NovelToon NovelToon
The Ghost Agent: Red Revenge

The Ghost Agent: Red Revenge

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mafia / CEO
Popularitas:290
Nilai: 5
Nama Author: Ghost_Writer

"Mati adalah akhir yang terlalu mudah bagi seorang pengkhianat. Aku akan memastikan kalian memohon kematian sebelum napas terakhir kalian kuhentikan."

Elikai Wijaya adalah agen elit legendaris berkode nama "Shadow" di organisasi intelijen Phantom. Tapi, kesetiaannya dibayar darah. Demi kekuasaan, paman kandungnya sendiri. seorang gembong mafia bernama Gaizka Wijaya bekerja sama dengan mentor Elikai, Jenderal Jendra, untuk membantai seluruh keluarga Elikai dan menembaknya hingga sekarat.

Dikira telah tewas, Elikai bangkit dari neraka berkat bantuan Belladona, sang hacker jenius. Dengan wajah baru hasil operasi rekonstruksi, ia menyamar menjadi Liam Jeren, seorang CEO muda yang kaya raya dan arogan.

Misi balas dendam pun dimulai. Liam sengaja mendekati Bellatrix, sepupu kandungnya sendiri yang polos, untuk dijadikan pion penghancur dinasti kriminal pamannya. Dari balik meja kerja CEO dan senapan runduknya, sang Agen Bayangan siap memburu para pengkhianat satu per satu tanpa ampun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ghost_Writer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bisikan Gelap di Ruang Kerja

Pendar hijau dan biru dari deretan monitor melengkung memotong kegelapan bunker bawah tanah pelabuhan utara. Di tengah ruangan yang sunyi, hanya terdengar desis halus dari kipas pendingin komputer dan ketukan tumit sepatu bot Liam Jeren di atas lantai semen yang dingin. Ia telah menanggalkan jas navy blue mahalnya, menyisakan kemeja hitam ketat yang mencetak jelas lekuk otot tubuhnya yang tegap, dengan lengan yang digulung kasar hingga ke siku.

Di depannya, Belladona duduk di kursi putar dengan headphone besar melingkari telinganya. Jemarinya yang kurus bergerak lincah di atas papan ketik mekanik, mengisolasi frekuensi gelombang audio yang dikirimkan oleh mikrofon sadap tersembunyi di ruang kerja Gaizka Wijaya.

"Data keylogger kemarin memberi kita akses ke jaringan surel pribadinya," Belladona memecah keheningan tanpa menoleh, matanya terpaku pada grafik audio yang berfluktuasi tajam di layar utama. "Tapi yang ini jauh lebih panas. Gaizka baru aja mengunci pintunya dari dalam lima menit lalu. Leo ada di sana, bersama satu orang lagi. Sinyal suara sangat jernih. Lu mau dengar langsung?"

Liam tidak menjawab dengan kata-kata. Ia melangkah maju, mengambil sepasang headphone nirkabel sekunder di atas meja, lalu memasangnya ke telinga.

Seketika, dengung statis berfrekuensi rendah berubah menjadi suara gesekan kertas dan denting korek api gas yang sangat familier. Suara Gaizka Wijaya mengalun dari balik pengeras suara mini, terdengar berat dan dipenuhi arogansi yang kental.

"...semua pejabat bea cukai di dermaga tiga sudah disumpal. Jendral Jendra yang mengurus jalur hijaunya dari pusat. Gak akan ada pemeriksaan kontainer untuk manifes kapal logistik besok malam," suara Gaizka terdengar menjauh sedikit, kemungkinan besar ia sedang berjalan mendekati jendela ruang kerjanya. "Leo, pastikan anak buahmu di lapangan tidak ada yang menggunakan ponsel saat pembongkaran muatan. Aku tidak mau ada jejak digital sekecil apa pun."

Liam berdiri bergeming bagai patung. Wajah barunya yang tampan dan pucat tetap datar seolah dipahat dari es, tetapi rahangnya mengeras hingga otot di sekitar pipinya menegang. Mendengar nama Jenderal Jendra bersanding dengan Gaizka dalam bisnis kotor ini memicu denyut kemarahan yang dingin di balik dadanya. Dua pria yang telah merenggut seluruh hidupnya kini sedang bersiap meraup keuntungan jutaan dolar dari bisnis berdarah lainnya.

"Bagaimana dengan muatannya, Tuan Gaizka?" kini suara Leo yang terdengar. Nadanya yang seperti rubah terdengar patuh tapi penuh selidik. "Pihak pemasok dari Eropa Timur meminta pelunasan sisa tiga puluh persen begitu kapal bersandar di Pelabuhan Utara. Senapan serbu otomatis dan amunisi kaliber lima koma lima enam itu jumlahnya cukup untuk mempersenjatai satu batalion milisi."

