NovelToon NovelToon
AKU KEMBALI SETELAH MEREKA MENGHANCURKANKU

AKU KEMBALI SETELAH MEREKA MENGHANCURKANKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Action
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: SAPEI

**AKU KEMBALI SETELAH MEREKA MENGHANCURKANKU**

Aku pernah mencintai seorang pria sampai rela kehilangan diriku sendiri.

Aku percaya pada suamiku.
Aku percaya pada sahabatku.
Aku bahkan percaya pada keluargaku sendiri.

Ternyata, merekalah orang-orang yang menghancurkanku.

Malam itu, aku mengetahui sebuah rahasia yang seharusnya tidak pernah kutemukan.

Dan sebelum aku sempat mengungkap semuanya...

**suamiku sendiri membunuhku.**

Aku pikir kematian adalah akhir.

Ternyata, aku mendapatkan kesempatan kedua.

Ketika membuka mata, aku kembali ke masa sepuluh tahun yang lalu—saat aku masih berusia sembilan belas tahun.

Semua orang yang dulu menghancurkanku masih ada.

Suamiku masih belum menjadi suamiku.

Sahabat yang mengkhianatiku masih tersenyum di hadapanku.

Dan adikku yang dulu mati... masih hidup.

Kali ini aku tidak akan menjadi perempuan bodoh yang sama.

Aku tidak akan menikah dengan Ryan Arkana.

Aku tidak akan mempercayai Selena Marvia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SAPEI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

12- TAHTA BERDARAH DI MEJA BUNDAR

Fajar menyingsing di atas langit Jakarta dengan semburat merah tembaga yang muram, merayapi kaca-kaca gedung pencakar langit sebelum kabut polusi menelannya utuh.

Pukul delapan lewat empat puluh lima menit pagi.

Lobi lantai dasar Arlena Holding dipadati puluhan awak media ekonomi dan jurnalis investigasi. Kilatan lampu kamera menyambar-nyambar bagai kilat liar di musim hujan. Sejak bursa efek dibuka empat puluh lima menit yang lalu, kepanikan massal telah melanda lantai perdagangan saham. Berita tentang penggerebekan dermaga peti kemas, penangkapan direktur utama Marvia Corporation, serta rumor gagal bayar kewajiban utang Arkana Capital mendominasi seluruh siaran berita televisi nasional.

Dan di tengah badai spekulasi itu, sebuah kabar burung yang jauh lebih mengguncang merebak bagai api membakar ilalang kering: Hendra Arlena, direktur operasional sekaligus adik kandung Edward Arlena, mendadak mengajukan pengunduran diri darurat di tengah malam buta.

Sebuah sedan Mercedes-Maybach lapis baja hitam berhenti tepat di depan karpet merah lobi eksekutif.

Bastian melompat turun dari kursi depan, membuka payung hitam besar meski gerimis pagi baru saja reda, lalu menarik handel pintu penumpang belakang dengan presisi seorang pengawal terlatih.

Aku melangkah keluar dari dalam mobil.

Hari ini, tidak ada lagi mahasiswi semester dua yang mengenakan rok span hitam sederhana atau kemeja kasual yang longgar. Aku mengenakan setelan jas tailored berpotongan ramping rancangan perancang busana Paris berwarna biru safir gelap—warna kebangsawanan lama dinasti Arlena. Rambut panjangku yang biasanya terurai bebas kini disanggul rapi ke belakang dengan jepit platinum minimalis, menelanjangi leher jenjang dan garis rahangku yang tegas tanpa cela. Riasan wajahku dingin, dengan sapuan lipstik merah anggur tua yang pekat bagai darah yang mengering.

Di sampingku, Adrian Varell melangkah turun. Jas tiga lapis berwarna arang gelap membalut bahunya yang bidang, kancing manset emas berbentuk trisula memantulkan kilau matahari pagi. Kehadirannya saja sudah cukup untuk memancarkan aura gravitasi yang membuat seluruh petugas keamanan gedung membungkuk sembilan puluh derajat tanpa berani menatap matanya.

"Sepuluh menit menuju pembantaian di lantai tiga puluh enam, Nona Nadia," bisik Adrian rendah saat kami melintasi barisan pengawal yang membuka barikade jalan menuju lift eksekutif pribadi.

