Keira Sutanto sudah punya semua yang diimpikan perempuan lajang: karier sebagai ilustrator, tabungan sendiri, apartemen mewah… dan satu suami hasil perjodohan kilat yang bahkan tak tinggal serumah. Menikah tiga hari, suaminya sudah terbang ke luar negeri. "Suami tajir yang tak pernah pulang" — hidup macam apa lagi yang lebih tenang dari ini?
Yang Keira tak tahu: **Nathan Halim**, si "programmer" yang dinikahinya, adalah putra kedua konglomerat Halim sekaligus pendiri NARA — perusahaan AI bernilai dua miliar dolar. Tiga tahun lebih muda darinya, jenius, dingin di depan orang… dan diam-diam terobsesi padanya sampai ke ujung jari.
Begitu tahu Keira punya seorang "kakak" tanpa hubungan darah yang tak pernah rela melepasnya, Nathan memindahkan seluruh perusahaannya pulang ke Indonesia — kantornya, tepat di sebelah kantor sang istri.
"Kalau di kantor tak boleh kupanggil 'Sayang'," bisiknya sambil tersenyum, "kupanggil 'Cici' saja, ya?"
Keira kira ini cuma pernikahan kontrak yang akan cepat berakhir. Ia tak menyangka: suami berondong-nya ini akan melamarnya untuk kedua kalinya, memburunya sampai ke ujung dunia saat ia diculik, dan menghancurkan setiap orang yang berani menyakitinya.
Hanya saja… rahasia masa lalunya belum semuanya terbongkar. Ibu kandung yang membuangnya. Seorang adik yang bahkan tak tahu mereka sedarah. Dan seorang "kakak" yang, malam itu, memutuskan bahwa kalau tak bisa memilikinya, ia akan merebutnya dengan cara apa pun—
Ponsel Keira bergetar. Satu pesan dari nomor tak dikenal:
*"Kei, ayo pulang. Kita bicara berdua saja."*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aluna Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 18
Bab 18
Otak Encer, Belajar Apa Pun Cepat
Satu jam kemudian, Keira berdiri di pintu ruang kerja.
"Waktumu dimulai sekarang."
Nathan menutup bagan transaksi di layar. "Aku perlu lima menit."
"Tadi kau meminta satu jam."
"Kalau begitu, transaksi ini bisa menunggu."
Ia mematikan komputer dan mengikuti Keira ke kamar. Kotak kayu sudah terbuka di meja. Nathan mencuci tangan, menyalakan lampu kecil, lalu menunjukkan setiap alat agar Keira tahu apa yang akan digunakan.
"Tidak ada yang masuk jauh ke telinga," katanya. "Kalau tidak nyaman, angkat tangan."
"Aku bisa bicara."
"Kalau kau terlalu rileks untuk bicara."
"Percaya diri sekali."
"Otakku encer. Aku belajar apa pun dengan cepat."
Keira berbaring miring dengan kepala di pangkuannya. Posisi itu membuat tengkuknya terbuka dan seluruh tubuhnya bergantung pada kestabilan tangan Nathan. Ia hampir bangun lagi.
"Masih boleh berhenti," kata Nathan, menangkap ketegangannya.
Keira mengembuskan napas. "Lanjut."
Nathan mulai dari bagian luar, menyeka lembut dengan kapas hangat. Sentuhannya nyaris tidak terasa, hanya tekanan ringan dan suara gesekan dekat telinga. Ia berhenti setiap beberapa gerakan untuk memastikan Keira tidak menegang.
Ia juga menaruh cermin kecil di samping bantal. Setiap kali mengganti alat, Nathan memperlihatkannya lebih dulu. Kapas bekas masuk ke kantong terpisah, tangannya dibersihkan lagi, dan lampu diarahkan menjauh dari mata Keira.
"Kau memperlakukan ini seperti operasi," gumam Keira.
"Karena kau akan menghentikanku selamanya kalau sekali saja ceroboh."
"Bagus. Kau memahami risikonya."
Nathan menahan cuping telinganya dengan dua jari, sangat ringan hingga Keira hampir tidak merasakan tekanan. "Kalau aku menyentuh di sini?"
"Tidak masalah."
"Di sini?"
"Sedikit geli."
Ia menyesuaikan gerakan. Tidak ada satu sentuhan pun yang diasumsikan. Keira, yang awalnya memperhatikan setiap perpindahan jari, mulai kehilangan hitungan.
Kemudian datang sikat kecil. Bulu halus bergerak di sepanjang lekuk telinga, menimbulkan getaran yang membuat bahu Keira perlahan turun. Nathan meniup sangat pelan dari jarak aman. Kulit di tengkuk Keira meremang.
"Terlalu dekat?"
"Tidak."
"Telingamu merah."
"Kalau kau terus berkomentar, aku pergi."
Nathan menahan tawa. Ia memakai bulu sintetis, menggerakkannya di udara tanpa menyentuh langsung. Suaranya seperti sayap kecil. Keira menutup mata.
