NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Dewa Pedang

Reinkarnasi Dewa Pedang

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Balas Dendam / Epik Petualangan
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Bajing33

Di puncak kejayaannya, Ye Xuan — dijuluki Dewa Pedang Sembilan Langit — nyaris mencapai keabadian sejati setelah tiga abad menempa jalan pedang tanpa tanding. Namun pada malam pendakiannya, saudara seperguruan yang paling ia percaya menikamnya dari belakang, bersekongkol dengan kekuatan tersembunyi yang selama ini bergerak dalam bayangan. Jiwanya tercerai-berai, terlempar melintasi ruang dan waktu selama tiga ratus tahun.
Kini, jiwa itu terbangun di dalam tubuh Lin Mu, putra bungsu Klan Lin yang dianggap sampah — pemuda tujuh belas tahun dengan meridian yang rusak parah, sasaran hinaan seluruh kota kecil di Perbatasan Utara, dan baru saja dipukuli setengah mati oleh tunangannya sendiri dari Klan Zhao di depan umum.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bajing33, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12 — Kilatan Penakluk Fajar

Lin Mu merasakannya sebelum ia melihatnya—perubahan udara yang nyaris tak kasat mata, seperti embusan angin yang salah arah di malam yang seharusnya tenang. Ia menghentikan latihannya di tengah kebun obat, pecahan Penakluk Fajar masih tergenggam di tangan kanannya, matanya menyapu kegelapan di sekeliling tembok Halaman Belakang.

"Keluarlah," katanya tenang, meski setiap sarafnya kini waspada penuh. "Kali ini kau jauh lebih baik dari utusan terakhir yang mereka kirim. Tapi aku tetap bisa merasakanmu."

Dari balik bayangan pohon tua, seorang wanita melangkah keluar tanpa suara, gerakannya begitu halus hingga tampak seperti mengalir bersama kegelapan itu sendiri. Mo Yin mengenakan pakaian ketat berwarna hitam pekat, wajahnya tak tertutup topeng seperti bawahannya, memperlihatkan kecantikan dingin yang sama sekali tak mengurangi aura mematikan yang menguar dari setiap gerakannya.

"Kau memang berbeda," ia berkata, suaranya lembut namun dingin seperti es. "Kebanyakan mangsaku bahkan tak menyadari kehadiranku sampai pisauku sudah menempel di leher mereka."

"Aula Bayangan," Lin Mu bergumam, bukan pertanyaan melainkan pernyataan. "Zhao Kang bergerak lebih cepat dari perkiraanku."

Mo Yin tersenyum tipis, tak membenarkan maupun menyangkal. "Tuanku hanya ingin bicara denganmu, Lin Mu—atau haruskah kupanggil kau dengan nama lain? Nama yang seharusnya sudah terkubur tiga ratus tahun lalu." Ia mengeluarkan sepasang pisau lengkung tipis dari balik lengan bajunya, berkilau tajam di bawah cahaya bulan. "Perintahku adalah membawamu hidup-hidup. Tapi jika kau bersikeras melawan, aku tidak keberatan sedikit... merusak barang bawaan."

Ia menyerang tanpa peringatan lebih lanjut, kecepatannya jauh melampaui Zhao Feng maupun Hei San—hampir tak terlihat mata biasa, bayangan hitam yang meluncur rendah di antara bebatuan kebun, kedua pisau lengkungnya mengarah ke titik-titik vital di tubuh Lin Mu secara bersamaan.

Lin Mu terpaksa mengeluarkan seluruh kemampuannya sejak detik pertama. Ia menggerakkan pecahan Penakluk Fajar untuk menangkis pisau pertama, percikan bunga api meletup saat logam bertemu logam, sementara tubuhnya memutar menghindari pisau kedua hanya dengan selisih beberapa senti dari kulitnya.

"Cepat juga," Mo Yin berkomentar, meski nada suaranya tak menunjukkan kekhawatiran sedikit pun. Ia melanjutkan serangan beruntun, setiap gerakannya efisien dan mematikan, jelas hasil latihan puluhan tahun sebagai pembunuh bayaran kelas atas.

Lin Mu bertahan, mencari celah di antara rentetan serangan itu, namun perbedaan kekuatan mentah kali ini terasa jauh lebih nyata dibanding saat melawan Zhao Feng. Mo Yin bukan sekadar kultivator dengan realm lebih tinggi—ia adalah pembunuh terlatih yang memahami kelemahan tubuh manusia lebih baik daripada siapa pun yang pernah Lin Mu hadapi sejak kebangkitannya.

Satu pisau berhasil menggores lengan kirinya, darah segar mengalir membasahi kain lengan bajunya. Rasa sakit itu tajam, nyata—mengingatkannya betapa rapuhnya tubuh barunya dibanding kekuatan yang dulu pernah ia miliki.

Tidak cukup, pikirnya, merasakan qi-nya mulai menipis akibat pertarungan intens yang berlangsung tanpa henti. Jika terus begini, aku akan kalah sebelum sempat menggunakan kartu terakhirku.

Ia melompat mundur, menciptakan jarak sejenak, napasnya memburu. Mo Yin tidak mengejar segera, berdiri tenang dengan kedua pisau masih terangkat, menatapnya dengan ekspresi yang mulai berubah—dari sekadar profesional menjadi penuh perhitungan, seolah baru menyadari lawannya bukan sekadar mangsa biasa.

