NovelToon NovelToon
Mantan Narapidana Jadi Istri Ceo

Mantan Narapidana Jadi Istri Ceo

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Perjodohan / Romansa Fantasi
Popularitas:7.6k
Nilai: 5
Nama Author: linda huang

Vivian Wei keluar dari penjara demi menanggung kesalahan kakak kembarnya. Dulu keras kepala dan bar-bar, kini ia berubah menjadi gadis tangguh yang tidak takut melawan siapa pun.

Pertemuannya dengan Delvin Yang, seorang CEO sekaligus direktur universitasnya, mengubah hidup Vivian. Awalnya Delvin berniat membatalkan pertunangan keponakannya dengan Vivi Wei.

Namun, setelah mengenal Vivian, Delvin justru mengubah keputusannya. Bukan Vivi, melainkan Vivian yang ingin ia jadikan istrinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hasil Nilai Ujian

Universitas Hua Qing.

Vivian berjalan santai sambil membaca buku. Di belakangnya, Mark berlari terburu-buru sambil sesekali menoleh ke belakang.

"Tuan Muda Yang, kenapa kau terus berlari? Aku hanya ingin lebih dekat denganmu!" terdengar suara Vivi dari kejauhan.

Mark semakin panik.

"Kenapa dia mengangguku terus?"

Saat melihat Vivian di depannya, Mark langsung menarik lengannya.

"Cepat, kabur!"

"Hah? Ka... kabur ke mana?" tanya Vivian bingung.

"Yang penting lari!"

Mark langsung menarik Vivian berlari.

Mereka berlari melewati lorong kampus, memotong lapangan bola, hingga akhirnya tiba di pagar belakang Universitas Hua Qing.

Mark langsung berhenti.

"Di sana!"

"Pagar?" Vivian terengah-engah.

"Kita panjat!"

Tanpa menunggu jawaban, Mark langsung memanjat pagar.

"Hei! Tunggu aku!"

Vivian ikut memanjat dengan terburu-buru.

Setelah berhasil melewati pagar, keduanya langsung melompat turun.

Bruk!

Mark mendarat dengan sempoyongan, sementara Vivian hampir terjatuh dan buru-buru berpegangan pada bahu Mark.

Mereka saling menatap beberapa detik.

Kemudian...

"Hah... hah... hah..."

Keduanya membungkuk sambil memegangi lutut, berusaha mengatur napas.

Vivian berbicara dengan napas terputus-putus.

"Kita... sebenarnya... kabur dari siapa...?"

Mark masih ngos-ngosan.

Vivian masih membungkuk sambil mengatur napas.

"Apa... preman kemarin yang mengincarmu? Mereka mau balas dendam?" tanya Vivian.

"Bukan..."

"Jadi... apakah kau meminjam uang dari rentenir?"

"Bukan... juga..." jawab Mark dengan napas tersengal.

Vivian mulai kesal.

"Lalu... siapa?"

Mark akhirnya terduduk di pinggir jalan karena kelelahan.

"Burung hantu betina... mengejarku lagi. Wanita itu benar-benar menyusahkan."

Vivian langsung menoleh tajam.

"Wanita?! Kau dikejar wanita, lalu kau malah menyeretku ikut lari?!"

Mark mengangkat tangan dengan wajah pasrah.

"Maaf. Kalau aku lari sendirian, rasanya tidak adil."

"Tidak adil apanya?!"

"Karena dia kakakmu."

Vivian terdiam.

"Vivi Wei?"

Mark mengangguk.

"Iya."

Vivian langsung memegangi dahinya.

"Jadi kau menyeretku berlari dari dalam universitas, melewati lapangan, sampai memanjat pagar hanya karena Vivi mengejarmu?!"

Mark mengangguk lagi.

Vivian menatapnya tidak percaya.

"Kau laki-laki, kan?"

"Iya."

"Lalu kenapa kau malah kabur dari seorang wanita?"

Mark terdiam sejenak.

"Karena..."

Dia menarik napas panjang.

"...aku lebih takut menikah dengannya daripada mati dikejar preman."

Vivian langsung terdiam.

Kemudian dia mengangguk pelan.

"Masuk akal."

Mark menatapnya lega.

