NovelToon NovelToon
ISTRI RAHASIA SANG MAFIA

ISTRI RAHASIA SANG MAFIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / CEO / Nikah Kontrak
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Jefika Isabell

“Dia menikahiku untuk menyelamatkan kerajaannya. Aku menikahinya untuk menyelamatkan keluargaku. Namun, tak satu pun dari kami menyadari bahwa cinta akan menjadi pengkhianatan paling berbahaya.”

• Dante Alessandro Vieri (32 tahun): Bos mafia Italia yang tampan, gagah, bermata biru safir, dingin, penuh perhitungan, dan tidak pernah memaafkan pengkhianatan. Di balik kekuasaannya, ia menyimpan luka lama yang membuatnya tidak percaya pada cinta.

• Bianca Elena Laurent (24 tahun): Gadis cantik keturunan Spanyol dan Timur Tengah, bermata cokelat keemasan, berambut hitam panjang, cerdas, berani, serta memiliki harga diri yang tidak mudah dihancurkan. Ia tidak pernah membayangkan akan menjadi istri rahasia seorang mafia.

• Luciano Vieri: Adik tiri Dante yang menginginkan takhta keluarga.

• Isabella Moretti: Perempuan dari masa lalu Dante yang menyimpan rahasia tentang kematian ibunya.

• Adrian Laurent: Kakak Bianca yang menghilang setelah membawa sebuah dokumen berbahaya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jefika Isabell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17 — Pengkhianat di Meja Makan

Malam menyelimuti Villa Vieri ketika Dante Alessandro Vieri berdiri di depan jendela ruang kerjanya. Di tangannya terdapat sebuah foto Isabella Moretti, perempuan dari masa lalunya yang kini menghilang tanpa meninggalkan jejak.

Di belakangnya, Bianca duduk di sofa kulit dengan surat terakhir yang mereka temukan. Kalimat di bagian belakang foto itu terus terngiang dalam pikirannya.

Temukan Isabella sebelum Luciano menemukannya.

“Sudah ada kabar?” tanya Bianca.

Dante meletakkan foto tersebut di atas meja.

“Anak buahku memeriksa apartemennya, rekening banknya, dan tempat-tempat yang biasa dikunjunginya. Tidak ada yang menemukan sesuatu.”

“Bagaimana jika dia benar-benar diculik?”

“Kalau begitu, orang yang menculiknya telah melakukan kesalahan besar.”

Bianca mengamati suaminya. Wajah Dante tampak tenang, tetapi ia mengenal pria itu cukup baik untuk mengetahui bahwa ketenangan tersebut menyembunyikan kemarahan.

“Dante, aku ingin bertanya sesuatu.”

“Tanyakan.”

“Apakah kau masih mencintai Isabella?”

Dante terdiam.

Pertanyaan itu mungkin terdengar tidak masuk akal di tengah ancaman yang mereka hadapi. Namun, Bianca tidak sanggup mengabaikannya. Isabella pernah menjadi bagian penting dari kehidupan Dante, dan sekarang perempuan itu mungkin memegang rahasia yang menentukan masa depan mereka.

“Isabella pernah menjadi seseorang yang sangat berarti bagiku,” jawab Dante akhirnya. “Namun, itu terjadi sebelum aku mengenalmu.”

“Jawaban yang diplomatis.”

“Jawaban yang jujur.”

Bianca menunduk, memainkan ujung lengan bajunya.

“Aku tidak ingin menjadi perempuan yang harus bersaing dengan masa lalumu.”

Dante menghampirinya, lalu berjongkok agar wajah mereka sejajar.

“Kau tidak sedang bersaing dengan siapa pun, Bianca.”

Tatapan mereka bertemu.

“Aku tidak bisa mengubah masa laluku. Tetapi aku bisa memilih siapa yang ingin kupilih hari ini.” Dante menggenggam tangannya. “Dan pilihanku adalah kau.”

Bianca berusaha menyembunyikan senyumnya.

“Kalau begitu, buktikan dengan menemukan Isabella sebelum Luciano melakukannya.”

Dante mengangkat sebelah alis.

“Baru saja aku mengatakan sesuatu yang romantis.”

“Dan aku baru saja memberimu tugas.”

Untuk sesaat, ketegangan di antara mereka mencair.

Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama.

Pintu ruang kerja terbuka. Marco masuk membawa sebuah amplop hitam.

“Don, kami menemukan ini di mobil Isabella.”

Dante mengambil amplop itu. Di dalamnya terdapat undangan makan malam keluarga Vieri yang dijadwalkan malam itu di ruang makan utama villa.

Pada bagian belakang undangan tertulis sebuah pesan.

Jika kau ingin mengetahui siapa pengkhianat di antara kalian, duduklah di meja makan dan perhatikan siapa yang tidak menyentuh makanannya.

Bianca mengerutkan kening.

“Siapa yang mengirimkannya?”

“Kami sedang mencari tahu,” jawab Marco.

Dante melipat undangan itu.

“Batalkan makan malam.”

“Tidak,” sela Bianca.

