Jauh sebelum sejarah manusia dimulai, Dewi Angin Utara telah menjaga bumi dari balik bayang-bayang.
Namun ketika perang besar mengancam Agharta, Utara harus berpisah dari Zhuin, sosok yang telah dicintainya sejak ribuan tahun lalu.
Zhuin akan terus Ada, dengan berbagai wujudnya.
Dan setiap kehidupan, dia akan melupakan Utara.
Sementara Utara tetap mengingatnya.
Satu Dewi. Satu jiwa. Ribuan kehidupan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AraLum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12 MIMPI TENTANG ZHUIN
BAB 12
MIMPI TENTANG ZHUIN
Malam itu, Feng Yao tidak keluar dari lorong bumi lagi. Ia memutuskan untuk tinggal beberapa saat di rumah. Agharta masih terasa tenang seperti biasanya, menjadi tempat perlindungan yang nyaman setelah semua yang terjadi di permukaan.
Feng Yao memasuki kamarnya yang sederhana. Kamar itu masih sama seperti dulu, tidak ada yang berubah. Dindingnya dipahat langsung dari batu gunung, memancarkan hawa dingin yang familier. Di dalamnya hanya ada sebuah ranjang kayu, meja kecil, dan beberapa benda pribadinya yang tertata rapi.
Ia merebahkan diri di atas ranjang yang terasa keras namun menenangkan.
“Ternyata bumi masih sepi,” gumam Feng Yao sambil menatap langit-langit kamarnya yang berbatu. “Penghuninya masih tetap para siluman.”
Ia menarik selimut tebalnya sampai ke dada. “Aku rasa aku tidak perlu keluar untuk sementara waktu.”
Setelah memantapkan niatnya, ia memejamkan mata. Rasa lelah yang teramat sangat mulai menjalar, dan tidak lama kemudian, Feng Yao pun tertidur lelap.
Dalam mimpinya, Feng Yao berjalan melewati sebuah hutan yang lebat.
Langkah kakinya yang ringan membawanya menuju sebuah danau yang membentang di seberang hutan. Danau itu terasa sangat familiar di ingatannya. Tempat itu adalah tempat yang dulu sering ia datangi bersama Zhuin.
Feng Yao berjalan semakin dekat ke tepi air. Tiba-tiba, ia melihat seseorang. Seorang pria sedang duduk santai di batang pohon yang melintang di tepi danau.
Zhuin.
Feng Yao langsung tersenyum lebar. Rindu yang tertahan mendadak membuncah. “Zhuin...!” panggilnya.
Pria itu menoleh ke arahnya, lalu melempar senyum hangat yang selalu dirindukan Feng Yao.
Feng Yao hendak melangkah mendekat untuk menggapainya.
Namun tiba-tiba, semuanya berubah dalam sekejap mata. Langit di atas mereka mendadak menjadi gelap gulita. Danau yang tadi airnya tenang dan jernih, berubah warna menjadi hitam pekat bagaikan tinta.
Senyum di wajah Zhuin menghilang seketika. Tubuhnya mendadak lemas dan jatuh dari batang pohon tempatnya duduk.
BRUKK!
Feng Yao terkejut setengah mati. “Zhuuiinn...!” teriaknya histeris.
Feng Yao langsung terbangun.
“Hah... hah...”
Napasnya terengah-engah memburu udara. Keringat dingin di keningnya menetes membasahi pipi.
Ia duduk terpaku beberapa saat di atas ranjang, mencoba mengumpulkan kesadarannya yang sempat hilang.
Kemudian, ia bangkit dan berjalan dengan langkah agak goyah menuju meja kecil di samping tempat tidur. T
angannya yang sedikit gemetar mengambil sebuah gelas air. Ia meminumnya perlahan, merasakan kesegaran air dingin yang membasahi kerongkongannya yang kering.
“Hanya mimpi...” Feng Yao menatap gelas kosong di tangannya, meyakinkan diri sendiri. “Hanya mimpi.”
Namun, bayangan Zhuin yang terjatuh lemas tadi masih terus terlintas di kepalanya dan menyisakan rasa sesak di dada.
......................
Sementara itu, jauh dari Agharta, di sebuah wilayah tersembunyi yang tak tersentuh oleh manusia, Lembah Siluman mulai gempar. Mereka ramai membicarakan sosok wanita misterius yang berhasil mengalahkan siluman Harimau.
Yin Shuang duduk di kursi kebesarannya di dalam ruangan. Ia mendengarkan laporan dari beberapa siluman bawahannya yang datang bergantian.
“Katanya wanita itu sangat cantik, Pemimpin.”
“Dan kekuatannya cukup kuat sampai membuat siluman Harimau terluka parah.”
Yin Shuang mengangkat sebelah alisnya, tertarik.
