NovelToon NovelToon
SEBATAS KONTRAK DI ATAS RANJANG

SEBATAS KONTRAK DI ATAS RANJANG

Status: sedang berlangsung
Genre:Menyembunyikan Identitas / Orang Disabilitas / Nikah Kontrak
Popularitas:13.5k
Nilai: 5
Nama Author: 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒

Ares Sudibyo, pewaris keluarga kaya, tidak pernah percaya pada perempuan. Sejak ibunya meninggalkan ayahnya demi pria yang lebih kaya, ditambah pengkhianatan yang dialami pamannya dan dirinya sendiri, Ares memilih menjauh dari pernikahan.

Namun, pertemuannya dengan Alisha Prameswari secara tidak sengaja mengubah sesuatu dalam dirinya. Aroma tubuh Alisha justru membuatnya penasaran karena tubuhnya sama sekali tidak menunjukkan penolakan, sensasi yang tak pernah ia rasakan dari perempuan lain.

Ketika mengetahui Alisha membutuhkan biaya pengobatan untuk adiknya, Ares menawarkan sebuah kontrak: menanggung seluruh biaya pengobatan, dengan syarat Alisha bersedia memenuhi kebutuhan biologisnya. Setiap kali bersama Ares, Alisha harus menutup mata, sebuah aturan yang tak pernah dijelaskan.

Ares yakin hubungan mereka hanya sebatas kesepakatan. Namun ketika ketergantungan mulai tumbuh, sanggupkah ia melepaskan Alisha yang memilih mengakhiri kontrak dan mencari pendamping baru dalam hidupnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

35. Boleh Aku Buka?

Dimas akhirnya mendapatkan alamat rumah Alisha.

Tanpa banyak berpikir, Arga memutuskan datang sendiri.

Sebuah parcel buah terletak di kursi belakang mobil. Setibanya di depan rumah yang dituju, Arga mematikan mesin lalu merapikan kerah kemeja dan jasnya. Ia bahkan sempat memeriksa rambutnya melalui kaca spion sebelum turun.

Rumah itu sederhana.

Tidak besar, tetapi tampak terawat. Halamannya cukup luas dengan beberapa pohon mangga dan jambu yang tumbuh di bagian depan.

Arga berjalan memasuki pekarangan rumah hingga akhirnya berhenti di depan pintu yang tertutup rapat. Tangannya terangkat, lalu mengetuk.

Tok. Tok.

Tidak ada jawaban.

Ia menunggu beberapa saat sebelum mengetuk lagi.

Tok. Tok.

“Jangan-jangan sakitnya parah sampai gak bisa bangun?”

Arga hendak mengetuk untuk ketiga kalinya ketika sebuah suara membuatnya menoleh.

“Cari siapa, Pak?”

Seorang wanita paruh baya berdiri di depan pagar rumah sebelah.

Arga segera memasang senyum sopan. “Cari Alisha, Bu.”

“Oh, Alisha belum pulang," ujar perempuan itu.

Arga sedikit mengernyit. “Belum pulang? Saya dengar dia lagi sakit.”

Wanita itu tampak heran. “Sakit? Saya malah gak tau.”

“Benarkah?”

“Iya," jawab ibu-ibu itu. "Kalo Alisha pulang, biasanya saya tau.”

Arga melirik kembali ke rumah di hadapannya. “Biasanya dia pulang jam berapa, Bu?”

“Biasanya pulang sebentar sebelum Magrib. Setelah itu sering langsung ke rumah sakit.”

“Setiap hari?”

Wanita itu mengangguk. “Hampir setiap hari. Bahkan hari libur pun jarang ada di rumah.”

Arga terdiam. Ia menatap halaman rumah Alisha lagi.

Rumputnya terpotong rapi. Daun-daun yang jatuh di sekitar pohon juga tidak menumpuk.

“Kalau begitu, siapa yang membersihkan rumah ini?”

