Sebagian besar cerita berdasarkan kisah nyata.
(SERI KE 6 DARI UNIVERSE NOVEL TIRAKAT)
Perjalanan hidup seorang lelaki bernama Zaki tak semulus dan semudah kelihatannya. Semenjak kematian kedua orang tua kandungnya, Zaki menjalani kehidupan yang cukup berat. Dirinya haru melanjutkan hidup sebagai seorang lelaki yang normal. Namun di sisi lain, dirinya juga hidup dalam TIRAKAT yang tak biasa. Sampai akhirnya takdir membawanya berjumpa dengan tambatan sejati hatinya.
Bagaimana kisah hidup Zaki?
Dan siapakah tambatan hati Zaki yang sejati itu?
SELAMAT MEMBACA...
🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
.
.
.
DISCLAIMER‼️
Apabila ada kesamaan nama tokoh, latar tempat, agama, ritual, budaya, dan laku tirakat tertentu dengan para pembaca sekalian, harap dimaklumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12 "AKU YAKIN... NISA ADALAH CINTAMU, ZAKI..."
"Apa yang kau katakan barusan, Nisa?" tanya Dayang Putri, suaranya mengalun tenang.
"Aku bilang, kalian mungkin memiliki kekuatan masing-masing! Tapi sampai kapan pun, kekuatan kalian tak akan pernah bisa melebihi Kuasa Sang Pencipta!" lantang Nisa, mengulangi kalimatnya dengan artikulasi yang jauh lebih tegas dan tanpa keraguan sedikit pun.
Mendengar ketegasan tauhid itu, lengkung senyum keibuan kembali terukir di bibir Dayang Putri.
Sementara di sebelahnya, Sekar Mayang terkekeh pelan.
"Memang sudah seharusnya batinmu setangguh itu, Nisa..." ucap Sekar Mayang memecah keheningan.
Wanita gaib berparas ayu itu melangkah gemulai ke sisi kiri ranjang, lalu duduk merapat di samping Nisa. Jemari lentiknya terulur, mengangkat dagu Nisa dengan kelembutan yang anehnya... terasa sama persis dengan sentuhan khas Dayang Putri.
Dengan senyum penuh teka-teki, Sekar Mayang melontarkan sebuah pertanyaan yang menohok.
"Lantas, jika kau tahu Sang Pencipta adalah segalanya... mengapa kau justru memanggil-manggil Dayang Putrimu saat diuji ketakutan di pasar tadi?"
Kening Nisa berkerut dalam. Ia menoleh ke samping, menatap langsung wajah Sekar Mayang yang kini berjarak sangat dekat dengannya.
"Apa maksudmu?" tanya Nisa.
"Hihihi... Kau melupakan kekuatan sejatimu saat sedang dicekik oleh situasi yang mengerikan, Nisa. Kau... lupa pada Penciptamu," bisik Sekar Mayang, menelanjangi kelemahan batin gadis itu tanpa ampun.
Tepat di saat batin Nisa tertampar oleh kenyataan itu, sebuah sentuhan mendarat lembut di pundak kanannya. Nisa memalingkan wajah dari Sekar Mayang, beralih menatap Dayang Putri yang kini sudah ada di sisi kanannya.
"Ingatlah selalu hal ini, Nisa... Semakin kuat tauhid dan tirakatmu, maka akan semakin kuat pula energi perlindunganku. Akan tetapi, sebelum ujian berat ini kuberikan padamu, hatimu masih terlampau bergantung padaku, bukan bersandar teguh pada Penciptamu," jelas Dayang Putri dengan nada penuh bimbingan.
Kalimat teguran dari kedua sosok lelembut itu seakan menjadi godam yang meruntuhkan kenaifan Nisa. Tiba-tiba saja, potongan-potongan memori dari berbagai kejadian kelam di masa lalunya berkelebat di pelupuk matanya.
"Hihihi... Kau masih membiarkan rasa takut atas masa lalumu bersarang di dalam hatimu, Nisa," sambung Sekar Mayang.
Nisa tercekat.
Ia sadar, meskipun ini baru kedua kalinya ia melihat wujud Sekar Mayang, entitas gaib itu mampu membaca seluruh penderitaan masa lalunya dengan sangat gamblang.
"Dan kau... masih diselimuti kekhawatiran yang tebal untuk meniti jalan masa depanmu," tambah Dayang Putri.
Kali ini, Nisa tak lagi terkejut. Ia tahu Dayang Putri selalu memahami betapa rapuhnya ia di dalam.
Sejenak, Nisa membisu. Ia menundukkan kepala.
Entah badai emosi macam apa yang tengah berkecamuk di dalam dadanya.
Rasa malu, penyesalan, dan pencerahan spiritual kini melebur menjadi satu kedamaian yang utuh.
"Tetaplah perkuat fondasi batinmu...." ucap Dayang Putri. Perewangan gaib itu mendekat, membingkai kedua belah pipi Nisa dengan telapak tangannya, menyalurkan energi ketenangan.
"Dan jangan pernah kau jadikan masa lalumu sebagai racun yang melemahkan tirakatmu...." timpal Sekar Mayang, tangannya mengusap punggung Nisa, memberikan peneguhan terakhir.
Lalu...
Suara dengungan halus mulai mengalun di telinga Nisa.
Dengungan itu perlahan bertransformasi menjadi resonansi yang kian nyaring.
Bersamaan dengan itu, pandangan Nisa berangsur-angsur memudar.
Hamparan taman kuncup dan megahnya pendopo keraton itu tersapu oleh seberkas cahaya putih yang membesar dan kian menyilaukan.
Nisa terkesiap. Napasnya tersengal.
Kedua matanya terbuka lebar, menatap langit-langit kamar. Ia telah kembali tersadar seutuhnya di alam dunia nyata, terbaring di dalam kamar pengurus pondok pesantren putri asuhan Ustadz Furqon.
.....
.....
Sementara itu...
Jauh di belahan waktu dan dimensi yang lain, di dalam sebuah rumah usang yang sepi di pelosok desa, kesadaran Sekar Mayang telah sepenuhnya kembali ditarik kembali ke hadapan Zaki, tuannya.
Sang perewangan itu kini telah mengantongi seluruh jawaban tentang seberapa tangguh kekuatan batin Nisa.
Dengan senyum tipis yang sarat akan makna gaib, Sekar Mayang menatap lekat tuannya dan bergumam dalam hati, menyetujui sebuah takdir masa depan yang tak bisa ditolak.
"AKU YAKIN... NISA ADALAH CINTAMU, ZAKI..."
jadi ya gimana lagi? legowo saja zaky dulu punya almarhumah dek wiwi
Zaky lgi dipermainkan mental nya sama yuli, diingat ingat dosa masa lalu nya. yuli udah mati kok msh nyebelin ya wkwkwk nggak kasian lgi dehh
tapi patut diacungi jempol ki sukmo berjuang mempertahankan eksistensi nya sebagai dukunsaktii pesisir utara sampe titik darah penghabisan wkwkwk .
tapi tetep kasian sama yuli, dia yg sangat paling merugi.
mantap zaki Tirakat nya nggak sia sia, puasa apa ya ngableng? nggak pake ajian atw rapal mantap bwt ngelawan ki sukmo hanya dengan nur tauhid+kalamullah.
next
next babb keknya klo mereka ketemu ki sukmo trs yuli trs zaky bnyk kosakata umpatan
tapi awas zaky jngn terburu buru, yuli juga dukun nya nggak kaleng kaleng
apa yg jadi pegangan zaky bwt nemuin yuli sama dukun itu? klo blom apa apa udah buntu.