“Begitu?” Ia terdiam sebentar, menimbang-nimbang sesuatu di kepalanya. “Siluman Anggrek!” panggilnya kemudian.
Seorang siluman wanita berparas anggun segera masuk ke dalam ruangan.
“Pemimpin.”
“Lukiskan wajah wanita yang ditemui siluman Harimau itu,” perintah Yin Shuang mutlak.
Siluman Anggrek mengangguk patuh. “Baik.”
Ia segera menggunakan kemampuan sihirnya.
Cahaya tipis berwarna keperakan muncul di udara kosong. Tangan Siluman Anggrek bergerak perlahan, meliuk-liuk mengikuti semua ciri-ciri yang disebutkan oleh siluman Harimau yang berada di sana.
“Wajahnya putih bersih.”
“Rambutnya panjang terurai.”
“Pakaiannya putih kebiruan. Ada hiasan indah di bagian kepalanya.”
Perlahan tapi pasti, gambaran wanita itu mulai terbentuk di udara. Di sudut ruangan, siluman Harimau hanya berdiri diam. Sesekali matanya melirik ke arah Yin Shuang dengan ekspresi yang terlihat sedikit kesal karena kekalahannya diungkit, namun ia tidak berani mengatakan apa-apa.
Beberapa saat kemudian, Siluman Anggrek menurunkan tangannya. Lukisan gaib itu telah selesai.
Hasilnya berupa siluet seorang wanita yang sangat anggun. Wajahnya putih bersih tanpa cela, rambutnya panjang, dan baju putih kebiruannya terlihat berkibar indah seperti tertiup angin. Sebuah hiasan khas yang elegan menghiasi rambutnya.
Yin Shuang mengerutkan keningnya dalam-dalam. “Siluman apa ini?” Ia memperhatikan lukisan itu lebih dekat dan lebih lama.
“Kenapa bersih sekali?”
Siluman Anggrek dan siluman Harimau ikut melangkah maju untuk memperhatikan hasil lukisan tersebut.
Siluman Harimau menatapnya beberapa saat, lalu berbisik dengan nada cemas, “Pemimpin... kalau benar wanita itu adalah seorang dewi, kita bisa dalam masalah besar.”
Suaranya terdengar sedikit gemetar karena takut.
Siluman Anggrek ikut menimpali sambil terus mengamati detail lukisan, “Di dunia siluman, aku belum pernah menemui siluman dengan aura sebersih ini.” Ia mengerutkan kening. “Bagaimanapun, siluman pasti punya ciri khas tersendiri yang menandakan wujud aslinya.”
Yin Shuang masih terpaku menatap lukisan itu. “Hmm... dewi,” gumamnya lirih. Ia terdiam sebentar, mencoba mengingat sesuatu. “Tidak ada dewi yang berjalan di atas muka bumi saat ini.”
Yin Shuang teringat akan cerita lama yang pernah ia dengar dari para tetua. “Aku dengar mereka semua sudah lama menghilang setelah perang besar itu terjadi.”
Ketiganya kembali menatap lukisan di udara tersebut dengan pikiran masing-masing.
Tidak ada satu pun dari mereka yang tahu bahwa wanita dalam lukisan tersebut sebenarnya masih hidup dan dalam kondisi baik-baik saja.
Dan sekarang, ia sedang bersembunyi jauh di bawah perut bumi.
Di permukaan, kaum manusia baru saja mulai turun dan menghuni bumi.
Mereka tidak mengetahui sedikit pun tentang ketegangan yang sedang terjadi di dunia siluman.
Manusia hanya sibuk mencari wilayah baru yang aman untuk melanjutkan hidup mereka.
Sementara itu, para siluman mulai bergerak secara masif.
Beberapa kelompok dari mereka mulai menyebar untuk mencari wanita yang ada dalam lukisan itu.
Namun karena tidak ada yang tahu pasti ke mana harus mencari, mereka mulai ceroboh dan menerobos masuk ke wilayah klan siluman lain tanpa izin.
Akibatnya, perselisihan dan bentrokan antar klan mulai bermunculan di berbagai sudut wilayah.
Yin Shuang sendiri masih belum berhenti mencari. Rasa penasarannya yang besar terhadap wanita misterius itu membuatnya enggan menyerah.
“Cari lagi sampai ketemu,” perintah Yin Shuang sekali lagi kepada bawahannya.
Dan tanpa disadari, satu perintah sederhana dari Yin Shuang itu mulai menyulut api kekacauan yang membuat dunia siluman menjadi semakin tidak terkendali.
Sementara itu, Feng Yao masih berada di dalam kedamaian Agharta.
Ia sama sekali tidak tahu bahwa namanya kini tengah menjadi buruan di atas permukaan bumi.