NovelToon NovelToon
Jadi Ibu Susuan, Malah Dipuja Komandan Galak

Jadi Ibu Susuan, Malah Dipuja Komandan Galak

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / Janda / Menikahi tentara
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Dewi Sari

Ditinggal gugur suaminya yang seorang prajurit, Larasati—janda muda dengan bayi perempuan di kampung—terpaksa masuk kompleks kesatrian jadi ibu susuan. Bayi yang ditolak semua orang, yang cuma mau menyusu padanya, ternyata anak sang Komandan Batalyon: Letkol Bramantyo. Lelaki berwajah dingin, bermulut irit, yang ditakuti seisi asrama.
Modalnya cuma sepasang tangan dan lidah yang tahu rasa. Dari semangkuk mi bawang tengah malam, Laras membalik keadaan: dapur satuan yang selalu juara buntut jadi juara lomba, kue keras yang "bisa buat ganjel pintu" jadi rebutan pasar, sampai lahir "Cahaya Siaga"—ransum darurat yang bikin namanya naik kelas. Ibu-ibu Persit yang tadinya nyinyir, mayor licik yang mengincarnya, sampai keluarga durjana yang datang memeras—satu per satu ditumbangkannya, sambil dua anak yatim tumbuh di bawah satu atap.
Yang Laras nggak tahu: semua siasat yang mengancamnya, diam-diam sudah lebih dulu dipatahkan Bram. Lampu yang diganti, popok yang diurus, susu yang dikirim ke kampung—semua dari kantong lelaki dingin itu. Dan yang Bram sembunyikan jauh lebih berat: bocah yang dipanggilnya "anak" bukan darah dagingnya. Ia hanya menepati janji seorang sahabat seperjuangan yang gugur membawa rahasia negara—lima tahun jadi "duda beranak" demi menjaga seorang yatim pahlawan.
Saat rahasia itu akhirnya boleh dibuka, saat dua nama pahlawan diukir di batu nisan dan seorang bocah kecil belajar siapa ayah kandungnya… apakah dua orang yang sama-sama menyimpan luka ini berani menyebut satu kata: keluarga?
"Aku nggak perlu tahu kamu siapa dari mana. Aku cuma tahu kamu bukan orang jahat. Itu cukup."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 16

Bab 16: Hitungan Bu Ratna, Angan-angan Sang Mayor

"Saya yang mengerjakannya, Mayor," jawabku.

Sukandar memutar mangkuk minyak di bawah lampu. "Jernih. Kamu belajar dari mana?"

"Dari pengalaman jualan makanan. Lemak dipanaskan pelan, ampas disaring sebelum pahit. Semua jumlahnya tercatat."

"Sayang keterampilan begini baru dipakai jadi ibu susuan."

Darman maju setengah langkah. "Mbak Laras sekarang pelatih teknis resmi, Mayor."

Sukandar meliriknya, lalu tersenyum. "Saya tahu. Saya hanya mengapresiasi bakat."

Ia meletakkan mangkuk, tetapi sebelum pergi tatapannya menyusuri daftar menu dan berhenti lagi pada wajahku.

"Pastikan jamuan ini berhasil. Banyak mata akan melihat."

Setelah pintu tertutup, aku mengembuskan napas yang kutahan.

"Jangan sendirian kalau dia datang lagi," kata Darman.

"Kenapa?"

"Saya nggak suka cara dia lihat kamu."

Aku pun tidak menyukainya.

***

Di rumah Ratna, lima perempuan duduk mengelilingi meja arisan. Di hadapan mereka ada surat usulan baru tentang `evaluasi penempatan ibu susuan dan etika penghuni lajang di blok keluarga`.

Ratna mengetuk bagian tanda tangan. "Ini bukan menyerang Laras. Kita menjaga nama baik. Besok saat pertemuan, kita minta aturan diperjelas."

"Tapi kondisi Sena membaik," kata seorang perempuan.

"Nggak ada yang minta dia berhenti hari itu juga. Kita minta evaluasi. Sekarang dia masuk dapur, dapat honor, dekat dengan Komandan. Kalau dibiarkan, struktur kompleks kacau."

Perempuan lain ragu memegang pulpen. "Setelah tembakau kemarin, orang bilang kita terlalu ikut campur."

Ratna tersenyum. "Justru karena itu surat ini harus objektif. Nggak ada tembakau, nggak ada gosip. Hanya aturan."

Satu per satu tanda tangan terkumpul, sebagian karena setuju, sebagian karena sungkan menolak di ruang tamunya.

Tuti datang terlambat karena menjaga Sena. Begitu membaca judul surat, ia meletakkan pulpen.

"Saya nggak tanda tangan."

Ratna menyandarkan punggung. "Kenapa? Ini untuk kepastian aturan."

"Aturannya sudah jelas. Klinik merekomendasikan Laras, logistik memberi surat tugas, kamar juga diperiksa. Yang belum jelas cuma kenapa kita terus mengurus hidupnya."

Ruangan hening.

"Kamu baru dekat dengannya beberapa minggu," kata Ratna.

"Cukup untuk lihat dia kerja. Kalau ada pelanggaran, tulis pelanggarannya. Jangan bungkus rasa nggak suka jadi kepentingan bersama."

Tuti berdiri dan pergi. Dua perempuan yang belum menandatangani ikut menyimpan pulpen. Ratna masih mendapat lima nama, tetapi untuk pertama kalinya lingkarannya retak di depan mata.

Surat itu dibawa kepada Sukandar sore hari.

Mayor tersebut membaca sambil bersandar. "Boleh mengusulkan. Tapi harus objektif. Jangan sampai terlihat seperti masalah pribadi."

