Kenalin, Sahat Tua. Umur baru 30-an, tapi dipanggil "Bang Tua" sejak jadi maba, entah karena mukanya emang dari sononya udah kayak bapak-bapak, atau emang takdir aja nggak kasih dia opsi lain.
Dosen matematika, kalem di luar, tapi isi kepalanya? Berisik banget. Tiap hari nahan diri biar nggak protes sama orang nyerobot antrian, sopir angkot ugal-ugalan, sampai penipu receh yang sok pinter nelepon minta kode OTP.
Biasanya dia cuma bisa ngedumel pelan terus lanjut hidup.
Sampai suatu hari... dumelannya kejadian beneran.
Awalnya dikira kebetulan. Lama-lama, kok kebetulannya kompak banget?
Ternyata, mulut Bang Tua tuh bukan kaleng kerupuk.
Dan dunia belum siap sama akibatnya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pak Tua, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12: EFEK YANG TAK BISA DISANGKAL
Keesokan paginya, Bang Tua baru saja duduk di warung kopi Bu Rohana, memesan kopi susu tanpa gula seperti biasa, ketika dia mendengar beberapa pelanggan lain di meja sebelah sedang ramai membicarakan sesuatu sambil menunjuk nunjuk layar ponsel masing masing, suara mereka cukup keras sampai terdengar jelas meski Bang Tua duduk beberapa meja dari mereka.
"Itu kan angkot yang biasa lewat depan kampus ya, yang merah itu," kata salah satu dari mereka.
Bang Tua, yang tadinya hanya mendengar sambil lalu, sempat berkomentar dalam hati dengan nada bercanda seperti biasanya, "wah, jadi berita rupanya, apa jangan jangan videonya masuk FYP TikTok juga itu, biar viral sekalian sopirnya", tapi komentar jenaka itu langsung lenyap begitu kata "angkot merah" dan "depan kampus" terdengar bersamaan, seketika dia menajamkan pendengarannya.
"Iya, itu lho, sopirnya kena razia dadakan semalam, pas lagi ugal ugalan juga katanya, sampai nyaris nabrak petugas yang lagi jaga pos. Langsung ditahan di tempat, SIM-nya dicabut permanen karena udah ada laporan berkali kali soal cara nyetirnya yang ugal ugalan. Katanya sih trayeknya juga langsung dicabut sama pihak organda, karena udah kebanyakan komplain dari penumpang," sahut temannya sambil menyodorkan ponselnya, menunjukkan video amatir razia semalam yang sudah tersebar di media sosial lokal, videonya sendiri sudah ditonton ribuan kali dengan kolom komentar yang penuh cemoohan untuk si sopir.
Bang Tua duduk terpaku, tangannya yang sedang memegang gelas kopi berhenti di udara. Waktu kejadian yang disebutkan, semalam, tidak lama setelah dia mengucapkan kalimat itu di depan Riko dan teman temannya, dengan nada yang begitu tegas dan penuh kesungguhan, jauh berbeda dari gumaman gumamannya yang biasa.
Kali ini, tidak ada lagi ruang untuk menyangkal dengan alasan "kebetulan biasa" seperti sebelumnya. Sopir itu bukan hanya kena masalah kecil seperti penyerobot antrian atau preman yang kena hajar sesama preman. Sopir itu langsung ditahan, SIM-nya dicabut permanen, trayeknya dicabut, semua terjadi dalam hitungan jam setelah Bang Tua mengucapkan bahwa orang seperti itu "harusnya nggak boleh lagi pegang setir seumur hidupnya".
Persis. Kata demi kata, seolah alam semesta benar benar mendengarkan dan langsung menjalankan apa yang dia ucapkan.
Bu Rohana yang kebetulan lewat membawa pesanan lain, sempat menegurnya karena melihat Bang Tua diam mematung terlalu lama. "Bang, kopinya keburu dingin lho, kenapa? Kayak liat hantu mukanya."
Bang Tua tersentak, buru buru menggeleng dan tersenyum kikuk, mencoba mengeluarkan lelucon kecil seperti biasanya untuk menutupi kegugupannya. "Eh, nggak apa apa, Bu. Cuma agak kaget aja denger berita. Lagian kalau saya liat hantu beneran, saya lebih milih lari daripada diem mematung gini, Bu, sayang waktu."
Bu Rohana tertawa kecil mendengar candaan itu, tidak menyadari bahwa di balik nada bercanda Bang Tua, ada kegelisahan besar yang sedang berkecamuk. Dia pun kembali sibuk melayani pelanggan lain, meninggalkan Bang Tua sendirian dengan pikirannya.