"Bukan pembantaian, Tuan Varell," sahutku datar, pandanganku lurus ke depan menyapu puluhan blitz kamera yang mendadak meledak histeris di balik barikade kaca lobi. "Hanya penertiban kepemilikan. Sudah terlalu lama para lintah darat itu mengira mereka berhak duduk di atas singgasana yang dibangun oleh darah ibuku."

Adrian melirikku sekilas. Ada binar kepuasan yang begitu gelap di dasar matanya yang kelam.

Ting.

Lift eksekutif melesat naik tanpa henti, membelah tiga puluh enam lantai hanya dalam tempo tiga puluh detik. Begitu pintu hidrolik bergeser terbuka, karpet merah marun lantai pimpinan dewan komisaris menyambut langkah kami.

Namun suasana di lantai tiga puluh enam sama sekali tidak tenang.

Suara teriakan dan gebrakan meja terdengar sayup-sayup menembus pintu ganda kayu jati ruang rapat utama. Aroma kepanikan begitu pekat di udara koridor hingga asisten sekretariat yang membawa map-map berkas tampak pucat pasi, tak berani melangkah masuk.

Bastian melangkah maju, mendorong pintu ganda itu terbuka lebar tanpa mengetuk.

BRAK.

Pintu terbuka menghantam dinding pembatas berperedam suara. Seluruh keributan di dalam ruangan seketika terhenti, membeku bagai rekaman pita kaset yang diputus paksa.

Dua belas orang pria paruh baya—anggota dewan komisaris dan pemegang saham minoritas Arlena Holding—menoleh serempak dengan wajah tegang berminyak. Dasi mereka melonggar, cangkir-cangkir kopi berserakan di atas meja marmer bundar, dan puntung cerutu memenuhi asbak kristal.

Di ujung meja, duduk Edward Arlena.

Ayah tampak menua sepuluh tahun hanya dalam kurun waktu satu malam. Kantung matanya hitam pekat, kemejanya kusut di bagian kerah, dan tangannya mencengkeram erat tepi meja marmer. Di samping kursi Ayah, tempat duduk yang biasanya ditempati Hendra Arlena kosong melompong—hanya menyisakan papan nama akrilik bertuliskan Direktur Operasional yang tergeletak miring.

Dan di seberang Ayah, berdiri Darmawan Arkana.

Ayah Ryan Arkana itu tampak berantakan. Jas abu-abu mahalnya tidak dikancingkan, rambut putihnya yang biasa disisir klimis kini mencuat tak beraturan, dan wajahnya merah padam karena amarah yang tak terkendali.

"Edward!" raung Darmawan seraya menunjuk wajah Ayah dengan jari telunjuknya yang gemetar. "Putraku saat ini berada di ruang ICU dengan tulang rusuk patah karena mobilnya dihantam oleh orang-orangmu di jalan tol! Dan paginya, perusahaanku mendapati surat utang subordinasi Arlena dijarah oleh entitas asing di Singapura! Kamu pikir kamu bisa mencuci tangan dari kehancuran ini?! Kalau bukan karena dana talangan dari Arkana Capital selama tiga tahun terakhir, Arlena Holding sudah menjadi bangkai busuk sejak krisis logistik lalu!"

Edward Arlena mengangkat wajahnya yang dingin, menatap mantan sekutu bisnisnya itu dengan kelelahan yang mendalam. "Aku tidak pernah memerintahkan penyerangan terhadap putramu, Darmawan. Dan soal surat utang itu... aku sendiri baru menerima laporannya subuh tadi."

"BOHONG!" bentak Darmawan, meludah ke lantai karpet. "Kamu sengaja memasang perangkap ini bersama Hendra! Di mana bajingan itu sekarang?! Kenapa dia tidak berani menunjukkan mukanya di rapat komisaris?!"

"Paman Hendra tidak akan pernah menghadiri rapat ini lagi, Tuan Darmawan," suaraku membelah kepulan asap cerutu di ruangan itu dengan ketenangan yang luar biasa mematikan.

Darmawan tersentak. Seluruh dewan komisaris serentak menoleh ke arah ambang pintu.

