Ophelia Elizhabet de Ceolum adalah seorang biarawati cantik yang tinggal di Grand Temple of Olympus, kuil terbesar sekaligus pusat kekuasaan agama di Kekaisaran Celestia. Ia selalu mengenakan cadar putih untuk menyembunyikan wajahnya yang luar biasa indah, rambut pirang keemasan, dan mata biru jernih. Namun, Ophelia memiliki rahasia aneh: ia dapat melihat layar misterius berisi percakapan para dewa dan dewi. Awalnya ia mengira dirinya gila, sampai para dewa mulai berebut memberinya berkah. Ketika Saintess resmi terpilih dan konspirasi kuil dimulai, Ophelia perlahan menyadari bahwa dirinya adalah Saintess sejati. Sayangnya, para dewa ternyata jauh lebih merepotkan daripada manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fresh Tea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
The Girl Chosen by the Oracle
Lari adalah opsi terbaik, tetapi realitas berkehendak lain.
Sebelum Ophelia sempat memutar tumitnya untuk membaur di balik deretan pilar marmer, gelombang aura kesucian yang sangat kuat menekan seluruh aula. Langkah kaki sang biarawati mendadak terasa amat berat, seolah-olah lantai porselen yang ia pijaki baru saja dilapisi lem gajah tak kasat mata.
Di tengah aula yang sunyi senyap, Paus Agung Raphael Elias Montclair melangkah mendekat. Jubah putih kebesarannya berkibar tipis seiring langkah kakinya yang penuh keanggunan. Setiap pijakannya menebarkan sisa-sisa kilau cahaya ilahi yang tadi meledak dari tubuh Ophelia. Mata keemasannya menatap lurus ke arah pilar selatan, mengunci sosok biarawati bercadar putih yang memegang keranjang kayu dengan jemari gemetar.
"Biarawati," suara Raphael bergema, terdengar lembut namun membawa bobot dominasi yang tak terbantahkan. "Siapa namamu?"
Ophelia menundukkan kepala sejauh mungkin. Kain cadar putih yang menutupi wajahnya menjadi barikade terakhir tempat ia bersembunyi. Hidungnya masih terasa sedikit gatal akibat sisa debu lilin tua, tetapi ia menahannya sekuat tenaga. Bersin satu kali saja sudah menghancurkan cawan emas kerajaan dan meremukkan alat buatan uskup; bersin kedua mungkin akan membuat kubah aula ini runtuh.
‘Tolonglah, siapapun... jadikan aku tidak terlihat,’ bisik Ophelia dalam hati dengan kepanikan yang melonjak drastis.
Tiba-tiba, layar emas mengambang kembali merekah tepat di depan keningnya.
BZZZZT! TING!
╔══════════════════════════════════════════════════════════╗
[DIVINE CRISIS MANAGEMENT: ACTIVE]
Target Status: Cornered (Panic Level: 89%)
Current Observers: 8 Gods
╚══════════════════════════════════════════════════════════╝
[GOD OF WAR: Sialan! Paus berambut pirang itu berani mengintimidasi Ophelia kita! Izinkan aku memanggil petir untuk menyambar jubah mahalnya!]
[GODDESS OF BEAUTY: Jangan kekanak-kanakan, Asterion! Jika kau menyambar tempat itu, rambut emas Ophelia bisa terkena jelaga! Kenapa tidak kita samarkan saja dia menjadi patung batu?!]
[GOD OF KNOWLEDGE: Mengubah target menjadi batu akan memicu respons magis dari 120 penyihir di aula. Rekomendasi paling logis: meledakkan salah satu pilar di sisi utara sebagai pengalihan perhatian.]
[GODDESS OF FORTUNE: Apakah kau tahu berapa biaya perbaikan pilar marmer Kekaisaran?! Aku menolak membiayainya!]
Ophelia menggertakkan giginya di balik cadar. ‘Kalian semua bisa diam tidak?! Pikirkan solusi yang normal!’
[GODDESS OF WISDOM: Tenanglah. Seraphina sedang bergerak.]
Pesan dari Goddess of Wisdom membentang persis ketika suara langkah kaki ringan beradu dengan lantai marmer.
"Paus Agung!"
Seraphina Celeste Roselle—gadis berambut putih keperakan yang baru saja ditunjuk oleh ramalan kuil—memotong jalur jalan Raphael. Dengan gaun putih berenda emas yang anggun namun sedikit kebesaran di tubuhnya, Seraphina berlutut dengan raut wajah penuh kekaguman. Mata ungunya berbinar-binar menatap Ophelia yang berdiri kaku di sudut pilar.
