NovelToon NovelToon
14 Days

14 Days

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Transmigrasi / Fantasi
Popularitas:300
Nilai: 5
Nama Author: justjeha

❝Let's meet in the future. Kita pasti akan bertemu kembali di masa depan. Setelah itu, mari kita buka time kapsul kita bersama-sama.❞

Ara hanyalah seorang wanita biasa yang tidak pernah menyangka bahwa hidupnya akan berubah setelah meminum ramuan ajaib yang membawanya kembali ke masa lalu, tepat sebelum seseorang yang paling dicintainya meninggal dunia.

Bara. Lelaki yang dicintainya itu tengah berjuang melawan leukemia stadium akhir. Namun, kali ini Ara mendapatkan kesempatan untuk mengubah takdirnya.

Sayangnya, kesempatan itu hanya diberikan selama 14 hari.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon justjeha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

A Story Never Told

Day 5

"Bara, hari ini kuliahmu libur, kan? Jadi, kamu nggak boleh ke mana-mana hari ini. Istirahat aja di sini."

"Tapi, Kak. Aku mau ketemu Ara."

"Kamu masih bisa ketemu Ara hari Senin, Bara. Intinya, hari ini kamu harus diam di rumah sakit atau Kakak suruh Ara datang ke sini saja, bagaimana?"

"Jangan!"

Bara langsung menoleh.

"Ara masih belum tahu, dan aku nggak mau dia tahu sampai kapan pun. Aku nggak mau bikin dia nangis."

Marissa menghela napas.

"Memangnya Ara suka sama kamu?"

"Iya."

Bara tersenyum kecil.

"Ternyata Ara selama ini juga punya perasaan yang sama kayak aku. Jadi, tolong, Kak Icha, jangan bilang apa pun ke dia."

"Ya udah. Intinya, hari ini kamu harus tetap di sini."

"Karena aku harus kemo?"

Bara langsung mengerucutkan bibir.

"Aku nggak mau kemo. Rasanya sakit."

"Demi kebaikan kamu sendiri, Bara."

Marissa menatap adiknya dengan tegas.

"Mau kemo atau Kakak ajak Ara ke sini? Pilih mana?"

Bara terdiam.

"Ya udah."

Ia kembali merebahkan tubuhnya di ranjang dan membelakangi kakaknya.

Marissa hanya bisa menghela napas pelan. Adik laki-laki satu-satunya itu memang sangat susah diatur kalau sudah menyangkut pengobatannya.

Marissa sendiri terpaksa menjadi tulang punggung keluarga. Sebagai seorang model yang sudah cukup terkenal, ia berusaha memenuhi kebutuhan hidupnya sekaligus menanggung biaya pengobatan Bara.

Namun, sebesar apa pun kekuatan yang ia miliki, Marissa tetaplah seorang kakak yang khawatir.

Ia sebenarnya ingin menemui Ara dan meminta bantuan gadis itu untuk menjaga Bara selama dirinya sibuk bekerja. Apalagi lusa ia harus pergi ke Jepang selama beberapa hari untuk melakukan pemotretan sebuah majalah.

Marissa hanya tidak tenang jika harus meninggalkan Bara sendirian di rumah sakit. Ia tahu Bara sering kali terlihat baik-baik saja di depan orang lain. Padahal, ia tahu persis betapa rapuh kondisi adiknya.

"Dek, dari kemarin Abang perhatiin kayaknya kamu kelihatan bahagia banget. Senyum-senyum sendiri pula."

Biru menyipitkan mata.

"Kamu nggak lagi kesambet, kan?"

"Abang! Ngeselin banget sih jadi orang!"

"Abang cuma tanya, Dek. Salah terus perasaan."

"Bara kemarin habis nembak aku, Bang."

Biru langsung terdiam.

"Loh? Terus cewek seksi yang waktu itu sama Bara siapa?"

"Oh, itu kakak kandungnya Bara. Namanya Marissa."

Ara melirik kakaknya.

"Kenapa? Jangan bilang kalau Abang pengin minta dikenalin sama kakaknya Bara."

Biru langsung tersenyum lebar.

"Kok kamu tahu isi hati Abang, sih, Dek? Kenalin, dong."

"Bukannya Abang suka sama Sora?"

"Kalau ada yang lebih bening dan seksi, kenapa juga harus sama yang masih dedek-dedek, coba?"

