Satu Atap Bersama Mantan
Aira seorang gadis yang hobi berbelanja menggantungkan hidupnya pada pundi-pundi kekayaan keluarganya terpaksa menerima perjodohan demi menyelamatkan rekening banknya yang terancam diblokir papinya.
Namun di hari pernikahannya niatnya untuk kabur justru malah bertemu mantan pacarnya yang 8 tahun lalu mencampakkannya dengan alasan dingin.
Devan, cinta pertama Aira sekaligus mantan Aira yang sangat ia benci ternyata adalah calon suaminya.
Dua orang yang masih sama-sama sayang, tapi sangat gengsi dalam mengakui perasaannya.
Bagaimana kehidupan rumah tangga mereka kedepannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyline Scribe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18 : Kuah Sup Panas
Pukul delapan malam lewat sedikit.
Langkah kaki Aira bergema pelan di koridor lantai dua puluh. Tubuhnya benar-benar lelah setelah menembus delapan jam lebih peperangan berkas di kantor, ditambah kemacetan Jakarta jam pulang kerja yang luar biasa tidak berotak.
Tapi di balik kelelahan fisiknya, ada sedikit rasa puas yang membakar dadanya. Pekerjaannya seharian ini beres tanpa cela, membuktikan kalau ia bukan sekadar pajangan di Hermawan Group.
Klek.
Aira menempelkan sidik jarinya di smart lock pintu penthouse. Pintu terbuka, menyuguhkan suasana ruang tengah yang temaram.
Bau harum masakan—tumisan bawang putih dan aroma gurih kuah kaldu daging—langsung menusuk hidung Aira begitu ia melangkah masuk ke foyer.
Di dekat meja dapur, Devan sudah berdiri santai. Cowok itu cuma pakai kaus polos hitam dan celana training abu-abu, kelihatan kelewat santai dan santai banget. Ia sedang mengaduk sesuatu di dalam kuali stainless kecil.
"Selamat malam, Istriku," sapa Devan tanpa menoleh, nadanya ramah tapi jelas-jelas menyimpan niat jahil. "Gimana hari pertama kerjanya? Sukses bikin staf lu pada kena serangan jantung gara-gara lu mendadak rajin?"
Aira melirik malas, memilih mengabaikan sapaan itu. Ia melepas blazer-nya, melemparkannya asal ke atas sofa ruang tengah, lalu berjalan menuju kulkas buat mengambil air dingin.
"Gak usah sok tahu lu," cetus Aira ketus, meneguk air mineralnya langsung dari botol.
Belum sempat botol air itu ditutup, ponsel di dalam tas Aira berdering nyaring. Layar ponselnya menampilkan nama: Papi.
Aira menarik napas panjang, bersiap memasang mode defensif. Ia menekan tombol hijau lalu menempelkan ponselnya ke telinga. "Halo, Pi?"
"Halo, Aira," suara Papi Surya di ujung telepon terdengar cukup santai. "Kamu sudah di rumah?"
"Udah, Pi. Baru banget nyampe," sahut Aira pelan, matanya melirik Devan yang masih sibuk mengaduk masakannya.
"Bagus kalau begitu," Papi Surya berdeham pelan, mulai meluncurkan basa-basi khasnya. "Gimana pekerjaan kamu hari ini di kantor? Papi denger dari sekretaris kamu, kamu langsung memegang proyek rekayasa resort Bali itu? Jangan terlalu memaksakan diri, tapi Papi senang kamu mulai serius."
"Aira emang selalu serius kalau soal kerjaan, Pi," potong Aira agak defensif.
"Iya, iya. Papi percaya," kekeh Papi Surya pelan. "Nah, Papi telepon ini cuma mau menyampaikan kabar baik. Sesuai janji Papi kemarin, karena kamu sudah bersikap baik pas resepsi dan mau nurut sama Papi, seluruh akses kartu kredit kamu yang kemarin dibekukan... hari ini sudah Papi aktifkan kembali semuanya."
Mata Aira seketika berbinar terang. Rasa lelahnya serasa menghilang. Senyuman kemenangan mulai terukir di bibirnya. Yes! Bebas financial lagi gue!batin Aira bersorak riang.