Tapi jauh di dalam dirinya, dia sama sekali tidak baik baik saja. Sepanjang perjalanan menuju kampus pagi itu, pikirannya berkecamuk hebat, mencoba mencerna kenyataan yang sudah tidak bisa lagi dia bantah dengan logika matematika yang selama ini jadi pegangannya. Tiga kejadian sebelumnya bisa saja dia anggap kebetulan yang kebetulan berturut turut, semacam anomali statistik yang bisa dia jelaskan dengan berbagai kemungkinan. Tapi yang keempat ini, dengan intensitas emosi yang jauh lebih besar dari sebelumnya, dan hasil yang jauh lebih besar dan pasti pula, membuatnya tidak punya pilihan lain selain mengakui satu kemungkinan yang selama ini terus dia tolak mentah mentah.
Ada sesuatu dalam dirinya, dalam kata katanya, yang benar benar mampu mengubah kenyataan.
Dia berjalan menuju kampus pagi itu dengan langkah yang jauh lebih pelan dari biasanya, melewati gerbang kampus tanpa benar benar memperhatikan satpam yang menyapanya seperti biasa, sampai sampai satpam itu sendiri sempat bingung kenapa Pak Sahat yang biasanya selalu membalas sapaan dengan anggukan sopan kali ini hanya lewat begitu saja seperti sedang memikirkan soal ujian nasional. Di lorong menuju ruang dosen, dia berpapasan dengan beberapa mahasiswa yang menyapanya, dan dia membalas dengan senyum yang terasa dipaksakan, jauh berbeda dari senyum tipisnya yang biasa muncul kalau sedang benar benar dalam mood baik.
Sesekali di tengah kekhawatirannya, muncul juga sisi usilnya yang biasa, mencoba menyelinap masuk di antara pikiran pikiran berat yang memenuhi kepalanya, membayangkan skenario skenario konyol, "kalau beneran aku punya kekuatan kayak gini, jangan jangan dulu waktu aku ngedumel soal antrian kantin yang lama, itu juga ada hubungannya sama kenapa kantin itu sekarang ganti pegawai baru yang lebih cepat", pikirnya sambil nyaris terkekeh sendiri di tengah jalan, meski tawa itu langsung hilang begitu dia teringat lagi betapa seriusnya konsekuensi dari kejadian semalam. Dia bahkan sempat membayangkan, dengan nada bercanda yang dia paksakan sendiri untuk menenangkan diri, "coba kalau dulu aku juga sempat ngedumel soal dosen killer waktu S2, jangan jangan sekarang beliau udah pindah profesi jadi tukang parkir", sebuah lelucon konyol yang bahkan tidak berhasil membuatnya benar benar tertawa, hanya menghasilkan senyum tipis yang cepat menghilang.
Di ruang dosen, dia mendapati Pak Ferdinand sedang sibuk menyiapkan materi kuliahnya sendiri, dan sempat menyapa dengan nada seceria mungkin, meski Pak Ferdinand sempat melirik curiga karena merasa ada yang aneh dari cara Bang Tua tersenyum pagi itu, semacam senyum yang terlalu berusaha keras untuk terlihat normal. Untungnya Pak Ferdinand tidak bertanya lebih jauh, hanya menganggap Bang Tua sedang lelah karena disertasinya, sesuatu yang sudah jadi alasan baku setiap kali dia terlihat murung belakangan ini.
Dan untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, Bang Tua merasa takut, bukan takut pada dunia luar seperti biasanya, tapi takut pada dirinya sendiri, pada kekuatan yang bahkan dia sendiri belum mengerti bagaimana cara kerjanya, dan yang jelas jelas sudah mulai mengubah hidup orang lain tanpa dia benar benar kendalikan. Sesampainya di ruang dosen, dia duduk termenung cukup lama sebelum akhirnya bisa memfokuskan diri untuk menyiapkan materi kuliah pagi itu, sesuatu yang biasanya bisa dia kerjakan dengan santai sambil menyeruput kopi, tapi kali ini terasa jauh lebih berat dari biasanya, matanya berulang kali membaca baris yang sama di catatannya tanpa benar benar memahami apa yang tertulis di sana.
Saat kelas pagi itu akhirnya dimulai, dengan susah payah dia berusaha tampil seperti biasa di depan mahasiswanya, melontarkan sesekali candaan ringan seperti kebiasaannya untuk mencairkan suasana kelas, meski di dalam hati pikirannya masih terus melayang jauh, memikirkan apa yang sebenarnya sedang terjadi pada dirinya, dan apa yang harus dia lakukan setelah ini.