Seorang wanita ahli pengobatan dan racun tiba-tiba memasuki tubuh seorang gadis lemah bernama Feng Wu. Terbangun di tempat asing, ia sempat mengira semua itu hanyalah mimpi. Namun, tempat dan kehidupan baru yang dihadapinya ternyata benar-benar nyata.
Jika Feng Wu sebelumnya dikenal sebagai gadis bodoh dan lemah yang selalu diremehkan, maka kedatangan jiwa baru akan mengubah segalanya.
Mulai sekarang, Feng Wu bukan lagi gadis yang mudah ditindas.
Karena sudah masuk ke tubuh Feng Wu, maka wanita itu akan menuntut balas atas perlakuan buruk pada pemilik tubuh asli.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Abu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 34
Matahari mulai condong ke barat, menyisakan semburat jingga keunguan di ufuk langit. Feng Wu berpamitan pada Pangeran Ketiga dan segera bergegas pulang ke kediaman Wen, takut keluarga mulai khawatir jika ia pulang terlalu larut.
Baru saja melangkah masuk melalui gerbang utama kediaman wen, langkahnya terhenti. Di halaman depan, berdiri sosok pria yang sedang menatap langit dengan tatapan kosong dan penuh kegelisahan. Itu Wen Qi.
Feng Wu menarik napas pelan, lalu melangkah mendekat. "Kakak Wen Qi."
Pria itu menoleh, sedikit terkejut melihat kehadirannya. "Feng Wu? Kau baru pulang?"
"Iya," jawabnya lembut, lalu menatapnya tajam namun penuh makna. "Kakak... ada satu hal yang ingin kukatakan padamu. Tolong ingat baik-baik.Jangan sampai cinta menutup kedua matamu, mencintai boleh tapi dibodohi jangan."
Wen Qi terdiam, mengerutkan kening bingung. Ia mencoba mencerna makna kata-kata itu, namun tak kunjung menemukan arti yang pas. "Jangan sampai cinta menutup mataku..." gumamnya pelan, matanya menatap Feng Wu penuh tanya. "Apa maksudnya, Feng Wu? Maksudmu... aku buta akan sesuatu?"
"Jangan sampai cinta membuatmu menyesal seumur hidup," ucap Feng Wu singkat, tak bisa menceritakan semuanya secara terang-terangan. Ia menepuk bahu sepupunya pelan, lalu berjalan melewatinya menuju paviliunnya. "Pikirkanlah pelan-pelan. Semoga kau mengerti saat waktunya tiba."
Wen Qi tetap berdiri terpaku di tempat, membiarkan kata-kata itu berputar di kepalanya berulang-ulang. Ada firasat yang tak tenang mulai menyelimuti hatinya, seakan ada sesuatu yang besar dan tersembunyi sedang mengancam cintanya yang ia jaga begitu erat.
Feng Wu berjalan perlahan menuju paviliun utama, langkahnya mantap meski hatinya sedikit berdebar. Ia tahu keputusan ini pasti akan membuat kakeknya berat hati, namun ia tak punya pilihan lain. Upacara kedewasaan ritual sakral yang menandai dirinya telah beranjak dewasa harus dilaksanakan di kediaman ayahnya, kediaman Feng, sesuai dengan adat keturunan yang tak bisa diubah.
Sesampainya di ruang kerja Jendral Wen, ia melihat kakeknya sedang duduk diam menatap lukisan lama yaitu lukisan mendiang Wen Ning, ibunya. Feng Wu melangkah masuk dengan tenang, lalu memberi salam hormat.
"Kakek," panggilnya lembut namun tegas. "Aku ingin berbicara, ada hal yang ingin aku sampaikan."
Jendral Wen menoleh, senyum tipis terukir di wajahnya, namun ada keraguan di mata itu. "Katakanlah, Wu'er. Kakek akan mendengarmu."
Feng Wu menarik napas panjang, lalu berkata lantang, "Aku ingin kembali ke kediaman Feng. Untuk sementara waktu, hingga upacara kedewasaanku selesai dilaksanakan. Adat mengatakan, upacara itu harus berlangsung di kediaman ayah kandungku. Itu satu-satunya cara agar ritus itu sah dan sempurna."
Seketika senyum di wajah Jendral Wen lenyap. Ia berdiri perlahan, tangannya mengepal di sisi tubuh. "Ke kediaman Feng...?" suaranya berat, penuh kecemasan.
" Kakek takut, Wu'er. Sekali kau kembali ke sana, siapa tahu mereka akan..."
"Tak akan ada yang menyakitiku lagi, Kakek," potong Feng Wu mantap, matanya bersinar penuh keyakinan. "Dulu Feng Wu yang lemah dan tak berdaya sudah mati. Yang berdiri di hadapan Kakek sekarang adalah Feng Wu yang baru. Tak ada siapa pun yang berani menyakitiku. Dan jika mereka berani mencoba..." ia tersenyum tipis, senyum yang membuat siapa pun merinding, "...mereka yang akan menanggung akibatnya."