"Benar, kan?"

"Tapi lain kali jangan seret aku."

Mark mengangguk.

"Baik."

Vivian menunjuk pagar di belakang mereka.

"Dan jangan suruh aku panjat pagar lagi. Celanaku hampir robek."

Mark melirik pakaiannya.

"Untung bukan celana mahal."

Vivian langsung melotot.

"Mark Yang!" suara Vivi yang tidak jauh jaraknya.

Mark segera berdiri.

"Lari!"

"Dasar bodoh!"

Keduanya kembali berlari.

Setelah berlari cukup jauh, mereka akhirnya berhenti di sebuah bangku taman.

Mark mengusap hidungnya.

"Aaah..."

Vivian langsung melihat ada goresan kecil di hidungnya.

"Hidungmu terluka."

"Ini cuma goresan kecil."

"Diam. Aku akan mengobatinya."

Vivian mengambil kotak obat kecil dari tasnya, lalu mulai membalut luka Mark.

Awalnya hanya satu lilitan.

Kemudian dua.

Lalu tiga.

Mark mulai curiga.

"Vivian... cukup."

"Jangan bergerak."

Beberapa saat kemudian, Vivian akhirnya selesai.

Mark mengangkat tangan dan menyentuh wajahnya.

"Kenapa... aku tidak bisa membuka mata?"

Vivian tersenyum puas.

"Sudah selesai."

Mark berusaha melihat pantulan dirinya dari layar ponsel Vivian.

Wajahnya hampir seluruhnya tertutup perban. Hanya mata dan mulutnya yang masih terlihat.

Mark terdiam.

"Vivian..."

"Hm?"

"Aku cuma terluka di hidung."

"Iya."

"Sebelumnya, kau belajar dari mana cara membalut seperti ini?" tanya Mark sambil melirik tajam ke arah Vivian.

"Aku belajar sendiri," jawab Vivian santai.

Mark menyentuh perban yang menutupi hampir seluruh wajah hingga kepalanya.

"Aku hanya terluka di hidung. Kenapa kau malah membalut wajah sampai kepalaku?"

Vivian menatap hasil karyanya dengan serius.

"Karena aku takut lukanya menyebar."

Mark terdiam.

"Luka... bisa menyebar?"

Vivian mengangguk yakin.

"Kalau tidak percaya, tanyakan pada dokter."

Mark memijat dahinya, tetapi tangannya malah menyentuh perban.

"Putri keluarga Wei memang tidak ada yang waras," gumam Mark.

Seminggu kemudian.

Universitas Hua Qing mengadakan acara besar untuk mengumumkan hasil ujian semester. Seluruh mahasiswa dari berbagai fakultas memenuhi aula utama.

Di atas panggung, layar besar menampilkan daftar peringkat mahasiswa.

Rektor berdiri di podium.

"Selanjutnya, kita akan mengumumkan sepuluh besar mahasiswa dengan nilai terbaik."

Suasana aula langsung hening.

"Peringkat sepuluh..."

Nama-nama mulai bermunculan satu per satu hingga akhirnya memasuki peringkat tujuh.

"Peringkat tujuh..."

Layar besar menampilkan sebuah nama.

Vivi Wei.

Vivi langsung tersenyum bangga.

"Itu aku!"

Beberapa teman di sekitarnya memberikan ucapan selamat.

"Peringkat enam..."

"Peringkat lima - Joline!"

"Peringkat empat - Justin!"

Nama-nama mahasiswa lain terus muncul.

Hingga akhirnya tinggal tiga nama terakhir.

"Selanjutnya, peringkat tiga."

Nama seorang mahasiswa muncul di layar.

"Peringkat tiga!"

Tepuk tangan terdengar dari seluruh aula.

Rektor kemudian melanjutkan.

"Dan peringkat dua..."

Layar kembali berubah.

Mark Yang.

Mark yang sejak tadi duduk tenang langsung berdiri ketika namanya disebut. Ia hanya mengangguk singkat sebelum kembali duduk.

Kini seluruh aula semakin tegang.

Tinggal satu nama yang belum diumumkan.

Rektor tersenyum.

"Dan mahasiswa yang berhasil meraih peringkat pertama dengan nilai tertinggi dalam ujian semester kali ini adalah..."

