NovelToon NovelToon
EFEK MANDAROBA

EFEK MANDAROBA

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Sistem / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:164
Nilai: 5
Nama Author: just Zii

Hujan deras mengguyur gang sempit malam itu. Napas Sesil terengah-engah, memburu bersama ketakutan yang makin membelenggu dada.

Di tengah hawa dingin yang menusuk tulang, ia memeluk erat sebuah buku catatan bersampul hitam—satu-satunya bukti kejahatan mematikan yang berhasil ia temukan.

​Tiba-tiba, sorot lampu mobil menyilaukan memotong kegelapan dari arah belakang. Sebuah mobil mewah berhenti mendadak. Sosok pria berpostur jangkung melangkah keluar.

Alden.

Dengan payung hitam di genggamannya, ia berjalan tenang menghampiri Sesil tanpa raut panik sedikit pun.

​BRAAKK!

​Dentang besi bersahut-sahutan mengudara saat tubuh Sesil terpental keras ke aspal basah. Rasa sakit menusuk seketika, disusul pandangan matanya yang perlahan mengabur dan menggelap. Sebelum kesadarannya hilang sepenuhnya, bisikan dingin berselimut nada manis terdengar tepat di telinganya:

​"Tidur yang nyenyak, Sesil. Pas bangun nanti, kamu bakal mencintai aku."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon just Zii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12: JAM DINDING YANG BERHENTI

Malam kembali merayap di perbukitan, membawa gelombang dingin yang menusuk hingga ke balik dinding-dinding batu kediaman mewah itu.

Di dalam kamar tidur utama, keheningan terasa begitu berat dan kaku, hanya diputus oleh detak teratur dari sebuah jam dinding kayu antik berukir gaya Victoria yang tergantung di dekat lemari pakaian.

Tuk. Tak. Tuk. Tak.

Setiap detakan jam itu terdengar bagaikan hitungan mundur menuju pertempuran sunyi antara Sesil dan pria yang berdiri di samping ranjangnya.

Alden berdiri tegap, mengenakan kemeja putih yang lengan bajunya digulung hingga ke siku. Di telapak tangan kanannya, tertata dua butir pil tanpa label—senyawa Mandaroba Compound-9—dan di tangan kirinya tergenggam segelas air hangat.

Tatapan mata hitamnya begitu lekat memandangi Sesil, memancarkan kombinasi antara kelembutan yang manipulatif dan pengawasan ketat yang tak tertembus.

"Waktunya minum obatmu, Sesil," kata Alden.

Suaranya tenang, bernada hipnotis, persis seperti malam-malam sebelumnya.

Sesil duduk bersandar di papan ranjang. Gaun tidur sutra putihnya menjuntai halus.

Setelah penemuan literatur medis rahasia di perpustakaan semalam, setiap kali ia melihat wajah Alden, dadanya bergemuruh oleh kombinasi rasa jijik dan dendam yang membara. Namun, di balik sepasang matanya, ia memasang raut wajah yang redup, tumpul, dan pasrah—topeng kepatuhan buatan yang biasa dipicu oleh zat kimia tersebut.

"Terima kasih, Alden," bisik Sesil dengan intonasi lambat yang dipaksakan.

Ia mengulurkan tangannya yang sedikit gemetar, mengambil kedua pil dari telapak tangan Alden. Ia memasukkan pil-pil itu ke dalam mulutnya, membiarkannya bersarang di bawah lipatan lidahnya di bagian paling belakang—sebuah teknik penyembunyian obat yang telah dilatihnya secara cermat di dalam pikiran sepanjang hari.

Sesil kemudian menerima gelas air hangat yang disodorkan Alden. Ia meneguk air itu dengan tegukan yang cukup keras, memperlihatkan gerakan otot tenggorokannya yang naik turun dengan sangat alami seolah-olah ia benar-benar baru saja menelan kedua pil tersebut.

Alden menatap leher Sesil tanpa berkedip. Pria itu menunduk sedikit, memastikan tidak ada sisa air atau pergerakan mencurigakan pada bibir Sesil.

"Gadis pintar," ujar Alden pelan. Pria itu membungkuk, mendaratkan ciuman singkat di dahi Sesil yang dingin.

"Tidurlah. Aku akan menyelesaikan beberapa dokumen di ruang kerja bawah sebelum menyusulmu."

"Jangan terlalu malam, Alden..." sahut Sesil, suaranya makin melemah, menirukan efek mengantuk yang biasa terjadi.

Alden tersenyum puas, meletakkan gelas kosong di atas nakas, lalu berbalik melangkah keluar kamar. Pintu kamar ditutup rapat, disusul suara klik halus dari pengunci otomatis.

Begitu derit langkah kaki Alden menjauh dan menghilang di sepanjang koridor luar, mata Sesil yang tadinya sayu mendadak terbuka lebar, berkilat tajam penuh kewaspadaan.

Tanpa membuang waktu sedetik pun, Sesil bergerak cepat. Ia menyingkap selimut, menyambar selembar tisu tebal dari atas meja nakas, lalu meludahkan kedua pil tanpa label itu dari balik bawah lidahnya.

