NovelToon NovelToon
Pernikahan Kontrak Seharga Warisan

Pernikahan Kontrak Seharga Warisan

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Identitas Tersembunyi
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Rey 18

Demi menyelamatkan seluruh aset perusahaan peninggalan almarhum ayahnya, Maya diwajibkan oleh surat wasiat kakeknya untuk menyerahkan Buku Nikah sebelum batas waktu jam lima sore. Ketika mantan tunangannya berkhianat akibat suap dari sang paman dan waktu tersisa kurang dari satu jam, Maya nekat menarik seorang pria berkaus oblong lusuh di tepi jalan untuk diajak menikah kontrak di KUA dengan imbalan lima ratus juta rupiah.
​Maya mengira suami barunya, Arka, hanyalah seorang buruh serabutan miskin. Namun, setiap kali pamannya berusaha menjatuhkan Maya, skema jahat itu selalu hancur secara beruntun lewat bantuan misterius. Maya tidak pernah menyadari bahwa pria sederhana yang tinggal di rumahnya itu adalah Arka Nusantara, CEO penguasa konsorsium bisnis terbesar di kota ini yang sengaja menyamar demi melindunginya dari balik layar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rey 18, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Lima Puluh Menit Sebelum Batas Waktu

Suara detak jarum jam dinding berbingkai kayu jati di dalam kantor Notaris Hendra terdengar bagaikan bom waktu yang terus membilang mundur. Maya duduk di kursi kulit warna cokelat tua dengan kedua tangan mengepal erat di atas pangkuannya. Jemarinya yang ramping memucat karena tekanan yang terlalu kuat, menahan amarah dan keputusasaan yang bergulat di dalam dada.

​Di hadapannya, Notaris Hendra menghela napas panjang sambil menggeser kacamata minusnya. Pria setengah baya itu menatap Maya dengan tatapan prihatin, lalu mengetuk pelan sampul tebal bergaris emas yang terhampar di atas meja marmer.

​"Mba Maya, aturan di dalam surat wasiat Almarhum Kakek Wibowo sudah sangat jelas dan tidak bisa diganggu gugat oleh pihak manapun," kata Notaris Hendra dengan suara berat yang memenuhi ruangan. "Jika sebelum pukul lima sore ini Mba belum bisa menyerahkan Buku Nikah yang sah beserta fisik pasangan di kantor ini, maka seluruh delapan puluh persen saham Wibowo Group serta rumah peninggalan orang tua Mba akan jatuh secara otomatis ke tangan Pak Gunawan."

​Maya menoleh ke arah jendela kaca besar yang menghadap langsung ke jalan utama. Di luar sana, sebuah layar LED raksasa yang terpasang di dinding gedung pencakar langit menunjukkan jam digital dengan angka berwarna merah menyala.

​16.10 WIB.

​Waktu yang tersisa hanya lima puluh menit.

​Rasa pahit mendadak memenuhi tenggorokan Maya. Tadi pagi, segalanya masih tampak terkendali. Ia sudah menyiapkan semua dokumen pernikahan bersama Rian, pria yang telah menjadi tunangannya selama dua tahun. Mereka dijadwalkan mengikat janji di hadapan petugas KUA pada pukul satu siang.

​Namun, tepat pukul belas dua belas tengah hari, Rian mendadak menghilang tanpa kabar. Telepon selulernya tidak aktif, dan ketika Maya mendatangi rumahnya, ia justru mendapati Sisca, sepupunya sendiri, keluar dari sana sambil tersenyum penuh kemenangan.

​Rian telah menerima uang suap sebesar sepuluh miliar rupiah dari Pak Gunawan untuk membatalkan pernikahan tersebut secara sepihak. Paman dan sepupunya itu sengaja menjebaknya di detik-detik terakhir agar Maya tidak memiliki kesempatan untuk mencari pengganti, sehingga seluruh warisan mendiang kakek dan ayahnya jatuh ke tangan mereka.

​"Paman benar-benar kejam," gumam Maya dengan suara bergetar. Air mata kemarahan menggenang di pelupuk matanya, namun ia menahannya sekuat tenaga agar tidak menetes. Ia menolak untuk terlihat lemah.

​"Mba Maya masih punya waktu empat puluh menit lebih sedikit," Notaris Hendra mengingatkan dengan nada iba. "Tapi secara logis, mencari calon suami dan mengurus dokumen pendaftaran dalam waktu sesingkat ini adalah hal yang hampir mustahil."

​Maya berdiri secara mendadak hingga kursi kayu di belakangnya terdorong kasar. Matanya menyala oleh tekad yang nekat.

​"Tidak ada yang tidak mungkin, Pak Hendra," tegas Maya sambil menyambar tas tangannya. "Aku tidak akan biarkan Paman Gunawan merebut keringat almarhum ayahku. Sebelum jam lima sore, aku akan kembali ke ruangan ini membawa Buku Nikah!"

