NovelToon NovelToon
Mr.Possessive

Mr.Possessive

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Romansa Fantasi / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Biqy fitri S

Jingga Arletha Alinka punya segalanya—kecerdasan, karier gemilang, dan kehidupan glamor sebagai pewaris perusahaan besar. Sayangnya, satu hal yang tidak pernah masuk dalam daftar pencapaiannya adalah: pacar. Bukan karena tak ada yang mendekat, tapi karena ia terlalu sibuk dengan tumpukan pekerjaan dan target perusahaan.
Sampai akhirnya, orang tuanya melemparkan sebuah “kejutan”: perjodohan dengan Levin Artama Putra. Levin adalah pengusaha muda sukses, anak tunggal yang super manja dan Possessive. Tampan? Tentu saja. Menyebalkan? Jelas.
Pertanyaannya, bagaimana mungkin seorang wanita tegas seperti Jingga bisa cocok dengan pria yang bahkan tidak percaya pada cinta? Atau jangan-jangan, justru pertemuan konyol inilah yang akan mengubah hidup mereka berdua selamanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Biqy fitri S, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Teman SMA

Hari ini Jingga dan Arin sibuk dengan jadwal padat. Mereka harus bertemu dengan partner baru yang akan mengerjakan proyek di lapangan. Pertemuan itu dijadwalkan di sebuah kafe modern di pusat kota.

Sesampainya di sana, seorang pria sudah menunggu. Ia berdiri sambil tersenyum begitu melihat keduanya datang.

“Selamat siang, saya Dave,” ucapnya sambil mengulurkan tangan.

“Selamat siang, saya Jingga, dan ini Arin,” jawab Jingga ramah.

Setelah saling memperkenalkan diri, mereka bertiga pun mulai membicarakan inti pertemuan. Dave memaparkan beberapa poin penting mengenai progres di lapangan, hal-hal teknis yang harus segera diputuskan, juga jadwal kunjungan berikutnya.

Jingga mendengarkan dengan serius, sesekali mencatat.

“Baik, berarti untuk survei lokasi kita bisa atur besok. Saya juga akan koordinasikan dengan tim pusat agar tidak bentrok dengan timeline utama.”

Arin menambahkan,

“Untuk dokumen pendukung nanti saya yang urus. Jadi kalau ada data terbaru dari lapangan, bisa langsung kirimkan ke saya.”

Dave mengangguk puas.

“Sip, kalau begitu kita sudah punya gambaran jelas. Senang sekali bisa kerja sama dengan kalian. Saya yakin proyek ini bakal lancar.”

Suasana awalnya terasa profesional. Namun begitu pembicaraan kerjaan selesai, Arin menatap Dave lebih lekat, ekspresinya seolah baru sadar sesuatu.

“Tunggu... kamu Dave? Dave yang sekolah di SMA Bima Sakti dulu?”

Dave terkekeh.

“Iya, benar. Jadi kalian berdua memang teman seangkatan? Wah, kebetulan sekali!”

Arin langsung menepuk dahinya.

“Astaga! Pantes tadi gue ragu mau nyapa duluan. Gue pikir salah orang. Eh, ternyata beneran Dave!”

Sejak itu, obrolan jadi cair. Mereka bernostalgia tentang masa SMA—tentang guru killer, ulangan dadakan, sampai makanan kantin favorit. Jingga sesekali ikut menimpali dengan tawa, membuat suasana kafe berubah jadi seperti reuni kecil yang penuh cerita manis.

Tawa mereka pecah ketika Arin mulai mengingat salah satu kenangan lama.

“Masih inget nggak, pas upacara bendera, ada yang pingsan gara-gara panas banget? Semua panik, eh ternyata yang pingsan cuma pura-pura biar bisa masuk UKS.”

Dave langsung ngakak. “Oh iya! Itu kan si Roni! Dia sampai terkenal gara-gara aktingnya kebangetan.”

Jingga ikut menimpali sambil senyum geli. “Astaga, kalian masih inget aja. Aku malah udah hampir lupa, sumpah. Tapi sekarang kalau diingat, kocak banget, ya.”

Arin menepuk meja kecil mereka sambil menahan tawa. “Belum lagi pas kita dihukum gara-gara telat masuk kelas Bu Rina. Ingat nggak, kita disuruh lari keliling lapangan sepuluh putaran. Padahal baru lima putaran, hampir semua nyerah.”

Dave mengangguk, wajahnya penuh nostalgia. “Waktu itu yang paling parah sih Arin, kamu kan pura-pura sakit perut biar nggak lari lagi. Aku masih inget banget mukanya panik, tapi ujung-ujungnya ketawa sendiri.”

