"Cinta tidak pernah tentang siapa yang datang paling awal, melainkan tentang siapa yang bertahan hingga akhir. Dan untuk semua rasa nyaman serta bahagia yang ia cari selama ini, jawabannya cuma kamu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fazry Fazriyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12. "Kenapa harus hari ini?"
Melihat ada secercah kehidupan, Zahira segera mengarahkan motornya mendekati pelataran toko sembako tersebut.
Ia memarkirkan motornya di pinggir, mengunci stang, lalu melangkah masuk ke dalam toko dengan napas yang masih terengah-engah.
Tenggorokannya terasa begitu kering, terbakar oleh rasa lelah dan hawa panas pagi yang mulai menyengat.
"Permisi... bu," sapa Zahira dengan suara yang sedikit serak.
Ibu berdaster itu menoleh, memandang Zahira dari ujung kepala hingga ujung kaki. Melihat wajah gadis muda di depannya yang pucat, penuh keringat, dan tampak sangat kelelahan, raut wajah ibu itu melunak.
"Iya, Neng? Mau beli apa pagi-pagi begini?" tanya ibu toko sembako itu ramah.
"Saya mau beli air mineral dingin satu botol besar, Bu. Sama lemari pendinginnya sudah dinyalakan?" tanya Zahira berharap.
"Oh, sudah Neng, dari semalam kulkasnya nyala. Sebentar ya." Ibu itu melangkah ke bagian belakang toko, membuka pintu kulkas minuman, dan mengambil sebuah botol air mineral ukuran satu liter yang masih berembun dingin.
Ia menyerahkannya kepada Zahira. Zahira menyambutnya dengan kedua tangan, lalu menyerahkan selembar uang sepuluh ribuan.
Setelah menerima kembalian, tanpa menunggu waktu lama, Zahira langsung membuka tutup botol tersebut dan mengalirkan air dingin itu ke dalam tenggorokannya yang dahaga.
Glek... glek... glek...
Sensasi dingin mengalir membasahi kerongkongannya, memberi sedikit kesegaran pada tubuhnya yang hampir kehabisan energi. Zahira mengusap mulutnya dengan punggung tangan, lalu menatap ibu pemilik toko dengan pandangan memohon.
"Ibu... maaf, saya boleh numpang bertanya?"
"Tanya apa, Neng? Soal jalan atau apa?"
"Ibu tahu tidak, di sekitar daerah sini ada bengkel motor yang jam segini sudah buka? Motor saya mendadak mogok di jalan tadi, padahal saya harus segera sampai ke tempat kerja," ujar Zahira jujur, menyiratkan kepasrahan dalam suaranya.
Ibu berdaster itu mengetuk-ngetuk dagunya, mengingat-ingat kawasan sekitar pemukimannya.
"Hmm... kalau bengkel besar yang di pinggir jalan utama sih biasanya jam sembilan baru buka, Neng. Tapi..." Ibu itu menunjuk ke arah lorong jalan di seberang.
"Neng jalan terus ke depan sekitar lima puluh meter lagi. Nanti di sebelah kiri ada gang masuk, namanya Gang Kancil. Di dalam gang itu ada bengkel rumahan punya Mas Yanto. Dia biasanya dari jam tujuh pagi sudah buka pintu bengkelnya karena suka ada anak sekolah yang bannya gembos."
Secercah harapan terbit di wajah Zahira. "Beneran, Bu? Di dalam gang sebelah kiri, lima puluh meter dari sini?"
"Iya, Neng. Coba aja samperin ke sana. Siapa tahu Mas Yanto-nya sudah bangun dan bisa benerin motor Si Eneng."
Rasa lega yang teramat sangat membuncah di dada Zahira. Ia tersenyum tulus, menganggukkan kepalanya berulang kali sebagai tanda rasa hormat dan terima kasih yang mendalam.
"Terima kasih banyak ya, Bu. Ini sangat membantu saya. Saya permisi dulu," pamit Zahira.
"Iya, Neng, hati-hati. Jangan dipaksa kalau capek," pesan ibu itu hangat.
.
.
.
Dengan sisa-sisa tenaga yang dimilikinya, Zahira kembali memegang stang motor matik merahnya. Ia menuntun kendaraan itu menyusuri jalanan sesuai petunjuk sang ibu toko sembako.
Langkah kakinya yang tadinya berat kini sedikit lebih bertenaga karena didorong oleh harapan bahwa masalah motornya akan segera teratasi.
Lima puluh meter terasa lumayan jauh ketika harus mendorong beban berat. Namun Zahira terus menatap ke depan, mencari patokan gang yang dimaksud.
Benar saja, di sebelah kiri jalan, terlihat sebuah papan kayu kecil bertuliskan 'Gang Kancil'. Zahira membelokkan arah motornya, masuk ke dalam gang pemukiman yang agak sempit tersebut.
