Hanis memiliki empat orang anak Yang masih kecil, namun suaminya sedang menganggur. Demi anak anaknya bisa makan dan bersekolah maka Hanis rela menjadi ibu pengganti. Ia menyewakan rahimnya pada Sean, seorang pria kaya yang istrinya divonis mandul. Namun, keajaiban terjadi, saat Hanis sudah positif mengandung anak Sean, sang istri sah juga dinyatakan hamil
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Quoari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Batasan
Hanis mendengarnya. Mendengar suara rintihan, desahan dan jeritan Jinny dari kamar sebelah. Suara itu seolah mengingatkannya bahwa Sean tetap milik Jinny. Apapun yang akan mereka lakukan nanti, itu hanya untuk sebuah transaksi.
Di kamar itu, Hanis sendiri sangat canggung. Dia berusaha duduk. Rasanya kaku dan tak nyaman. Namun juga tidak berani keluar kamar.
Takut salah, Hanis hanya diam saja. Iya tidak memiliki ponsel untuk dimainkan. Tidak ada siapapun yang akan menenangkan. Tidak ada televisi di dalam kamar.
Hingga akhirnya suara tersebut terhenti. Hanis menghembuskan nafas lega. Ia berharap waktu makan malam segera tiba. Walaupun tahu, saat makan malam nanti pasti akan sangat canggung bertemu Sean dan Jinny.
Di kamar ini, Hanis memang bisa beristirahat. Sehari pertama ia merasa sangat senang karena akhirnya terbebas dari segala pekerjaan rumah, beristirahat dari mengurus anak-anak yang tidak ada hentinya bergerak mengingat ia punya empat anak yang usianya berdekatan.
Tapi sekarang Hanis merasa sangat bosan. Ia juga merindukan anak anaknya. Meski baru beberapa jam lalu berpisah. Namun ia khawatir, di rumah itu, apakah Rino bisa benar-benar menjaga mereka dengan baik.
Larut dalam pikirannya, tak sengaja Hanis justru ketiduran. Ia tertidur dalam posisi setengah duduk, bersandar pada headboard ranjang.
Tok… tok… tok…
Ketukan pada pintu kamar membangunkan Hanis. Ia bangun, merapikan rambut serta pakaian, dan bergegas bangkit untuk membukakan pintu.
Di depan ada Jinny. Tersenyum ramah padanya. “Hanis, ayo makan malam.”
“Baik…”
Rupanya Sean sudah terlebih dahulu turun. Duduk di kursi meja makan. Bahkan sudah menyendokkan nasi serta lauk untuk piringnya dan satu piring lain, piring Jinny.
Piring Hanis kosong, Sean tidak menyendokkan nasi untuknya. Tentu saja.
Hal ini menyadarkan Hanis bahwa Sean tidak berniat selingkuh atau memiliki pasangan kedua. Sean benar-benar hanya menginginkan anak, namun istrinya tetaplah Jinny. Batasan itu kuat.
Hanis duduk canggung di seberang Jinny yang bersebelahan dengan Sean. Ia menyendok nasi dan lauk, pelan. Menghindari timbul suara.
Selama makan ia juga menunduk. Menulikan telinga terhadap obrolan pasangan suami istri di hadapannya. Hingga Jinny lebih dahulu mengajaknya bicara.
“Hanis, gimana? Kamu betah di sini? Kalau kamu bingung mau ngapain, boleh nonton TV di ruang tengah. Soalnya kamu nggak boleh pulang sampai tanggal anak kamu lahir nanti.”
Hanis mengangguk. “Iya, Jinny…”
“Oh ya, dia nggak punya ponsel,” ucap Sean tiba-tiba. “Kamu bisa kasih punyamu yang sudah lama nggak kepakai.”
Hanis hanya tersenyum awkward. Ia bisa menduga bahwa Jinny kaget mendengar fakta tersebut. Di zaman modern ini, ada orang tidak punya ponsel.
“Boleh. Nanti di atas aku ambilin ya,” kata Jinny ringan. “Biar kamu bisa videocall anak-anakmu juga.”
“Terima kasih banyak,” ucap Hanis, menundukkan kepalanya.
Mereka begitu baik padanya. Maka, Hanis juga tidak boleh mengecewakan mereka. Ia harus berusaha sebaik mungkin untuk menghadirkan seorang anak di keluarga ini.
Benar saja, usai makan malam, mereka naik ke kamar lantai dua bersama. Jinny menahan Hanis agar tidak masuk ke kamar terlebih dahulu. “Tunggu, aku ambilkan ponselnya.”
Hanis menurut. Menunggu di lorong sementara Sean justru berbelok menuju ruangan lain, entah ruangan apa, Hanis tidak pernah mencoba masuk ke dalamnya. Mungkin ruang kerja Sean.
“Ini, Nis. Pakai aja,” ucap Jinny yang kembali dengan sebuah ponsel berwarna pink muda di tangannya. “Sudah connect ke wifi sini. Kamu boleh main game, scroll sosmed atau telepon anak-anakmu.”
“Terima kasih.” Hanis menerimanya dengan gestur membungkuk penuh hormat.
...****************...