Aku melangkah masuk dengan anggun, tumit sepatu hak tinggiku berketuk teratur di atas lantai marmer di sela-sela karpet. Di belakangku, sosok Adrian Varell melangkah bagai bayangan elang raksasa yang siap menyambar mangsa, diikuti Bastian yang menenteng tas koper diplomatik berbahan titanium perak.

Begitu melihat sosok Adrian Varell melangkah di sampingku, Darmawan Arkana seketika membeku. Warna merah di wajahnya surut seketika, berganti menjadi pucat pasi bagai kertas semen.

"A-Adrian Varell...?" desis salah seorang komisaris senior di sudut meja, suaranya bergetar ngeri. "Apa yang dilakukan pemimpin Varell Group di ruang rapat internal Arlena Holding?!"

"Nadia?" Ayah mendongak, matanya membelalak kaget saat melihat penampilanku yang berubah total dari putri manis yang ia kenal selama sembilan belas tahun terakhir. "Kenapa kamu ada di sini? Ini rapat tertutup dewan komisaris! Pulanglah ke rumah dan jaga adikmu di rumah sakit!"

"Ethan aman di bawah perlindungan batalion pengamanan Varell, Yah," jawabku tenang seraya melangkah menuju kursi kosong milik Hendra di sisi kanan meja utama.

Tanpa ragu, tanganku menyapu papan nama akrilik bertuliskan nama pamanku itu hingga jatuh ke lantai dan pecah berkeping-keping di bawah ujung sepatuku. Lalu, aku menarik kursi tersebut dan duduk dengan punggung tegak sempurna.

Adrian tidak duduk. Ia memilih berdiri tepat di belakang kursiku, meletakkan satu tangannya di sandaran kursiku dengan pose kepemilikan dan proteksi absolut yang membuat seluruh komisaris di ruangan itu menahan napas.

"Nona Nadia Arlena," Darmawan Arkana berusaha menguasai suaranya yang gemetar, menatapku dengan kebencian membara di matanya. "Kamu gadis kecil yang tidak tahu sopan santun! Siapa yang memberimu izin duduk di meja pimpinan dewan komisaris?! Edward, kendalikan anak gadismu sebelum aku menuntut keluargamu atas perbuatan tidak menyenangkan!"

"Tuan Darmawan Arkana," potongku dingin, mataku mengunci wajah tua itu tanpa sebersit pun belas kasihan. "Sebelum Anda meributkan tentang kursi ini, bagaimana kalau Anda menjelaskan terlebih dahulu mengapa nomor rekening pribadi Anda di Bank Sentral Swiss menerima aliran dana sebesar empat puluh juta dolar dari rekening gelap PT Samudra Marvia Prima tepat dua hari sebelum tender dermaga barat dibuka?"

Hening mendadak merayap bagai gas beracun di seluruh penjuru ruangan.

Darmawan terhuyung mundur satu langkah, tangannya mencengkeram tepi meja bundar hingga buku-buku jarinya memutih. "D-dari mana kamu mengarang fitnah menjijikkan seperti itu?!"

"Bastian," gumamku pelan.

Asisten pribadi Adrian melangkah maju, meletakkan koper titanium di atas meja marmer, lalu membukanya dengan bunyi klik digital yang renyah. Di dalamnya terdapat tumpukan berkas tebal bersampul merah berlogo Komisi Pemberantasan Korupsi dan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK).

Bastian membagikan salinan rekening koran terenkripsi itu ke hadapan seluruh anggota dewan komisaris.

"Itu bukan fitnah, Tuan Darmawan," lanjutku seraya membalik salah satu lembar dokumen di hadapanku dengan ujung kuku merah anggurku. "Itu adalah bukti suap sistematis yang dirancang oleh Anda dan mantan direktur operasional kami, Hendra Arlena, untuk merekayasa kebangkrutan buatan di anak perusahaan Arlena Logistik. Rencana kalian sangat rapi: membekukan arus kas operasional kami lewat sengketa fiktif, lalu memaksa Ayah melepas hak konsesi dermaga barat kepada konsorsium Arkana dengan harga sepersepuluh dari nilai wajar pasar."

Para komisaris senior mulai membuka lembaran dokumen tersebut dengan tangan gemetar. Desas-desus kemarahan seketika meledak di antara mereka.