“Oh, itu.” Perempuan tersebut tersenyum kecil. “Akhir-akhir ini Alisha minta orang datang buat bersih-bersih.”

Arga menoleh. “Padahal dia jarang pulang?”

“Iya. Katanya biar rumahnya tetap terawat meskipun sering kosong.”

“Begitu rupanya.” Arga kembali memandang rumah itu.

Kemarin ia melihat Alisha sebagai perempuan sederhana yang bekerja seperti kebanyakan orang.

Namun dari cerita wanita ini, kehidupan Alisha tampaknya jauh lebih rumit daripada yang terlihat.

“Kalo begitu, saya tunggu aja sampai dia pulang,” ujar Arga.

“Wah, kalo soal itu saya juga gak tau kapan. Soalnya kadang malah gak pulang.”

Arga mengangguk. “Nggak apa-apa, Bu. Saya sebenarnya cuma mau njenguk aja karena denger dia lagi sakit.”

“Oh. Mungkin sekarang dia di rumah sakit. Alisha memang lebih sering di sana daripada di rumah.”

Arga tersenyum tipis. “Terima kasih, Bu.”

“Sama-sama.”

Arga kembali ke mobil. Sebelum masuk, ia sempat menoleh sekali lagi ke rumah sederhana itu. Parcel buah yang dibawanya masih berada di tangannya.

Ternyata ia datang terlalu cepat. Atau mungkin memang belum waktunya bertemu Alisha.

Arga meletakkan parcel itu di kursi sebelahnya, lalu menyalakan mesin. Namun sepanjang mobil meninggalkan lingkungan tersebut, satu hal yang terus mengganggu pikirannya.

Alisha hampir setiap hari ke rumah sakit. Dan entah kenapa, semakin sedikit yang ia tahu tentang perempuan itu, semakin besar rasa penasarannya.

Sementara Arga pergi dengan membawa lebih banyak pertanyaan daripada ketika ia datang, rumah sederhana itu kembali tampak sepi.

Tanpa mengetahui bahwa pemiliknya malam ini tidak akan pulang ke sana.

Ia sedang berada di rumah seorang pria yang sama sekali tidak ingin Arga mendekatinya.

***

Di tempat lain, Ares justru bersiap pulang lima menit sebelum jam kerja berakhir.

Hal yang hampir tidak pernah dilakukannya.

Reki yang melihat Ares sudah mengenakan jas hanya bisa mengangkat alis. Beberapa staf bahkan sempat saling pandang. Biasanya, Ares adalah orang terakhir yang meninggalkan kantor. Pulang lebih cepat dari staf seperti itu jelas bukan kebiasaannya.

Ares tidak memedulikan tatapan mereka.

Begitu tiba di rumah, langkahnya langsung menuju kamar yang kini ia bagi bersama Alisha.

Dari dalam kamar, Alisha yang sedang duduk di tepi ranjang mengenali suara langkah itu bahkan sebelum pria tersebut sampai di depan pintu. Refleks, tangannya segera mengambil penutup mata dan memasangnya.

Tok. Tok.

“Masuk.”

Pintu terbuka sedikit. Ares mengintip dari celah pintu, memastikan mata Alisha benar-benar sudah tertutup sebelum membuka pintu lebih lebar.

Tanpa mereka sadari, keduanya sama-sama merasa lega melihat satu sama lain.

“Kamu pulang lebih cepat,” ujar Alisha.

Ares menutup pintu lalu melepaskan jasnya. “Bukannya kamu bilang bosan?”

“Aku gak bilang minta ditemenin.”

“Ya, aku yang bilang mau nemenin. Karena kamu bilang bosan.”

Alisha terdiam sesaat. Sudut bibirnya terangkat tipis.

Ares baru hendak menggantung jas ketika pandangannya tertumbuk pada sesuatu di wajah Alisha.

Keningnya langsung berkerut. “Pelipismu kenapa?”

