NovelToon NovelToon
Kakak, Aku Bukan Adikmu Lagi

Kakak, Aku Bukan Adikmu Lagi

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong / Kisah cinta masa kecil / Cintapertama
Popularitas:74
Nilai: 5
Nama Author: Nayara Putri

Umur lima belas, **Laras** cuma cewek tomboy anak bengkel di gang sempit Bekasi—rambut cepak, kunci inggris selalu di tangan, ditakuti satu sekolah. Sampai suatu sore, sebuah Mercedes berhenti di depan warung, menurunkan bocah laki-laki sepuluh tahun yang menangis tanpa berani mengetuk pintu. Ibunya pergi begitu saja. Namanya **Rayhan**.

"Mbak… kamu mirip kakak laki-lakiku," kata bocah itu sambil menyeka air mata.

Laras kira dia cuma adik kecil cengeng dan manja, yang tiap hari nempel memanggilnya "**Bang Laras**". Dia tidak pernah sadar—di balik wajah manis si juara kelas, diam-diam tumbuh seekor "serigala" yang seumur hidup hanya mengincar satu orang: dirinya.

Bertahun-tahun kemudian, bocah cengeng itu sudah menjadi pemuda jangkung yang lolos ke ITB—dan ternyata **anak di luar nikah seorang konglomerat properti**. Dari anak buangan yang dulu dihina, ia bangkit menjadi **pewaris tunggal kerajaan bisnis triliunan**. Tapi satu hal tak pernah berubah: obsesinya pada Laras.

"Aku bukan adikmu lagi," bisiknya, mengurung Laras di antara lengannya. "Sekarang, giliran kamu yang memanggilku… **abang**."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nayara Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 34

Bab 34: Amplop yang Salah Diberikan

Dua hari kemudian, dokter akhirnya mengizinkan Nadia keluar.

Demamnya sudah turun, hasil pemeriksaan terakhir cukup stabil, dan rumah sakit tujuan di Surabaya telah menerima ringkasan medis serta jadwal kontrol. Perawat menyerahkan obat dalam kantong terpisah dan mengingatkan Bima agar berhenti bila Nadia merasa pusing selama perjalanan.

Laras memeriksa ulang map rujukan, daftar obat, dan nomor ruang tujuan. Kantong barang yang disegel rumah sakit diserahkan langsung kepada Nadia setelah ia menandatangani penerimaan. Nadia meminta semuanya dimasukkan ke bagasi tanpa dibuka.

"Nomor pendamping masih disimpan?" tanya perawat.

Nadia menyentuh sisi tas kecilnya. Kartu nama petugas sosial berada di sana. "Masih."

"Kalau butuh bantuan selama perjalanan, telepon rumah sakit tujuan. Tidak harus menunggu jadwal kontrol."

Nadia mengangguk. Ia belum memilih laporan atau langkah hukum apa pun. Namun setidaknya ia pergi membawa catatan medis, pilihan bantuan, dan barang miliknya sendiri, bukan menghilang tanpa jejak.

Nadia keluar melalui pintu samping untuk menghindari ruang tunggu yang ramai. Ia memakai daster abu-abu pemberian Rayhan, jaket longgar, dan masker. Tidak ada yang bisa melihat wajahnya dengan jelas.

Bima sudah menyiapkan mobil pinjaman. Sejak tiba, ia tidak menanyakan apa pun selain kondisi jalan dan jadwal obat.

"Gue antar sampai rumah sakit Surabaya," katanya. "Setelah itu kalau lo mau gue pergi, gue pergi."

Nadia tidak menjawab.

Laras membantu memasukkan tas ke bagasi. Pak Darto sedang menarik kendaraan mogok di kecamatan sebelah, sedangkan Rayhan berada di sekolah. Hanya mereka bertiga berdiri di bawah atap depan rumah sakit.

"Kalau ada apa-apa, telepon," kata Laras.

Nadia memegang tangannya. Awalnya hanya ujung jari, lalu genggamannya mengencang sampai kuku menekan kulit Laras.

"Ikut gue," bisiknya.

Laras ingin langsung masuk mobil. Namun bengkel tidak bisa ditinggal berhari-hari dan Pak Darto belum kembali. Ia juga tahu Nadia harus belajar memilih siapa yang berada di dekatnya, bukan terus dikelilingi orang yang memutuskan atas nama perlindungan.

"Gue nyusul kalau lo minta," katanya. "Begitu sampai, video call. Gue angkat kapan pun."

Nadia mengangguk, tetapi air matanya jatuh. Itu tangis pertama yang keluar utuh sejak malam kejadian. Laras tidak memeluk sampai Nadia sendiri maju dan menempelkan dahi ke bahunya.

Tidak ada cerita tentang apa yang terjadi. Tidak ada nama yang disebut. Hanya napas berat seseorang yang akhirnya terlalu lelah untuk menahan semuanya sendirian.