"Tentu, Pak Kandar. Kami percaya Bapak bisa menilai."

Setelah Ratna pergi, Sukandar menatap daftar nama. Ia teringat Laras berdiri di depan wajan, lengan bajunya digulung, wajah berkeringat tetapi suara tetap tenang.

Seorang janda miskin yang tiba-tiba masuk ke pusat perhatian Danyon.

Jika ia bisa ditarik menjauh dari Bram, perempuan itu mungkin berguna. Untuk dapur, untuk citra program keluarga, atau untuk hal lain yang belum ia beri nama.

Ia membuka berkas singkat tentang Laras: pendidikan biasa, pengalaman usaha rumahan, status janda prajurit gugur. Tidak ada keluarga kuat yang akan bertanya jika ia ditekan. Tidak ada pangkat di belakang namanya.

Namun ada Bram.

Sukandar sudah lama menunggu kesalahan Danyon muda itu. Bram terlalu bersih dalam pengadaan, terlalu ketat pada catatan, dan terlalu disukai anggota. Kedekatannya dengan seorang ibu susuan bisa menjadi celah kecil. Jika celah itu dibesarkan, posisi Danyon dapat digoyang tanpa menyentuh kinerja militernya.

Dan jika Laras merasa Bram tak mampu melindunginya, mungkin ia akan mencari pelindung lain.

Pikiran itu membuat senyum Sukandar lebih tipis.

Sukandar menutup surat ketika ajudannya masuk.

"Jadwalkan saya hadir di pertemuan Persit besok."

***

Aku tidak tahu rencana itu. Seharian aku berada di dapur, mengulangi semur dan membagi tim jamuan.

Darman memimpin bagian panas. Dua prajurit menangani persiapan. Sari mengatur penyajian. Tuti bersedia menjaga Sena saat acara. Setiap orang memegang tugas tertulis.

Menjelang malam, Bram datang ke dapur. Ia memeriksa jadwal, lalu meminta bicara di luar.

"Besok ada pertemuan Persit," katanya.

"Saya tahu. Setelah itu langsung persiapan jamuan."

"Nggak usah datang."

Aku menatapnya. "Kenapa?"

"Ada usulan evaluasi ibu susuan. Ratna mengumpulkan tanda tangan."

"Kalau saya nggak datang, mereka bicara tentang saya tanpa jawaban."

"Hendra punya data klinik. Saya juga akan hadir."

"Itu justru membuat saya kelihatan berlindung di belakang Bapak."

Rahang Bram mengeras. "Kamu sedang menyiapkan jamuan. Jangan buang tenaga untuk orang yang sudah memutuskan tidak menyukaimu."

"Kalau usulan itu bisa membuat saya kehilangan pekerjaan dan Sena, itu bukan buang tenaga."

Kami berdiri di tepi lapangan. Prajurit berlari malam di kejauhan. Bau tanah dan bumbu dari dapur terbawa angin.

"Sukandar akan hadir," kata Bram akhirnya.

Nama itu menjelaskan sebagian kegelisahannya.

"Dia datang ke dapur tadi."

Tatapan Bram langsung tajam. "Untuk apa?"

"Memeriksa minyak. Bertanya siapa yang membuat."

"Dia bicara lain?"

"Mengapresiasi bakat saya. Pak Darman ada di sana."

Bram diam terlalu lama.

***

Aku, Bram, mengenal diam itu sebagai tanda bahaya.

Sukandar tidak pernah menyentuh sesuatu tanpa menghitung manfaat. Ia memakai program, surat usulan, dan jabatan sebagai pintu masuk. Cara ia bertanya tentang minyak mungkin tampak sepele, tetapi tatapannya kepada Laras bukan urusan dapur.

Aku ingin melarang Laras datang ke pertemuan. Aku bisa meminta Hendra menugaskannya di dapur, bisa mengatur agenda agar ia punya alasan resmi untuk absen.

Namun semua pilihan itu tetap mengambil keputusan dari tangannya.

Laras sudah terlalu sering dipaksa keadaan memilih tanpa pilihan. Aku tidak boleh berubah menjadi orang lain yang menentukan hidupnya atas nama perlindungan.

Yang bisa kulakukan adalah memberi informasi dan memastikan aku berada di ruangan yang sama.

"Kalau dia memanggilmu sendirian, tolak," kataku. "Kalau ada tekanan terkait pekerjaan, langsung lapor Hendra atau saya."

"Saya mengerti."

"Jangan mencoba menyelesaikan semuanya sendiri."

Tatapannya melunak. "Kalimat itu berlaku untuk Bapak juga?"

Sekali lagi ia mengenai tempat yang tidak siap kubuka.

***

"Mulai sekarang jangan berada satu ruangan dengannya tanpa orang lain."

"Pak Darman bilang sama."

"Dengarkan."

Nada itu hampir menjadi perintah. Aku tidak tersinggung karena di baliknya ada sesuatu yang jarang ia tunjukkan: takut.

"Baik," jawabku. "Tapi besok saya tetap datang ke pertemuan."

"Laras."

"Saya akan duduk, bicara seperlunya, lalu kembali ke dapur. Tuti pegang Sena. Semua jelas."

Bram menatapku seperti menimbang apakah bisa mengunci pintu agar aku tak keluar.

"Keras kepala," katanya.

"Bapak sudah pernah bilang."

Malam itu ia mengantarku sampai kamar. Sebelum pergi, ia memeriksa kunci dua kali.

Aku menutup pintu dan bersandar di sana.

Dia tahu apa yang tidak kutahu sampai wajah sedingin itu kehilangan ketenangannya?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!