NovelToon NovelToon
Mertua Pilih Kasih

Mertua Pilih Kasih

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami
Popularitas:613
Nilai: 5
Nama Author: Ms.Una

Tiga tahun lalu, Maya seorang gadis desa yang polos dan tulus melangkah ke kota membawa impian sederhana: membangun keluarga kecil yang bahagia bersama suaminya. Mengabdi penuh sebagai istri dan menantu, Maya dengan sabar menelan setiap cemoohan, perbedaan perlakuan, dan sikap pilih kasih dari sang ibu mertua yang selalu mengagung-agungkan menantu kayanya.

Bagi Maya, diam dan mengalah adalah kunci keharmonisan. Namun, kepasrahannya justru dimanfaatkan. Di rumah itu, Maya tak lebih dari seorang pelayan yang tenaganya diperas, sementara hak dan perasaannya terus diinjak-injak oleh keluarga parasit yang manipulative. Ketika masalah besar datang dan pengorbanannya kembali dibalas dengan pengkhianatan serta tuduhan keji, mata Maya akhirnya terbuka: kesabaran tanpa batas hanya akan membunuhnya perlahan.

Kini, Maya harus memilih: tetap bertahan dalam cengkeraman keluarga mertua yang toxic demi mempertahankan rumah tangganya, atau memberanikan diri patah arah untuk melepaskan jerat belenggu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ms.Una, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Amukan mertua

Satu hari kemudian, usai beberapa kali meminum obat dan beristirahat, kondisi badan Maya memang terasa sedikit lebih membaik. Namun, jeda istirahatnya selama satu hari kemarin dibayar mahal dengan amukan Bu Rika yang tak henti-hentinya mengomel karena Maya sempat menghentikan kesibukan rumah tangga.

Di sela-sela rutinitasnya yang padat, Maya mulai memelajari cara mengoperasikan ponsel barunya. Setelah jarinya mulai lincah mengetik di atas layar sentuh, ia memberanikan diri meminta nomor ponsel sepupunya kepada Arya.

Namun, rasa gembira Maya mendadak sirna. Setiap kali ia mencoba menghubungi nomor tersebut, suara wanita dari operator selalu memberikan jawaban yang sama 'nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif'. Maya tak menyerah. Setiap ada kesempatan saat pekerjaan rumah selesai, ia terus memutar nomor itu, tapi hasilnya nihil.

Dada Maya terasa sesak oleh kerinduan. Sore harinya, begitu Arya melangkah masuk ke dalam kamar usai pulang kerja, Maya langsung menghampirinya.

"Mas... kenapa nomor sepupuku tidak aktif? Apa itu benar-benar nomor dia?" tanya Maya dengan mata berkaca-kaca.

Arya menghela napas seraya menaruh tas kerjanya. "Kan sudah Mas bilang, sejak dua tahun lalu nomor itu memang sudah tidak aktif," sahutnya santai.

"Kalau begitu... kenapa Mas tidak pernah mau mengajak Maya pulang ke kampung?" tanya Maya, nadanya mulai terdengar menuntut dan sedikit kesal.

Arya menghentikan gerakannya, lalu berbalik dan memegang kedua bahu Maya. "Maya... kan sudah sering Mas bilang. Gaji Mas ini pas-pasan. Kita pulang ke kampung itu butuh modal besar. Biaya perjalanan jauh, belum lagi harus beli oleh-oleh buat orang tuamu."

"Tapi Mas... Maya kangen Mak sama Bapak..." tangis Maya akhirnya pecah, suaranya sedikit terisak. "Sudah dua tahun Maya tidak pernah pulang..."

"Nanti ya, kalau Mas sudah punya uang lebih, kita pulang ke kampung," bujuk Arya menenangkan, mengusap pelan rambut istrinya.

Tanpa disangka-sangka, percakapan mereka di balik pintu yang sedikit terbuka terdengar oleh Bu Rika dan Santi yang kebetulan melintas di depan kamar.

Brak!

Pintu kamar didorong kasar, menampilkan raut wajah Bu Rika yang sangat bengis.

"Dasar istri tidak tahu diri dan banyak maunya!" tunjuk Bu Rika tajam pada Maya yang sedang terburu-buru menghapus air matanya.

"Kamu kira pergi ke kampungmu yang jauh itu tidak pakai uang, hah?!" bentak Bu Rika melengking. "Nanti kalau melihat Arya datang, keluarga kampunganmu itu cuma bisa minta-minta uang! Apa kamu lupa, di awal pernikahan dulu sudah sebanyak apa uang Arya habis buat orang tuamu?!"

Kalimat itu menghantam dada Maya dengan sangat menyakitkan. Mendengar orang tua kandungnya dihina sedemikian rupa, darah Maya mendidih. Wajahnya menegang menahan amarah yang membakar, jemarinya mengepal kencang hingga buku-buku jarinya memutih. Ingin rasanya ia melayangkan tamparan ke wajah tua mertuanya itu, namun rasionalitasnya memaksa tubuhnya untuk tetap bergeming. Ia harus bersabar demi rencananya.

