Pengantin Pengganti Untuk Mafia.
Laura dijebak saat dia berniat bekerja sebagai seorang Nanny di sebuah mansion besar McManaman, Irlandia. Ia justru dijadikan pengantin untuk menggantikan putri berharga sekaligus pewaris McManaman dan menikahkan Laura dengan seorang Killian Marcano demi keuntungan sekaligus menjadi jembatan perdamaian antara dua keluarga mafia Irlandia dan New York.
Tekanan, ancaman, darah dan nyawa menjadi taruhan bagi Laura sehingga dia terjebak dalam lingkaran Sindycat. Dan berniat meracuni Killian Marcano di malam pertama mereka.
°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°
Mohon Dukungannya ✧◝(⁰▿⁰)◜✧
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Four, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
OTM — BAB 17
KAMAR MISTERIUS
Keesokan harinya, cahaya matahari pagi menyinari halaman luas kediaman Marcano, namun kehangatannya tak mampu menembus dingin yang menyelimuti hati Laura. Ia melangkah keluar dari pintu samping, menghirup napas panjang yang tetap terasa sesak di dada. Halaman itu terbentang luas, bersih, dan tertata rapi — beberapa mobil mewah berjejer rapi bagai penjaga diam, dan di beberapa sudut, sosok-sosok tegap berdiri tak bergerak, mata mereka mengawasi setiap jengkal tanah yang ada.
Laura berjalan perlahan, pandangannya menyapu sekeliling, mencari celah, jalan keluar, atau sekadar tanda yang memberinya harapan. Namun setiap sisi tertutup rapat, setiap gerbang dijaga ketat. Ia baru saja melangkah memutar arah ketika suara lembut namun penuh kepahitan terdengar dari dekat.
"Selamat pagi."
Laura menoleh. Di sana, berdiri Zoey, rambut oranyenya bersinar terang di bawah sinar matahari, tergelung rapi, senyum tipis menyungging di bibirnya — senyum yang tak pernah sampai ke matanya. Laura menatapnya penuh curiga, hanya mengangguk pelan tanpa menyunggingkan senyum sedikit pun.
Zoey melangkah mendekat, kedua tangannya terlipat di depan perut. "Kau tidak akan menemukan jalan keluar, Laura. Gerbang ini dijaga lebih ketat daripada penjara mana pun. Tak ada yang boleh keluar tanpa izin, apalagi kau."
Laura menegakkan punggungnya, berusaha tampil tenang meski jantungnya berdegup kencang. "Aku hanya melihat-lihat. Udara pagi di sini cukup segar."
"Benarkah?" Zoey menyeringai kecil. "Jangan berharap terlalu tinggi. Dinding-dinding ini tebal, dan mereka yang menjaganya tidak akan ragu sedikit pun."
Laura menunduk sejenak, lalu mendongak menatap wanita itu tenang.
"Halaman belakang terlihat luas. Entah apa yang tersembunyi di balik semak-semak itu. Mungkin tanah kuburan rahasia. Siapa yang tahu berapa banyak mayat yang tertimbun di sana."
Wajah Zoey tetap tenang, tak terkejut sedikit pun. "Jangan khawatir. Mayat-mayat itu selalu dibakar hingga tak menyisakan apa pun. Halaman ini tetap bersih, rapi, dan indah. Tidak ada jejak yang tertinggal." Ia melangkah pergi menuju salah satu mobil mewah yang baru saja tiba, lalu menoleh sejenak. "Nikmati harimu, Nyonya Marcano."
Mobil itu melaju perlahan meninggalkan halaman depan. Laura berdiri diam sesaat, lalu berbalik melangkah kembali ke dalam bangunan yang terasa semakin dingin dan sempit.
Di lorong utama, ia berpapasan dengan Melly.
Pelayan itu berhenti sejenak, memberi hormat dengan kepala tertunduk, namun saat melewati Laura, tatapannya melirik sinis, penuh penghinaan yang tak disembunyikan. Laura mengabaikannya, terus melangkah tanpa menoleh, tak ingin membiarkan pandangan orang lain menguasai dirinya.
Langkah kakinya membawanya ke sayap lain bangunan, bagian yang jarang ia lewati. Di ujung lorong yang agak sepi, berdiri sebuah pintu kayu tua yang tinggi, terlihat berbeda dari ruangan lain — ukirannya sederhana, catnya mulai memudar, dan tak ada satu pun penjaga yang berdiri di dekatnya.
