Ares Sudibyo, pewaris keluarga kaya, tidak pernah percaya pada perempuan. Sejak ibunya meninggalkan ayahnya demi pria yang lebih kaya, ditambah pengkhianatan yang dialami pamannya dan dirinya sendiri, Ares memilih menjauh dari pernikahan.
Namun, pertemuannya dengan Alisha Prameswari secara tidak sengaja mengubah sesuatu dalam dirinya. Aroma tubuh Alisha justru membuatnya penasaran karena tubuhnya sama sekali tidak menunjukkan penolakan, sensasi yang tak pernah ia rasakan dari perempuan lain.
Ketika mengetahui Alisha membutuhkan biaya pengobatan untuk adiknya, Ares menawarkan sebuah kontrak: menanggung seluruh biaya pengobatan, dengan syarat Alisha bersedia memenuhi kebutuhan biologisnya. Setiap kali bersama Ares, Alisha harus menutup mata, sebuah aturan yang tak pernah dijelaskan.
Ares yakin hubungan mereka hanya sebatas kesepakatan. Namun ketika ketergantungan mulai tumbuh, sanggupkah ia melepaskan Alisha yang memilih mengakhiri kontrak dan mencari pendamping baru dalam hidupnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35. Boleh Aku Buka?
Dimas akhirnya mendapatkan alamat rumah Alisha.
Tanpa banyak berpikir, Arga memutuskan datang sendiri.
Sebuah parcel buah terletak di kursi belakang mobil. Setibanya di depan rumah yang dituju, Arga mematikan mesin lalu merapikan kerah kemeja dan jasnya. Ia bahkan sempat memeriksa rambutnya melalui kaca spion sebelum turun.
Rumah itu sederhana.
Tidak besar, tetapi tampak terawat. Halamannya cukup luas dengan beberapa pohon mangga dan jambu yang tumbuh di bagian depan.
Arga berjalan memasuki pekarangan rumah hingga akhirnya berhenti di depan pintu yang tertutup rapat. Tangannya terangkat, lalu mengetuk.
Tok. Tok.
Tidak ada jawaban.
Ia menunggu beberapa saat sebelum mengetuk lagi.
Tok. Tok.
“Jangan-jangan sakitnya parah sampai gak bisa bangun?”
Arga hendak mengetuk untuk ketiga kalinya ketika sebuah suara membuatnya menoleh.
“Cari siapa, Pak?”
Seorang wanita paruh baya berdiri di depan pagar rumah sebelah.
Arga segera memasang senyum sopan. “Cari Alisha, Bu.”
“Oh, Alisha belum pulang," ujar perempuan itu.
Arga sedikit mengernyit. “Belum pulang? Saya dengar dia lagi sakit.”
Wanita itu tampak heran. “Sakit? Saya malah gak tau.”
“Benarkah?”
“Iya," jawab ibu-ibu itu. "Kalo Alisha pulang, biasanya saya tau.”
Arga melirik kembali ke rumah di hadapannya. “Biasanya dia pulang jam berapa, Bu?”
“Biasanya pulang sebentar sebelum Magrib. Setelah itu sering langsung ke rumah sakit.”
“Setiap hari?” tanya Arga.
Wanita itu mengangguk. “Hampir setiap hari. Bahkan hari libur pun jarang ada di rumah.”
Arga terdiam. Ia menatap halaman rumah Alisha lagi.
Rumputnya terpotong rapi. Daun-daun yang jatuh di sekitar pohon juga tidak menumpuk.
“Kalau begitu, siapa yang membersihkan rumah ini?”
“Oh, itu.” Perempuan tersebut tersenyum kecil. “Akhir-akhir ini Alisha minta orang datang buat bersih-bersih.”
Arga menoleh. “Padahal dia jarang pulang?”
“Iya. Katanya biar rumahnya tetap terawat meskipun sering kosong.”
“Begitu rupanya.” Arga kembali memandang rumah itu.
Kemarin ia melihat Alisha sebagai perempuan sederhana yang bekerja seperti kebanyakan orang.
Namun dari cerita wanita ini, kehidupan Alisha tampaknya jauh lebih rumit daripada yang terlihat.
“Kalo begitu, saya tunggu aja sampai dia pulang,” ujar Arga.
“Wah, kalo soal itu saya juga gak tau kapan. Soalnya kadang malah gak pulang.”
Arga mengangguk. “Nggak apa-apa, Bu. Saya sebenarnya cuma mau njenguk aja karena denger dia lagi sakit.”
“Oh. Mungkin sekarang dia di rumah sakit. Alisha memang lebih sering di sana daripada di rumah.”
Arga tersenyum tipis. “Terima kasih, Bu.”
“Sama-sama.”
Arga kembali ke mobil. Sebelum masuk, ia sempat menoleh sekali lagi ke rumah sederhana itu. Parcel buah yang dibawanya masih berada di tangannya.
Ternyata ia datang terlalu cepat. Atau mungkin memang belum waktunya bertemu Alisha.