Selama bertahun-tahun, tidur berarti memastikan pintu, jendela, baterai, dan jalur keluar. Kini matanya tertutup sementara seorang laki-laki memegang benda dekat salah satu bagian tubuh paling peka. Kepercayaan itu datang bukan sebagai kalimat besar, melainkan berat kepalanya yang perlahan menyerah pada paha Nathan.
Di balik kelopak matanya, suara kota menghilang. Tidak ada dengung lift, klakson, atau pesan Fabian. Hanya gesekan bulu, kain celana Nathan di pipinya, dan telapak tangan hangat yang sesekali menahan kepala agar tidak bergeser.
Nathan tidak memakai kesempatan itu untuk bertanya soal masa lalu atau meminta pengakuan. Ia bahkan berhenti menggoda. Kesunyian yang ia berikan justru membuat Keira merasa dirawat, bukan diamati.
Jemari Keira yang berada di atas lutut Nathan bergerak tanpa sadar. Nathan menutupnya dengan telapak, lalu segera bertanya, "Boleh kupegang?"
"Boleh," jawab Keira, suaranya sudah berat.
Mereka tetap begitu sampai tubuh Keira benar-benar lemas.
"Aku akan bunyikan garpu tala," bisik Nathan. "Tidak dekat sekali."
Nada lembut bergetar dari sisi kanan, berpindah ke kiri. Keira mendengar napas Nathan di atasnya, stabil dan sabar.
"Kau benar-benar pergi belajar?"
"Aku membayar konsultasi."
"Orangnya tidak menertawakanmu?"
"Sedikit. Lalu aku membayar kelas tambahan."
Keira tersenyum tanpa membuka mata. "Boros."
"Berhasil."
Ia tidak sempat membantah. Kesadarannya tenggelam, jemari yang semula menggenggam selimut terbuka perlahan.
Nathan menunggu sampai napas Keira benar-benar teratur. Ia memindahkan kepalanya ke bantal dengan hati-hati, menutup kotak, lalu menarik selimut sampai bahu.
Ponselnya bergetar. Tim mengirim pesan bahwa pemilik manfaat rekening Cayman sudah ditemukan.
Nathan kembali ke ruang kerja dan membuka berkas terenkripsi. Rantai itu jelas sekarang. Seorang warga Indonesia di Paris menerima lima ratus ribu dolar dari rekening luar negeri yang dikendalikan perusahaan cangkang. Dua ratus ribu diteruskan kepada perantara, lalu sebagian membayar penguntit di Cambridge.
Dokumen kepemilikan dan pola masuk rekening mengarah pada Fabian Wijaya.
Tim membuka bagan lengkap. Rekening Cayman menerima dana dari perusahaan konsultasi yang ternyata dimiliki nominee lama Wijaya Land. Pada hari yang sama, lima ratus ribu dolar bergerak ke rekening Paris. Dari sana, dua ratus ribu masuk ke perantara yang pernah dikaitkan dengan penyelidikan pengawasan ilegal. Nomor proyek pada memo pembayaran sama dengan kode di surel penguntit.
"Masih ada celah untuk menyangkal," kata Tim. "Fabian bisa bilang perusahaan cangkang itu dipakai orang lain."
"Tanda tangan otorisasi?"
"Menggunakan kunci digital kantor pribadinya. Waktu akses cocok dengan saat ia berada di Paris."
"Dan dua ratus ribu sisanya?"
"Perantara menarik sebagian tunai. Kami belum tahu untuk siapa."
Nathan menandai bagian itu. Uang yang belum terlacak berarti operasi belum tentu berhenti pada satu penguntit. Ia mengirim instruksi kepada Tom dan Jerry untuk tetap mengawasi dari jarak aman saat keluarga berkumpul, tanpa masuk rumah kecuali dipanggil.
"Keira harus tahu ada dana lain," kata Tim.
"Dia akan tahu. Aku hanya tidak memberitahunya saat setengah tidur dan beberapa jam sebelum bertemu Mama."
"Kau yakin membawa bukti ke rumah itu aman?"
"Aku membawa salinan terenkripsi. Berkas asli tetap padamu dan pengacara. Kalau ponselku hilang, aksesnya mati otomatis."
Nathan juga membuat catatan tertulis bahwa tidak ada tindakan terhadap Fabian tanpa persetujuan Keira, kecuali ancaman langsung. Ia tidak mau bukti ini menjadi senjata lain yang digunakan atas nama melindunginya.
Tim muncul dalam panggilan video. "Kami cocokkan tanda tangan digital dengan transaksi properti Wijaya Land. Tingkat keyakinan sembilan puluh tujuh persen."
"Simpan semua bukti di tiga lokasi."
"Kita lapor?"
Nathan menatap nama Fabian di layar. "Penguntitan terjadi di Amerika dan pembayaran melewati beberapa negara. Pengacara siapkan opsi. Aku akan bicara dengan Keira sebelum tindakan apa pun."
"Besok kalian bertemu keluarga Sutanto."
"Aku tahu."
"Kau akan membawa bukti?"
"Salinan, bukan yang asli."
