Semua orang bilang Dokter Sebastian Wijaya itu suci tanpa cela—dingin, jaga jarak, pewaris Amerta Medika yang tak pernah tersentuh perempuan mana pun.
Hanya Amaya yang tahu: pria itu bersih selama tiga puluh tahun, dan semua "kotornya" cuma untuk dia.
Amaya terlahir kembali sebagai tokoh utama sebuah novel siksaan—perempuan yang ditakdirkan dihancurkan pelan-pelan oleh kakak angkatnya, Selena, lalu mati mengenaskan. Kali ini, ia menolak jadi domba yang disembelih. Wajahnya manis seperti anak baik-baik; isinya, penata ulang permainan yang tak kenal ampun.
Masalahnya: tunangan hasil perjodohan keluarga adalah Nathan, si adik. Tapi yang membuatnya jatuh justru **kakak iparnya sendiri**—dokter bedah yang seharusnya tak boleh ia sentuh.
Di depan umum: "Koh Sebas." Di balik pintu: milik satu sama lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 9
Bab 9
Dokter Sebastian, Kenapa Wajahmu Merah?
"Aku ini sakit."
Sehari setelah mengucapkan kalimat itu, Sebastian kembali membuktikannya.
Amaya datang ke RS Amerta untuk mengganti perban. Nathan sudah menghubungi bagian bedah, tetapi Sebastian yang baru selesai visite hanya melirik jadwal di tangannya.
Nathan tidak bisa mengantar karena ada rapat di Swasti Bio. Ia hanya mengirim pesan singkat agar Amaya menyebut namanya jika administrasi mempersulit. Amaya tidak membalas. Status calon tunangan ternyata paling berguna untuk membuka pintu rumah sakit, bukan untuk memastikan orang yang terluka sampai dengan aman.
Ia datang bersama sopir keluarga, membawa surat kontrol dan catatan obat. Perawat sudah memeriksa tekanan darah serta suhu tubuhnya sebelum Sebastian muncul dari ujung koridor bersama tim visite.
Tatapan pria itu turun ke langkah Amaya yang masih sedikit pincang. Hanya satu detik, lalu wajahnya kembali dingin.
Namun satu detik itu sudah cukup untuk ditangkap Amaya.
"Saya sibuk. Dokter lain bisa menangani."
"Baik." Amaya menoleh kepada dokter muda di dekat nurse station. "dr. Bayu, bisa bantu aku ganti perban?"
dr. Bayu tersenyum ramah. "Bisa, Mbak Amaya. Ruang tindakan dua kosong."
Sebastian berhenti melangkah.
Luka itu berada di paha bagian dalam. Untuk mengganti perban, Bayu harus mengangkat ujung rok Amaya, membersihkan kulit di sekeliling jahitan, lalu memeriksa tanda infeksi dari jarak dekat.
Bayangan tersebut membuat otot rahang Sebastian mengeras.
"Bayu."
Dokter muda itu langsung berbalik. "Iya, Dok?"
"Rekam medis pasien jam sepuluh belum kamu setor."
"Aku habis operasi kecil, Dok. Setelah ini langsung aku selesaikan."
"Batasnya jam sepuluh. Poin kendali mutu bulan ini dipotong penuh. Bonus kinerja tinggal separuh."
Senyum dr. Bayu lenyap. "Dok, lima menit saja aku bisa ganti perban dulu."
"Tiga rekam medis. Sekarang."
dr. Bayu pergi sambil membawa tablet, sesekali menoleh kepada Amaya dengan ekspresi minta maaf.
Amaya memperhatikan punggungnya menjauh. "Bonusnya benar-benar dipotong?"
"Kalau dia terlambat menyelesaikan catatan, iya."
"Kejam juga."
"Data pasien yang terlambat masuk bisa mengganggu keputusan dokter berikutnya. Itu bukan hiasan administrasi."
"Tapi kebetulan sekali baru ditegur setelah dia mau melihat pahaku."
Sebastian tidak menjawab. Ia hanya menekan tombol lift lebih keras daripada perlu.
Amaya menggigit bagian dalam pipi agar tidak tertawa. Pria itu membungkus rasa cemburu dengan prosedur rumah sakit, lalu berharap tak ada yang melihat bentuk aslinya.
Sebastian menatap Amaya. "Ikut aku."
Amaya menahan senyum. "Katanya sibuk."
"Jangan buat saya berubah pikiran."
Ia mengikuti Sebastian ke kantor. Begitu pintu tertutup, pria itu memutar kunci, melepas jas, lalu mencuci tangan di wastafel kecil.
"Naikkan rok secukupnya."
Amaya duduk di sofa periksa dan menarik kain sampai perban terlihat. Sebastian memakai sarung tangan, melepas plester perlahan, lalu memeriksa tepi luka.
Ia membersihkan sisa perekat dengan cairan steril, memeriksa suhu kulit, lalu menekan ringan area di sekitar jahitan.
"Sakit di sini?"
"Sedikit."
"Di sini?"
"Nggak."
"Demam sejak pulang?"
"Nggak. Cuma nyeri kalau naik tangga."