Dante menoleh kepadanya.

“Kau ingin kita menghadiri makan malam yang mungkin merupakan jebakan?”

“Aku ingin melihat siapa yang datang dan siapa yang tidak.” Bianca berdiri. “Kalau seseorang berusaha memperingatkan kita, mungkin dia ingin kita memperhatikan sesuatu.”

Dante menatapnya lama, lalu mengangguk.

“Baik. Tetapi malam ini, kau tidak akan duduk jauh dariku.”

Bianca tersenyum tipis.

“Aku memang tidak berencana duduk di pangkuan Luciano.”

Dante menatapnya datar.

“Jangan memberiku gambaran yang tidak perlu.”

Bianca tertawa kecil. Untuk pertama kalinya sejak Isabella menghilang, ia melihat Dante hampir kehilangan sikap dinginnya karena sebuah lelucon sederhana.

Ruang makan utama Villa Vieri diterangi lampu gantung kristal. Peralatan makan perak tersusun rapi di atas meja panjang, sementara pelayan menyajikan hidangan khas Italia.

Luciano tiba tepat pukul delapan malam.

Ia mengenakan setelan abu-abu gelap dengan saputangan putih di saku jasnya. Senyumnya terlihat ramah, tetapi Bianca selalu merasa ada sesuatu yang mengerikan di balik keramahan pria itu.

“Dante,” sapanya sambil menarik kursi. “Kudengar rumah sakit tua yang kau kunjungi semalam hampir menjadi kuburanmu.”

Dante tidak tersenyum.

“Kabar buruk menyebar lebih cepat daripada kabar baik.”

Luciano terkekeh.

“Untungnya, kau masih hidup. Keluarga ini akan kehilangan banyak hal jika Don kita mati.”

“Jangan khawatir. Aku tidak berencana meninggalkan takhtaku untukmu.”

Senyum Luciano menegang sesaat.

Bianca memperhatikan pertukaran itu tanpa mengatakan apa-apa. Ia mulai memahami bahwa percakapan antara kedua bersaudara tersebut selalu menyerupai permainan catur, dengan setiap kalimat menjadi langkah untuk menjatuhkan lawan.

Ketika hidangan utama disajikan, seorang pelayan meletakkan sepiring daging panggang di depan Luciano.

Namun, Luciano tidak menyentuh makanannya.

Ia hanya memutar gelas anggur di antara jemarinya.

Bianca teringat pesan dalam amplop hitam.

Perhatikan siapa yang tidak menyentuh makanannya.

Ia melirik Dante. Suaminya juga telah memperhatikan hal tersebut.

“Tidak lapar, Luciano?” tanya Dante.

Luciano mengangkat wajah.

“Aku sedang memikirkan sesuatu.”

“Sejak kapan kau membiarkan pikiran menghalangimu menikmati makanan?”

“Sejak beberapa orang mulai menggali kuburan lama.”

Keheningan jatuh di meja makan.

Bianca meletakkan garpunya.

“Apakah kau berbicara tentang Alessandro?”

Luciano menoleh kepadanya. Senyum tipis muncul di bibirnya.

“Kau semakin berani, Bianca. Pernikahan dengan Dante tampaknya membuatmu merasa memiliki hak untuk bertanya tentang segala sesuatu.”

“Aku memang memiliki hak untuk bertanya tentang kematian ibuku.”

Senyum Luciano menghilang.

“Ah, Elena Laurent.” Ia menyandarkan punggungnya. “Nama itu selalu membawa masalah bagi keluarga kita.”

“Masalah bagi siapa?” desak Bianca.

“Bagi orang-orang yang terlalu ingin mengetahui kebenaran.”

Dante meletakkan gelasnya dengan suara keras.

“Cukup, Luciano.”

Namun, Bianca menyentuh lengan suaminya, memintanya agar membiarkan percakapan berlanjut.

“Aku hanya ingin tahu satu hal,” katanya kepada Luciano. “Siapa yang membayar dokter pada malam ibuku meninggal?”

Wajah Luciano berubah.

Hanya sesaat, tetapi Bianca melihatnya.

Sebuah kilatan ketakutan.

Kemudian pria itu tertawa pendek.

“Kalau kau ingin mencari pembunuh ibumu, mulailah dari ayahmu sendiri.”

“Apa maksudmu?”

Luciano berdiri, merapikan jasnya.

“Selamat menikmati makan malam.”

Ia meninggalkan ruang makan tanpa menyentuh satu pun hidangannya.

Bianca menatap piring Luciano yang masih penuh.

Dante berdiri di sampingnya.

“Dia mengetahui sesuatu,” bisik Bianca.

“Ya.”

“Dan dia takut kita akan menemukannya.”

Dante menatap pintu yang baru saja ditutup.

“Karena itulah kita tidak boleh membiarkannya pergi terlalu jauh.”

Setelah makan malam, Bianca kembali ke ruang kerja Dante. Ia berjalan mondar-mandir sambil memikirkan sikap Luciano.

“Dia tidak hanya menghindari pertanyaanku,” katanya. “Dia sengaja mengarahkanku kepada ayahku.”