"Astaga... transaksi ini nyata!" seru Komisaris Utama, seorang pria tua berambut putih yang selama ini menjadi sekutu terdekat kakekku. "Rekening penampungnya menggunakan nama yayasan keluarga Arkana! Darmawan, kamu benar-benar berniat merampok kami dari dalam?!"

"Ini rekayasa!" teriak Darmawan histeris, peluh dingin mengucur deras membasahi kerah kemejanya. "Edward, jangan percaya pada dokumen sampah ini! Ini konspirasi Varell Group untuk memecah belah aliansi kita!"

"Aliansi?" Adrian Varell akhirnya membuka suara.

Suara baritonnya yang rendah dan berat bergema bagai petir di ruang rapat tertutup itu, menenggelamkan seluruh kegaduhan komisaris. Adrian melangkah setengah tapak ke depan, menatap Darmawan bagai seorang kaisar yang sedang menatap seekor kecoak di bawah singgasananya.

"Arkana Capital tidak lagi memiliki hak bicara di gedung ini, Darmawan," ucap Adrian dingin. "Pukul sembilan lewat lima belas menit tadi, entitas investasi Varell di Singapura telah mengeksekusi konversi seluruh surat utang subordinasi Arlena Holding yang kamu lepas kemarin sore. Seluruh klausul jaminan utang telah jatuh tempo secara otomatis akibat pelanggaran integritas keuangan yang kamu lakukan."

Adrian mengetuk layar tabletnya sekali, lalu memproyeksikannya ke layar proyektor raksasa di dinding ruang rapat.

Sebuah grafik kepemilikan aset baru muncul di layar:

Status Kepemilikan Arkana Capital:

Kewajiban Utang Jatuh Tempo: Rp 4,8 Triliun.

Aset Agunan Sitaan: Kompleks Pergudangan Cilegon & Seluruh Saham Portofolio Arkana di Bursa Efek.

Status Hukum: Gagal Bayar (Default Mutlak).

"Mulai detik ini," lanjut Adrian tanpa sedikit pun emosi di wajahnya, "seluruh rekening operasional keluarga Arkana berada di bawah pengawasan kurator Varell Group. Putra mahkotamu di klinik distrik empat sedang menunggu proses penjemputan oleh tim penyidik Bareskrim atas tuduhan percobaan pembunuhan berencana terhadap Ethan Arlena. Dan kamu... memiliki sisa waktu tiga puluh menit sebelum juru sita pengadilan negeri memasang plang penyitaan di rumah pribadimu di Simprug."

Darmawan Arkana terperenyak di kursinya. Seluruh kekuatan fisiknya seolah menguap habis. Matanya kosong, mulutnya terbuka tanpa mampu mengeluarkan suara. Dinasti bisnis yang ia bangun selama empat puluh tahun dengan segala cara kotor dan manipulasi bursa efek... hancur lebur hanya dalam tempo dua puluh empat jam di tangan dua orang yang berdiri di hadapannya.

Dua orang petugas keamanan internal bersenjata melangkah masuk atas isyarat Bastian, mencengkeram kedua lengan Darmawan yang lemas, lalu menyeret pria tua itu keluar dari ruang rapat layaknya karung sampah tak berharga.

Pintu ganda tertutup kembali dengan dentuman pelan.

Keheningan di dalam ruang rapat terasa begitu pekat hingga suara tarikan napas Ayah terdengar jelas. Para dewan komisaris menatapku dan Adrian dengan ketakutan murni. Mereka tahu betul, jika Adrian Varell telah menguasai instrumen utang perusahaan dan menyingkirkan keluarga Arkana, maka nasib Arlena Holding kini berada di ujung tanduk pengambilalihan paksa (hostile takeover).

"Tuan Adrian Varell," Komisaris Utama bersuara dengan nada bergetar, berusaha menegakkan sisa wibawanya. "Kami menghargai bantuan Anda dalam membongkar pengkhianatan Darmawan dan Hendra. Namun Arlena Holding adalah perusahaan keluarga yang memiliki garis independensi yang ketat. Jika Anda berniat memanfaatkan surat utang subordinasi itu untuk mencaplok kendali mayoritas saham kami, dewan komisaris akan melawan melalui jalur pengadilan niaga!"

Para komisaris lain serempak mengangguk, mencoba membangun benteng pertahanan terakhir mereka.