Ia melangkah mendekat, menggenggam tangan kasar kakeknya. "Aku berjanji. Aku tak akan menderita lagi. Aku bukan sekadar kembali untuk upacara itu saja. Aku juga kembali untuk mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku, percayalah padaku kek".
Jendral Wen menatap wajah cucunya lekat-lekat. Di sana ia melihat bayang Wen Ning, namun dengan ketegasan dan keberanian yang jauh lebih kuat. Ia menghela napas panjang, napas yang membawa kesedihan sekaligus kebanggaan yang tak bisa diucapkan dengan kata-kata.
"Bagaimanapun juga..." gumamnya pelan, "...kediaman Feng memang adalah tempatmu juga. Darah Menteri Feng mengalir di tubuhmu, sama seperti darah Wen. Adat itu tak bisa dilanggar." Ia mengusap kepala cucunya dengan penuh kasih sayang, matanya berkaca-kaca. "Pergilah, Wu'er. Tapi ingat satu hal, jika ada apa pun terjadi, sekecil apa pun, kirimkan pesan pada kakek. Pasukan kakek akan datang menjemputmu sebelum matahari terbenam."
Feng Wu tersenyum tulus, menunduk hormat. "Terima kasih, Kakek".
Malam itu, kabar bahwa Putri Utama Feng Wu akan kembali ke kediaman Feng menyebar bagai angin di seluruh kediaman Wen. Dan jauh di istana, seseorang mendengar kabar itu, sudut bibirnya terangkat pelan, tatapannya tajam penuh arti.
"Kau akhirnya berani kembali, gadis kecil." Gumam Pangeran ketiga.
Utusan kediaman Wen tiba di kediaman Feng membawa pesan itu. Mendengar kabar tersebut, Feng Yuan seketika gemetar menahan haru, matanya berkaca-kaca. Selama belasan tahun ia kehilangan putrinya, dan kini akhirnya Feng Wu akan kembali pulang.
"Baik! Sungguh kabar yang menyenangkan!" seru Feng Yuan, tak mampu menyembunyikan kegembiraannya. "Siapkan paviliun terbaik! Pastikan semuanya siap sebelum putriku tiba! Aku ingin menyambutnya dengan layak, layaknya seorang Putri Utama kediaman Feng!"
Ia bergegas memberi perintah ke mana-mana, wajahnya bersinar bahagia seakan beban berat yang dipikulnya selama ini perlahan terangkat.
Namun di sudut lain kediaman, Selir Yu mendengar kabar itu dengan wajah yang sama sekali tak senang. Cangkir teh di tangannya diremas hingga jari-jarinya memutih, senyum sinis dan kejam merekah di bibirnya.
"Kembali...?" gumamnya pelan, penuh niat jahat. "Bodoh sekali gadis itu. Berpikir bisa pulang dan hidup tenang? Belum hilang pelajaran dulu, sudah berani kembali. Kali ini aku pastikan kau takkan pernah bisa keluar dari sini lagi".
Ia meletakkan cangkir itu keras-keras hingga berbunyi nyaring. "Siapkan segalanya. Saat dia melangkah masuk ke pintu ini, aku pastikan hari-harinya kembali menjadi neraka. Kali ini tak ada yang bisa melindungimu, Feng Wu."
Sementara itu, di kediaman Wen, Feng Wu bersiap berangkat. Qing Su membantunya mengenakan pakaian berwarna biru muda yang anggun, rambutnya disanggul sederhana namun memancarkan wibawa luar biasa. Jendral Wen menyerahkan sepasang pengawal pribadi yang tangguh untuk menemaninya, serta tasbih kesayangannya sebagai pelindung.
"Ingat janjimu, Wu'er," bisik Jendral Wen sambil menepuk punggung tangannya. "Jika ada yang menyakiti segera kabari kakek"
Feng Wu tersenyum tenang, matanya berkilat tajam. "Tenang, Kakek. Kali ini, bukan aku yang harus takut pada mereka. Merekalah yang harus takut padaku."
Kereta kuda pun berangkat meninggalkan kediaman Wen, menuju kediaman Feng yang dulu membuangnya. Di dalam kereta, Feng Wu menatap ke luar jendela, jantungnya berdetak kencang bukan karena takut, melainkan karena tahu, pertunjukan balas dendamnya baru saja dimulai.
Kereta kuda berhenti tepat di depan gerbang megah kediaman Feng. Pintu terbuka, dan Feng Wu melangkah turun perlahan. Punggung tegak, tatapan lurus ke depan, tanpa sedikit pun tampak ragu atau takut. Di belakangnya, Qing Su dan dua pengawal pribadi Jendral Wen mengikuti dengan sikap tegas dan waspada.