“Luciano selalu menggunakan kebenaran yang setengah lengkap untuk membuat orang lain saling mencurigai.”

“Bagaimana jika kali ini dia benar?”

Dante tidak langsung menjawab.

Bianca menatapnya tajam.

“Kau masih menyembunyikan sesuatu.”

“Ada satu hal yang belum kukatakan kepadamu.”

Dante membuka lemari besi kecil di sudut ruangan dan mengeluarkan sebuah dokumen lama.

“Beberapa minggu sebelum ayahku meninggal, dia memindahkan sejumlah uang ke rekening seorang dokter. Nama penerimanya adalah Rafael Moretti.”

Bianca meraih dokumen tersebut.

“Rafael adalah ayah kandungku?”

“Aku belum bisa memastikan. Tetapi transaksi ini terjadi pada malam Elena meninggal.”

Bianca membaca angka dan tanggal yang tercetak di atas kertas. Di bagian bawah terdapat tanda tangan Alessandro Vieri.

“Kenapa kau baru memberitahuku sekarang?”

“Karena aku ingin memastikan dokumen ini asli sebelum memberimu harapan yang mungkin salah.”

Bianca mengembalikan dokumen itu ke meja.

“Aku tidak membutuhkan harapan palsu, Dante. Aku membutuhkan kebenaran, meskipun kebenaran itu menyakitkan.”

Dante mengangguk perlahan.

“Aku mengerti.”

Ponsel Bianca tiba-tiba bergetar.

Sebuah pesan masuk dari nomor tidak dikenal.

Jangan percaya kepada Luciano. Dia bukan satu-satunya pengkhianat di meja makan malam ini.

Bianca menunjukkan layar ponselnya kepada Dante.

“Siapa lagi yang berada di meja makan?”

Dante menghitung dalam diam.

“Luciano, aku, kau, dan tiga anggota keluarga yang lain. Termasuk paman jauhku, Vittorio.”

“Apakah kau mencurigainya?”

“Aku tidak pernah memercayai Vittorio sepenuhnya.”

Sebelum mereka sempat melanjutkan percakapan, terdengar ketukan keras di pintu.

Marco masuk dengan napas memburu.

“Don, kami menemukan sesuatu di kamar Luciano.”

“Apa?”

“Foto Isabella. Dan sebuah tiket penerbangan menuju Palermo atas nama orang lain.”

Bianca berdiri.

“Jadi, Luciano tahu di mana Isabella berada?”

Marco menggeleng.

“Kami belum menemukan Isabella. Namun, ada surat di dalam laci Luciano yang menyebutkan bahwa dia harus dipindahkan sebelum tengah malam.”

Dante mengambil pistolnya.

“Panggil semua orang. Periksa seluruh villa dan tutup gerbang.”

“Baik, Don.”

Setelah Marco pergi, Bianca menatap Dante.

“Luciano mungkin sedang berusaha menghilangkan saksi.”

“Kalau Isabella mengetahui sesuatu tentang kematian Elena, dia memang berada dalam bahaya.”

Bianca meraih tangan suaminya.

“Kita harus menemukannya.”

Dante mengangguk. Namun, sebelum mereka meninggalkan ruangan, ponsel Dante menerima sebuah pesan baru.

Foto yang muncul memperlihatkan Isabella duduk di kursi dalam sebuah ruangan gelap. Wajahnya pucat, tetapi ia masih sadar. Di belakangnya berdiri seorang pria yang mengenakan cincin dengan lambang delapan kelopak.

Di bawah foto itu terdapat kalimat singkat.

Cari pengkhianat di dalam rumahmu sendiri, Don.

Dante menatap foto tersebut, lalu mengangkat pandangan kepada Bianca.

Untuk pertama kalinya, Bianca melihat sesuatu yang lebih menakutkan daripada kemarahan di wajah suaminya.

Keraguan.

Karena cincin yang dikenakan pria di belakang Isabella adalah cincin yang pernah dilihat Dante pada tangan seseorang yang sangat ia percayai.

Vittorio Vieri.

Pamannya sendiri.

Dan jika Vittorio memang pengkhianat yang selama ini bersembunyi di balik meja makan keluarga, berarti musuh mereka telah berada di dalam Villa Vieri jauh sebelum Bianca datang.

Bersambung — Bab 18: Bianca Mulai Melawan

1
nnda
ceritanya dipercepat kah kak? kok tiba² udah punya anak si Bianca sama Dante
Isabell: iya kak mohon maaf update hari ini agak amburadul 😖 ada bab yang hilang, nanti aku ubah dulu kak 🙏
total 1 replies
Frida
💪
Yiruma Nitya
Bagus loh kak sumpah, semangat terus, jangan lupa mampirin aku jg ya
Yiruma Nitya
Jadi penasaran
Zendyaa4
aku baca baca ini kak,tapi pelan pelan. semangat kakk💪
jangan lupa mampirr🤭
niaww
semngat trus kak isabelll
Isabell: terima kasih kak 😍semangat juga untuk mu kak 🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!