​Tanpa menunggu balasan dari Notaris Hendra, Maya melangkah lebar keluar dari ruangan tersebut. Ia menuruni tangga gedung dengan cepat, mengabaikan tatapan heran dari beberapa staf kantor yang bersimpangan dengannya.

​Begitu mendorong pintu kaca keluar gedung, udara panas dan bisingnya suara kendaraan langsung menyapa wajahnya. Maya berdiri di tepi trotoar jalan raya, membiarkan angin membolak-balikkan rambut panjangnya yang terurai. Pandangannya menyapu sekeliling area persimpangan jalan dengan panik.

​Ke mana ia harus mencari pria yang bersedia menikahinya dalam hitungan menit?

​Teman-teman prianya tidak ada yang bisa dihubungi dalam waktu singkat ini. Lagi pula, menyuruh seseorang menikahinya tanpa kejelasan hanya akan menimbulkan masalah baru. Ia membutuhkan seseorang yang tidak mengenal latar belakang keluarganya, seseorang yang bisa diajak bernegosiasi murni berbasis bisnis.

​Saat matanya terus bergerak menyusuri trotoar, pandangan Maya terhenti pada sebuah warung kopi kecil yang terletak di sudut persimpangan jalan.

​Di depan warung kopi tersebut, bersandar di samping sebuah motor bebek tua yang penuh goresan, berdiri seorang pria berbadan tinggi tegap. Pria itu mengenakan kaus oblong hitam polos yang warnanya sudah sedikit pudar di bagian bahu, celana jeans sederhana yang bagian bawahnya agak terlipat, serta sepatu kets biasa. Di tangannya, pria itu memegang helm berwarna hitam yang kaca pelindungnya sudah retak tipis.

​Dari penampilannya, pria itu jelas terlihat seperti seorang buruh harian, pengemudi ojek jalanan, atau montir bengkel yang baru saja selesai menyelesaikan pekerjaannya. Wajahnya agak tertutup bayangan topi, namun garis rahangnya yang tegas dan postur tubuhnya yang menjulang memancarkan kesan gagah yang tidak biasa untuk seorang pekerja kasar.

​Maya melirik jam tangan peraknya. 16.18 WIB.

​Tidak ada waktu untuk memilih. Tidak ada waktu untuk ragu.

​Maya menarik napas dalam-dalam, lalu melangkah cepat menyeberangi trotoar menghampiri pria berkaus oblong tersebut.

​Arka berdiri di samping motor bebek tua milik salah satu pengawalnya, sibuk mengamati layar ponsel genggam khusus yang tersembunyi di balik telapak tangannya. Sebenarnya, kaus pudar dan motor tua ini hanyalah penyamaran darurat karena mobil sedan kustom mewahnya mengalami kendala mesin di tengah jalan beberapa saat lalu saat ia menuju ke kantor pusat Nusantara Group.

​Sebagai pimpinan tertinggi konsorsium bisnis paling berkuasa di kota ini, Arka sengaja memisahkan diri dari rombongan pengawalnya agar tidak menarik perhatian media.

​Tiba-tiba, aroma wangi parfum bunga yang lembut tercium oleh indra penciumannya, disusul oleh suara langkah sepatu tumit tinggi yang terburu-buru mendekati posisinya.

​"Mas! Kamu!"

​Arka mematikan layar ponselnya dan memasukkannya ke dalam saku celana dengan gerakan tenang. Ia mengangkat kepalanya, memiringkan sedikit wajahnya untuk menatap wanita yang mendadak berdiri di hadapannya.

​Seorang wanita muda bergaun putih anggun sedang berdiri terengah-engah di depannya. Wajahnya sangat cantik dengan kulit putih bersih, namun matanya yang jernih memancarkan kepanikan dan kemarahan yang luar biasa.

​"Ya?" suara Arka keluar berat dan tenang, menatap wanita di depannya dengan alis terangkat sebelah.

​Maya menatap pria di hadapannya dari ujung kepala hingga ujung kaki. Wajah pria ini ternyata sangat tampan dengan hidung mancung dan mata hitam pekat yang tajam, jauh melebihi ekspektasinya. Namun, pakaian lusuh dan bau minyak mesin tipis yang tercium dari jaket di stang motor makin menguatkan dugaannya bahwa pria ini adalah rakyat kecil yang butuh uang.

​"Kamu punya KTP sama Kartu Keluarga yang dibawa sekarang?" tanya Maya cepat tanpa basa-basi, suaranya terdengar sangat menuntut.

​Arka sedikit tertegun dengan pertanyaan aneh tersebut. Sebagai warga negara yang taat, dokumen resminya tentu selalu ada di dalam dompet kulitnya. "Bawa. Ada apa?"

