NovelToon NovelToon
SISTEM GACHA RAJA KULINER

SISTEM GACHA RAJA KULINER

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Fantasi
Popularitas:11.8k
Nilai: 5
Nama Author: Nissa Safira

Galang Kurniawan, seorang pedagang makanan kecil bernasib sial yang hidupnya selalu jalan di tempat. Di malam terburuk dalam hidupnya ketika gerobaknya dihancurkan dan ia hampir menyerah, Galang tiba-tiba membangkitkan Sistem Kuliner Acak yang memaksanya berjualan di lokasi-lokasi aneh dengan hadiah gacha yang fantastis. Dimulai dari berjualan di rumah sakit, Galang harus menghadapi berbagai macam pelanggan baru, persaingan bisnis yang kotor, koki arogan yang meremehkannya, hingga tantangan memasak bahan-bahan langka dari sistem.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4

Tok tok tok!

Gedoran keras di pintu kayu menyambut pagi Galang yang baru saja terlelap selama dua jam.

"Galang! Buka pintunya sekarang juga!"

Itu suara bapak kosnya yang galak, Pak Sugeng.

Galang menguap lebar sambil berjalan gontai membuka selot pintu kamar kosnya yang sempit.

Cklek.

Pintu terbuka menampilkan wajah garang Pak Sugeng yang sudah berkacak pinggang.

Pria buncit bercelana pendek itu menatap Galang dengan pandangan meremehkan dari atas sampai bawah.

"Mana uang tunggakan dua bulanmu?" bentak Pak Sugeng tanpa basa-basi.

"Kalau hari ini tidak ada uangnya, cepat kemasi bajumu dan angkat kaki dari kosan saya!"

Bukannya takut seperti biasanya, Galang justru tersenyum tipis menanggapi ancaman itu.

Ia merogoh saku celananya dan mengeluarkan beberapa lembar uang seratus ribuan yang masih mulus.

Uang itu baru saja ia tarik dari mesin ATM depan minimarket sebelum pulang ke kosan tadi subuh.

"Ini Pak, enam ratus ribu untuk tunggakan dua bulan kemarin," ucap Galang sambil menyodorkan uang tersebut.

"Saya juga bayar sekalian untuk bulan ini agar Bapak tidak perlu repot-repot menagih lagi."

Mata Pak Sugeng membelalak lebar melihat tumpukan uang merah di tangan pemuda yang biasanya selalu memelas itu.

Ia segera merampas uang itu dan menghitungnya dengan cepat untuk memastikan jumlahnya pas.

"Tumben sekali kamu punya uang sebanyak ini di tanggal tua begini?" tanya Pak Sugeng dengan nada curiga.

"Jangan bilang kamu habis mencuri kotak amal masjid depan gang ya?"

Galang menghela napas panjang mendengar tuduhan tidak berdasar dari bapak kosnya itu.

"Itu uang hasil saya jualan semalaman suntuk Pak," jawab Galang dengan tenang.

"Kalau Bapak tidak percaya, Bapak bisa tanya satpam Rumah Sakit Harapan Kasih."

Pak Sugeng mendengus kasar sambil memasukkan uang itu ke dalam saku celananya.

"Terserah kamu dapat uang dari mana, yang penting urusan sewa kos kita lunas bulan ini," kata Pak Sugeng ketus.

"Tapi ingat, bulan depan jangan sampai telat lagi seperti kemarin-kemarin."

Pria paruh baya itu pun berbalik dan pergi meninggalkan kamar Galang tanpa mengucapkan terima kasih.

Galang menutup pintu kamarnya kembali dan menyandarkan tubuhnya ke dinding dengan perasaan lega.

Satu beban berat di pundaknya akhirnya terangkat pagi ini.

Sekarang ia hanya perlu menyelesaikan satu masalah lagi dengan preman pasar yang menghancurkan gerobaknya.

Siang harinya, Galang kembali mendatangi area pasar tempat gerobaknya ditinggalkan semalam.

Kondisi gerobaknya masih sama hancurnya dan belum ada petugas kebersihan yang membuangnya.

Langkah kaki berat terdengar mendekat dari arah belakang Galang.

Galang menoleh dan melihat Jono, preman bertubuh besar semalam, datang bersama dua anak buahnya.

"Wah, rupanya si miskin ini belum kabur ke kampung halamannya," ejek Jono sambil tertawa keras.

"Bagaimana? Sudah siap dipatahkan tulang rusukmu hari ini?"

Jono membunyikan buku-buku jarinya dengan wajah yang terlihat sangat mengancam.

Kedua anak buahnya juga sudah memegang balok kayu bersiap untuk mengeroyok Galang.

Galang tetap berdiri tenang di tempatnya tanpa menunjukkan raut ketakutan sedikit pun.

Ia kembali mengeluarkan sisa uang yang ia ambil dari ATM tadi pagi.