Bima berdiri beberapa langkah jauhnya, menatap jalan.

Ketika Nadia masuk mobil, ia memilih kursi belakang. Bima menutup pintu pelan, lalu berkata kepada Laras, "Gue masih tahu lo bohong. Tapi gue nggak akan paksa dia hari ini."

"Jaga dia di jalan."

"Itu nggak perlu lo minta."

Bima membuka pintu pengemudi, lalu teringat sesuatu. "Nomor asing itu berhenti nelepon sejak gue angkat sekali."

Laras menegang. "Lo ngomong apa?"

"Gue bilang jangan hubungi Nadia lagi. Orangnya langsung tutup. Suaranya cowok, tapi gue nggak kenal."

"Nomornya simpan. Jangan telepon balik."

"Kenapa?"

"Karena Nadia nggak mau diganggu siapa pun."

Bima menatapnya, jelas tidak puas. Namun Nadia sudah mengetuk kaca dari dalam mobil. Percakapan berhenti demi tidak membuatnya menunggu.

Mobil pergi menuju jalan tol. Laras berdiri sampai kendaraan itu hilang, lalu menyalakan sebatang kretek. Ia hanya mengisap setengah sebelum mematikannya di asbak pasir.

Asap tidak membuat dadanya lebih ringan.

Siang itu ia kembali ke bengkel seorang diri. Pak Darto menelepon dan mengatakan pekerjaan derek molor sampai sore. Laras membuka pintu lipat, memeriksa daftar servis, lalu memaksa tangannya bekerja.

Mengencangkan baut lebih mudah daripada memikirkan Nadia.

Seorang pelanggan datang mengambil motor dan mengeluh soal harga rantai. Laras menjelaskan dua kali tanpa benar-benar mendengar suaranya sendiri. Setelah pelanggan pergi, ia salah memasukkan baut ke kotak ukuran lain dan harus menyortir ulang semuanya.

Ponselnya berbunyi. Pesan dari Nadia hanya berisi satu titik dan foto samar jalan tol dari balik kaca. Itu tanda yang mereka sepakati: perjalanan aman, tidak ingin bicara.

Laras membalas dengan satu titik juga.

Ia baru merasa bisa bernapas ketika Pajero hitam menutup cahaya di depan bengkel.

Sekitar pukul dua, sebuah Pajero hitam berhenti di depan bengkel. Dua laki-laki turun lebih dulu, disusul Reno dari kursi penumpang.

Laras mengenal senyum itu. Senyum yang sama saat Reno menawarkan uang tambahan dan mengira semua hal bisa dibeli.

"Pak Darto nggak ada?" tanyanya.

"Kalau mau servis, isi formulir."

"Gue bukan mau servis. Mau ngobrol sama lo."

"Gue lagi kerja."

Reno masuk tanpa diundang. Salah satu temannya berdiri dekat pintu, sementara yang lain tetap di samping mobil. Laras meletakkan obeng dan menjaga jarak dari meja.

"Teman lo yang di rumah sakit sudah pulang?"

Tangannya berhenti.

"Lo tahu dari mana?"

Reno mengeluarkan amplop tebal dari saku jaket, lalu sebuah kartu ATM dari dompet. Ia menaruh keduanya di meja kerja yang penuh noda oli.

"Buat dia. Dua ratus juta. Biar urusan selesai secara kekeluargaan."

Laras menatap kartu itu, lalu Reno. "Urusan apa?"

"Nggak usah pura-pura nggak ngerti."

"Gue tanya, urusan apa?"

Reno menghela napas seperti sedang menghadapi pelanggan keras kepala. "Malam itu semua sama-sama minum. Kejadiannya kebablasan. Teman lo juga nggak lapor, kan? Jadi uang ini buat dia tenang, kalian juga jangan bikin ramai."

"Siapa yang kasih tahu lo rumah sakitnya?"

"Orang gue bisa cari."

"Nomor yang nelepon Nadia juga orang lo?"

Reno mengangkat bahu. "Kami cuma mau bicara baik-baik. Dia sendiri yang nggak mau angkat."

"Dia ketakutan tiap HP-nya bunyi."

"Nah, uang ini bisa bikin dia pindah, mulai hidup baru. Semua diuntungkan."

Laras memandang dua pengikut di belakangnya. Salah satu menghindari tatapan, tetapi tidak pergi. Mereka datang bertiga, membawa uang dan pengetahuan tentang rumah sakit, lalu tetap menyebutnya percakapan baik-baik.

"Kalau dia nggak ambil?"

"Jangan bikin pilihan bodoh buat dia."

"Yang bikin pilihan malam itu siapa?"

Wajah Reno mengeras untuk pertama kalinya. "Jaga mulut lo."

Dunia di sekitar Laras mendadak sunyi.

