Jordan Carlton mengira Vanessa adalah wanita lemah yang tak akan pernah berani meninggalkannya.
Yessika mengira ia berhasil merebut segalanya dari Vanessa, termasuk calon suaminya.
Namun Vanessa memegang kunci takhta sejati keluarga Carlton dan ia memilih untuk menyerahkannya pada pria yang paling dibenci Jordan.
Alessio Carlton mungkin terlihat menakutkan, dingin, dan licik. Namun saat Vanessa menawarkan pernikahan sebagai senjata balas dendam, Alessio tersenyum gelap. Sebab, jauh sebelum Vanessa memasuki kamarnya malam itu, Alessio sudah menyiapkan panggung untuk menjadikannya sang Ratu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itha Sulfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Vanessa perlahan membuka matanya yang terasa begitu berat. Aroma disinfektan yang tajam menusuk indra penciumannya, menyadarkannya bahwa ia tengah terbaring di atas ranjang rumah sakit.
Saat pandangannya mulai agak fokus, sosok pertama yang ia lihat adalah Alessio yang bersedekap dada di sudut ruangan, memandanginya tanpa berkedip.
Vanessa sempat tersentak kaget, namun dengan cepat ia menguasai diri dan menetralkan raut wajahnya.
"Kau... sudah bangun?" tanya Alessio dengan suara rendah, melangkah mendekati ranjang.
"Bagaimana keadaanmu?" lanjut pria itu.
"Seperti yang kau lihat," jawab Vanessa parau, tenggorokannya terasa gatal dan kering. "Masih bernapas."
Alessio meraih cangkir di meja nakas, memutar kran dispenser kecil, lalu menuangkan air hangat untuk Vanessa. Pria itu menyodorkannya dengan gerakan tenang.
"Kenapa kau masih mau menikah dengan Jordan jika dia saja tidak bisa menjagamu dengan baik?"
Vanessa menerima cangkir itu, menyesapnya perlahan sebelum menatap balik manik mata Alessio yang sehitam malam.
"Kau pikir aku punya pilihan? Baik di Keluarga Grey maupun Keluarga Carlton... posisiku selalu di bawah tekanan. Aku tidak pernah diberi ruang untuk mengemukakan pendapat."
Vanessa menatap Alessio lekat-lekat, lalu melempar pertanyaan balik. "Lalu kau sendiri... kenapa menolongku?"
Alessio terkekeh tipis, menyunggingkan senyum datar yang sulit diartikan.
"Jangan percaya diri. Aku hanya tidak ingin Yessika terkena masalah jika kau mati di meja makan tadi."
Vanessa tersenyum miring. Ada sedikit kepahitan yang menyelinap di dadanya mendengar jawaban dingin itu.
Namun, Vanessa tahu pasti, raut panik dan sorot mata cemas yang ia lihat samar-samar sebelum hilang kesadaran tadi tidak bisa berbohong.
"Kau boleh bersandiwara, Alessio," batin Vanessa teguh. "Tapi aku tahu ada celah besar untuk membuktikan padamu betapa busuknya Yessika."
Brak!
Pintu kamar perawatan mendadak terdorong kasar. Jordan melangkah masuk lebih dulu dengan wajah tegang, disusul oleh Benny Grey, Yessika di atas kursi roda, dan Rika yang mendorongnya dari belakang.
"Vanessa! Kau sudah sadar?!" tanya Jordan dengan nada ketus, mengabaikan keberadaan Alessio di sisi ranjang.
"Seperti yang kau lihat," sahut Vanessa dingin tanpa minat.
Yessika tiba-tiba memajukan kursi rodanya, memamerkan raut wajah prihatin yang dibuat-buat.
"Kak Vanessa... harusnya dari awal Kakak bilang kalau punya alergi parah. Orang-orang tidak akan memaksa jika Kakak jujur dari awal. Kasihan Jordan, dia jadi disalahkan dan mau dilaporkan ke Paman Arthur..."
Seketika, sumbu amarah Jordan kembali tersulut mendengar provokasi Yessika.
