NovelToon NovelToon
Suamiku Ternyata Dokter Yang Dingin Dan Menyebalkan

Suamiku Ternyata Dokter Yang Dingin Dan Menyebalkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Action / Perjodohan
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Intan Wiwi

Clara Adelin Dewangga, seorang siswi SMA berusia 18 tahun yang ceria namun sering terlibat masalah, tidak pernah membayangkan bahwa kehidupan remajanya akan berubah drastis dalam semalam. Karena perjodohan keluarga yang terikat janji masa lalu, Clara terpaksa menikah muda di usianya yang masih duduk di bangku sekolah.
Pria yang dijodohkan dengannya adalah Arka Samudra, seorang dokter muda berparas tampan, cerdas, namun terkenal sangat dingin, kaku, dan penuh aturan. Di depan publik dan di rumah sakit, Arka adalah sosok dokter profesional yang disegani. Namun di rumah, ia menjadi sosok suami super protektif yang menyebalkan bagi Clara.
Kehidupan pernikahan rahasia mereka penuh dengan pertengkaran kecil yang menggelitik:
Clara sangat membenci Arka, karena dia menerima perjodohan tersebut, tanpa syarat.
Di balik sikap Arka yang dingin dan membuat kesal, perlahan terkuak perhatian-perhatian kecil yang membuat jantung Clara berdebar tak menentu. Hal itu yang membuat Clara tersentuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Intan Wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Huru-hara kembali lagi

Bel istirahat kedua pun berbunyi, Clara dan teman-temannya pun segera bergegas menuju ke kantin. Karena pas istirahat pertama mereka memilih untuk nongkrong di perpustakaan untuk mencari bahan belajar.

"Ayo cepat sedikit dong Clar...! Gue udah laper banget nih" seru Maya pada Clara.

"Kalian duluan aja deh, nanti gue nyusul" jawab Clara sambil tersenyum.

Karena saat itu dia sedang berbalas pesan dengan suaminya.

Clara menghentikan langkahnya sejenak di dekat mading sekolah ketika ponsel di dalam saku seragamnya bergetar pelan. Layar ponselnya menyala, menampilkan sebuah nama kontak Dokter Es.

Dokter Es: "Clara, istirahat kedua ini sudah makan siang? Jangan telat makannya ya, nanti asam lambungmu kambuh lho."

Melihat pesan itu, senyum Clara langsung mengembang tanpa bisa ia tahan. Hatinya selalu menghangat setiap kali suaminya menunjukkan perhatian kecil seperti itu di tengah kesibukan kantor. Dengan jemari lentiknya, ia segera membalas pesan tersebut sambil berjalan santai menyusuri koridor menuju kantin.

Clara: "Baru aja bel berbunyi nih, Mas. Ini lagi jalan ke kantin bareng Maya, Fani, dan Rara. Mas Arka sendiri sudah makan siang belum? Jangan sibuk kerja terus sampai lupa makan ya!"

Tidak butuh waktu lama, balasan dari Arka langsung masuk.

Dokter Es: "Ini baru mau pesan makanan. Pengennya sih disuapin sama istri tercinta, hehe. Nanti pulangnya mau dibawain apa? Aku jemput ya?"

Clara: "Ih, gombal mulu deh! Terserah Mas Arka deh mau bawain apa, aku nurut. Tapi jangan jemput sore-sore banget ya, aku ada jadwal piket kelas hari ini."

Dokter es: "Siap, Bos! Kabari kalau sudah sampai kantin ya. Selamat makan siang, istri kecilku."

Clara terkekeh pelan membaca balasan terakhir suaminya. Perasaan dicintai dan disayangi membuat lelah karena pelajaran tadi pagi seolah menguap begitu saja.

Sesampainya di kantin yang tampak sangat ramai dan dipenuhi aroma sedap bakso serta soto, Clara langsung mendapati Maya, Fani, dan Rara sudah melambaikan tangan dari meja sudut favorit mereka, meja nomor 5 yang strategis dekat kipas angin gantung.

"Lama banget sih, Yang Mulia Clara! Hampir aja meja ini diserobot anak kelas sebelah tahu," protes Fani begitu Clara mendudukkan diri di kursi plastik sebelah Maya.

"Maaf, maaf. Tadi ada urusan darurat... urusan hati maksudnya," goda Clara sambil tertawa kecil, membuat ketiga sahabatnya langsung melempar tatapan curiga bercampur geli.

"Halah, pasti abis chattingan sama Arka ya? Ngaku nggak lo!" tukas Rara sambil menyipitkan mata, menuding Clara menggunakan sedotan es tehnya. "Pengantin baru mah bebas ya, dunia rasanya milik berdua, yang ngontrak kayak kita bisa apa."