Ayah menundukkan kepalanya dalam-dalam, suaranya parau dan sarat keputusasaan. "Tuan Varell... apa sebenarnya kompensasi yang Anda inginkan dari keluarga saya? Tolong... jangan hancurkan warisan ayah saya..."

Melihat kerapuhan pria yang selama ini kupanggil Ayah—pria yang di masa lalu menanggung seluruh beban utang ini sendirian hingga terkena stroke sebelum kematianku—hatiku berdenyut nyeri.

Namun ini bukan saatnya untuk menjadi anak perempuan yang lemah dan menangis di pelukannya.

Aku bangkit perlahan dari kursiku.

Tanganku merogoh ke dalam tas jinjing kulit mahalku, mengeluarkan map cokelat kusam dengan segel lilin merah yang telah terpecah—dokumen wasiat kakek William Arlena yang kurampas dari brankas Hendra tengah malam tadi.

Aku meletakkan map itu tepat di tengah meja marmer bundar, mendorongnya perlahan ke hadapan Ayah dan Komisaris Utama.

"Buka dan baca lembar pengesahannya, Paman Tirta," kataku tenang kepada sang Komisaris Utama.

Pria tua berambut putih itu mengernyit bingung. Dengan tangan gemetar, ia meraih map tersebut, membuka lembaran kertas perkamen kuno yang telah berusia hampir dua dekade itu. Begitu matanya membaca baris-baris pertama dari penetapan notaris kepresidenan tahun 1996, kacamata berbingkai emas yang ia kenakan nyaris merosot dari hidungnya.

"Ini... ini tidak mungkin..." bisik Komisaris Utama Tirta, suaranya tercekat di dasar tenggorokan. "Akta Wasiat Tertutup William Arlena... bertanggal empat belas Agustus 1996?!"

Ayah seketika mendongak, wajahnya yang pucat pasi berubah menjadi putih membeku. "Tirta! Jangan baca itu di sini!"

"Biarkan Paman Tirta membacanya sampai selesai, Yah," potongku dingin, suaraku mengalun tak terbantahkan di seluruh ruangan. "Sudah terlalu lama kebohongan ini dikubur di bawah meja direksi demi menjaga perasaan orang-orang yang tidak tahu diri."

Paman Tirta menelan ludah dengan susah payah, lalu membaca baris vonis terakhir dengan suara yang bergetar hebat di hadapan seluruh dewan komisaris:

"Bahwa dengan ini ditetapkan secara mutlak dan tak dapat diganggu gugat oleh pengadilan mana pun: Seluruh saham pengendali Seri A Konsorsium Arlena sebesar enam puluh persen diserahkan sepenuhnya kepada putri kandung mendiang Helena Arlena, yaitu Nadia Arlena, pada saat yang bersangkutan mencapai usia dewasa hukum sembilan belas tahun."

DEG.

Seluruh anggota dewan komisaris ternganga bagai disambar petir di siang bolong. Bisik-bisik panik meledak seketika bagai gelombang pasang.

"Nona Nadia... adalah putri kandung Helena Arlena?!"

"Mendiang Nona Besar Helena yang sah memiliki hak waris mayoritas?!"

"Jadi selama sembilan belas tahun ini... Edward Arlena hanyalah wali sementara?!"

Ayah memejamkan matanya rapat-rapat. Air mata penyesalan dan kelelahan mengalir perlahan menuruni pipinya yang berkerut. Rahasia terbesar yang ia jaga dengan nyawanya selama hampir dua puluh tahun—rahasia berdarah tentang adik perempuannya yang tewas dalam kebakaran konspirasi masa lalu—kini terbentang telanjang di hadapan orang-orang yang paling ia takuti.

"Nadia..." bisik Ayah dengan suara hancur, menatapku dengan mata merah berair. "Ayah... Ayah menyembunyikan ini bukan untuk mencuri hakmu, Nak... Ayah bersumpah demi Tuhan... Ayah hanya ingin melindungimu dari para pembunuh ibumu..."

"Saya tahu, Yah," jawabku lembut, untuk pertama kalinya nada suaraku melunak saat menatap pria tua itu. "Saya tahu Ayah menanggung semua hinaan dan beban utang ini sendirian demi menjaga saya tetap hidup sebagai 'Nadia Arlena yang biasa'. Tapi waktu untuk bersembunyi di balik nama anak angkat sudah berakhir hari ini."