Satu juta rupiah ia genggam dan ia lemparkan tepat ke arah dada Jono.

Brak.

Tumpukan uang itu mengenai dada Jono dan jatuh berhamburan ke tanah.

"Itu sisa uang keamanan fiktif kalian," ucap Galang dengan suara lantang dan tegas.

"Hitung sendiri jumlahnya, itu pas satu juta rupiah untuk melunasi semuanya."

Jono dan kedua anak buahnya terdiam mematung melihat uang pecahan seratus ribu yang berserakan di tanah.

Mereka sama sekali tidak menyangka pemuda gembel ini bisa mendapatkan uang secepat itu.

"Mulai hari ini, aku tidak berhutang apa pun lagi pada bos kalian," lanjut Galang menatap tajam mata Jono.

"Dan aku juga tidak akan pernah berjualan di pasar busuk ini lagi."

Jono buru-buru memunguti uang itu dari tanah sambil menahan rasa malunya yang ditonton oleh beberapa pedagang lain.

"Sombong sekali kau sekarang," desis Jono dengan wajah merah padam karena marah.

"Awas saja kalau aku melihatmu berjualan di wilayah kekuasaanku lagi."

"Aku tidak segan-segan membakar gerobakmu itu sampai jadi abu!"

"Silakan saja kalau kau bisa menemukanku," balas Galang dengan senyum mengejek.

"Sekarang pergilah dari hadapanku sebelum aku berubah pikiran dan mengambil uang itu lagi."

Jono meludah ke tanah dan memberi kode pada anak buahnya untuk segera pergi dari sana.

Galang menatap kepergian para preman itu dengan dada yang terasa sangat lapang.

Selama berbulan-bulan ia selalu hidup dalam ketakutan, namun hari ini ia merasa benar-benar hidup sebagai manusia merdeka.

"Terima kasih, sistem," batin Galang sambil menatap ke atas langit yang cerah.

Kini saatnya ia fokus memperbaiki gerobaknya dan mulai berbelanja bahan untuk misi selanjutnya.

Galang menarik gerobaknya yang rusak itu ke sebuah bengkel kayu kecil di ujung jalan pasar.

Setelah bernegosiasi cukup alot dengan tukang kayu, ia menghabiskan tiga ratus ribu untuk mengganti penyangga yang patah.

Gerobaknya memang belum terlihat bagus, tapi setidaknya sudah bisa berdiri tegak dan layak dipakai berjualan lagi.

Sambil menunggu gerobaknya diperbaiki, Galang duduk di warung kopi terdekat untuk mengecek resep barunya.

Ia memejamkan mata dan memanggil ingatan tentang resep dari sistem semalam.

[Resep Nasi Goreng Pemulihan Tingkat Rendah]

[Deskripsi: Nasi goreng yang dapat memulihkan energi fisik dan mental yang terkuras hingga 30 persen.]

Galang membaca daftar bahan yang dibutuhkan di dalam pikirannya.

"Mari kita lihat apa saja yang harus dibeli di pasar induk," gumam Galang pada dirinya sendiri.

[Bahan Utama: Beras pera jenis khusus, Bawang putih tunggal, Telur ayam kampung organik, Kecap manis fermentasi kedelai hitam premium.]

Mata Galang perlahan terbuka lebar saat menyadari detail bahan masakan tersebut.

"Tunggu dulu, bawang putih tunggal?" ucap Galang setengah berteriak hingga membuat penjaga warung kopi menoleh.

"Bawang jenis itu harganya bisa lima kali lipat lebih mahal dari bawang putih biasa!"

"Lalu telur ayam kampung organik dan kecap kedelai hitam premium?"

"Sistem, apa kau ingin membuatku bangkrut sebelum aku mulai berjualan?" protes Galang dalam hati.

1
Wega Luna
ada loh nasi goreng 6000 an kalo GK salah di daerah Kediri atau Tulungagung ,,, asli pengen beli tapi karena kemarin bus pariwisata ku GK bisa menepi jadi cuma lihat dari jendela bus ,kalo ada waktu luang saya mau kesana lagi pake mobil pribadi ,,, sebagai pecinta kuliner nasi goreng saya penasaran rasanya dengan harga tersebut
Dhewa Shaied
lanjut thor
Khalita Aazahra
lanjut
Wega Luna
perlu dicoba tuh ,,,aku suka daging bekicot yg disalah itu waktu hamil dulu bisa habis 10 tusuk langsung makan , berarti nasi goreng ala seafood yh
Nissa Safira: Bener juga sih... ayam lebih mahal dari bekicot 🤣 Oke deal, nanti kalau Galang bagi resep Nasi Goreng Bekicot aku share di sini. Mbak yang pertama cobain di rumah ya, kabarin kalau bocil-bocil pada ketagihan🤣🤣
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!