"Itu adalah... keajaiban sejati!" seru Seraphina dengan suara nyaring dan polos. "Paus Agung, apakah biarawati itu adalah malaikat yang dikirim oleh dewa untuk memberkati upacara penyucianku?!"
Langkah Raphael terhenti persis tiga meter di hadapan Ophelia. Pemuda berusia dua puluh enam tahun itu menyipitkan mata keemasannya. Ia menatap Seraphina sejenak, lalu kembali mengalihkan pandangannya pada Ophelia. Sebagai manusia yang paling dekat dengan takhta ilahi, Raphael bisa merasakan bahwa ledakan energi tadi bukanlah sihir buatan atau manipulasi artefak. Itu adalah Divine Purification murni—sebuah tingkatan manifestasi kekuatan yang bahkan tak sanggup dipanggil oleh para uskup senior.
"Malaikat?" gumam Raphael pelan. Suaranya dingin, terukur, dan dipenuhi kecurigaan yang tajam. "Tidak, Seraphina. Dia hanya seorang biarawati kuil."
Raphael memiringkan kepalanya sedikit, meneliti pakaian Ophelia dari balik jubahnya. "Tetapi... seorang biarawati biasa tidak seharusnya sanggup menghancurkan artefak penguat mana di bawah altar hanya dengan berdiri di balik pilar."
‘Dia menyadarinya!’ batin Ophelia histeris. ‘Paus ini benar-benar monster perfeksionis!’
Para uskup yang tadinya panik kini mulai berbisik-bisik di barisan belakang. Keringat dingin merembes dari dahi beberapa pejabat tinggi kuil. Penipuan batu sihir mereka telah hancur total, namun berkat bersin Ophelia, publik justru mengira bahwa keajaiban besar baru saja terjadi mengiringi pengangkatan Seraphina.
Lucasta Victoria Belladonna, sang Uskup Agung ber jubah merah pekat yang berdiri di barisan pejabat tinggi, menatap Ophelia dari kejauhan. Mata merahnya menyempit curiga, memancarkan aura dingin yang membuat bulu kuduk Ophelia merinding. Ada sesuatu pada diri biarawati bercadar itu yang menarik perhatian sang Uskup Agung—sesuatu yang sangat ia dambakan.
Merasakan atmosfer yang semakin berbahaya, Ophelia akhirnya memberanikan diri untuk bersuara. Ia merendahkan tubuhnya dalam posisi membungkuk hormat yang sempurna, menyembunyikan tangannya di dalam lengan gaun panjangnya.
"Hamba memohon ampun yang sebesar-besarnya, Yang Mulia Paus Agung," ucap Ophelia dengan suara yang dibuat selucu dan sehalus mungkin, penuh penyesalan semu. "Hamba hanyalah seorang biarawati rendah yang bertugas merawat lilin. Tubuh hamba yang lemah tidak mampu menampung pancaran energi suci dari Lady Seraphina saat Cawan Suci menyala. Ledakan tadi... hanyalah akibat dari reaksi mana tubuh hamba yang menolak energi agung tersebut."
Ophelia diam-diam menahan napas setelah menyelesaikan kalimatnya. Itu adalah kebohongan yang dirangkai secara spontan, memanfaatkan kepolosan Seraphina dan rasa gengsi pejabat kuil yang tentu tidak ingin penipuan mereka terbongkar.
[GOD OF KNOWLEDGE: Alasan yang sangat improvisatif. Probabilitas Paus mempercayai kebohongan ini: 14%.]
[GODDESS OF LOVE: Tapi suaranya sangat manis! Lihat raut wajah Paus muda itu, dia pasti terpesona!]
[GOD OF WAR: Jangan mengarang cerita, Elara! Tatapan pria itu seperti ingin membedah Ophelia!]
Raphael menatap Ophelia selama beberapa detik yang terasa bagaikan siksaan abadi bagi sang biarawati. Keheningan itu begitu pekat hingga suara detak jarum jam dinding kuil terdengar amat nyaring.
"Reaksi penolakan mana?" tanya Raphael datar. Ia mengambil satu langkah mendekat, meraih ujung keranjang kayu berisi lilin yang dipegang Ophelia. "Jika ini hanya penolakan mana, mengapa lilin-lilin lebah biasa di keranjangmu kini berubah menjadi lilin berkobar berkah tingkat tinggi?"