​Maya merogoh tas tangannya dengan cepat, mengeluarkan sebuah buku cek pribadi dari bank terkemuka beserta sebatang pulpen. Dengan jemari yang sedikit gemetar, ia menuliskan angka lima ratus juta rupiah di atas kertas cek tersebut, membubuhi tanda tangannya dengan tegas, lalu mencabutnya kasar.

​"Nikah sama aku sekarang juga!" tegas Maya sambil menyodorkan kertas cek itu tepat di depan dada Arka.

​Arka menatap selembar kertas berharga tersebut, lalu beralih menatap wajah Maya yang penuh keseriusan. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, seorang wanita secara terang-terangan menyodorkan cek uang untuk membelinya di tepi jalan.

​"Maksudmu?" tanya Arka dengan nada heran yang sengaja ia buat.

​"Aku butuh suami sekarang juga untuk datang ke KUA dan menyerahkan Buku Nikah sebelum jam lima sore!" jelas Maya secepat kilat. "Ini cek senilai lima ratus juta rupiah! Kita akan buat perjanjian nikah kontrak selama satu tahun. Kamu cuma perlu berakting jadi suamiku di depan keluargaku dan notaris. Setelah satu tahun berakhir, kita cerai secara baik-baik dan uang lima ratus juta ini sepenuhnya jadi milikmu tanpa dipotong sepeser pun!"

​Arka mengamati selembar cek lima ratus juta rupiah di tangannya. Uang sebesar itu bahkan tidak cukup untuk membayar biaya bahan bakar helikopter pribadinya untuk perjalanan satu jam. Namun, tawaran yang tiba-tiba ini mendadak menarik perhatiannya.

​Lagi pula, Arka sedang pusing dihantam desakan dari dewan komisaris dan keluarga besarnya yang terus menerus memaksanya untuk menerima perjodohan bisnis dengan putri-putri konglomerat yang tidak ia sukai. Menikah secara sah namun tersembunyi dengan wanita asing ini bisa menjadi benteng sempurna untuk menolak semua perjodohan tersebut.

​"Lima ratus juta?" Arka menatap mata Maya dengan tatapan dalam. "Mba, kamu tidak takut kalau aku ini penipu, penjahat, atau pengangguran yang cuma mau memanfaatkan uangmu?"

​Maya melirik jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 16.23 WIB.

​"Aku tidak peduli kamu siapa! Mau kamu montir, buruh harian, atau pengangguran, aku tidak peduli!" bentak Maya gemas sambil menarik paksa lengan baju kaus Arka. "Waktuku cuma tersisa tiga puluh tujuh menit lagi! Kamu mau terima uang ini dan bantu aku atau tidak?!"

​Genggaman tangan Maya pada lengan kaus oblongnya terasa begitu kencang dan penuh keputusasaan. Arka melirik tangan kecil wanita itu, lalu bibirnya mengukir sebuah senyuman tipis yang sarat akan arti.

​"Baiklah," ucap Arka seraya menyimpannya cek tersebut di saku celananya. "Ayo."

1
Jamayah Tambi
Lanjut Athur,Dian ambil peluang atas nama darah dan keluarga,sombingvtan tau diri.Umur masih setahun jagung
Jamayah Tambi
Hah,kata dah tamat tp ceritanya bersambung
Jamayah Tambi
Takut kau yg terbunuh Pak Surya Wijaya.Tak masuk di akal sihat dan waras ku bila pulak Arka dan Mayavtinggal di kontrakan.Sebelum tu kan tinggal dirumah peninggalan ayah Maya..
Jamayah Tambi
Dah Arka sendiri yg pimpinan tertinggi Nusantara Group
Jamayah Tambi
Kau hentan je Rian tu.Belagak sangat.
Jamayah Tambi
Arka cepat terus terang .Maya sangat penasaran tu
Jamayah Tambi
Cepat cari tau,agar tidak penasaran terus Maya
Jamayah Tambi
Kalau ketahuan nanti kau jgn marah Maya.Kau yg menawarkan penikahan pada Arka masa itu.Jgn pula kau anggap penipu.Tidak ada untungnya bagi Arka..Kamu yg beruntung Maya,dapat harta karun
Jamayah Tambi
Maya,main saja ikut aturan Arka,nanti tau kok rahsianya
Jamayah Tambi
Rasain.Nak sangat ambil harta anak yatim kan.
Jamayah Tambi
Bola nak sampai pejabat notaris,kok masih di KUA
Jamayah Tambi
Gila, demi harta warisan.Siapa juga mau seluruh harta warisa ayah dan datuknya jatuhbke tangan pamannya dan sepupunya yg serakah itu.Bukan nak tolong anak yatim puatu
itu.
Wawan
Clue yang menarik .... Nyimak ✍️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!