Ia mendengar kembali Nadia berkata malu. Ia melihat jaket menutupi tubuh yang gemetar. Ia ingat bagaimana sahabatnya takut sebuah gang kecil akan mengubah penderitaannya menjadi gosip.

Reno mengetuk kartu dengan kuku.

"PIN-nya tanggal lahir gue, enam angka. Gampang. Uangnya sudah ada."

"Lo ada di sana?"

Senyum Reno berkurang sedikit. "Yang penting sekarang semua bisa beres."

"Lo sentuh Nadia?"

Salah satu temannya maju. "Bro, sudah. Kasih aja terus pergi."

Reno tidak mendengarkan. "Jangan bikin seolah cuma dia yang jadi korban. Nama gue juga bisa rusak kalau dia ngomong sembarangan."

Sesuatu di dalam Laras putus.

Ia tidak melihat lagi uang di meja. Ia hanya melihat seseorang yang menyebut ketakutan Nadia sebagai urusan nama baiknya sendiri.

"Ambil uang lo," kata Laras.

"Jangan sok suci. Dua ratus juta nggak sedikit buat orang kayak kalian."

"Orang kayak kami apa?"

"Orang yang hidupnya bisa berubah karena uang segitu. Jangan bikin gue jelasin hal gampang."

Laras melihat sepatu Reno yang bersih berdiri di lantai bengkel penuh bekas oli. Ia datang ke tempat kerja orang lain, meletakkan harga di atas penderitaan seseorang, lalu yakin penolakan hanya kebodohan orang miskin.

"Uang nggak mengubah apa yang lo lakukan."

"Gue nggak minta mengubah. Gue minta semua orang lanjut hidup."

"Lo sudah lanjut hidup sejak malam itu. Nadia belum bisa tidur."

Reno menoleh kepada temannya, jengkel. "Makanya gue bayar."

"Keluar dari bengkel gue."

Reno tertawa dan mendorong kartu itu lebih dekat. "Kasih ke teman lo. Suruh dia anggap ini ganti rugi. Kalau pintar, hidupnya malah bisa jadi lebih enak."

Laras meraih kunci inggris besar dari atas meja.

Gerakannya begitu tenang sampai Reno tidak menyadari bahaya. Ia masih tersenyum ketika Laras mengangkat alat itu.

Teman Reno berteriak.

Pukulan pertama mengenai sisi kepala Reno. Bunyinya pendek dan keras. Reno terhuyung, menabrak sudut meja, lalu jatuh ke lantai semen.

Amplop pecah saat tersenggol lengannya. Uang, kartu ATM, dan beberapa lembar kertas berhamburan di antara mur serta kain lap.

Darah muncul dari luka di sisi kepalanya. Laras tidak menatap luka itu lama. Matanya terkunci pada wajah Reno yang kini kehilangan seluruh kesombongan.

"Gila lo!" teriak salah satu teman sambil meraih ponsel.

Yang lain berlutut dekat Reno, ragu antara menolong atau menahan Laras.

"Dia yang melakukan itu ke Nadia," kata Laras. Suaranya datar, hampir tidak terdengar seperti miliknya. "Dia datang ke sini buat bayar supaya Nadia diam."

Reno mengerang dan menutupi kepala. "Tangkap cewek gila ini!"

Salah satu pengikutnya menelepon ambulans sekaligus polisi. Tetangga mulai muncul dari ujung gang karena mendengar suara benturan.

Laras menggenggam kunci inggris dengan kedua tangan.

Ia tahu Reno sudah jatuh. Ia tahu pukulan berikutnya tidak lagi bisa disebut mempertahankan siapa pun. Ia bahkan tahu Nadia tidak pernah meminta balas dendam.

Namun kemarahan telah menutup semua pintu keluar di kepalanya.

Seorang tetangga berlari masuk dan mencoba memegang siku Laras. Ia mengibaskan tangan itu. Pengikut Reno yang tadi menelepon berdiri di antara Laras dan pintu, berteriak bahwa polisi sedang menuju lokasi.

"Bagus," kata Laras. "Biar gue bilang kenapa dia datang."

"Lo yang mukul! Semua orang lihat!"

"Dan semua orang juga lihat uangnya. Jangan sentuh kartu itu."

Kalimat tersebut keluar dari bagian pikirannya yang masih waras. Amplop, kartu, dan ucapan Reno adalah satu-satunya jejak yang menunjukkan alasan kedatangannya. Namun bagian lain dari Laras masih ingin menghantam sampai wajah sombong itu berhenti bicara selamanya.

"Laras, turunin!" seseorang berteriak dari luar bengkel.

Reno berguling menjauh. Kartu ATM terselip dekat kakinya, angka uang yang tadi dibanggakan kini tercecer dan ternoda debu.

Laras mengangkat kunci inggris untuk pukulan kedua.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!