Alisha refleks menyentuh sisi kepalanya. “Oh, ini?”

Ares sudah lebih dulu mendekat. Jemarinya menyentuh bagian yang memar dengan sangat hati-hati. “Kenapa?”

“Aku tadi belajar ke kamar mandi sendiri dengan mata tertutup.” Alisha meringis kecil. “Tapi malah kepentok kusen.”

Ares menatapnya beberapa detik. “Aku udah bilang, kalo kamu butuh sesuatu saat bersamaku, kamu bisa minta aku.”

“Aku gak mau ngerepotin kamu tiap malem cuma buat nganter aku ke kamar mandi.”

“Aku tetap bangun kalo kamu bangun.”

“Tapi kamu tidur.”

“Dan aku bakal tidur lagi habis nganter kamu.”

Nada Ares datar, seolah perkara itu sama sekali bukan masalah.

Alisha menghela napas. “Aku cuma gak enak ganggu terus tiap malam.”

Ares tidak menjawab. Ia justru kembali memerhatikan memar di pelipisnya. “Jangan biasain jalan dengan mata tertutup kayak gini.”

“Terus aku harus gimana?”

“Panggil aku.”

Alisha mengerucutkan bibir, tetapi sebelum sempat membantah, Ares sudah mengusap pelipisnya perlahan dengan ujung jari.

“Apaan?” Alisha bertanya heran.

“Dulu kalo benjol, aku biasa mengusapnya pelan.” Ares melakukan gerakan kecil dan hati-hati di sekitar memar itu. “Biar gak terlalu sakit. Biasanya cepat ilang.”

Alisha diam. Sentuhan itu sederhana, bahkan mungkin tidak berarti apa-apa bagi Ares. Namun bagi Alisha, perhatian kecil seperti itu terasa berbeda.

“Masih sakit?” tanya Ares.

“Dikit.”

Ares kembali mengusapnya perlahan. “Lain kali panggil aku.”

Alisha tersenyum kecil di balik penutup matanya. “Iya.”

Ares tidak menyadari bahwa dirinya juga tersenyum tipis.

"Ares," panggil Alisha ragu.

"Hm?"

Tangan Alisha terangkat memegang lengan Ares. "Penutup mataku... Boleh aku buka?"

Gerakan Ares yang mengusap memar di pelipis Alisha langsung berhenti.

 

...✨“Rasa penasaran membuat seseorang ingin mendekat, tetapi perhatian membuat seseorang ingin tetap tinggal. Dan tanpa disadari, keduanya bisa membawa seseorang pada perasaan yang tak lagi bisa dianggap sekadar kebetulan.”✨...

.

To be continued

1
anonim
Raka senang kakaknya terlihat lebih seger.

Raka pengertian, kakaknya di suruh sering-sering tidur di rumah, tidak perlu nungguin dirinya.

Alisha jadi bisa punya waktu untuk suaminya, kalau tidak bisa nungguin Raka. Tidak harus cari alasan kalau Raka tanya-tanya.
anonim
Ares telah menyiapkan beberapa pakaian bermerk, pakaian tidur, juga pakaian dalam dan berbagai produk perawatan kulit untuk Alisha.

Alisha setelah sarapan pergi ke rumah sakit.

Raka sudah dipindahkan ke ruang lain, masih di lantai yang sama.

Ares tetap memikirkan kenyamanan Raka dan Alisha dengan memindahkan ruang rawat serta ada sofa.
anonim
Foto Alisha yang tertempel di surat nikah matanya tertutup kain hitam. Foto suaminya dilepas alias nggak ada fotonya.

Pak Darto pengurus rumah memberikan sebuah kartu akses untuk masuk rumah kepada Alisha. Dan memberi tahu Alisha kalau pakaian sudah disiapkan di lemari, termasuk perlengkapan mandi, dan makeup atas perintah Ares.