"Kurangi aktivitas. Jangan berendam dan jangan pakai pakaian yang bergesekan langsung dengan luka."
Nada suaranya kembali klinis, tetapi jemarinya jauh lebih hati-hati daripada yang dibutuhkan untuk sekadar mengganti kasa. Amaya mengamati garis tegang di antara alisnya. Dokter ini benar-benar bisa membuat perhatian terasa seperti teguran.
"Jahitannya rapat. Nggak ada kemerahan atau cairan. Penyembuhannya bagus."
"Dokter Sebastian."
"Apa?"
"Kamu ganteng banget."
Tangan Sebastian berhenti di atas kasa baru.
Amaya menopang dagu. "Aku belum pernah lihat dokter seganteng ini."
"Lihat lukamu."
"Lukaku nggak menarik."
Warna tipis naik ke telinga Sebastian. Ia menunduk lebih rendah, pura-pura sibuk mengoleskan antiseptik.
"Dokter Sebastian, kenapa wajahmu merah?"
"Ruangan pengap."
"AC-nya delapan belas derajat."
Amaya mengulurkan tangan untuk menyentuh telinganya. Sebastian memiringkan kepala, menghindar cepat.
"Tangan jangan iseng."
"Aku cuma mau cek demam."
"Saya dokternya."
"Aku pasien yang peduli."
Sebastian menarik napas dan menempelkan kasa baru. Perempuan ini bahkan tidak menunjukkan sisa kesedihan dari klenteng kemarin. Wajahnya cerah, tatapannya nakal, seolah satu baskom suami kertas sudah cukup menyembuhkan semua kekurangan.
"Kalau lukaku sembuh dan aku bukan pasien lagi," tanya Amaya, "Dokter mau masukkan aku ke kategori apa?"
Sebastian mengangkat mata.
Pertanyaan itu tidak memiliki jawaban aman. Pasien bisa dijaga dengan etika. Calon adik ipar bisa dijauhkan dengan keluarga. Namun Amaya terus berpindah dari satu batas ke batas lain sampai Sebastian tidak tahu harus menaruhnya di mana.
Sebagai orang biasa.
Atau sebagai orangnya.
Ia mengambil gunting kecil untuk merapikan ujung plester. Saat Amaya bergerak, mata gunting meleset dan menggores sisi jarinya.
Setitik darah muncul.
Amaya tertawa pelan. "Pertama kali ganti perban pasien malah melukai diri sendiri?"
"Diam."
Sebelum Sebastian mengambil kasa, Amaya menangkap pergelangan tangannya. Ia mengangkat jari yang terluka ke bibir, lalu memasukkan ujungnya ke dalam mulut.
Lidah hangat menyapu darah.
Pikiran Sebastian kosong.
Otot di lengannya mengeras. Darah yang seharusnya hanya setitik seolah berpindah ke seluruh tubuhnya, berkumpul di tempat yang paling tidak pantas saat ia sedang merawat pasien.
"Lepas," katanya serak.
Amaya mengisap sekali lagi sebelum menurut. "Buat menghentikan darah. Di drama pendek caranya begitu."
"Matikan mode dramamu."
"Darahnya berhenti, kan?"
Sebastian menatap bekas lembap di jarinya, lalu tertawa pendek tanpa humor. Ia kalah lagi pada logika paling konyol.
"Kemarin kamu ke mana?" tanyanya sambil membuang gunting yang sudah terkontaminasi ke baki khusus.
Amaya berkedip. "Kemarin?"
"Kakimu belum pulih, tapi kamu jalan jauh."
Jadi ia benar-benar melihatnya di klenteng.
Amaya sengaja menjawab ringan, "Kirim hadiah buat seseorang."
"Satu baskom laki-laki?"
"Dokter menghitung?"
Sebastian menyadari kesalahannya terlambat. "Kebetulan lewat."
"Kebetulan berdiri cukup lama sampai tahu jumlahnya."
Ia memasang plester terakhir lebih kencang dari sebelumnya. Amaya mendesis, lalu tertawa ketika Sebastian segera melonggarkannya kembali.
"Untuk siapa?" tanya pria itu.
"Rahasia."
Jawaban tersebut membuat suasana hatinya turun tanpa alasan yang bersedia ia akui.
Ia menyelesaikan perban dan berdiri. "Sudah. Pulang."
"Lepas jahitan nanti ke siapa?"
"Bedah umum bisa."
"Kalau begitu aku cari dr. Bayu."
"Langsung ke saya."
Jawaban itu keluar terlalu cepat.
Amaya menurunkan rok, lalu berdiri dengan senyum puas. "Minggu depan aku mulai kerja di kantor pusat Amerta. Papa memasukkanku ke Pusat R&D Bersama. Mohon bimbingannya, Dokter."
"Amerta bukan tempat main-main."
"Tempat belajar." Amaya berjalan ke pintu. "Ikut Dokter Sebastian pasti belajar banyak."
Pintu tertutup di belakangnya.
Sebastian melepas kacamata dan memijat pangkal hidung. Bayangan Amaya di depan tungku kembali muncul, dikelilingi sederet laki-laki kertas.
Mungkin ia hanya kartu uji coba.
Salah satu cadangannya.