"Bayar mereka lewat rekening cangkang kita di Panama," Gaizka mendengus, suara tawa kecilnya yang serak terdengar begitu memuakkan di telinga Liam. "Begitu senjata-senjata itu mendarat, kita akan mendistribusikannya ke jaringan kartel di wilayah timur dalam waktu empat puluh delapan jam. Keuntungan dari transaksi ini bisa menutupi semua kerugian kita di lelang amal kemarin. Pemuda bodoh bernama Liam Jeren itu pikir dia bisa menindasku dengan uangnya, hah? Dia tidak tahu uang tiga puluh lima miliarnya tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan apa yang akan kita hasilkan besok malam."

Di balik meja kerja bunker, Belladona melirik Liam dari sudut matanya. Ia menahan napas saat melihat aura haus darah yang mendadak memancar begitu pekat dari tubuh pria di sebelahnya. Sepasang mata elang Liam menyipit tajam di balik kacamata beningnya, memancarkan kegelapan mutlak yang bisa membuat orang awam gemetar ketakutan.

"Kapal logistik 'Gorgon Star' akan merapat besok malam tepat pukul dua puluh tiga nol-nol di dermaga pemecah ombak barat, luar perimeter pelabuhan resmi," Leo melanjutkan laporannya, terdengar suara ketukan bolpoin di atas meja kayu ek. "Seluruh anak buah bersenjata kita akan bersiap di gudang nomor empat."

Gorgon Star. Dermaga pemecah ombak barat. Pukul 23.00.

Liam melepas headphone dari telinganya dengan gerakan yang sangat tenang, lalu meletakkannya kembali ke atas meja marmer tanpa menimbulkan suara. Ia berjalan mendekati deretan senjata yang tergantung di dinding belakang bunker. Jemarinya yang panjang menyusuri permukaan baja dingin sebuah senapan runduk, sebelum akhirnya berhenti pada sebuah tas taktis hitam berukuran besar yang berisi peralatan sabotase termite dan peledak C4 plastis.

"Kapal itu tidak boleh menyelesaikan pembongkaran muatannya," ucap Liam. Suara baritonnya yang berat bergema rendah di dalam ruangan sunyi, mengalun begitu dingin hingga membuat bulu kuduk Belladona meremang.

"Liam, lu mau pergi sendirian sebagai Shadow lagi?" Belladona memutar kursinya, menatap punggung tegap Liam dengan cemas. "Gaizka bakal ngerahin minimal tiga puluh personel bersenjata lengkap buat ngejaga area dermaga itu. Jalurnya sangat terbuka, gak ada tempat buat sembunyi. Itu misi bunuh diri namanya!"

Liam berbalik perlahan. Di bawah pendar lampu neon yang minim, senyum tipis yang sangat kejam tersungging di bibirnya yang pucat. Struktur wajah barunya yang tampan kini memancarkan ekspresi seorang predator yang telah mengunci mangsanya di ujung senapan.

"Siapa bilang aku akan bertarung dengan tiga puluh orang itu, Dona?" Liam melangkah mendekati meja kerja, menumpu kedua tangannya di atas meja sembari menatap tajam ke arah peta tata letak Pelabuhan Utara yang berkedip di layar monitor. "Shadow gak pernah bertarung di tempat yang diinginkan musuh. Aku akan membiarkan mereka menunggu di gudang dengan senjata kokang mereka... sementara aku menghancurkan fondasi di bawah kaki mereka."

Jemari Liam menunjuk ke arah titik koordinat tangki bahan bakar cadangan di lambung kapal Gorgon Star yang tertera pada cetak biru kapal yang berhasil diretas Belladona beberapa waktu lalu.

"Gaizka baru saja mengatakan bahwa keuntungan dari transaksi ini akan menutupi kerugiannya, kan?" Liam menegakkan punggungnya, merapikan lengan kemeja hitamnya dengan keanggunan seorang bangsawan, meskipun matanya berkilat penuh dendam yang membara. "Aku akan memastikan besok malam dia tidak hanya kehilangan keuntungannya, tapi juga kehilangan seluruh modal taruhannya. Biarkan dia merugi bandar hingga pondasi Wijaya Group mulai retak."

Belladona menatap layar komputernya, lalu kembali menatap Liam. Ia tahu, tidak ada yang bisa menghentikan hantu yang sedang menuntut pembalasan ini. Karakter Liam Jeren di siang hari mungkin bisa tersenyum ramah dan memegang cangkang teh bersama Bellatrix, namun malam ini, bisikan gelap dari ruang kerja Gaizka telah membangunkan sang monster bayangan sepenuhnya.

"Siapkan jalur pelarian air untukku besok malam, Dona," perintah Liam sembari mengambil tas taktis hitamnya. "Permainan catur ini... sudah waktunya memakan pion pertama musuh."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!