"Bu, sudah... Maya cuma lagi rindu orang tuanya," sela Arya mencoba membela, namun sedetik kemudian ia langsung bungkam begitu melihat ibunya melotot.

"Diam kamu, Arya! Padahal dulu Ibu sudah mau menjodohkan kamu sama seorang PNS, tapi kamu malah kecintaan sama wanita kampung ini!" bentak Bu Rika kesetanan. Matanya kembali menembak Maya. "Kamu pasti pakai pelet kan biar bisa masuk ke keluarga ini?!" tuduh Bu Rika asal-asalan.

Maya hanya menundukkan kepala dalam-dalam, menyembunyikan kilatan emosi di matanya agar tidak memicu ledakan konflik yang merugikan dirinya sendiri.

"Awas saja kamu berani meminta pulang kampung lagi, bakal Saya usir kamu dari rumah ini!" ancam Bu Rika lantang.

Sementara itu, Santi yang sejak tadi bersandar santai di bingkai pintu hanya mengulas senyum sinis, begitu menikmati pemandangan saat iparnya dimaki-maki tanpa ampun.

Napas Bu Rika naik turun usai meluapkan emosinya. Namun, baru saja wanita tua itu hendak memutar badan untuk pergi, mata tajam Santi menagkap benda di jemari Maya.

"Eh... Maya baru beli ponsel ya?" tanya Santi sengaja, memancing umpan baru dengan nada memprovokasi.

Bu Rika yang tadinya tidak sadar, seketika menoleh mengalihkan pandangannya ke arah tangan Maya.

"Bagus ya kamu, Maya! Suka sekali menghabiskan uang suami!" sindir Bu Rika, matanya kini beralih menatap Arya dengan tatapan penuh selidik. "Kamu lagi banyak uang ya, Arya?!"

Arya seketika gelagapan dipojokkan oleh ibunya sendiri. "M-Maya bilang dia susah menghubungi Arya kalau lagi lembur, Bu... Makanya dia minta dibelikan ponsel," alibi Arya panik.

"Iya, Bu... Supaya Maya enak kalau mau menghubungi Mas Arya," sahut Maya pelan dengan raut cemas yang sengaja dipasang, seolah takut ponselnya akan dirampas.

"Diam kamu! Hidup numpang di rumah suami tapi tidak tahu diri!" sindir Bu Rika lagi tanpa belas kasihan.

Kepala Arya mulai terasa pening mendengar omelan ibunya yang tiada henti, terlebih ia baru saja melepaskan lelah usai bekerja. Demi menenangkan amarah sang ibu, Arya melangkah mendekat dan berbisik pelan.

"Sudah, Bu... Jangan marah-marah lagi. Nanti Arya belikan tas baru ya," bisik Arya, yang meski dipelankan, masih sanggup tertangkap dengan jelas oleh pendengaran Maya.

Mendengar janji tas baru dari salah satu putra tersayangnya, raut keras di wajah Bu Rika perlahan melunak. Suasana hatinya mendadak dingin, dan sudut bibirnya terangkat tipis membentuk senyuman puas.

Maya yang masih menundukkan kepala menggertakkan giginya rapat-rapat. Jemarinya di balik lipatan daster mengepal kian erat. Di dalam ruang hampa dadanya, rasa benci pada Arya, Bu Rika, dan seluruh isi rumah ini telah meluap hingga ke puncaknya.

Tanpa mengucap sepatah kata pun, Bu Rika berbalik dan melangkah pergi dengan dada membusung, diiringi Santi yang mengekor di belakangnya.

Sepeninggal Bu Rika dan Santi dari kamar, suasana ruangan seketika hening. Arya mengusap wajahnya dengan kasar, lalu melepaskan jas dan merenggangkan dasi kerjanya dengan raut frustrasi.

"Lain kali tidak perlu membahas soal pulang kampung. Kamu kan tahu sendiri sifat Ibu bagaimana," cetus Arya gusar, melimpahkan rasa kesalnya pada Maya.

"Iya, Mas," sahut Maya pelan. Ia meletakkan ponsel barunya di atas ranjang, lalu berjalan mengambil baju kotor suaminya untuk dimasukkan ke dalam wadah pakaian.

Melihat raut tunduk istrinya, Arya menghela napas, sedikit melunakkan suaranya. "Sudah, jangan sedih. Nanti Mas coba cari nomor kerabatmu yang baru," ucap Arya seraya menepuk bahu Maya pelan sebelum berlalu masuk ke kamar mandi.

Maya berdiri mematung di tengah kamar. Matanya menatap tajam ke arah pintu kamar mandi yang baru saja tertutup rapat.

"Kamu pasti berbohong, Mas..." gumam Maya sangat pelan, hampir tak terdengar.

Ia tahu betul janji itu hanya manis di bibir untuk menenangkannya sementara waktu. Tatapan mata Maya beralih ke ponsel baru di atas ranjang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!