
Saat itu, dia sempat menggoda Afu yang sedang memandangi foto di batu nisan. Dia juga teringat kata-katanya yang menyuruh Afu menyatakan perasaan kepada orang yang sudah meninggal itu.
“Afu!” teriaknya.
“Kenapa, Alu?”
“Jangan-jangan gue kena kutukan dari makam Awen?”
“Kutukan?”
Afu bertanya dengan nada datar, seolah tak begitu peduli dengan apa yang dialami saudaranya.
“Bukannya lo nggak percaya sama yang begituan?”
“Tapi ini beneran terjadi! Coba lo kasih tahu gue penjelasannya secara ilmiah gimana?”
Afu menjawab dengan sindiran.
“Mungkin langit udah ngirimin orang yang gue sukai ke sisi gue buat jadi pendamping gue.”
“Terus kenapa harus gue? Gue ini cowok super keren! Kenapa harus jadi Awen?”
“Karena Awen adalah cinta gue yang belum sempat gue nyatakan. Jadi, mungkin ini kesempatan kedua buat gue!”
Beberapa saat kemudian, Alu keluar dari kamar mandi dengan wajah murung. Namun, Afu justru merasakan jantungnya bergetar saat menatap wajah baru saudaranya itu.
Alu segera duduk di hadapan Afu dengan pakaian yang belum sempurna dikenakan. Bahkan, kaus di bagian dadanya pun tampak belum rapi.
Afu segera menunjuk bagian tubuh Alu yang masih terlihat bentuknya meskipun tertutup kaus.
“Alu, lo gila, ya? Barang kayak gitu harusnya ditutup yang benar. Kalau nggak, bisa bahaya, tahu!”
Namun, Alu justru memukul kening saudaranya sambil tersenyum.
“Emangnya lo mikir apaan, sih? Gue kan Alu. Jangan lo jadiin fantasi kotor lo, ya!”
Afu bangkit, kemudian mengambil handuk dan melemparkannya ke arah Alu.
“Nih, pakai aja buat nutupin daerah itu! Gue nggak peduli lo Alu atau Awen. Gue peduli sama mata dan jantung gue sendiri. Melihat kayak gituan bikin otak gue error!”
Namun, jawaban Alu di luar dugaan Afu.
“Gue nggak peduli secantik apa gue sekarang, tapi gue tetap Alu, cowok terganteng di kampus!”
Afu bangkit dan meninggalkan Alu yang masih tertegun memperhatikan tubuhnya sendiri.
Alu segera membuka lemari dan memilih-milih pakaian seperti biasa. Dia suka mengenakan kaus streetwear yang agak tipis karena bisa menunjukkan bentuk tubuhnya yang atletis dan kekar.
Dia memadukannya dengan celana jins panjang yang dipotong di atas lutut. Menurutnya, penampilan seperti itu membuatnya tampak gagah dan keren.
Namun, dia terkejut karena kaus yang dipakainya hampir tidak muat di bagian dada. Dadanya tampak lebih kekar, setidaknya begitulah yang dia pikirkan.
Dia pun berpikir sejenak. Alu teringat bahwa ukuran tubuh Awen sedikit lebih besar daripada tubuhnya. Dia bergegas menuju lemari Awen dan mengambil salah satu kaus milik Afu untuk dicoba.
“Wah, baju ini pas banget ukurannya sama badan gue! Dada gue terlihat lebih kekar daripada sebelumnya.”
Dia tersenyum karena merasa ukuran kaus itu sangat pas dan membuat dadanya terlihat lebih kekar. Setidaknya, begitulah yang dipikirkan Alu.
Alu kembali menuju meja makan, tetapi meja itu sudah bersih. Ternyata, Afu tidak meninggalkan makanan untuknya.
“Afu, lo tega banget sama gue! Makanan buat gue juga lo sikat!”
Alu pun terpaksa pergi keluar apartemen untuk membeli makanan sendiri.
Saat melewati pangkalan ojek di seberang pos keamanan apartemen, beberapa tukang ojek dan pemuda yang sedang nongkrong di sana memperhatikan Alu yang melintas.
Bahkan, mereka mulai menggoda Alu yang belum memahami cara berpakaian dengan tubuh barunya.
“Woi, bro! Ada cewek seksi banget! Lihat, pakai celana pendek!”
“Gila, coy! Itu cewek nekat amat. Kayaknya nggak pakai pakaian dalam!”
Salah seorang tukang ojek ikut berkata, “Siapa yang berani nyamperin? Gue kasih tumpangan gratis!”
Beberapa saat kemudian, beberapa orang di antara mereka mulai mendekati Alu.
Alu yang tidak menyadari bahwa mereka ingin mengganggunya justru menyapa dengan santai.
“Woi, bro! Lo mau beli makan juga? Bareng, yuk!”
Para pemuda itu semakin bersemangat menggoda Alu.
“Hai, cewek! Lo mau bayarin kita makan?”
Mendengar dirinya dipanggil cewek, Alu langsung emosi. Dia merasa tubuhnya yang kekar dan atletis tentu tidak pantas dipanggil perempuan.
“Wah, lo gila! Badan kekar kayak gini lo panggil cewek? Lo nggak lihat dada gue yang bidang?”
Para pemuda itu saling pandang, kemudian tertawa.
Bahkan, beberapa di antara mereka mulai mencolek-colek Alu.
Kesal dengan perlakuan mereka, Alu menangkap tangan salah seorang di antara mereka, kemudian mencoba memelintirnya.
Namun, dia tidak menyangka tenaganya ternyata kalah jauh. Keadaan justru berbalik hingga Alu kesulitan melepaskan diri.
Ya ampun, kok gue bisa kalah tenaga sama mereka? Gue kan atlet taekwondo! Aneh banget, sih!
Namun, sebelum keisengan para pemuda itu berlanjut, Afu datang mengendarai motor dan berhenti di antara mereka.
“Weh, Bang! Jangan gangguin cewek gue!”
Para pemuda itu sudah mengenal Afu. Mereka pun berhenti dan bertanya kepadanya.
“Emang ini cewek lo? Kok kita nggak pernah lihat?”
Afu turun dari motor, kemudian melepaskan tangan mereka yang masih memegangi Alu.
“Maaf, Bang. Bukan cewek gue, sih. Dia sepupu gue, baru datang dari kota sebelah. Dia belum paham daerah sini, jadi maaf, ya.”
Beberapa di antara mereka tersenyum-senyum sambil terus memandangi tubuh Alu.
Afu kemudian menepuk pundak mereka dan saling menyentuhkan siku sebagai salam khas anak-anak gaul di daerah itu.
“Fu, bilangin sama sepupu lo, suruh pakai baju yang benar. Biar anak-anak yang nongkrong nggak mengira dia cewek aneh.”
Mendengar teguran itu, Afu kembali memperhatikan tubuh Alu. Barulah dia menyadari bahwa Alu tidak mengenakan pakaian dalam, sehingga bentuk dadanya terlihat jelas meskipun tertutup kaus.
Afu segera melepas jaketnya, lalu melingkarkannya ke tubuh Alu untuk menutupi bagian dadanya.
“Alu, sekarang lo bertubuh Awen. Jadi, lo harus pintar-pintar menjaga penampilan lo.”
Namun, Alu masih merasa tidak ada yang salah dengan dirinya.
Afu pun segera menarik tangan Alu dan mengajaknya meninggalkan mereka dengan mengendarai motor.
Sementara para pemuda yang mereka tinggalkan saling pandang, dan tertawa-tawa sambil menceritakan tentang alu yang menurut mereka adalah cewek cantik yang aneh.