Esmera, gadis yatim piatu yang dibesarkan oleh pelayan istana, tidak pernah menyangka hidupnya akan berubah setelah Raja Edris Ruan memilihnya.
Mereka menikah, namun pernikahan itu serasa neraka bagi Esmera. Dan puncaknya, muncul seorang gadis bernama Lyra Arabella, dia mengaku sebagai adik kandung Esmera. Dan akan menggantikan posisi kakaknya sebagai Ratu.
Saat itulah Esmera mengetahui kebenaran yang mengerikan. Pernikahannya dengan Edris bukan sekadar kisah cinta. Dia telah dipersiapkan sejak bayi untuk menjadi pengantin keturunan raja pengkhianat, demi mematahkan kutukan keluarga Raja Edris.
Esmera dibunuh oleh Lyra, adiknya sendiri. Karena Lyra berpikir, jika kakaknya masih hidup, dia akan selalu menjadi yang kedua.
Namun keajaiban itu datang. Esme kembali ke masa lalu, disaat dia belum menjadi Ratu.
Kali ini Esmera tahu apa yang akan terjadi.
Sebelum Raja Edris menemukannya, Esmera akan melarikan diri dan mengubah takdirnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saasaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menangislah
"Jangan menahannya. Menangislah jika kau ingin menangis," ucap Edris.
Kalimat sederhana itu justru membuat pertahanan Esmera runtuh seketika. Air mata yang sejak tadi mati-matian ditahannya akhirnya jatuh dengan sangat lancang, membasahi kedua pipinya.
Kini mereka sudah berada di dalam kereta kuda dan perlahan meninggalkan kediaman keluarga Arrabella. Suara roda kereta yang beradu dengan jalan berbatu terdengar berirama, tetapi di dalam kereta suasananya justru terasa begitu sunyi.
Semenjak keluar dari kastil besar itu, Esmera tidak mengucapkan sepatah kata pun.
Wajahnya yang tadi masih mampu mempertahankan ketenangan kini berubah dingin. Tatapannya kosong, seolah pikirannya masih tertinggal di tempat yang baru saja mereka tinggalkan. Namun Edris dapat melihat dengan jelas bagaimana kedua tangannya mengepal di atas pangkuannya.
Gadis itu sedang berusaha keras untuk tidak menangis.
"Kau bersedih karena sikap ketus keluargamu?" Edris bertanya dengan nada datar."Wajar saja mereka bersikap seperti itu. Kau kan Ruby, wanitanya Raja. Musuh dari Esmera yang merupakan putri sulung mereka." Ucapan itu seharusnya hanya menjadi sebuah penjelasan sederhana.
Namun bagi Esmera, kalimat tersebut justru seperti membuka luka yang sejak tadi berusaha ditutupnya.
Tangisnya pecah."Mereka tidak pernah peduli padaku..." suara Esmera terdengar bergetar. Ia menundukkan kepalanya, berusaha menghapus air mata yang terus mengalir dengan punggung tangannya.
"Mereka..." Napasnya tersengal karena tangis.
"Mereka hanya memikirkan tentang uang dan uang. Mereka tidak satu kali pun menanyakan tentang aku..." lanjutnya dengan suara yang semakin parau."Tentang keadaanku... tidak ada yang peduli padaku..."
Bahu Esmera bergetar hebat."Mereka bahkan tidak bertanya apakah aku baik-baik saja..."
Air mata kembali mengalir deras."Mereka tidak bertanya apakah aku bahagia..." Esmera menggigit bibirnya, tetapi itu sama sekali tidak membantu menghentikan tangisnya."Seolah-olah aku ini tidak pernah menjadi bagian dari keluarga mereka."
Edris terdiam, dia teringat bagaimana Nyonya dan Tuan Arrabella menyambutnya dengan penuh antusias. Bukan karena ingin mengetahui tentang putrinya, melainkan karena yang datang adalah seorang raja.
Bahkan sepanjang percakapan tadi, yang mereka bicarakan hanyalah kekayaan, wilayah, dan janji-janji yang bisa mereka dapatkan darinya. Tidak sekalipun mereka bertanya bagaimana keadaan Esmera.
Edris melirik gadis di hadapannya.
Jadi dia baru benar-benar mengetahui bahwa kedua orangtuanya adalah makhluk paling serakah di dunia?
Anehnya, Edris tidak merasa ingin mengatakan hal itu. Untuk kali ini, dia memilih diam.
Tapi ini bagus, menangis lah dengan keras, luapkan kekecewaan mu, lalu setelah itu, sadarlah, hanya aku tempatmu untuk pulang dan hanya aku tempatmu bergantung Esmera.
Esmera terus menangis, seolah seluruh kesedihan yang selama ini tertahan akhirnya menemukan jalan keluar. Tangisnya semakin lama semakin lirih, tetapi air mata masih terus membasahi pipinya.
Edris tidak mencoba menghentikannya.
Dia hanya bersandar di kursinya, membiarkan gadis itu menangis tanpa menghakimi ataupun menyuruhnya untuk kembali tenang.
Mungkin Esmera memang membutuhkan waktu untuk menerima kenyataan.
Keluarga yang seharusnya menjadi tempatnya pulang ternyata tidak pernah benar-benar menganggapnya sebagai seseorang yang harus mereka pedulikan.
Dan untuk pertama kalinya, Edris melihat sisi Esmera yang sama sekali berbeda. Bukan gadis keras kepala yang selalu menatapnya dengan penuh permusuhan.
Bukan pula gadis yang berani menentang seorang raja tanpa sedikit pun gentar. Melainkan seorang putri yang hanya ingin dicintai oleh keluarganya sendiri.
Edris kembali memalingkan wajahnya ke luar jendela kereta. Dia tidak tahu harus mengatakan apa.
Jadi untuk sementara, dia memilih memberikan sesuatu yang mungkin jauh lebih dibutuhkan Esmera daripada kata-kata.
Kesempatan untuk menangis tanpa harus merasa malu.