"Makanya, cari pacar atau nikah juga sana biar nggak ngiri," balas Clara membela diri, meski pipinya sudah merona merah.

Tak lama kemudian, pesanan mereka datang: dua mangkuk bakso pedas manis, satu mie ayam ekstra pangsit, dan satu porsi batagor kesukaan Maya. Keempat sahabat itu langsung makan dengan lahap, diselingi gelak tawa dan obrolan seru tentang tugas biologi yang baru saja mereka selesaikan di perpustakaan pada jam istirahat pertama tadi.

Kebersamaan dan gelak tawa mereka mendadak terhenti ketika bayangan seseorang berdiri tepat di samping meja mereka. Suara deheman yang dibuat-buat memecah obrolan meja nomor 5.

"Hai, Clara. Masih ingat sama meja kantin favorit kita dulu?"

Mendengar suara itu, suasana di sekitar meja Clara mendadak terasa senyap. Clara mendongak, dan napasnya seakan tertahan sesaat. Di hadapannya kini berdiri Kenan mantan kekasihnya semasa kelas sepuluh, pria yang pernah mengisi hari-harinya sebelum akhirnya Clara memilih putus, karena sang ayah sangat membenci Kenan. Kenan berdiri dengan gaya kasual, mengenakan jaket bomber hitam dan senyum miring penuh percaya diri yang dulu sempat membuat Clara luluh, namun kini justru terasa menyebalkan di mata Maya dan yang lainnya.

Maya langsung meletakkan sumpitnya dengan kasar, sementara Fani dan Rara reflek memasang wajah masam.

"Mau apa loe, Ken? Nggak usah ganggu Clara deh. Dia udah punya suami, dan loe bukan siapa-siapa lagi buat dia," cetus Maya tajam, langsung mengambil posisi sebagai benteng pertahanan Clara.

Kenan sama sekali tidak menggubris ucapan Maya. Tatapannya terkunci lurus pada Clara, menyiratkan kilatan rasa penyesalan sekaligus rasa tidak rela yang amat mendalam.

"Aku cuma nyapa, May. Nggak boleh emang?" ujar Kenan dengan nada santai, lalu beralih menatap Clara. Matanya menyelami manik mata gadis itu. "Clar, jujur... aku masih sering mikirin kamu. Hubungan kamu sama Arka itu... beneran bahagia? Jangan-jangan kamu cuma terpaksa nikah muda karena tuntutan keluarga?"

Clara merengut, rasa nyaman dan bahagianya seketika tergantikan oleh rasa risih yang teramat sangat. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu menatap Kenan dengan tatapan setenang dan sedingin mungkin.

"Jaga ucapan kamu, Ken," ucap Clara tegas. Suaranya tidak bergetar sama sekali, membuktikan betapa ia sudah sepenuhnya lepas dari bayang-bayang masa lalu. "Pernikahan aku dan Mas Arka adalah keputusan terbaik dalam hidup aku. Kami bahagia, jauh lebih bahagia dari yang kamu bayangkan. Jadi, tolong jangan pernah meragukan atau merusak kebahagiaan kami."

Kenan terkekeh sinis, mencoba menutupi rasa malunya karena ditolak mentah-mentah di hadapan banyak pasang mata anak sekolah. "Ah, gampang banget ngomong bahagia. Liat aja nanti, Clara. Aku yakin suatu saat kamu bakal—"

Kringgg!

Bel tanda istirahat kedua berakhir berdering nyaring, menyelamatkan meja nomor 5 dari perdebatan yang semakin memanas.

"Udah bel masuk, Mas Ganteng yang Gak Diundang. Mending lo minggir sekarang sebelum gue panggil guru BK buat menyeret lo dari sini!" sergah Rara sengit sambil berdiri, diikuti oleh Fani, Maya, dan Clara.

Clara melirik Kenan sekilas tanpa rasa iba sedikit pun, lalu berbisik pelan pada sahabat-sahabatnya, "Yuk, kita ke kelas."

Meninggalkan Kenan yang berdiri mematung dengan rahang mengeras di tengah keramaian kantin, Clara merogoh sakunya sekali lagi. Ia mendapati satu pesan baru dari suaminya yang seolah menjadi penawar sempurna atas ketidaknyamanan tadi:

Dokter Es: "Udah masuk kelas ya, istri kecilku? Semangat belajarnya ya. Nanti aku jemput tepat waktu di gerbang depan. See you!"

Clara membalas pesan itu dengan senyuman terindah di bibirnya, merasa sangat bersyukur memiliki pelabuhan hati yang jauh lebih hebat dari masa lalunya.

1
Renjana
waduh, sudah dijodohkan
Intan Wiwi: yang ini sequel dari Seinara dan Nathan ya🤭. yang ini kisah anaknya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!