Pertemuan tak sengaja di sebuah klub malam antara seorang konglomerat dingin dan gadis malang yang terikat kontrak terlarang, memicu badai asmara, rahasia tersembunyi, serta ujian restu keluarga yang mengancam hubungan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon daisysy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Introgasi Sang Mami
Suara dering telepon satelit di meja kerja pribadi lantai paling atas menembus keheningan ruang kerja Victor Thorne dengan nada yang tajam, dingin, dan mendesak. Victor, yang baru saja kembali dari penthouse di tengah hutan bersama Freya, berdiri tegak di balik meja kerja marmer hitamnya di Amsterdam. Layar ponsel menampilkan nama yang sudah sangat ia kenali dan hindari sejak beberapa minggu terakhir: Valen Thorne.
Udara di dalam ruangan itu mendadak terasa berat, seolah oksigen ditarik keluar secara perlahan. Victor menarik napas dalam-dalam, menatap layar yang berkedip-kedip itu dengan rahang yang mengetat. Ia tahu hari ini cepat atau lambat pasti akan tiba. Pertahanan informasi yang dibangun oleh Markus, asisten pribadinya, tidak akan mampu menahan badai investigasi dari matriark keluarga Thorne selamanya.
Dengan gerakan tenang namun penuh kewaspadaan, Victor menekan tombol jawab dan mendekatkan ponsel itu ke telinganya.
"Victor," suara Nyonya Valen langsung menggelegar tanpa ada salam pembuka atau basa-basi khas keluarga terhormat. Nada bicara wanita paruh baya itu terdengar tenang, namun menyimpan kekuatan destruktif yang mampu meruntuhkan korporasi dalam hitungan detik.
"Aku harap kau punya waktu luang untuk berbicara denganku sekarang. Atau lebih tepatnya, kau harus meluangkan waktu."
"Ada apa, Mami?" jawab Victor dengan suara datar, berusaha menyembunyikan ketegangan yang mulai merayap di dadanya.
"Datanglah ke kediaman utama dalam waktu satu jam," perintah Nyonya Valen mutlak. "Jangan mencoba mengelak dengan alasan rapat atau urusan bisnis di Rotterdam. Ini jauh lebih penting daripada saham perusahaan mana pun yang sedang Kau urus ."
Sambungan langsung terputus begitu saja. Tidak ada kesempatan bagi Victor untuk membantah atau sekadar menanyakan alasan di balik panggilan mendadak tersebut. Victor meletakkan ponselnya kembali ke atas meja, sementara tangannya mengepal erat hingga buku-buku jarinya memutih. Ia tahu persis ke arah mana pembicaraan ini akan bermuara.
Jarak dari kantor pusat Thorne Enterprises ke kediaman utama keluarga Thorne di kawasan elit Amsterdam ditempuh Victor dalam waktu kurang dari tiga puluh menit dengan mobil sedan sport mewahnya. Selama perjalanan, pikirannya berputar cepat. Ia memikirkan Freya yang ditinggalkan sendirian di penthouse hutan, serta kemungkinan-kemungkinan terburuk atas apa yang telah ditemukan oleh mata-mata ibunya.
Ketika mobilnya berhenti di pelataran halaman utama yang luas, dikelilingi oleh pilar-pilar batu marmer putih bergaya klasik Eropa, pelayan pribadi langsung membukakan pintu. Victor melangkah masuk dengan postur tubuh tegap, wajah dingin tanpa ekspresi yang selama ini menjadi pelindung utamanya di hadapan dunia luar.
Ia berjalan menyusuri koridor panjang yang dihiasi lukisan-lukisan minyak klasik keluarga besar Thorne dari generasi ke generasi. Setibanya di ruang teh pribadi—sebuah ruangan semi-terbuka yang menghadap langsung ke taman bunga mawar putih—ia mendapati Nyonya Valen duduk tegak di kursi beludru hijau tua. Di samping wanita itu, berdiri Annelise dengan mata menyipit tajam, memancarkan kemenangan kecil yang sengaja ditunjukkan lewat senyuman tipis di bibirnya.