Pil-pil berwarna putih dan kuning pudar yang mulai sedikit meleleh karena air liur itu terlempar ke atas tisu.

Sesil meremas tisu tersebut rapat-rapat, membuangnya ke dalam celah terdalam bag bagian dalam kantong tas kecilnya yang tersimpan di dasar lemari—bukti kimiawi yang akan terus dikumpulkannya.

Ia lalu mereguk sisa air bersih yang berbeda dari gelas lain untuk membilas mulutnya, memastikan tidak ada residu alkaloid yang terserap oleh pembuluh darah di bawah lidahnya.

Sesil kembali berbaring di atas ranjang, memejamkan mata, dan menunggu.

Menit demi menit berlalu dalam kegelapan kamar yang temaram.

Biasanya, lima belas menit setelah jam minum obat, gelombang kabut tebal akan merayap menghantam otaknya, melumpuhkan syaraf kritisnya dan membawa rasa kantuk berat yang memunculkan ilusi kepatuhan.

Namun malam ini, kabut kimiawi itu tidak pernah datang.

Untuk pertama kalinya sejak ia terbangun dari koma di rumah sakit, otak Sesil bekerja tanpa kontaminasi racun Mandaroba.

Sebuah sensasi aneh menjalar di dalam tempurung kepalanya—bukan rasa sakit berdenyut, melainkan sebuah gelombang kejernihan dingin yang amat sangat tajam.

Indra-indranya mendadak bangkit kembali dengan presisi yang mengejutkan. Pendengarannya menjadi begitu peka; ia kini bisa membedakan antara siulan angin di luar jendela dan desis gesekan ranting pohon pinus pada dinding beton.

Dan kemudian, benteng amnesianya runtuh sepenuhnya.

Pikiran visualnya—yang selama ini tertutupi oleh lapisan kapas tebal buatan Alden—mendadak memancarkan rekaman memori yang luar biasa jernih.

Bayangan-bayangan yang sebelumnya kabur dan terputus kini menyatu membentuk sebuah film dokumenter masa lalu yang utuh dan tanpa celah.

Di balik kelopak matanya yang tertutup, Sesil melihat segalanya dengan warna dan detail yang sempurna:

Ia melihat ruangan redaksi koran tempatnya bekerja. Ia melihat nama lengkapnya tertera di sampul penghargaan jurnalistik: Sesil Wijaya.

Ia mengingat dengan sangat jelas wajah Rian—bukan sebagai mantan kekasih yang abusif seperti kebohongan Alden, melainkan sebagai sahabat karib dan rekan duet investigasinya yang paling terpercaya.

Ia mengingat diskusi-diskusi rahasia mereka di basement parkir tentang skandal pembuatan obat-obatan terlarang oleh PT Mandaroba Medika.

Ia melihat wajah Alden pada malam hujan deras itu—bukan wajah pahlawan yang menyelamatkan nyawanya, melainkan wajah dingin seorang eksekutif sosiopat yang berdiri di samping mobil hitamnya, memegang payung hitam, menatap tubuh Sesil yang terkapar berdarah di atas aspal setelah dihantam benturan keras.

Ia mendengar suara Alden malam itu, berbisik dingin kepada anak buahnya saat tubuhnya yang sekarat diangkat ke dalam ambulans pribadi: "Ambil buku catatannya. Bawa dia ke kediaman perbukitan. Kita gunakan Compound-9 untuk menghapus otaknya."

Air mata bening menetes melewati pipi Sesil—bukan air mata ketakutan atau keputusasaan, melainkan air mata kebangkitan. Kejernihan ingatan visualnya telah kembali seratus persen.

Ia tahu siapa dirinya, ia tahu apa yang telah dilakukannya, dan yang paling penting: ia tahu persis betapa mengerikannya kejahatan pria yang kini mengurungnya.

Pandangan Sesil teralih ke arah dinding kamar.

Jam dinding kayu antik gaya Victoria itu mendadak berhenti berdetak. Jarum panjang dan jarum pendeknya terkunci kaku di angka dua belas malam. Baterai atau pegas pemutarnya rupanya telah habis tepat pada detik itu.

Sesil menatap jam yang mati itu dalam kegelapan. Jam yang berhenti berdetak itu terasa seperti sebuah simbol yang sangat puitis: waktu kepatuhannya telah berakhir. Waktu di mana ia menjadi mangsa yang mudah dibodohi dan dibentuk oleh racun sintetis telah mati bersama berhentinya detik jam tersebut.

Sesil mendudukkan tubuhnya tegak di atas ranjang. Tidak ada lagi gemetar di tangannya. Tidak ada lagi rasa panik saat mendengar gema angin atau kilat.

Dengan otak yang jernih dan ingatan jurnalis yang telah pulih sepenuhnya, Sesil menatap pintu kamar yang terkunci.

Babak baru pertarungan telah dimulai—di mana sang korban kini berpura-pura tetap menjadi boneka yang terkendali, sambil merajut benang-benang pembalasan untuk menghancurkan sang manipulator dari dalam sangkarnya sendiri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!