Semua orang menahan napas.

Layar besar perlahan menampilkan sebuah nama.

Peringkat 1 — Vivian Wei.

Aula langsung gempar.

"Vivian Wei?!"

"Dia baru kembali ke universitas, kan?"

"Bagaimana bisa langsung menjadi peringkat pertama?"

Vivian yang duduk di antara mahasiswa hanya tersenyum santai.

Sementara itu, wajah Vivi langsung berubah pucat.

"Peringkat pertama? Mana mungkin Vivian bisa menjadi peringkat pertama? Ini pasti ada kesalahan," gumam Vivi sambil mengepalkan tangannya.

"Tahun ini, peringkat pertama kembali jatuh kepada Vivian Wei!" seru Rektor dengan suara lantang.

Tepuk tangan langsung memenuhi aula.

Justin, Joline, dan Mark yang duduk di sisi lain ikut bertepuk tangan.

"Luar biasa!" seru Jo yang hampir tidak percaya.

Sementara itu, Delvin hanya duduk tenang. Tatapannya tertuju pada Vivian yang perlahan berdiri dari tempat duduknya.

"Selanjutnya, kami mempersilakan Vivian Wei untuk naik ke atas panggung dan memperkenalkan diri," ucap Rektor.

"Saya tidak setuju!" ucap teman Vivi yang mengangkat tangannya dan berdiri

"Julia, kenapa kamu tidak setuju?" tanya Rektor.

"Vivian Wei adalah mantan narapidana, selama setahun dia tidak masuk, dan di penjara karena melakukan kesalahan. Mana mungkin seseorang yang ketinggalan pelajarannya bisa menjadi juara utama," ungkap Julia dengan sengaja dan menghebohkan ruangan itu.

1
Maria Mariati
lagian ada saja viviii kamu ini, pasti ketemu 😁😁😁😁😁
Kinara Widya
ada saja tingkah Vivian ini
💝F&N💝
mana up nya hari ini
erviana erastus
keluarga ini bukanx sadar malah tambah² habis kau ditangan delvin .... eh ngul vivian skrng jangan kalian lawan kalo mau pjng umur 🤣
Dini Anggraini
Semoga delvin tahu rencana busuk vivi dan pengantinnya di ganti vivi tanpa ada yang tahu dari keluarga wei bila pengantin wanitanya vivi.
aku
wasemmm 🤣🤣🤣🤣🤣
erviana erastus
omg vivian 🤣🤣🤣
Kinara Widya
🤣🤣🤣🤣🤣 aduh Vivian ini...🤦🏻‍♂️🤦🏻‍♂️🤦🏻‍♂️
erviana erastus
tindakan cerdas vivian ....
aku
🌹🌹 mf cm dkit 🙏 pliss dobel up 😁😁🙏🙏
aku
awas aja klo delvin udh ada rasa tp gk tegas sm cwek lain nantinya ya?!!! gue santet biar sm mark aja. 🤣🤣
erviana erastus
bacot kau vivian diam habisi mereka semua arghhhh geram aku sama keluarga ini
erviana erastus
udah lah vivian kami waras kan? ngalah aza sama mereka 🤣
Dini Anggraini
Q curiga tom dan vivi sudah tidur bersama ya Thor apapun yang di ucapkan vivi selalu di bela. Kapankah keluarganya vivi itu bangkrut dan miskin ya kak sehingga saat miskin nanti apakah putri kesayangannya vivi akan tetap bela kakak dan ortunya seperti sekarang ataukah malah pergi dengan orang kaya raya yang penting dapat uang dan keluarganya di abaikannya. 🥰🥰
sunaryati jarum
Teman Vivi , malah akan membongkar kejahatan Vivi wie
sunaryati jarum
Eh malah diresapi 🤣🤣
sunaryati jarum
Nah ,gitu lawan ketidak adilan itu padamu ,Vivian
sunaryati jarum
Vivian tanpa sengaja masuk pemilik universitas tempat belajarnya
sunaryati jarum
Delvin pemilik kampus, menyelidiki kelakuan mahasiswanya
sunaryati jarum
Saudara dengan sifat berbeda
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!