Victor melangkah masuk, lalu berdiri beberapa meter di hadapan ibunya tanpa berniat duduk terlebih dahulu.
"Kau memanggilku, Mami?" ucap Victor, memecah keheningan yang mencekam.
Nyonya Valen perlahan meletakkan cangkir porselen berisi teh hitam ke atas piring kecilnya. Dentingan halus porselen itu terdengar begitu nyaring di telinga. Wanita paruh baya itu mengangkat wajahnya, menatap lurus ke arah mata putranya dengan tatapan tajam setajam belati yang diwariskan dari garis keturunan bangsawan mereka.
"Duduklah, Victor," kata Nyonya Valen dengan suara rendah namun penuh wibawa. "Kita tidak sedang berada di ruang rapat dewan direksi, jadi singkirkan ekspresi profesionalmu itu. Di hadapanku, kau tetaplah anak laki-laki yang harus mempertanggungjawabkan setiap tindakan yang kauambil."
Victor akhirnya menarik kursi di hadapan ibunya dan duduk dengan tenang. "Katakan langsung apa yang ingin Mami bicarakan. Waktuku di kantor cukup padat hari ini."
"Padat?" Annelise menyela sebelum Nyonya Valen sempat berbicara.
Nada suara wanita berdarah Belanda itu terdengar bergetar menahan amarah yang meluap-luap. "Kau sebut bolak-balik ke pondok terpencil di tengah hutan untuk menemui wanita murahan sebagai jadwal padat, Victor?! Jangan membuat dirimu terlihat semakin bodoh di hadapan kami!"
Victor menoleh tajam ke arah Annelise. Tatapan matanya yang dingin seketika membuat wanita itu sedikit menelan ludah, mundur setengah langkah karena terintimidasi oleh aura kemarahan yang terpancar dari diri Victor.
"Jaga mulutmu, Annelise," ucap Victor dengan penekanan di setiap suku kata, suaranya bergeming namun mematikan. "Kau tidak punya hak untuk datang ke sini dan ikut campur dalam urusan pribadiku."
"Cukup!" Nyonya Valen membentak pelan, mengangkat tangan kanannya untuk menghentikan ketegangan di antara mereka berdua.
Pandangannya kembali tertuju penuh kepada putranya. "Annelise memang bukan siapa-siapa secara hukum saat ini, tetapi ia adalah wanita pilihan keluarga ini untuk menjadi pendamping hidupmu. Dan apa yang telah kauperbuat di belakang kami, Victor? Itu bukan sekadar urusan pribadi. Itu adalah sebuah skandal besar yang melibatkan nama besar keluarga Thorne!"
Victor tidak bergeming. Ia tetap mempertahankan ekspresi datarnya, meskipun jantungnya mulai berdetak lebih kencang. "Skandal apa yang Mami maksud?"
Nyonya Valen meraih sebuah berkas dokumen tebal dari atas meja di sampingnya, lalu melemparkannya tepat ke hadapan Victor. Kertas-kertas itu berserakan di atas meja marmer. Victor melirik sekilas ke arah dokumen tersebut: laporan transaksi perbankan internasional, cetak biru transfer dana, serta rekam medis rahasia.
"Empat puluh lima ribu Euro," ucap Nyonya Valen dingin, menyebutkan angka yang sangat spesifik. "Itu adalah jumlah total biaya rumah sakit dan perawatan intensif yang dikirimkan secara berkala dari rekening pribadi milikmu dalam sebulan terakhir ke sebuah rumah sakit swasta di pinggiran kota. Atas nama siapa aliran dana itu, Victor? Atas nama Martha Zivanka."