"Beneran, Pi?! Waaaah, makasih banyak ya, Pi!" seru Aira riang, suaranya naik satu oktaf saking senangnya.
"Tapi..." Papi Surya menggantungkan kalimatnya.
Raut wajah Aira langsung bertekuk curiga. "Tapi apa, Pi?"
"Tapi, demi menjaga kamu agar tidak kelewat batas belanja barang-barang yang gak penting, dan sebagai bentuk transparansi dalam rumah tangga kamu yang baru..." Papi Surya berdeham lagi, "Seluruh real-time notification dan tagihan kartu kredit kamu sudah Papi hubungkan langsung ke nomor ponsel Devan. Jadi tiap kali kamu gesek kartu kredit itu, Devan bakal dapet notifikasi detilnya detik itu juga."
"WHAT?!"
Jeritan Aira membelah keheningan penthouse. Botol air di tangannya hampir saja terlepas. "PAPI! KOK GITU SIH?! ITU KAN KARTU KREDIT AIRA! KENAPA HARUS TERHUBUNG KE HP COWOK INI?!"
Devan yang sejak tadi mendengarkan dari meja dapur langsung memutar badannya. Cowok itu menyandarkan pinggulnya di tepi meja, memegang ponselnya sambil melemparkan cengiran paling puas, paling mengejek, dan paling menyebalkan sepanjang sejarah.
Ponsel Devan berbunyi ting!—sebuah notifikasi sistem perbankan baru saja masuk, memverifikasi akun terhubung atas nama Aira Calista Hermawan. Devan melambaikan layar ponselnya ke arah Aira dengan alis terangkat naik-turun.
"Papi gak mau dengar protes, Aira," potong Papi Surya tegas di telepon. "Devan itu suami kamu. Dia berhak tahu pengeluaran kamu. Kalau kamu belanja hal yang masuk akal, Devan pasti gak bakal melarang. Sudah ya, Mami kamu mau ngomong."
Sebelum Aira sempat mengamuk lebih lanjut, suara Mami Maya yang heboh sudah mengambil alih telepon, memberikan wejangan-wejangan random soal cara melayani suami sebelum akhirnya mematikan sambungan telepon secara sepihak.
Tut... tut... tut...
Aira menurunkan ponsel dari telinganya dengan napas memburu. Dadanya kempas-kempis menahan histeris. Pipinya memerah padam karena amarah yang memuncak sampai ke ubun-ubun.
Melihat ekspresi Aira yang bener-bener kayak bom nuklir siap meledak, Devan justru merasa hidupnya kembali berwarna. Sikap Aira yang mencak-mencak begini adalah mood booster nomor satu buat Devan setelah seharian capek mengurus berkas saham perusahaan.
Devan melangkah mendekati Aira dengan gaya angkuh yang dibuat-buat, memutar-mutar ponsel di jemarinya.
"Wah, wah... jadi sekarang gue menjabat sebagai financial controller pribadi lu ya, Nyonya Argawinata?" goda Devan, suaranya sarat akan nada kemenangan. "Menarik nih. Mulai besok, tiap kali lu mau gesek tas baru atau sepatu mahal... lu kudu minta approval dari gue dulu lewat aplikasi."
"DEVAN ARGAWINATA! LU PASTI YANG NGERACUNIN PIKIRAN PAPI KAN?!" jerit Aira histeris, menunjuk muka Devan dengan jari telunjuknya yang bergetar. "Lu sengaja kan biar bisa ngontrol hidup gue?! Cowok licik! Iblis!"
Devan tertawa renyah, tawanya lepas banget melihat Aira yang kepanasan. "Bintang lima buat tebakan lu, tapi sayang salah semua. Itu murni ide Papi Surya sendiri, Ra. Katanya biar lu gak konsumtif banget kayak waktu zaman kuliah."
"Gue gak konsumtif!" sembur Aira sengit. "Gue belanja pake uang keluarga gue sendiri ya!"
"Dulu iya. Sekarang kan uang keluarga kita udah jadi satu," balas Devan santai, melangkah mendekati meja makan. "Lagian lu gak usah mencak-mencak gitu. Kalau alasan belanja lu jelas, pasti gue approve kok. Tapi kalau lu beli barang-barang gak berguna cuma buat ajang gengsi sama temen-temen lu... ya siap-siap aja notifikasi declined meluncur ke HP lu."
