Suara gemericik air hujan yang menabrak kaca jendela kamar menjadi satu-satunya dentang yang memecah keheningan di dalam ruangan bernuansa minimalis itu. Riana duduk di tepi tempat tidur berukuran king size, jemarinya meremas pinggiran sprei satin yang dingin. Di sudut ruangan lain, berdiri seorang pemuda berpostur jangkung yang sedang merapikan kerah kemeja hitamnya di depan cermin besar. Dialah Reza, sosok pria yang sejak dua bulan lalu secara sah menyandang status sebagai suaminya.
Dua bulan bukan waktu yang singkat untuk hidup di bawah satu atap tanpa suara. Dua bulan berjalan seperti rentetan hari tanpa warna, di mana keberadaan satu sama lain dianggap layaknya bayangan yang tak memiliki wujud. Pernikahan ini bukanlah impian yang dianyam oleh cinta, melainkan sebuah simpul paksaan yang dijahit oleh warisan janji masa lalu.
Nenek moyang dari kedua keluarga besar mereka pernah membuat kesepakatan tertulis puluhan tahun lalu, sebuah amanah keluarga yang tak boleh dilanggar oleh
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sandiwara Yang Harus Berlanjut
Riana tiba lebih dulu di sudut kantin belakang yang tersembunyi di balik rindangnya pohon trembesi. Mengetahui kebiasaan Reza yang sering melewatkan sarapan pagi—ditambah ketegangan yang menguras tenaga sejak kemarin—Riana berinisiatif mengantre lebih dulu. Dua mangkuk soto ayam hangat dan es teh manis sudah tersaji rapi di atas meja kayu saat Reza akhirnya muncul dengan raut wajah lelah.
Reza menarik kursi di hadapan Riana, menghela napas panjang sembari mengusap wajahnya. Plester kecil di bibir bawahnya membuat ekspresi frustrasinya makin terlihat jelas.
"Makan dulu, kamu kan belum sarapan," ucap Riana pelan, menyodorkan mangkuk dan sendok ke hadapan suaminya.
Reza mendongak, menatap makanan hangat itu lalu beralih menatap Riana dengan pandangan yang sulit diartikan. Ada rasa tersentuh yang mendalam menyusup ke dadanya atas perhatian kecil yang tak ia duga ini.
"Makasih, Ri..." sahut Reza kaku, mulai menyendok kuah soto perlahan agar tidak menyenggol luka di bibirnya.
Riana mengaduk es tehnya dalam diam, mengamati raut wajah Reza yang tampak kalut usai konfrontasi di lorong tadi. Ia menarik napas pelan sebelum akhirnya keberaniannya terkumpul.
"Sela... gak apa-apa?" tanya Riana membuka suara, memecah keheningan di antara mereka.
Reza menghentikan gerakan sendoknya sejenak. Ia menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi kayu, menatap Riana lurus-lurus.
"Dia pasti sakit hati," jawab Reza jujur dengan suara rendah. "Tapi aku gak punya pilihan lain, Ri. Aku harus tegas dari awal daripada terus-terusan bikin masalah ini makin melar ke mana-mana."
Riana menunduk, memainkan sedotan es tehnya. "Aku tadi ngeliat di lorong... dia kayaknya berat banget ngelepas kamu."
Reza menghembuskan napas berat. "Berat atau enggak, hubunganku sama dia emang udah gak bisa dilanjutin. Selain janji aku ke Papa dan Mama, aku juga sadar kalau posisiku sekarang udah beda. Aku punya kamu, walaupun status kita masih kita tutupin dari anak-anak kampus."
Penuturan Reza yang tenang dan tanpa ragu membuat dada Riana berdesir aneh. Rasa cemburu atau cemas yang sempat mengusiknya di lorong tadi perlahan-lahan menguap, berganti dengan rasa percaya yang makin menguat.
"Yaudah, yang penting kamu udah selesaikan urusan kamu baik-baik," kata Riana sembari tersenyum tipis. "Sekarang makan sotonya sampai habis. Abis ini kita harus siap-siap hadapin gosip 'sepupuan' yang pasti makin heboh di angkatan."
Reza terkekeh pelan—menahan nyeri di bibirnya—lalu mengangguk setuju. Untuk pertama kalinya di tengah lingkaran konflik perkuliahan mereka, keduanya merasa berdiri di kubu yang sama.
"Jujur, capek banget denger pertanyaan anak-anak di kampus tentang kita yang sepupuan! Tiba-tiba banget sepupuan, padahal mah biasanya kan kita kayak orang gak saling kenal!" ucap Riana lalu tertawa nyaring.
Tawa renyah itu pecah begitu saja di sudut kantin yang sepi, membuat beberapa mahasiswa di meja sebelah sempat menoleh heran. Riana sampai memegangi perutnya, membayangkan betapa konyolnya alibi darurat yang mereka ciptakan sendiri. Kemarin berantakan bagai musuh bebuyutan, hari ini mendadak jadi keluarga dekat hanya gara-gara selembar foto di kasir supermarket.
Reza yang sedang mengunyah sotonya tertahan sejenak. Ia menatap Riana dengan mata berbinar kaget, terpana melihat kepasrahan dan kepolosan istrinya yang justru merespons tekanan rumor itu dengan tawa lepas. Kerutan di dahi Reza perlahan memudar, berganti dengan sunggingan senyum lebar yang sangat jarang ia perlihatkan.
"Lagian kamu sihh..." kekeh Reza pelan, menunjuk Riana dengan ujung sendoknya sembari menahan nyeri di bibir yang berplester. "Siapa suruh panik pas ditanya temen kamu? Kan dari awal aku bilang, kalau dipikirin terus malah bikin pusing sendiri."
"Ya habisnya gimana lagi?" sahut Riana setelah tawanya mereda, menyedot es teh manisnya sampai terdengar suara es beradu. "Dita tuh nanya kayak detektif! Kalau aku gak nyeplos 'sepupu', mau dijawab apa? Masa aku bilang 'iya, ini suami aku yang kemarin habis ku gigit bibirnya'?"
Reza hampir saja tersedak kuah soto mendengar celotehan blak-blakan Riana. Pria yang biasanya disegani karena citra dingin dan kaku di fakultas itu kini hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala, tertawa kecil bersama istrinya.
"Yaudah, sekarang nasi udah jadi bubur," kata Reza, merapikan mangkuknya yang sudah bersih. "Mulai hari ini, kalau ada yang nanya lagi, kamu tinggal angkat tangan dan bilang 'tanya aja sama Kak Reza'. Biar aku yang hadapin anak-anak senior atau temen-temen kamu."
Riana menyandarkan dagu di atas kedua tangannya, menatap Reza dengan raut lega. "Setuju. Pokoknya tugas aku cuma belajar sama kuliah yang benar. Sisanya urusan kamu ya, Suami."
Kata "suami" yang diucapkan Riana dengan nada separuh bercanda itu seketika membuat Reza bungkam. Jantung pria itu berdegup agak kencang, menghadirkan rasa hangat yang menyengat dadanya di tengah bayang-bayang konflik kampus yang belum sepenuhnya usai.