Arga meletakkan parcel itu di kursi sebelahnya, lalu menyalakan mesin. Namun sepanjang mobil meninggalkan lingkungan tersebut, satu hal yang terus mengganggu pikirannya.
Alisha hampir setiap hari ke rumah sakit. Dan entah kenapa, semakin sedikit yang ia tahu tentang perempuan itu, semakin besar rasa penasarannya.
Sementara Arga pergi dengan membawa lebih banyak pertanyaan daripada ketika ia datang, rumah sederhana itu kembali tampak sepi.
Tanpa mengetahui bahwa pemiliknya malam ini tidak akan pulang ke sana.
Ia sedang berada di rumah seorang pria yang sama sekali tidak ingin Arga mendekatinya.
***
Di tempat lain, Ares justru bersiap pulang lima menit sebelum jam kerja berakhir.
Hal yang hampir tidak pernah dilakukannya.
Reki yang melihat Ares sudah mengenakan jas hanya bisa mengangkat alis. Beberapa staf bahkan sempat saling pandang. Biasanya, Ares adalah orang terakhir yang meninggalkan kantor. Pulang lebih cepat dari staf seperti itu jelas bukan kebiasaannya.
Ares tidak memedulikan tatapan mereka.
Begitu tiba di rumah, langkahnya langsung menuju kamar yang kini ia bagi bersama Alisha.
Dari dalam kamar, Alisha yang sedang duduk di tepi ranjang mengenali suara langkah itu bahkan sebelum pria tersebut sampai di depan pintu. Refleks, tangannya segera mengambil penutup mata dan memasangnya.
Tok. Tok.
“Masuk.”
Pintu terbuka sedikit. Ares mengintip dari celah pintu, memastikan mata Alisha benar-benar sudah tertutup sebelum membuka pintu lebih lebar.
Tanpa mereka sadari, keduanya sama-sama merasa lega melihat satu sama lain.
“Kamu pulang lebih cepat,” ujar Alisha.
Ares menutup pintu lalu melepaskan jasnya. “Bukannya kamu bilang bosan?”
“Aku gak bilang minta ditemenin.”
“Ya, aku yang bilang mau nemenin. Karena kamu bilang bosan.”
Alisha terdiam sesaat. Sudut bibirnya terangkat tipis.
Ares baru hendak menggantung jas ketika pandangannya tertumbuk pada sesuatu di wajah Alisha.
Keningnya langsung berkerut. “Pelipismu kenapa?”
Alisha refleks menyentuh sisi kepalanya. “Oh, ini?”
Ares sudah lebih dulu mendekat. Jemarinya menyentuh bagian yang memar dengan sangat hati-hati. “Kenapa?”
“Aku tadi belajar ke kamar mandi sendiri dengan mata tertutup.” Alisha meringis kecil. “Tapi malah kepentok kusen.”
Ares menatapnya beberapa detik. “Aku udah bilang, kalo kamu butuh sesuatu saat bersamaku, kamu bisa minta aku.”
“Aku gak mau ngerepotin kamu tiap malem cuma buat nganter aku ke kamar mandi.”
“Aku tetap bangun kalo kamu bangun.”
“Tapi kamu tidur.”
“Dan aku bakal tidur lagi habis nganter kamu.”
Nada Ares datar, seolah perkara itu sama sekali bukan masalah.
Alisha menghela napas. “Aku cuma gak enak ganggu terus tiap malam.”
Ares tidak menjawab. Ia justru kembali memerhatikan memar di pelipisnya. “Jangan biasain jalan dengan mata tertutup kayak gini.”
“Terus aku harus gimana?”
“Panggil aku.”
Alisha mengerucutkan bibir, tetapi sebelum sempat membantah, Ares sudah mengusap pelipisnya perlahan dengan ujung jari.
“Apaan?” Alisha bertanya heran.
“Dulu kalo benjol, aku biasa mengusapnya pelan.” Ares melakukan gerakan kecil dan hati-hati di sekitar memar itu. “Biar gak terlalu sakit. Biasanya cepat ilang.”
Alisha diam. Sentuhan itu sederhana, bahkan mungkin tidak berarti apa-apa bagi Ares. Namun bagi Alisha, perhatian kecil seperti itu terasa berbeda.
“Masih sakit?” tanya Ares.
“Dikit.”
Ares kembali mengusapnya perlahan. “Lain kali panggil aku.”
Alisha tersenyum kecil di balik penutup matanya. “Iya.”
Ares tidak menyadari bahwa dirinya juga tersenyum tipis.
"Ares," panggil Alisha ragu.
"Hm?"
Tangan Alisha terangkat memegang lengan Ares. "Penutup mataku... Boleh aku buka?"
Gerakan Ares yang mengusap memar di pelipis Alisha langsung berhenti.
...✨“Rasa penasaran membuat seseorang ingin mendekat, tetapi perhatian membuat seseorang ingin tetap tinggal. Dan tanpa disadari, keduanya bisa membawa seseorang pada perasaan yang tak lagi bisa dianggap sekadar kebetulan.”✨...
