NovelToon NovelToon
MENANTANG PARA DEWA

MENANTANG PARA DEWA

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Balas Dendam / Budidaya dan Peningkatan
Popularitas:702
Nilai: 5
Nama Author: Kausafiksi.id

​"Jika menyelamatkan dunia harus mengorbankanmu... maka akan kubakar seluruh langit hingga menjadi debu!"

​Lima ratus tahun lalu, Bencana Langit merobek Benua Tianlan. Di tengah reruntuhan yang membara, Mo Xie hanya bisa menyaksikan tangan Chu Yurou—gadis yang dicintainya—hancur memudar menjadi serpihan cahaya. Janji polos masa muda mereka hancur, berganti menjadi dendam yang membakar jiwa.

​Berbekal Pedang Kehampaan yang terlarang dan Inti Es Purba di Dantiannya, Mo Xie bangkit dari abu kehancuran. Bersama Xue Qingyue—Peri Es dari Sekte Es Abadi—ia menelusuri batas dimensi demi mengumpulkan kembali serpihan jiwa yang hilang.

​Bagi para Dewa, ia hanyalah serangga fana yang menantang takdir. Namun bagi Mo Xie, selama jiwanya belum padam, takhta langit adalah sasaran berikutnya.

​"Dunia ini tidak lagi butuh penyelamat. Yang mereka butuhkan... adalah pembalasan."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kausafiksi.id, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 10: PERBATASAN SELATAN

​"Bodoh!" umpat Xue Qingyue keras.

​Suaranya yang biasa tenang dan dingin kini melengking tinggi, nyaris tenggelam sepenuhnya oleh deru angin badai malam dan lolongan histeris sang serigala es yang mengamuk liar.

​Gaun perak-biru yang dikenakan Xue Qingyue berkibar liar saat tubuh mereka berdua terlempar hebat ke depan dan ke belakang. Di atas lereng tebing es yang curam, satu kesalahan kecil saja akan melempar mereka berdua ke dasar jurang batu yang kelam.

​"Akkkkkkkhhhhhhh!" teriak Mo Xie. "Kenapa serigala gila ini?!"

​Dalam kepanikan yang mendesak, insting Xue Qingyue langsung mengambil alih. Kedua lengannya melingkar erat di pinggang Mo Xie, mendekap erat tubuh pemuda itu dari belakang tanpa memedulikan lagi batasan jarak.

​Tubuh milik praktisi wanita itu merapat sempurna pada punggung Mo Xie. Mo Xie bahkan bisa meraba ketegangan dari detak jantung Xue Qingyue yang berpacu cepat, serta menguarnya hembusan hawa dingin khas Sekte Es Abadi dari pakaian wanita itu.

​"Tarik napasmu dan tenangkan pikiranmu, Mo Xie!" teriak Xue Qingyue tepat di samping telinganya, napas hangatnya berembun membeku di udara malam yang dingin.

​"Kau menyalurkan Qi Kegelapan dari tangan kananmu! Serigala es menganggapmu sebagai pemangsa yang ingin mengulitinya hidup-hidup! Tarik kembali kegelapanmu, sekarang!"

​Mo Xie yang setengah panik memandangi tangannya yang membeku di atas tali kekang kulit.

​"Aku sedang mencobanya!" sahut Mo Xie keras, giginya bergemeletuk menahan guncangan liar serigala yang kian hilang kendali.

​"Jangan hanya mencoba, lakukan!" balas Xue Qingyue tanpa kompromi.

​Tangannya bergerak cepat menyusuri jubah dan lengan kiri Mo Xie, menumpuk telapak tangannya tepat di atas jemari Mo Xie yang memegang kendali. Sentuhan tangan Xue Qingyue membawa kejutan aliran Hukum Es murni yang seketika menenangkan saraf-saraf Mo Xie yang menegang.

​"Ikuti instruksiku!" perintah Xue Qingyue tajam. "Tutup mata kananmu! Fokuskan pandanganmu hanya dengan mata kirimu yang membawa Inti Es! Biarkan hawa dingin dari mata kirimu menjalar ke tanganmu untuk meredam kegelapan itu! Selaraskan detak jantungmu dengan detak jantung serigala ini!"

​Mo Xie memejamkan mata kanannya rapat-rapat, membiarkan mata kirinya yang bersinar biru gletser menatap lurus ke arah tengkuk serigala es—tempat bulu-bulu kasarnya meremang memancarkan pendar merah akibat pengaruh Qi Kegelapan.

​Sesuai instruksi Xue Qingyue, Mo Xie menarik Qi Kegelapan itu dan membayangkan sebuah telaga es yang sunyi di dalam batinnya. Dengan sentakan kehendak yang memandu, ia menarik paksa Qi Kegelapan pekat yang sempat merembes dari balik kain hitam di tangan kanannya.

​Perlahan namun pasti, pendar merah di mata serigala es mulai memudar, surut kembali menjadi warna biru jernih yang tenang.

​Lolongan paniknya mereda, berganti menjadi dengusan berat yang berangsur-angsur stabil. Langkah kaki binatang buas itu yang tadinya liar melompat-lompat di tebing curam kini mulai teratur, cakar-cakar besarnya kembali mencengkeram permukaan salju tebal dengan kokoh.