Suasana di ruangan itu mendadak sunyi senyap. Angin sore yang bertiup melalui jendela taman yang terbuka menerbangkan ujung tirai sutra, namun tidak mampu mencairkan kebekuan di antara ketiganya.
Victor terdiam sejenak. Ia tahu Markus telah gagal menjaga kerahasiaan ini, atau jaringan detektif keluarga Thorne memang jauh lebih mengerikan dari perkiraannya. Namun, alih-alih merasa panik, Victor justru merasakan gelombang ketenangan yang aneh. Rahasia itu pada akhirnya harus terbongkar, dan ia siap menghadapi konsekuensinya.
"Ya," jawab Victor akhirnya tanpa sedikit pun rasa gentar di suaranya.
"Aku yang membayarnya. Ada masalah dengan hal itu?"
Jawaban santai dan tanpa rasa bersalah dari Victor membuat Annelise terpekik kecil karena tidak percaya, sementara dada Nyonya Valen naik turun menahan amarah yang selama ini berhasil ia kendalikan.
"Ada masalah?!" suara Nyonya Valen meninggi, mencerminkan kemurkaan seorang matriark yang merasa kendalinya atas sang anak mulai runtuh. "Kau bertanya apakah ada masalah, Victor?! Kau menghabiskan puluhan ribu Euro dari rekening keluarga untuk membiayai pengobatan seorang wanita tua antah-berantah, ibu dari seorang gadis pelacur klub malam, sementara tunanganmu sendiri bahkan belum pernah kauhadiahi sekadar senyuman tulus saat makan malam bersama!"
"Jaga ucapan Mami," potong Victor dengan suara yang berubah dingin dan berbahaya, rahangnya mengetat. "Jangan pernah menyebut Freya dengan sebutan seperti itu di hadapanku."
"Oh, jadi namanya Freya!" Annelise maju ke depan, wajahnya memerah karena cemburu dan harga diri yang diinjak-injak. "Jadi benar apa kata detektif itu! Kau menyembunyikan seorang gadis murahan di penthouse hutanmu, menjadikannya wanita simpanan, dan menghujaminya dengan fasilitas mewah sementara kau memperlakukan aku seperti orang asing?! Di mana letak akal sehatmu, Victor?!"
Victor sama sekali tidak melirik ke arah Annelise. Fokus matanya tetap terkunci pada ibunya, wanita yang telah membesarkannya dengan aturan-aturan besi dan ambisi kekuasaan tanpa batas.
"Victor Thorne," Nyonya Valen memanggil nama lengkap putranya dengan nada suara yang kembali merendah, namun justru jauh lebih mengintimidasi daripada bentakan. "Jelaskan padaku sekarang juga. Apa hubunganmu sebenarnya dengan gadis bernama Freya Zivanka itu? Dan alasan apa yang membuatmu bersedia mengeluarkan uang sebanyak itu untuk keluarganya?"
Ruangan teh yang luas itu mendadak terasa semakin menyempit. Victor menarik napas panjang, menyandarkan punggungnya ke kursi dengan postur yang tetap santai namun penuh kewaspadaan. Ia tahu, berbohong kepada Nyonya Valen adalah tindakan paling bodoh yang bisa ia lakukan. Ibunya memiliki cara sendiri untuk membuktikan setiap kebohongan, dan jika ia mencoba menutupi identitas atau asal-usul Freya, dampaknya justru akan jauh lebih berbahaya bagi keselamatan wanita yang dicintainya itu.
"Aku mengenalnya di sebuah tempat di pusat kota beberapa minggu yang lalu," Victor mulai berbicara, suaranya tenang, terukur, dan tanpa keraguan sedikit pun. "Saat itu, ia berada di tempat dan waktu yang salah. Aku melindunginya dari situasi yang tidak diinginkan, dan dari situlah semuanya bermula."