Ares baik sekali. Alisha juga disediakan sopir untuk mengantarnya pergi. Tapi Alisha memilih naik ojek online.
anonim
Ares bijaksana, Alisha boleh menemani adiknya.

Ares juga menuruti kemauan Alisha untuk tidak memindahkan adiknya ke kamar perawatan VIP.

Ares memberikan surat pernikahan mereka setelah mendengar penjelasan Alisha kenapa sampai minta surat itu.

Ares tak lupa mengelupas foto dirinya terlebih dahulu, sebelum memberikan surat itu kepada Alisha.

Sampai segitunya, biar Alisha benar-benar nggak mengenal wajahnya.
Septi Wijaya
apakah Arga termasuk orang yg obsesif??
kalo iya, itu sangat berbahaya, dalam kondisi tertentu, dia bisa berbuat nekat....
semoga Alisa dan Raka masih dalam pengawasan orang-orangnya Ares
Dek Sri
semoga Arga gak menemukan Alisha dimana
aryuu
kamu siapa sih Arga... ribet banget sama idup orang
aryuu
cukup emak kamu aja res yg ribet
cukup mantan mu si Reni yg ribet
kamu jangan ikutan res
aryuu
suruh buka dong res... nyiksa anak orang kamu tuh/Proud/
Fadillah Ahmad
Ayo Kak Nana... Lanjutkan lagi Kak 🙏🙏🙏😁

Semangat Kak Nana.. Up Bab Barunya ya, Kak 🙏🙏🙏
Fadillah Ahmad
Memang suh... Sampai tujuh turunan belum habis... Tapi kan, pas keturunan kedelapan, Keluarga Sudibyo akan bangrutlah. 😂😂😂 Kan, katanya sampau tujuh turunan kan? Terus, kalau udah keturunan kedelapan? Terus dapat apa dong? Sisa warisan yang hanya secuil? 😂😂😂
Fadillah Ahmad
Jadi? Kalau Ares lagi tidak bisa memberikan Rania sesuatu? Terus dia seenaknya saja gitu, untuk selingkuh? Cih! Perempuan murahan kayak gitu pula yang selama ini kau pacari Ares? ha? 😂😂😂 Rania itu, sampah tau. Tidak ada artinya. 😂😂😂
Fadillah Ahmad
Ooih Jadi, nama mantan Pacar Ares itu Rania... 😂😂😂 Bugus juga namanya... 😂😂😂 Tapi sayang, dia perempuan yang di setia. Penghianat! 🤬🤬🤬
Fadillah Ahmad
Bagus Ares... 😂😂😂 Kau hebat. Kau selangkah lebih maju dari lawanmu. 😁😁😁 Dan, langkahmu untuk menempatkan anak buahmu di sekitar istrimu itu sydah benar Ares... 😂😂😂 Sekarang, kita tinggal lihat, apa yang akan di lakukan oleh Si Arga iru... 😂😂😂
mimief
yeee...bini orang di cariin
kacau ini orang 🤣🤣
Fadillah Ahmad
Yaaa yang pastinya, dia mempunyai maksud Ares... 😂😂😂 Tapi, aku belum tau apa maksud Si Arga sialan itu... 😁😁😁
Fadillah Ahmad
Waaah, bahaya juga ya Si Arga itu... 😂😂😂 Mencari mati saja dia! 😁😁😁 Masuk ke kandang singa... 😂😂😂
Fadillah Ahmad
Semuanya Ares. Semua 8nformasi yang bisa dia peroleh... 😂😂😂 Termasuk Status Alisha saat ini... 😁😁😁
mimief
dia takut sha
takut ga bisa tanggung jawab sama tatapan mu.
pengecut dia takut kalah sama rasa bersalah nya🫣😔
Fadillah Ahmad
Berarti, tugas anda jelas Pak. Anda harus melindungi istri majikan anda Pak... 😂😂😂 Kalau tidak... Alisha bisa di rayu dan di goda noh sama si Arga mata keranjang itu... 😂😂😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!