Laura mengerutkan kening, rasa ingin tahu mengalahkan rasa takutnya. Ia melangkah mendekat, namun belum sempat menyentuh gagang pintu, suara pelan terdengar dari belakangnya.
"Maaf, Nyonya. Tidak ada yang boleh ke sana."
Laura berbalik, melihat seorang pelayan berdiri di belakangnya dengan wajah cemas. "Kenapa? Ruangan apa itu?"
"Itu ruangan pribadi Tuan Vincenzo. Bahkan anggota keluarga lain tidak diperbolehkan masuk ke sana." Pelayan itu menunduk sedikit. "Bahkan Tuan Killian sendiri tidak pernah memasukinya. Sejak dulu, hanya Tuan Vincenzo yang tahu apa yang ada di dalamnya."
Laura mengangguk pelan, menyembunyikan rasa penasaran yang semakin memuncak. "Aku hanya tersesat. Terima kasih sudah memberitahuku."
Ia berjalan pergi bersama pelayan itu, namun saat wanita itu berbelok ke arah dapur, Laura berhenti sejenak, lalu berbalik perlahan kembali ke lorong yang sepi itu.
Ia mendekati jendela di samping pintu tua itu — gordennya sedikit terbuka, menyisakan celah kecil. Dari balik kaca, ia melihat sekilas: rak-rak kayu yang penuh dengan buku-buku tua, perabotan sederhana yang sudah usang, dan di dinding tergantung sebuah bingkai foto yang terpotong — hanya separuh wajah seorang wanita yang tersenyum samar, separuh lainnya tertutup bayangan.
Laura menatapnya sejenak, lalu menarik napas panjang dan melangkah pergi. Ia tak berhak mengintip rahasia itu.
.
.
.
Menjelang malam, ruang makan besar diterangi cahaya lembut yang menciptakan bayangan panjang di dinding. Laura duduk di tempatnya, diam, menunduk perlahan menikmati hidangan tanpa selera.
Di seberangnya, Muchus terus menatapnya tajam, seakan ingin menembus pikirannya, sementara Zoey di sampingnya sesekali tersenyum tipis — senyum yang membuat bulu kuduk berdiri.
Vincenzo bangkit dari kursinya, menatap Sandra di sebelahnya. "Sandra, ikut aku. Ada hal yang ingin kubicarakan."
"Ya, aku mengerti." Sandra segera berdiri dan mengikutinya keluar ruangan.
Keheningan kembali menyelimuti meja makan. Laura menunduk lebih dalam, tak berani menatap siapa pun. Namun tatapan Muchus dan Zoey terasa begitu berat, seakan menempel di kulitnya. Ia segera meletakkan sendok, berdiri perlahan.
"Maaf, aku sudah kenyang. Permisi."
Zoey menatap punggung Laura yang menjauh hingga menghilang di balik pintu. Muchus menyeringai kecil.
"Kau melihatnya?" ucapnya pelan. "Menatapnya seperti melihat musuh."
"Dia memang musuh," jawab Zoey datar. Ia menoleh ke arah suaminya. "Dan kau? Kau menatapnya seperti pemangsa yang haus darah, Muchus."
Muchus tertawa kecil, suara yang dingin dan tanpa kegembiraan. "Siapa yang tahu apa yang tersembunyi di balik wajah polosnya itu."
“Atau maksud terselubung.” ujar Zoey yang sudah mengenal suami bajingan nya itu.
Keduanya terdiam, masing-masing tenggelam dalam pikiran kelam mereka sendiri, seakan telah menyusun rencana yang tak akan menyisakan belas kasihan.
Di dalam kamar, Laura menyandarkan punggungnya di balik pintu yang tertutup rapat.
“Astaga... Aku benar-benar merasa tidak nyaman. Di mana pria itu pergi? Bagaimana aku bisa menghubungi McManaman?” gumamnya bingung.
Jantungnya berdegup kencang, napasnya tak tenang meski ia telah berusaha menariknya perlahan.
Sesuatu terasa salah — jauh lebih salah dari sebelumnya. Tatapan mereka, ruangan tertutup itu, foto wanita yang separuh terlihat, dan keheningan yang mencekam... Semuanya menyatu menjadi firasat buruk yang tak bisa ia singkirkan.
"Aku harus bertahan..." bisiknya pelan, memeluk dirinya sendiri. "Hanya bertahan. Segalanya akan baik-baik saja."
Namun kata-kata itu terasa kosong, bahkan di telinganya sendiri. Di luar jendela, angin malam menderu pelan, seakan membawa kabar bahwa badai yang sesungguhnya baru saja mulai.