"Lu bener-bener nyebelin parah ya!" Aira menghentakkan kakinya ke lantai, rasanya mau melempar tasnya tepat ke jidat Devan. "Benci banget gue sama lu! Benci! Benci!"
"Benci apa kangen?" tembak Devan cepat, melempar senyuman maut yang sukses bikin kata-kata Aira tersangkut di tenggorokan. "Udah ah, gak usah ngamuk-ngamuk mulu. Muka lu udah merah tuh kayak kepiting rebus. Mending lu duduk, kita makan malam."
Aira memutar matanya tajam, melipat tangan di dada. "Gue gak sudi makan bareng lu! Gue mau masuk kamar!"
"Yakin gak mau?" Devan mengangkat penutup kuali di atas meja, membiarkan uap panas masakan menguar ke udara. Aroma sup iga sapi yang gurih dengan rempah-rempah segar dan tumis kangkung terasi langsung memenuhi ruang tengah. "Gue udah masak sup iga nih. Dagingnya empuk banget, gue rebus dari jam lima sore. Lu kan paling suka sup iga kalau lagi capek."
Langkah Aira yang baru mau berbalik menuju lorong kamar langsung terhenti.
Aroma sup iga itu... bener-bener menyiksa. Perut Aira yang tadi siang cuma diisi bubur ayam pinggir jalan berbunyi kruuuk... dengan sangat tidak sopannya.
Devan yang mendengar suara perut Aira langsung mengulum senyum. "Duduk, Ra. Gengsi lu gak bakal bisa kenyangin perut lu yang keroncongan itu."
Aira menggigit bibirnya, merutuki perutnya yang selalu berkhianat di saat-saat krusial begini. Dengan muka tertekuk dan bibir yang maju beberapa senti, Aira akhirnya berbalik dan berjalan menuju meja makan. Ia menarik kursi dengan kasar lalu duduk di sana.
"Gue makan cuma karena kasihan sama makanannya ya! Bukan karena lu!" cetus Aira membela diri.
"Iya, iya, terserah Nyonya aja," sahut Devan terkekeh. Pria itu dengan telaten mengambilkan semangkuk nasi hangat, menyiramnya dengan kuah sup iga panas, lalu meletakkannya di depan Aira lengkap dengan sendok dan garpunya.
Aira meraih sendoknya, mencoba kuah sup itu dengan tatapan curiga. Tapi begitu kuah hangat itu menyentuh lidahnya... gurihnya rempah, empuknya daging iga yang lumer di mulut, dan rasa asin-gurihnya yang pas bener-bener sempurna! Lebih enak daripada sup iga di restoran bintang lima langganannya.
Aira tertegun sejenak, tapi buru-buru menutupi rasa kagumnya dengan wajah datar. Ia mulai makan dengan lahap, meski mulutnya tetap gak bisa diam.
"Biasa aja rasanya. Masih keasinan dikit," cibir Aira sambil mengunyah daging iganya.
Devan yang duduk di seberangnya, memperhatikan Aira makan sambil menopang dagu, cuma bisa menggeleng-gelengkan kepala. "Keasinan tapi itu suapan kelima lu dalam waktu sepuluh detik, Ra. Pelan-pelan makannya, gak ada yang mau merebut makanan lu."
"Bawel lu! Suka-suka gue lah mau makan gimana!" balas Aira ketus, lalu menyuapkan satu sendok penuh nasi dan kuah panas ke dalam mulutnya sambil terus bicara. "Lagian lu ngapain sih sok-sokan masakin gue segala? Lu pikir dengan begini gue bakal luluh sama lu? Nggak akan ya! Lu tuh tetep cowok brengsek yang udah—"
Uhuk! Uhuk! Uhuk!
Belum selesai kalimatnya meluncur, Aira tersedak. Kuah sup yang panas dan agak pedas dari sambal terperangkap di saluran pernapasan Aira. Wajah Aira seketika memerah padam, dadanya terbatuk-batuk sampai air mata keluar dari sudut matanya.
"Uhuk! A-air... uhuk!" Aira memegangi lehernya, terbatuk-batuk histeris.
"Ra! Aduh, kan udah dikasih tahu!" seru Devan panik.