Aku melangkah maju mengitari meja marmer, berdiri tepat di samping kursi pimpinan yang diduduki Ayah. Aku meletakkan tanganku di pundaknya yang bergetar, memberi kehangatan dan kepastian mutlak bahwa era penderitaannya telah selesai.

Lalu, aku mengalihkan pandanganku kembali ke hadapan seluruh anggota dewan komisaris yang kini menatapku dengan ketakutan dan rasa hormat yang luar biasa baru.

"Sebagai pemilik sah enam puluh persen saham pengendali Arlena Holding," suaraku menggelegar dingin, membelah keheningan ruangan dengan otoritas seorang ratu yang baru saja menaiki takhtanya, "saya menggunakan hak veto absolut saya hari ini untuk mengeluarkan tiga dekrit kepemimpinan."

Para komisaris menundukkan kepala mereka, tidak ada satu pun yang berani mengangkat suara untuk membantah.

"Pertama," lanjutku tegas, "seluruh aset, rekening simpanan, dan saham milik Hendra Arlena disita oleh perusahaan untuk menutupi seluruh kerugian operasional akibat manipulasi tender pelabuhan. Posisinya sebagai Direktur Operasional dihapuskan secara permanen."

"Kedua, Edward Arlena tetap menjabat sebagai Presiden Komisaris Utama yang memegang hak kehormatan keluarga dan pengawasan moral perusahaan."

Ayah mendongak menatapku dengan rasa haru yang tak terlukiskan. Aku tidak mendepaknya seperti yang dilakukan Ryan di masa lalu; aku memberinya tempat perlindungan terhormat yang layak ia dapatkan setelah puluhan tahun berkorban untukku.

"Dan ketiga," aku melirik ke arah Adrian Varell yang berdiri tegak memperhatikanku dengan senyuman tipis penuh misteri, "seluruh surat utang subordinasi yang dipegang oleh Varell Group akan dikonversi menjadi kepemilikan modal strategis sebesar dua puluh persen di konsorsium pelabuhan barat, dan jabatan Direktur Utama Arlena Holding... mulai detik ini resmi saya ambil alih secara langsung atas nama Nadia Arlena."

Tok! Tok! Tok!

Paman Tirta mengetukkan palu sidang ke atas meja marmer dengan tangan gemetar.

"Dekrit disahkan secara aklamasi sesuai Anggaran Dasar dan Akta Wasiat 1996," ucap Paman Tirta dengan suara lantang, lalu berdiri dari kursinya dan membungkuk hormat ke arahku. "Selamat atas pelantikan Anda sebagai pemimpin tertinggi Arlena Holding, Nona Besar Nadia."

Satu per satu, seluruh anggota dewan komisaris berdiri dari kursi mereka, merapikan jas mereka, lalu membungkuk serempak ke arah gadis sembilan belas tahun yang berdiri tegak di samping kursi pimpinan.

Kekuasaan telah kembali ke tangan pemilik aslinya.

Duri pengkhianat internal telah dicabut, parasit keluarga Arkana telah ditumpas, dan seluruh fondasi bisnis dinasti Arlena kini berada di bawah kendali jemariku sendiri.

Rapat dewan komisaris akhirnya dibubarkan.

Para direktur melangkah keluar dengan tergesa-gesa untuk mengamankan divisi masing-masing di bawah kepemimpinan baru, sementara Ayah diantar oleh tim medis pribadi menuju ruang istirahat eksekutif untuk memulihkan kondisi fisiknya yang sempat drop.

Di dalam ruang rapat megah yang kini sunyi senyap, hanya tersisa diriku dan Adrian Varell.

Aku berjalan menuju dinding kaca raksasa yang menghadap ke arah panorama kota Jakarta yang terbentang luas di bawah sana. Dari ketinggian lantai tiga puluh enam ini, mobil-mobil di jalan raya tampak tak lebih besar dari semut-semut kecil yang merayap di atas aspal. Angin kencang di luar membentur kaca tebal dengan desau halus yang menenangkan.

Langkah kaki tegap terdengar mendekat di belakangku.