.
To be continued
Ares tidak kuat melangkah, pandangannya berkunang-kunang. Keinginannya menghajar pria itu tak kesampaian.
Reki menolong Alisha dengan mengambil taplak meja di dekatnya. Tidak peduli apa yang ada di atas meja itu berjatuhan. Berantakan.
Reki segera membentangkan taplak untuk menutupi tubuh Alisha. Reki berusaha menyelamatkan Alisha dari tatapan orang-orang.
Amarah Alisha sedikit mereda saat menyadari Reki sedang berusaha melindunginya dari tatapan orang-orang.
Reki berbalik menghadap pria yang menghina Alisha dan menatap tajam, pria itu keder tentunya.
Masih juga mengeluarkan kata-kata yang sangat menghina Alisha.
Kapuoook kau pria hidung belang, tamparan dari tangan Alisha mendarat dengan keras di pipinya.
Malu juga tuh pria, dilihat para tamu yang berada di sekitar mereka.
Alisha tidak terima dihina sedemikian rupa. Pria itu pun nggak terima ditampar pipinya, padahal jelas kalimatnya penuh hinaan, pelecehan juga tuh.
Alisha nggak takut sedikitpun sama pria yang nggak tahu diri itu. Dia lawan pria itu .
Alisha dan Ares sama-sama saling mengkhawatirkan kondisi mereka.
Alisha mengkuatirkan Ares yang terlihat sakit, Ares juga mengkuatirkan keadaan Alisha yang pasti malu dengan gaun basah tampak garis tubuhnya.
Reki berjalan menuju Alisha. Ares hanya bisa memandang Alisha.
Arga kecewa tidak sesuai yang diharapkan. Ares tidak menghampiri Alisha sendiri, tapi menyuruh Reki untuk melindungi.
Arga melihat kondisi Ares yang tampak buruk, namun perhatiannya tetap tertuju kepada Alisha.
Semangat Kak Nana... Up Bab Barunya ya, Kak... Ceritanya makin seru Kak 😁😁😁🙏
Semangat Kak Nana... Up Bab Barunya ya, Kak 🙏🙏🙏
Merasa dirinya nggak apa-apa, Ares menolak untuk duduk. Dia mencoba melangkah, tapi kepalanya berdenyut.
Ares terlalu memaksakan diri dengan kondisi yang parah begitu.
Akhirnya Reki yang akan menjemput Alisha.
Alisha seperti tak tega melihat Ares dalam kondisi seperti itu. Ingin menghampiri Ares.
Naas bagi Alisha yang belum sempat melangkah, seorang pelayan yang mau jatuh menumpahkan minuman merah tepat ke bagian depan gaun Alisha.
Gaun Alisha yang basah melekat pada kulit, terlihat jelas garis tubuhnya. Alisha merasa malu dan tidak nyaman dilihat beberapa pria di dekatnya.
Dasar Arga playboy cap kadal buntung, itu idenya. Ia ingin melihat reaksi Ares ketika melihat Alisha menjadi pusat perhatian.
Ares mengalami siksaan di seluruh tubuhnya seperti yang sudah-sudah kalau mencium aroma parfum dari seorang perempuan.
Reki menyuruh perempuan itu untuk menjaga jarak. Dia jelaskan pada perempuan itu kenapa harus menjaga jarak.
Ares yang alergi perempuan jadi bahan bisik-bisik dari beberapa tamu.
Ares berpapasan dengan Alisha tidak melirik sedikitpun. Seolah tidak mengenal Alisha.
Sama-sama mengenalinya, namun tak ada tegur sapa.
Reki tahu Tuannya cemburu.
Reki melihat tatapan Alisha yang terluka ketika Ares melewatinya begitu saja.
Arga sudah merencanakan sesuatu bersama seseorang.
Alisha yang lugu jangan bodoh ya. Waspada terhadap Arga yang licik.
Arga sengaja bikin panas nih, mengajak Alisha ke arah jalur yang berlawanan dengan arah kedatangan Ares.
Alisha mengenali suara langkah kaki yang tertangkap di pendengarannya. Suara langkah itu begitu dia hafal.
Alisha belum pernah melihat wajah suaminya secara langsung. Namun dia yakin, pemilik langkah yang sudah familiar terdengar baginya itu - suaminya.
Arga merencanakan apa nih.
Pusing mikirin Alisha yang kemungkinan besar berdiri berdampingan dengan Arga di acara gala.
Salahnya sendiri belum mau buka topeng, istrinya belum boleh lihat mukanya.
masih mau bikin Ares seperti orang yg bersalah?
Ares sudah mengatakan hal yg paling jujur dr hatinya...
masih belom maukah kamu menerimanya kembali?
maafkanlah? kamu takut terluka tapi Ares punya luka yg lebih lama dan dalam yg dia sembunyikan selama ini...