"Melindunginya?" Annelise tertawa sinis, matanya melotot penuh kebencian. "Dengan cara membawanya ke tempat peristirahatan rahasiamu, menyewakannya kehidupan mewah, dan membayar seluruh utang keluarganya? Itu bukan perlindungan, Victor! Itu adalah bentuk kebodohan seorang pria yang tersihir oleh kecantikan murahan seorang gadis jalanan!"
"Cukup, Annelise," bentak Nyonya Valen singkat kepada calon menantunya itu, meskipun sorot matanya sendiri menyetujui kemarahan sang wanita. Nyonya Valen kembali menatap Victor dengan tajam. "Jadi, semua ini berawal dari rasa kasihan? Atau sekadar pelarian sesaat dari perjodohan yang kupersiapkan untukmu?"
"Bukan rasa kasihan, Mami," jawab Victor tegas, menatap lurus mata ibunya tanpa berkedip. "Dan bukan pula pelarian semata. Hubungan kami... berkembang menjadi sesuatu yang jauh lebih berarti daripada apa yang Mami dan Annelise bayangkan."
Mendengar pengakuan jujur tersebut, Annelise langsung menutup mulutnya dengan tangan, napasnya tersengat oleh rasa marah yang luar biasa. "Kau... kau sudah gila, Victor! Kau bilang itu berarti? Dia hanya wanita biasa yang tidak memiliki latar belakang keluarga, tidak memiliki harta, bahkan keluarganya terlilit utang! Bagaimana mungkin seorang CEO Thorne Enterprises merendahkan diri—”
"Cukup, Annelise!" Victor akhirnya membentak wanita itu dengan suara menggelegar yang langsung memadamkan sisa-sisa kalimat di bibir Annelise. Ruangan itu mendadak hening total. Victor berdiri dari kursinya, menatap tajam ke arah wanita yang dipersiapkan menjadi istrinya itu. "Aku tidak pernah meminta perjodohan ini. Aku tidak pernah mencintai Annelise, dan sampai kapan pun, aku tidak akan pernah menikahinya. Jika Mami memanggilku ke sini hanya untuk membahas siapa wanita yang berada di sisiku, maka perbincangan ini sudah selesai."
Victor berbalik, berniat melangkah meninggalkan ruangan tersebut. Namun, suara Nyonya Valen yang dingin dan penuh ancaman menghentikan langkah kakinya di ambang pintu.
"Jika kau melangkah keluar dari ruangan ini sekarang juga, Victor, dan tetap meneruskan hubungan terlarang itu..." Nyonya Valen berujar pelan namun tajam bagai silet, "...maka bersiaplah menyaksikan bagaimana seluruh fasilitas medis untuk ibu gadis itu dihentikan dalam waktu kurang dari satu jam. Dan adik laki-lakinya, Steven Zivanka, akan dikeluarkan dari universitas dengan catatan terburuk yang pernah ada."
Victor menghentikan langkahnya. Seluruh otot di tubuhnya mendadak mengeras. Ia berbalik perlahan, menatap ibunya dengan sorot mata yang belum pernah dilihat oleh siapapun sebelumnya—sorot mata penuh kemusnahan dan ancaman nyata.
"Mami tidak akan berani melakukan itu," suara Victor terdengar berbisik, sangat pelan namun bergetar oleh amarah yang tertahan di ambang batas ledakan.
"Cobalah untuk melangkah keluar, Victor, dan buktikan sendiri apakah aku berani atau tidak," tantang Nyonya Valen tanpa rasa takut sedikit pun, mengangkat dagunya tinggi-tinggi. Sebagai wanita yang memimpin keluarga Thorne selama puluhan tahun, ia tidak pernah menggertak dalam urusan bisnis maupun keluarga.
Victor berdiri mematung di tempatnya. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, sang konglomerat yang selalu memegang kendali atas segala hal di dunia bisnis kini berada di ujung tanduk, terjepit di antara kewajiban keluarga dan wanita yang telah merebut hatinya.