​Mo Xie menghela napas panjang yang gemetar, merasakan ketegangan pada otot-otot bahunya perlahan rileks.

​Namun, sesaat kemudian, ia baru tersadar akan posisi mereka. Ia masih memegang kendali dengan tangan Xue Qingyue yang membungkus jemarinya dari atas, sementara tubuh Praktisi wanita itu masih menempel erat di punggungnya—menyalurkan sisa kehangatan yang terasa sangat asing namun di saat bersamaan begitu familier bagi ingatan Mo Xie.

​Mo Xie melepaskan satu helaan napas berat, membiarkan uap hangat melayang menguap di antara hamparan badai salju.

​Seiring dengan serigala es yang kini berpacu stabil membelah jalur es, Mo Xie mengendurkan cengkeramannya pada tali kekang.

​"Ternyata mata ini ada gunanya juga..." gumam Mo Xie pelan. Tangan kirinya terangkat meraba sudut kelopak mata kirinya yang terasa dingin bagai kristal, namun tak lagi berdenyut menyakitkan seperti di kawah.

​Xue Qingyue yang berada di belakangnya perlahan menarik kembali lengannya. Ia sedikit menggeser posisi duduknya ke belakang pelana bulu untuk memberi jarak yang aman, meskipun sisa kehangatan tubuh mereka masih tertinggal di balik lapisan zirah dan jubah tebal yang mereka kenakan.

​"Tentu saja, bodoh," sahut Xue Qingyue dengan nada ketus yang khas, berusaha menutupi rasa canggung akibat dekapan erat yang tidak sengaja tadi.

​"Itu adalah Inti Es Abadi, salah satu Harta Surgawi suci di Sekte Es Abadi. Jika kau menggunakannya dengan benar, esensi itu bisa menstabilkan gejolak Qi Kegelapan yang tak terkendali di dalam tubuh fanamu."

​Dengan satu hentakan kaki dari Xue Qingyue, serigala es itu melompat mulus melewati gundukan es raksasa, melesat sangat cepat menuruni lereng gunung.

​Mereka membelah hamparan es putih yang luas tanpa tepi, meninggalkan benteng raksasa Sekte Es Abadi yang menjulang tinggi di belakang mereka bagai siluet kelabu yang sunyi.

​Setelah ketegangan yang nyaris merenggut nyawa itu mereda, Mo Xie kembali tenggelam dalam keheningan dirinya sendiri.

​Pandangan mata kirinya yang kini berwarna biru gletser menembus kegelapan malam dengan jauh lebih tajam, membaca setiap lekuk badai salju di hadapan mereka.

​Fokus utamanya telah kembali sepenuhnya. Rasa canggung akibat kemiripan wajah Xue Qingyue dengan Chu Yurou, dinginnya angin malam yang menusuk tulang, hingga ancaman bahaya dari celah dimensi di selatan... semua hal itu mendadak mengecil di dalam benaknya.

​Hanya ada satu kesadaran tunggal yang membakar jiwanya saat ini.

​Aku harus menjadi jauh lebih kuat.

​Ia mengingat kembali ucapan Xue Qingyue tentang Ketua Agung Han Wuyan yang telah berada di ranah Ascendant—sebuah tingkat keberadaan yang begitu tinggi hingga sanggup membekukan aliran waktu dan ruang.

​Sementara dirinya sendiri? Mo Xie menyadari dengan pahit bahwa ia masih merangkak di ranah Mortal, tingkat terbawah dari hierarki dunia yang kejam ini.

​Perjalanannya masih teramat panjang, dan para entitas yang bertanggung jawab atas kehancuran Benua Tianlan berada di puncak langit yang tak tersusul. Rasa konyol atas keangkuhannya di hadapan Han Wuyan kini bertransformasi menjadi tekad yang dingin dan pekat.

​Mo Xie mengepalkan tangan kanannya yang terbalut kain hitam, merasakan getaran pasif dari pedang kegelapan yang terbelenggu di dalamnya. Ia akan merampas kekuatan apa pun yang ada, merangkak melintasi neraka tergelap, dan menyeret para penentu takdir turun dari takhtanya.

​Tunggu aku, Yurou... Aku akan meruntuhkan langit untuk membawamu kembali.

​Saat pikiran itu melintas di benaknya, badai salju di depan mereka mendadak berubah arah secara tidak alami.

​Hawa udara di sekitar mereka tidak lagi memancarkan kesegaran es murni, melainkan mulai tercemar oleh bau belerang yang menyengat serta aroma logam terbakar yang teramat sangat ia kenal—aroma yang sama persis seperti pada hari ketika Lembah Yunlan musnah dihantam kiamat.

​Di kejauhan perbatasan selatan, langit malam yang hitam mulai terdistorsi hebat. Pendar cahaya ungu kemerahan berkilat di udara, meretakkan realitas bagai kaca yang pecah dihantam beban berat.

​Celah dimensi selatan telah berada tepat di hadapan mereka.

1
Septiana Athorid
Bagus dan menarik
Day Chuk
Novel yang Rekomen
Kausafiksi: terimakasih
total 1 replies
Pena Quality
keren
Kausafiksi: terimakasih 🙏
total 1 replies
Kausafiksi
best
Kausafiksi: terimakasih
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!