Dengan gerakan refleks, Devan bangkit dari kursinya, meraih gelas berisi air putih dingin di meja, lalu berdiri di samping kursi Aira, menyodorkan gelas itu ke bibir Aira sambil tangan kirinya terulur secara otomatis menepuk-nepuk punggung Aira dengan lembut dan konstan buat meredakan sedakannya.
"Minum pelan-pelan, Ra. Tarik napas... minum dulu," bisik Devan halus, suaranya dipenuhi rasa cemas yang tulus. Tangan Devan di punggung Aira mengusap pelan, memberikan sentuhan yang familiar.
Aira meneguk air dingin itu, membiarkan cairan segar itu membasahi tenggorokannya yang panas. Batuknya perlahan mereda.
Namun, begitu kesadarannya kembali penuh... Aira menyadari posisinya.
Jarak wajah Devan cuma berjarak beberapa senti dari wajahnya. Pria itu menatapnya dengan tatapan mata yang amat sangat dalam, hangat, dan penuh rasa khawatir—tatapan Devan yang dulu selalu membuat Aira merasa jadi cewek paling berharga di dunia. Tangan Devan masih menempel erat di punggungnya, melingkari bahunya dengan sangat intim.
Sensasi tersengat listrik mendatangi seluruh tubuh Aira. Jantungnya berdetak kelewat kencang.
Enggak! Gak boleh begini! batin Aira histeris.
Aira menepis tangan Devan dari punggungnya.
Plaak!
Suara tepisan tangan Aira bergaung keras di area dapur.
"Nggak usah pegang-pegang!" sembur Aira sengit, memundurkan tubuhnya ke sandaran kursi. Matanya mendelik tajam ke arah Devan, mencoba menutup kepanikan dan degupan jantungnya yang semrawut. "Kan udah ada aturan! Jarak minimal satu meter! Nggak usah sok perhatian sama gue!"
Tangan Devan menggantung di udara. Pria itu membeku di posisi berdirinya selama beberapa detik.
Tepisan kasar itu... serta tatapan benci di mata Aira... lagi-lagi menghantam dada Devan dengan rasa sakit yang luar biasa.
Perasaan terluka melintasi matanya selama sepersekian detik. Devan merasa bagaikan monster yang bener-bener ditolak keberadaannya oleh wanita yang dicintainya.
Namun, sekali lagi Devan Argawinata adalah master dalam hal menyembunyikan luka.
Dalam hitungan detik, tatapan terluka di matanya langsung hilang. Ia menarik tangannya kembali, lalu memasang kembali topeng ejekan andalannya.
Devan terkekeh pelan, mengusap tangannya yang baru saja ditepis seolah tidak terjadi apa-apa.
"Elah, galak amat lu," ledek Devan dengan suara santai yang dipaksakan. "Gue cuma nggak mau lu mati tersedak di kondominium gue. Ntar repot urusannya sama polisi, dikira gue meracuni istri sendiri lagi."
Aira menyapu bibirnya dengan tisu, menatap Devan dengan tatapan sengit. "Gue gak bakal mati cuma gara-gara tersedak sup lu!"
"Ya bagus deh kalau gitu," Devan berbalik menuju kursinya sendiri, meraih gelas minumannya. "Lanjutin tuh makanannya. Habis ini cuci piring sendiri ya. Gue gak mau melayani cewek galak yang gak tahu terima kasih."
Aira mendengus keras, kembali menarik mangkuk supnya tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Suasana di meja makan itu berubah menjadi canggung dan tegang. Aira fokus menghabiskan makanannya dalam diam, mencoba mengabaikan detak jantungnya yang masih belum bisa tenang gara-gara sentuhan refleks Devan tadi.
Sementara Devan duduk di seberangnya, menatap ke arah luar jendela kaca besar yang menampilkan kelap-kelip lampu Jakarta. Senyuman tipis yang getir terukir di bibirnya.
Ternyata... meruntuhkan tembok kebencian yang dibangun Aira selama delapan tahun ini jauh lebih sulit daripada memenangkan negosiasi saham puluhan triliun.
Dan Devan tahu, perjalanan panjang ini bakal terus menyiksa hatinya pelan-pelan.
semangat thorr💪💪😍