"Kau bertahan lebih lama dari perkiraanku," ia berkata. "Menarik. Mungkin laporan Zhao Kang bukan sekadar omong kosong berlebihan."

Lin Mu menggenggam pecahan Penakluk Fajar erat-erat, memejamkan mata sejenak. Di kehidupan lalunya, ia telah menciptakan ribuan jurus sepanjang tiga abad hidupnya—namun satu jurus selalu menjadi andalan terakhirnya di saat-saat paling genting, jurus yang bahkan tak pernah sempat ia turunkan pada murid-muridnya karena terlalu berbahaya untuk dipelajari sembarang orang: Kilatan Fajar Pertama, sebuah tebasan tunggal yang memusatkan seluruh qi yang tersisa dalam tubuh ke dalam satu titik, satu gerakan, tanpa ruang untuk kesalahan.

Ia hanya punya satu kesempatan. Tubuhnya yang lemah tidak akan sanggup menahan efek samping jika gagal.

"Kau sudah cukup kuat untuk mengetahui namaku yang sebenarnya," Lin Mu berkata pelan, membuka matanya kembali, kali ini dipenuhi ketenangan dingin yang jauh lebih tua dari usia tubuhnya. "Ye Xuan. Dewa Pedang Sembilan Langit. Sampaikan itu pada Tuan Bayanganmu, jika kau sempat pulang membawa pesan."

Mo Yin menyerang sekali lagi, kali ini dengan kecepatan penuh, yakin ini adalah kesempatan terakhirnya sebelum lawannya kehabisan tenaga sepenuhnya.

Lin Mu melangkah maju, bukan mundur.

Pecahan Penakluk Fajar berkilau terang, memancarkan cahaya keemasan yang belum pernah ditunjukkannya sepanjang pertarungan sejauh ini, seolah pedang itu sendiri mengenali momen ini sebagai kelahiran kembali sebagian dari kekuatannya yang dulu.

Satu tebasan tunggal. Cepat, presisi, membelah udara malam dengan suara dengung tinggi yang membuat seluruh serangga malam di kebun mendadak sunyi.

Mo Yin berhasil menahan sebagian besar dampaknya dengan menyilangkan kedua pisaunya di detik terakhir—namun kekuatan tebasan itu tetap cukup untuk melemparkannya mundur puluhan langkah, membelah salah satu pisaunya menjadi dua, dan meninggalkan goresan dalam melintasi bahunya.

Ia mendarat terhuyung di atas tembok kebun, wajahnya untuk pertama kalinya menunjukkan keterkejutan yang tak lagi bisa ia sembunyikan.

"Kilatan Fajar Pertama," bisiknya, nyaris tak percaya pada apa yang baru saja ia saksikan. "Jurus itu memang benar-benar ada..."

Ia menatap Lin Mu sekali lagi—yang kini terhuyung, berlutut kelelahan dengan napas terengah-engah, qi-nya nyaris terkuras habis akibat jurus terakhir itu—sebelum akhirnya membuat keputusan.

"Aku akan kembali," Mo Yin berkata, suaranya kini kehilangan nada meremehkan sebelumnya, digantikan sesuatu yang lebih hati-hati. "Tapi bukan sendirian, dan bukan dalam waktu dekat. Tuanku perlu mendengar ini langsung."

Ia menghilang ke dalam kegelapan malam secepat kedatangannya, meninggalkan Lin Mu sendirian di kebun obat yang kini dipenuhi tanah yang terbelah dan sisa-sisa cahaya keemasan yang perlahan memudar dari pecahan Penakluk Fajar di genggamannya.

Tetua Qing berlari mendekat dari arah gubuknya, wajahnya penuh kekhawatiran begitu melihat kondisi Lin Mu. "Anak muda! Kau—"

"Aku baik-baik saja, Tetua," Lin Mu memotong, meski suaranya lemah, senyum tipis mengembang di wajahnya yang pucat karena kelelahan ekstrem. "Tapi kurasa waktu tenang kita sudah hampir habis."

Ia menatap ke arah bulan yang tergantung tinggi di langit malam, pikirannya dipenuhi satu kesadaran baru yang tak bisa lagi ia abaikan: dunia yang lebih besar telah mulai mengetuk pintunya, dan kali ini, bukan hanya klan-klan kecil seperti Zhao yang akan datang mencarinya.

1
Ilham Yono
mulai ada titik terang
semngat thor/Determined/
Ilham Yono
hem ...cukup menegangkan/Determined/
Ilham Yono
👍👍👍👍👍 good
Ilham Yono
langkah cerdik🤯
Ilham Yono
alur cerita bagus ..laut cerita yang runtut, tidaknyerlalu cepat dan tidak lambat juga..nice story
Ilham Yono
nice ude, bersatu kita teguh bercerai kita runtuh
Aisyah Suyuti
seru
Ilham Yono
di tunggu Thor lanjutannya
Ilham Yono
ada ancaman tersembunyi
Ilham Yono
fightings
Ilham Yono
good battle
Ilham Yono
finely
Ilham Yono
musuh yang bergerak dibalik bayangan/Grimace//Joyful/
Ilham Yono
hem...aula bayangan... Shadow recruit
Ilham Yono
aula bayangan muncull assassin's mo yin
Ilham Yono
feeling good
Ilham Yono
bahaya mengintai
Ilham Yono
good feeling
Ilham Yono
hem/Facepalm//Determined/
Ilham Yono
hem.....musuh bergerak dalam bayangn/Determined/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!