Banyak pelayan yang berkerumun melihatnya. Tak sedikit yang ternganga bukan hanya karena kecantikannya, tapi karena aura wibawa yang memancar dari tubuh gadis berusia lima belas tahun itu.
Feng Yuan sudah menunggu di depan pintu utama. Begitu melihat putrinya, matanya langsung berkaca-kaca. Ia melangkah tergesa mendekat, tangannya gemetar ingin menyentuh wajah putrinya.
"Wu'er... putriku..." suaranya bergetar tak kuasa menahan haru. "Akhirnya... kau kembali. Maafkan Ayah... maafkan Ayah karena membiarkanmu menderita selama ini."
Feng Wu menatap pria itu lekat-lekat. Ada rasa sedih, namun hatinya tetap dingin. "Ayah," sapanya datar namun sopan, tidak terlalu dekat tapi juga tidak kasar. "Adat mengharuskan aku kembali untuk upacara kedewasaanku. Bukan karena rindu."
Feng Yuan terdiam sejenak, sedikit terluka namun tetap tersenyum lega. "Tidak apa-apa, tidak apa-apa. Yang penting kau ada di sini. Sekarang kau adalah Putri Utama kediaman Feng. Tak ada yang berani memperlakukanmu buruk. Ayah janji."
Di balik tirai samping aula utama, Selir Yu berdiri menyaksikan. Tangannya terkepal kuat di balik lengan baju, wajahnya menyembunyikan kemarahan sekaligus niat jahat. Ia berjalan keluar dengan senyum palsu yang terukir sempurna.
"Wu'er, selamat datang kembali di rumah," suaranya terdengar manis namun matanya tajam penuh kebencian. "Kau sudah tumbuh begitu besar dan cantik. Sungguh sayang selama ini kita terpisah jauh."
Feng Wu menoleh perlahan, menatap Selir Yu tanpa berkedip sedikit pun. Tatapan itu begitu dingin, tajam, dan seakan bisa menembus sampai ke lubuk hati terdalam wanita itu. Selir Wu tanpa sadar mundur selangkah terkejut betapa berubahnya gadis itu.
"Selir Yu, seharusnya kau memanggilku nona" jawab Feng Wu singkat, nada bicaranya datar dan tak menghormat. "Aku adalah Putri Utama keturunan bangsawan, terlahir dari Istri sah kediaman Feng. Bukankah seharusnya kau memanggilku nona".
Suasana seketika hening. Feng Yuan mengernyit, pelayan-pelayan menahan napas. Selir Yu tersentak, senyumnya hampir runtuh namun segera dipaksa kembali. "Kau.... Bagaimana pun aku adalah istri ayahmu, juga ibu pengganti untukmu"
"Ibu pengganti?" Feng Wu tersenyum tipis senyum yang membuat bulu kuduk merinding. "Selir Yu, status ibukku begitu terhormat, bagaimana bisa kau menggantikannya. Seharusnya tau diri"
Ia melangkah melewati wanita itu tanpa menoleh sedikit pun. "Qing Su, bawa barang-barang ke paviliun yang sudah disiapkan. Aku lelah perjalanan jauh. Tak ingin diganggu siapa pun."
Feng Yuan mengangguk setuju. "Benar, benar. Istirahatlah dulu, Wu'er. Nanti saat makan malam, kita akan berkumpul sebagai satu keluarga."
Saat Feng Wu sudah berlalu, Selir Yu mengepalkan tangannya erat, menatap punggung gadis itu dengan penuh dendam.
"Kau berani menantangku, bocah bodoh? Tunggu saja. Ini baru permulaan. Aku pastikan upacara kedewasaanmu akan berakhir dengan petaka besar". Batin Selir Yu.
Di paviliun yang cukup layak dan bersih, Feng Wu duduk tenang di tepi ranjang. Qing Su menutup pintu dengan wajah cemas.
"Nona, sikap Nona tadi... apakah tidak terlalu berisiko?" bisiknya pelan. "Selir Yu pasti semakin membenci Nona."
Feng Wu membuka cincin di jarinya, sudut bibirnya terangkat pelan. "Biarkan dia marah. Semakin dia marah, semakin mudah dia kehilangan akal sehatnya. Dan saat itulah aku bisa menangkap jejaknya. Qing Su, bersiaplah. Mulai hari ini, setiap makanan, setiap minuman yang masuk ke kamar ini periksa dulu dengan jarum perak. Aku tak mau mati karena racun sebelum sempat menghancurkannya."
Qing Su mengangguk mantap. "Siap, Nona!"
Di saat yang sama, di kediaman Pangeran Ketiga...
"Putri Utama Feng Wu sudah kembali ke kediaman Feng," lapor pengawal bayangan dengan suara rendah.
Pangeran Ketiga yang sedang membalik halaman buku hanya berhenti sejenak, sudut bibirnya tersungging tipis. "Bagus. Gadis itu akhirnya memulai permainannya sendiri. Awasi. Jangan sampai dia terluka sebelum waktunya."