Ophelia melirik keranjang kayunya. Benar saja, lilin-lilin putih biasa di dalamnya kini memancarkan aroma madu murni yang sangat harum dan berpendar keemasan lembut.
‘Dewa-dewa sialan!’ Ophelia menjerit dalam hatinya. ‘Kalian memberikan berkah bahkan pada lilin di keranjangku?!’
Sebelum Raphael sempat mempertanyakan hal itu lebih jauh atau memerintahkan Ophelia untuk membuka cadarnya, Seraphina mendadak melompat berdiri dan menggenggam kedua tangan Ophelia dengan erat.
"Luar biasa!" seru Seraphina dengan mata berbinar-binar tanpa dosa. "Kau adalah biarawati yang terpilih untuk menjadi pendamping utamaku! Paus Agung, aku menginginkan dia! Ramalan Oracle mengatakan bahwa aku harus didampingi oleh seseorang yang dicintai oleh cahaya, dan lilin-lilin ini adalah buktinya!"
Raphael menghentikan gerakannya. Ia memandang Seraphina, lalu menatap Ophelia yang tampak sangat terpukul di balik cadarnya.
Menjadikan biarawati ini sebagai pengawal atau pendamping Saintess resmi akan memudahkan kuil untuk mengawasinya. Jika gadis bercadar ini memang menyimpan ancaman atau rahasia besar, menempatkannya di bawah jangkauan mata takhta adalah keputusan paling rasional.
"Baiklah," putus Raphael akhirnya. Aura intimidasinya perlahan menyurut, menggantung di udara bagaikan ancaman yang tertunda. "Jika itu keinginan sang Saintess yang terpilih."
Raphael menatap Ophelia dengan tatapan dalam. "Mulai hari ini, kau dibebaskan dari tugas penyimpanan lilin. Kau diangkat menjadi pendamping pribadi Saintess Seraphina Celeste Roselle. Serahkan keranjang itu, dan ikutlah ke Istana Dalam."
Ophelia membeku di tempatnya.
Hidup tenang yang ia impikan—makan tiga kali sehari dan tidur delapan jam tanpa gangguan—baru saja hancur berkeping-keping. Kini ia harus mendampingi Saintess palsu, diawasi oleh Paus perfeksionis, dan dilirik oleh Uskup Agung yang berbahaya.
Layar transparan di depannya meledak dalam perayaan warna-warni yang sangat meriah.
╔══════════════════════════════════════════════════════════╗
[QUEST COMPLETED: PROMOTION!]
New Title: Companion of the Chosen One
Reward: Direct Access to Royal Dining Hall
Gods' Satisfaction Rate: 100%
╚══════════════════════════════════════════════════════════╝
[GODDESS OF LOVE: YAAAY! SEKARANG DIA BISA TRIPLE DATE DENGAN PARA KSATRIA DAN PENYIHIR!]
[GOD OF WAR: Aku akan mengirimkan zirah besi ringan untuk tugas barunya!]
[GODDESS OF BEAUTY: Aku akan memilihkan gaun pendamping paling menawan!]
[UNKNOWN GOD: ...Good luck, Ophelia.]
Ophelia perlahan menurunkan tangannya, menyerahkan keranjang lilinnya kepada seorang pendeta muda dengan pasrah. Di balik kain cadar putih yang menutupi wajah cantiknya, ia memejamkan mata rapat-rapat.
‘Aku benar-benar benci para dewa.’
kak fresh tea terima kasih Karna menerima pendapat saya dan memberikan jawapan... maaf kalau sekira nya pendapat saya agak terburu-buru dalam berpendapat pada karya kakak... semangat kak berkarya nya aku akan selalu mendukung karya kakak yang ini dan mengusahakan untuk sampai pada end cerita🤗🤗
waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh 🤗🤗 semangat 😁✊
cerita dan gendre Kakak bagus dan unik tapi cerita nya agak berbelit dan ada beberapa episod yang hampir mirip dari segi cerita dan dialog hanya beda karakter saja dan setelah baca dari eps 1 sampai 40 aku belum menemukan inti dari cerita nya awal dari ceritanya juga sulit aku fahami tidak ada keterangan atau penjelasan lebih kenapa Ophelia yang di pilih para dewa mungkin pendapat ku ini agak terburu-buru Karna baru 40 eps sekarang inti dari cerita nya juga belum keluar tapi sebagai pembaca aku hanya mengutarakan pendapat aku saja kepada kakak penulis aku enjoy juga kok dengan cerita nya😁😁 semangat kakak penulis😁✊
semangat thor up nya 🤗🤗🤗