Adrian berhenti tepat satu langkah di sampingku, menyandarkan satu tangannya ke bingkai kaca jendela. Aroma tembakau dingin dan kayu cedar kembali menyelimuti ruang di antara kami.

"Sebuah penobatan yang luar biasa megah, Nona Besar Nadia Arlena," suara bariton Adrian berbisik rendah, sarat akan getaran ketertarikan yang tak lagi ia sembunyikan di balik topeng bisnisnya. "Dalam tempo dua puluh empat jam, kamu mengubah statusmu dari target pembunuhan menjadi penguasa tunggal konglomerasi terbesar di sektor maritim."

Aku tersenyum tipis tanpa menoleh, menatap pantulan bayangan kami berdua di kaca jendela yang berkilau.

"Tanpa modal ventura dan kecepatan eksekusi surat utang dari Anda di pasar sekunder kemarin sore, saya butuh waktu berminggu-minggu untuk menyingkirkan Darmawan, Tuan Varell," sahutku jujur. "Anda telah memenuhi bagian Anda dari kontrak ini dengan sempurna."

"Saya selalu menyelesaikan kontrak saya dengan sempurna jika mangsa yang saya buru sepadan dengan risikonya," Adrian memiringkan tubuhnya, menatap profil samping wajahku dengan intensitas yang membuat udara di sekitar kami mendadak memanas. "Namun sekarang setelah pion-pion kecil seperti Ryan, Selena, Hendra, dan Darmawan telah hancur lebur... kamu tahu betul apa yang akan terjadi selanjutnya, kan?"

Jantungku berdegup perlahan dengan irama yang tenang dan waspada.

Tentu saja aku tahu.

Kehancuran keluarga Arkana dan pembersihan internal Arlena Holding hanyalah babak pembuka dari perang skala penuh yang sesungguhnya. Di garis waktu pertamaku, kematian Helena Arlena dalam kebakaran tahun 1996 bukanlah kecelakaan biasa, melainkan operasi pembersihan berdarah yang diperintahkan oleh sindikat konglomerat generasi lama—para oligarki bayangan yang menguasai jalur logistik gelap Asia Tenggara.

Dan dengan merebut kembali takhta ibuku hari ini, aku baru saja menyalakan suar perang di hadapan para monster tua yang tertidur di balik bayang-bayang kekuasaan negeri ini.

"Mereka akan segera menyadari bahwa putri Helena Arlena belum mati," bisikku pelan, mataku berkilat dingin menantang cakrawala kota yang membentang luas. "Mereka akan mengirim serigala-serigala yang jauh lebih mematikan daripada keluarga Arkana untuk menuntut darah ibuku kembali."

Adrian terkekeh rendah—sebuah tawa yang dipenuhi arogansi predator yang tak pernah mengenal rasa takut.

Perlahan, jemarinya yang kokoh terulur menyentuh daguku, mengangkat wajahku sedikit agar tatapan kami terkunci sempurna di bawah bias sinar matahari siang yang mulai menembus kaca.

"Maka biarkan serigala-serigala tua itu datang ke ibu kota, Nadia," bisik Adrian serak, napas hangatnya menyentuh bibir merah anggurku dengan jarak yang begitu berbahaya. "Karena kali ini... Varell Group dan Arlena Holding berdiri di atas benteng yang sama. Dan saya... tidak sabar melihat bagaimana kamu akan membakar mereka semua menjadi abu di bawah kakimu."

Aku tidak menepis sentuhannya. Sebaliknya, sudut bibirku terangkat membentuk seringai kemenangan seorang ratu yang baru saja memenangkan pertempuran pertamanya.

Babak Pertama: Pembalikan Pion... telah ditutup dengan kemenangan mutlak berdarah.

Kini, tirai Babak Kedua: Perang Korporasi & Sindikat Bayangan... resmi dibuka lebar.

Dan seluruh kota ini... akan menjadi arena pembantaian baruku.

Bersambung...

1
REY ASMODEUS
ceritamu ini keren thor. aku suka adegan tabrakan nya... 🤣🤣🤣🤣🤣 coba saja si sirkus itu di dorong saja ke jurang beh mantapnya itu kembang api
One Pey: "Terimakasih Brad...iya ya padahalmah di dorong aja dia...
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!