"Benar kata Yessika!" bentak Jordan seraya menunjuk wajah Vanessa. "Kenapa kau tidak bilang dari awal kalau alergi seafood, hah?! Kau sengaja, kan?! Kau sengaja menjebak ku agar Ayah menghukum ku lagi! Ini pasti trik licik mu untuk membalas dendam padaku!"
Vanessa menatap Jordan dengan pandangan jijik.
"Menjebakmu? Kau yang menjejalkan makanan itu ke mulutku secara paksa, Jordan."
"Dengar, Vanessa!" potong Jordan tidak mau kalah. "Nanti saat Ayah datang, kau harus bilang padanya kalau alergimu kambuh karena kecerobohanmu sendiri! Mengerti?!"
"Aku tidak mau berbohong," tolak Vanessa tegas.
Wajah Jordan memerah padam. "Kau menolak?! Bagus! Kalau kau menolak, aku batalkan pernikahan kita! Aku akan membiarkanmu berdiri sendirian di atas altar dan menanggung malu di depan ratusan tamu undangan nanti!"
Bukannya takut, Vanessa justru terkekeh pelan. "Baguslah. Aku juga tidak sudi menikah dengan pria yang sudah dikotori oleh perempuan lain."
"Apa katamu?!" gertak Jordan tersinggung berat. "Kapan aku pernah dikotori oleh perempuan lain, hah?!"
Vanessa tidak menjawab dengan kata-kata. Matanya melirik tajam ke arah Yessika yang duduk di kursi roda.
Menerima lirikan mematikan itu, Yessika seketika salah tingkah. Wajahnya pucat, dan tangannya meremas gaunnya gelisah. "K-Kak Vanessa... kenapa melihatku seperti itu?"
"Tidak apa-apa. Apa kau sedang tersinggung, Yessika? Padahal, aku tidak sedang membicarakan dirimu," sahut Vanessa dengan senyuman miring.
"Vanessa! Kurang ajar sekali kau!" amuk Jordan yang makin hilang kendali karena merasa wanita simpanannya dituduh sembarangan.
"Kau lagi-lagi menuduhku selingkuh dengan Yessika?! Kau memang harus diberi pelajaran agar tahu tata krama!"
Jordan mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi di udara, melangkah maju dan hendak mengayunkan pukulan keras ke arah wajah Vanessa yang masih terbaring lemah.
"Mati kau..."
Brak! BUKK!
Belum sempat telapak tangan Jordan menyentuh kulit Vanessa, sebuah tinju mentah berkecepatan tinggi melayang dari arah samping dan menghantam rahang kiri Jordan dengan sangat telak.
"Aghh!"
Tubuh Jordan terlempar ke samping, menghantam tiang infus hingga roboh, lalu tersungkur mengenaskan di lantai marmer. Darah segar seketika menyembur dari sudut bibirnya.
Seluruh orang di dalam ruangan terperanjat histeris. Yessika menjerit tertahan, sementara Benny Grey mundur ketakutan.
Di depan pintu kamar yang terbuka lebar, berdiri sosok pria paruh baya bertubuh tegap dengan setelan jas hitam mewah. Aura dominasi dan kemurkaan yang sangat pekat memancar dari tubuhnya, membuat suhu di dalam ruangan mendadak membeku.
Arthur Carlton, sang pemimpin utama berdiri di sana dengan napas memburu dan kepalan tangan yang masih menegang keras.
"Anak tidak tahu diri!" geram Arthur dengan suara berat yang menggelegar bagai gemuruh petir.
"Berani-beraninya kau main tangan pada calon menantu ku di depan mataku!"
Jordan yang terkapar di lantai mendongak dengan wajah pucat pasi. Matanya membelalak lebar memancarkan ketakutan yang teramat sangat.
"A-Ayah...?"
makin kesini makin seruuuuuuu ,,
penasaran kak ,,
lanjuut kak ,,
pgen liat si Jordan Dan yessika keluar dr keluarga Carlton dg kaos oblong Dan daster ,,
😏😏😏