Biru kemudian menyipitkan mata.

"Heh, kamu tahu dari mana kalau Abang suka sama Sora?"

"Ya tahu, lah!"

Ara mendengus.

"Sekarang Abang mending pergi aja, deh. Teman-teman aku mau datang ke sini. Ada rapat penting. Sana, pergi!"

"Punya adik galak banget, sih."

Ara langsung mendorong Biru keluar dari kamarnya.

"Pergi!"

Biru akhirnya menurut sambil menggerutu.

"Dasar adik durhaka."

Ara mendengus kesal. Namun, perhatiannya segera teralihkan ketika suara mobil terdengar berhenti di depan rumah.

Tidak lama kemudian, teman-temannya sudah menyerbu masuk. Karena Ara memang sudah berjanji akan menceritakan semuanya kepada mereka, ia langsung menggiring mereka masuk ke dalam kamarnya.

Ara kemudian menyodorkan buku hariannya yang berisi semua kisah tentang Bara untuk mereka baca terlebih dahulu. Sementara itu, ia sibuk menyiapkan camilan dan minuman.

Beberapa menit kemudian, setelah semuanya terkumpul, Ara kembali ke kamar dan mengunci pintunya.

"Ra?"

Yuvin menatap Ara dengan wajah serius.

"Yang lo tulis ini serius? Lo nggak lagi nulis novel, kan?"

Ara dengan santainya meletakkan camilan dan minuman di atas meja belajarnya.

"Sora udah tahu duluan, Vin. Lo bisa tanya aja sama dia kalau nggak percaya. Dia udah lihat sendiri buktinya."

Yuvin langsung menoleh kepada Sora.

"Sor, lo udah lihat apaan emangnya?"

Sora menarik napas panjang.

"Bara ada di rumah sakit, Vin."

Yuvin langsung terdiam.

"Apa lo ingat waktu muka Ara sembab? Itu karena dia habis nangisin Bara. Ara nggak sengaja dengar kalau Bara ternyata sesayang itu sama dia, tapi Bara nggak mau Ara tahu tentang penyakitnya."

Yohan mengernyit.

"Terus, cewek yang sering jemput si Bara itu bukan pacarnya?"

"Oh, itu kakak kandungnya Bara."

Ara ikut menjelaskan.

"Namanya Marissa. Sebelum gue balik ke masa ini, gue juga nggak tahu kalau ternyata dia kakaknya."

Ara terkekeh kecil.

"Menurut gue, Bara dulu emang sengaja bikin gue makin benci sama dia dengan berlagak romantis sama kakaknya sendiri."

"Pantesan muka lo lempeng-lempeng aja pas kakaknya datang."

Yohan mengangguk-angguk.

"Biasanya juga lo langsung pergi ngejauhin Bara. Eh, tapi sebentar..."

Yohan kembali menatap Ara.

"Gue mau tanya, terus di masa depan, Bara beneran pergi, Ra?"

Senyuman Ara perlahan menghilang.

"Lo udah baca diary gue, kan?"

Ara menunjuk buku hariannya.

"Udah gue ceritain semuanya di situ. Gimana terpuruknya gue waktu tahu dia pergi begitu aja. Gimana hancurnya perasaan gue karena dia nutupin semuanya."

Ara menundukkan kepala.

"Gue sampai nangis berhari-hari dan ngurung diri di kamar karena dia."

Suasana kamar mendadak hening.

"Kalau bukan karena Abang gue yang ngajak gue ke toko buku, mungkin gue nggak akan ada di sini sekarang."

Ara menarik napas panjang.

"Karena gue udah berhasil balik ke masa ini, gue benar-benar lagi berusaha buat ngebahagiain dia."

Tatapannya beralih kepada teman-temannya.

"Waktu gue tinggal sepuluh hari lagi. Jadi, jangan bilang apa pun sama Bara."

Mereka sontak mengangguk. Meskipun masih sulit bagi mereka untuk sepenuhnya percaya bahwa Ara benar-benar kembali ke masa lalu, mereka tidak punya pilihan lain selain mempercayainya. Ara tidak pernah berbohong kepada mereka.

"Setelah tahu semua ini, tolong tetap perlakukan Bara kayak biasanya."

Ara memperingatkan mereka.