Nathan menutup panggilan. Rasa marahnya dingin, tidak meledak. Fabian tidak sekadar cemburu. Ia membayar seseorang untuk merekam percakapan pribadi dan memantau hubungan mereka. Itu pelanggaran, bukan bentuk cinta.
Ia teringat masa kecilnya sendiri. Vivian mencintai anak-anaknya, tetapi tidak pernah mengurus hal kecil. Ketika Nathan demam tinggi pada usia sembilan, Marcus yang bangun, mencari termometer, dan menelepon dokter tengah malam. Nathan belajar bahwa uang dapat memanggil bantuan, tetapi seseorang tetap harus melihat, menyadari, dan bertindak.
Malam itu Marcus masih remaja. Ia duduk di lantai kamar sambil mengganti kompres, lalu memarahi Nathan karena tidak membangunkan siapa pun lebih cepat. Andreas baru pulang menjelang pagi. Vivian menelepon dari Eropa dan menangis, tetapi tetap tidak bisa menyentuh dahi anaknya melalui layar.
Sejak itu Nathan membenci rasa membutuhkan orang yang tidak ada. Ia membangun sistem cadangan untuk segalanya, dari server sampai obat di laci. Keira melakukan hal serupa dengan tas darurat dan pintu yang diperiksa dua kali. Mereka sama-sama membuat benteng, hanya dengan bahan berbeda.
Perbedaannya, Nathan kini ingin menjadi orang yang ada di dalam benteng Keira, bukan orang yang mengambil kuncinya.
Keira tidak membutuhkan orang yang mengatur seluruh dunia dari belakang. Ia membutuhkan seseorang yang bersedia bangun, bertanya, lalu tinggal.
Nathan kembali ke kamar. Wajah Keira tampak damai di bawah cahaya lampu meja. Dorongan untuk menyimpan momen itu muncul cepat. Ia mengambil ponsel dan memotret.
Suara rana dimatikan. Foto masuk ke album tersembunyi.
Album itu sudah berisi beberapa gambar Keira sebelum Nathan terbang ke Amerika: Keira tertidur setelah makan sederhana, Keira membaca di sofa, Keira membelakangi jendela. Semuanya diambil tanpa sepengetahuan perempuan itu.
Nathan menatap foto baru dan rasa tidak nyaman menusuk di bawah kepuasannya. Ia baru saja mengecam Fabian karena merekam tanpa izin. Skalanya berbeda, tujuannya berbeda, tetapi batas yang dilanggar tetap batas.
Ia mencoba membela diri dalam hati. Foto-foto itu tidak dikirim kepada siapa pun. Keira adalah istrinya. Tidak ada niat menyakiti. Namun semua alasan tersebut tetap berpusat pada keinginannya, bukan persetujuan Keira.
Nathan membuka informasi album. Jumlahnya belum banyak, tetapi kebiasaan itu mudah tumbuh. Hari ini wajah tidur, besok mungkin pesan atau lokasi. Ia mengenali garis licin yang sama pada setiap sistem buruk: pelanggaran pertama selalu tampak kecil.
Jari Nathan kembali ke ikon hapus. Lalu Keira bergerak dalam tidur dan memeluk ujung selimut. Keinginan menyimpan momen menang sekali lagi.
Rasa malu tidak hilang setelah foto tersimpan. Justru menetap lebih kuat. Suatu hari ia harus mengaku, dan Keira berhak marah.
Ia hampir menghapus foto itu. Jempolnya berhenti di atas ikon tempat sampah.
Pada akhirnya, ia menyimpannya.
Keputusan itu bukan romantis. Itu kelemahan yang belum berani ia akui, bentuk kecil dari keinginan memiliki yang dapat tumbuh buruk jika dibiarkan. Nathan mengunci album dan meletakkan ponsel jauh dari ranjang.
Pagi mulai memucat ketika Keira bergerak. Ia membuka mata, tampak bingung karena tertidur begitu cepat.
"Jam berapa?"
"Hampir enam."
"Aku tidur sepanjang malam?"
"Ya."
Keira menyentuh telinganya. "Tidak sakit."
"Tentu tidak. Aku profesional."
"Satu kelas tidak membuatmu profesional."
"Tapi hasilnya sempurna."
Keira duduk dan melihat kotak tertutup. "Aku akui itu menenangkan."
Nathan langsung tersenyum. "Berarti boleh lagi?"
"Jangan serakah."
"Ci, kau berutang satu kali kepadaku."
"Berutang apa?"
"Kau tidur sebelum mengatakan terima kasih."
Keira mengambil bantal dan memukulnya. Nathan tertawa, menangkap bantal, lalu berhenti saat pandangan mereka bertemu. Di meja, ponselnya menyimpan dua rahasia: bukti kejahatan Fabian dan foto yang ia ambil sendiri tanpa izin.
Hari itu mereka akan kembali ke rumah Sutanto untuk mempertemukan dua keluarga.
Nathan menggenggam salinan bukti Fabian di dalam tas kerjanya. Sementara itu, Fabian sudah menunggu di rumah yang sama.