Mata Zahira beredar, mencari bangunan bertuliskan bengkel atau setidaknya yang memiliki deretan ban bekas di depannya.
Tidak jauh dari mulut gang, ia melihat sebuah rumah dengan garasi terbuka yang dipenuhi peralatan otomotif: kunci pas, kompresor angin, dan botol-botol oli bekas.
Hati Zahira melompat gembira. "Alhamdulillah, akhirnya ketemu..." desahnya lega.
Namun, kegembiraan itu hancur berkeping-keping begitu ia melangkah lebih dekat.
Pintu garasi besi bengkel rumahan itu tertutup rapat dan terkunci dari dalam dengan gembok besar. Tidak ada tanda-tanda aktivitas kehidupan di sana.
Sebuah papan karton kusam tergantung di selar gembok dengan tulisan tangan menggunakan spidol hitam yang mulai memudar: 'HARI INI BENGKEL TUTUP. ADA ACARA KELUARGA.'
Zahira terpaku di depan pintu bengkel yang terkunci itu. Harapan yang baru saja melambung tinggi seketika dihempaskan ke bumi tanpa ampun. Tangan Zahira yang memegang stang motor terasa melemah.
"Tutup..." bisiknya lirih, hampir tak terdengar.
Rasa frustrasi dan lelah yang luar biasa berkumpul menjadi satu. Waktu terus berjalan tanpa kompromi, dan kini usahanya menemui jalan buntu.
Zahira tidak punya pilihan lain selain memutar balik arah motornya, keluar dari Gang Kancil, dan kembali ke jalan utama.
Langkah kaki Zahira kini jauh lebih lambat dari sebelumnya. Tubuhnya benar-benar mengandalkan sisa daya tahan terakhir.
Peluh tidak lagi sekadar menetes, melainkan sudah membasahi sisi kerudung abu-abunya hingga kain di sekitar pipi dan lehernya tampak membasah dan berbayang gelap. Napasnya terengah-engah, dadanya naik turun tidak teratur.
Begitu berhasil keluar dari mulut gang dan kembali ke pinggir jalan raya, kekuatan kaki Zahira seolah menguap. Ia menepikan motornya ke bawah naungan pohon rindang di tepi trotoar, lalu memasang standar samping.
Zahira terduduk lelah di atas pembatas jalan yang terbuat dari semen. Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam, menyandarkan kedua siku di atas lututnya.
Pandangannya mengabur oleh lapisan keringat dan rasa lelah yang amat sangat. Ia hanya bisa menatap sepatu flat-nya yang kini berdebu, mencoba mengatur napasnya yang memburu.
Dalam posisi menunduk itu, Zahira merasa begitu terisolasi dari keramaian lalu lintas yang lalu lalang di depannya.
"Kenapa harus hari ini..." batinnya meratap pelan, membayangkan omelan atau kekecewaan rekan kerjanya karena ia terlambat tanpa kepastian.
Srrrtt...
Suara gesekan ban mobil mewah berspesifikasi tinggi yang memotong arus jalanan terdengar mendekat. Sebuah mobil SUV hitam mengkilap berkaca gelap melambat secara drastis, lalu berbelok dan berhenti tepat di pinggir jalan, hanya berjarak dua meter di depan posisi Zahira yang sedang terduduk lelah.
Zahira yang masih menunduk hanya melihat bayangan besar kendaraan yang menghalangi pendar sinar matahari di depannya. Pintu kemudi mobil mewah itu terbuka dengan bunyi klik yang halus.
Dua pasang kaki yang terbungkus celana bahan kain berkualitas tinggi dan mengenakan sneakers atau sepatu sket berwarna putih bersih yang tampak elegan melangkah turun dari mobil, memijak lantai trotoar yang berdebu.
Langkah kaki itu berjalan mendekati Zahira.
"Zahira?"
Sebuah suara pria yang berat, dalam, dan bernada penuh ketenangan memanggil namanya. Suara itu begitu familiar, tidak asing di telinganya, namun terasa sangat tidak terduga untuk didengar di tempat dan situasi seperti ini.
Zahira pelan-pelan mendongakkan kepalanya. Pandangannya yang sempat buram perlahan fokus. Di hadapannya, berdiri seorang pria berpostur tubuh tinggi, tegap, dengan garis wajah tegas namun memancarkan aura kehangatan.
Pria itu mengenakan kacamata berbingkai tipis yang membingkai matanya yang tajam namun penuh ketenangan. Kemeja casual warna biru navi yang lengannya tergulung hingga siku makin mempertegas kesannya sebagai pria mapan yang matang.
"Mas... Elvan?" ceplos Zahira kaget, refleks langsung berdiri dari tempat duduk semennya.