"Jangan tiba-tiba jadi ngasihanin dia. Gue nggak mau dia curiga. Gue bahkan sampai sekarang masih pura-pura nggak tahu soal penyakitnya."

Yohan menatap Ara dengan tatapan kagum.

"Gila, Ra. Kuat banget lo."

Ia menghela napas.

"Kalau gue ada di posisi lo, nggak yakin gue bisa sekuat lo."

"Karena gue udah ngalamin rasanya kehilangan dia, Han."

Ara tersenyum tipis.

"Mumpung ada keajaiban yang menimpa gue sampai bisa balik ke masa lalu kayak gini, gue nggak mau menyia-nyiakan kesempatan ini."

Ia menggenggam kedua tangannya sendiri.

"Gue nggak mau kehilangan dia untuk yang kedua kalinya."

Yuvin menatap Ara dengan raut khawatir.

"Tapi lo yakin nggak pas lo balik ke masa depan, dia masih ada?"

"Gue yakin, Vin."

Ara tersenyum.

"Yakin aja dulu. Yang penting kan gue udah berusaha."

Ia terkekeh kecil.

"Lagian gue sekarang bahkan bisa sampai jadian sama dia. Di masa depan? Mustahil banget gue bisa sampai jadian sama Bara."

Ara kemudian mengalihkan pandangannya ke layar ponsel yang tiba-tiba menyala. Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenalnya.

"Eh, guys, gue keluar sebentar, ya?"

Ara berdiri dan meraih jaketnya.

"Itu diary gue kalau udah selesai dibaca, tolong simpan di loker meja belajar gue."

Ia menunjuk mereka satu per satu.

"Awas aja kalau sampai hilang. Gue tuntut lo semua!"

"Bawel."

Ara tidak menghiraukan ucapan Yohan. Ia langsung keluar dari kamar untuk menemui seseorang yang tiba-tiba mengajaknya bertemu di sekitar rumahnya.

"Kak Marissa!"

Ara melambaikan tangan ketika melihat seorang wanita yang tampak kebingungan mencari alamat rumahnya.

Wanita itu menoleh. Senyumannya langsung mengembang ketika melihat Ara melambaikan tangan ke arahnya.

"Ara?"

Ara mengangguk.

"Iya, Kak."

"Kamu sudah tahu siapa Kakak?"

"Iya, tahu, Kak."

Ara tersenyum.

"Kakaknya Bara, kan? Marissa Baruna."

Marissa tampak terkejut.

"Pokoknya Ara udah tahu dari beberapa waktu lalu, meskipun Ara nggak berani nyapa Kakak."

Ara terkekeh kecil.

"Soalnya dulu aku masih musuhan sama Bara."

Ara kemudian mengajak Marissa duduk di sebuah kedai kecil di dekat rumahnya. Ia memang tidak ingin mengajak Marissa masuk ke rumah karena tidak mau pembicaraan mereka terganggu oleh teman-temannya.

Setelah mereka duduk, Marissa langsung membuka pembicaraan.

"Jadi, kedatangan Kakak ke sini mau minta tolong sama kamu untuk menjaga Bara selama beberapa hari ke depan karena Kakak ada tugas ke Jepang. Bisa?"

"Oh, bisa, Kak."

Ara langsung mengangguk.

"Aku akan menjaga Bara dengan baik."

Marissa tersenyum kecil.

"Tapi sebelumnya Kakak mau jujur sama kamu."

Ia terlihat ragu.

"Janji jangan kaget, ya?"

"Kaget kenapa, Kak?"

Ara menatapnya tenang.

"Apa karena masalah leukemianya Bara?"

Marissa sontak membelalakkan mata.

"Hah?"

Ia menatap Ara tidak percaya.

"Kamu tahu dari mana? Perasaan Bara juga merahasiakan penyakitnya dari kamu."

Ara hanya tersenyum kecil.

"Hehe."

Ia menatap Marissa dengan tenang.

"Intinya, Ara udah tahu semuanya, Kak."

Marissa terdiam. Untuk pertama kalinya, ia mulai bertanya-tanya seberapa banyak sebenarnya yang diketahui Ara tentang adiknya.

Dan tanpa Ara sadari, pertemuannya dengan Marissa hari itu mungkin akan membuka lebih banyak rahasia tentang Bara daripada yang selama ini ia bayangkan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!