Arin langsung memukul lengan Dave pelan. “Ya ampun, jangan dibongkar di sini, malu tau!”

Jingga hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah keduanya. “Ternyata dunia sempit banget ya. Aku nggak nyangka partner proyek kita ternyata teman lama sendiri. Rasanya kayak reuni mendadak.”

Dave tersenyum hangat. “Iya, betul. Kadang memang lucu, ya. Hidup bisa mempertemukan kita lagi dalam situasi yang nggak pernah kebayang sebelumnya. Dulu kita cuma anak sekolah biasa, sekarang ketemu lagi dalam dunia kerja.”

Suasana kafe pun semakin akrab. Obrolan ngalir tanpa henti, dari kenangan lucu masa sekolah, cerita guru favorit, sampai rencana reuni yang katanya sering digagas tapi tak pernah jadi.

Setelah obrolan panjang Dave pun berpamitan. Namun di tengah obrolan itu ponsel Jingga berdering. Terlihat tulisan Levin yang menelponnya. Dengan terburu buru Jingga mengangkatnya.

“Oke Ji, besok kita ketemu lagi ya,” ucapnya sambil tersenyum ramah.

“Okeh Dave, terima kasih ya,” jawab Jingga singkat.

“Sayang, siapa laki-laki yang barusan? Aku dengar dia bilang besok ketemu lagi…” suara Levin terdengar panik bercampur nada curiga.

Jingga terdiam sejenak, menyadari nada cemburu tunangannya.

“Oh, itu Dave, sayang. Dia teman SMA aku sama Arin dulu.”

“Hah? Jadi kamu pergi kerja, tapi malah ketemu teman lama? Bukannya harusnya fokus kerja? Kenapa bisa akrab banget sampai besok ketemu lagi?” Nada Levin makin terdengar gelisah, pikirannya sudah ke mana-mana.

Jingga menarik napas, berusaha menenangkan

. “Sayang, tenang dulu. Dave itu orang lapangan dari proyek ini. Jadi besok kita memang harus ketemu lagi untuk survei lokasi. Kebetulan aja ternyata dia teman lama aku sama Arin. Jadi jangan mikir aneh-aneh ya.”

Levin masih diam beberapa detik, lalu menghela napas berat.

“Aku nggak suka dengar ada laki-laki dekat sama kamu, meski itu teman lama."

Jingga tersenyum kecil meski merasa gemas dengan sifat Levin yang mudah cemburu.

“Sayang, kamu jangan khawatir. Aku sama Dave cuma sebatas teman kerja, nggak lebih. Lagian, aku kan cerita langsung ke kamu, nggak ada yang aku tutup-tutupin.”

Levin mendesah pelan, suaranya melembut. “Hmm… iya deh. Maaf ya aku cemburu. Soalnya aku kangen banget sama kamu, terus dengar suara laki-laki lain di dekat kamu, rasanya nggak tenang.”

“Aku ngerti, sayang. Tapi kamu harus percaya sama aku,” jawab Jingga lembut.

“Ya udah, kamu jangan lupa makan ya. Jangan terlalu kecapean. Nanti aku telepon lagi, aku kangen banget sama kamu.” Suara Levin terdengar lembut tapi penuh rindu.

“Iyaa sayang, aku juga kangen kamu.” jawab Jingga manis.

Mereka pun mengakhiri telepon itu. Jingga masih menatap layar ponselnya yang baru saja gelap, tersenyum kecil sambil menghela napas panjang.

Arin yang sedari tadi ikut mendengarkan hanya bisa menggelengkan kepala.

“Astagaaa, Ji. Levin tuh cemburuan akut ya. Gue sampe ikutan bingung dengernya, takut banget pikiran dia kemana-mana. Tapi… di sisi lain, keliatan jelas banget dia sesayang itu sama lo.”

Jingga terkekeh kecil. “Iya, Rin. Gue juga bersyukur banget punya dia. Cuma ya… kadang gue harus lebih sabar aja menghadapi sikap manja dan cemburuannya itu.”

Arin menepuk bahu Jingga sambil tersenyum.

“Namanya juga cinta, Ji. Setiap orang punya caranya sendiri buat nunjukin rasa sayang. Levin… ya dengan cemburuannya itu.”

Jingga hanya mengangguk pelan, hatinya hangat. ia tahu jelas betapa besar rasa cinta Levin padanya.

---

Malam itu, setelah semua obrolan selesai, Jingga hanya bisa duduk termenung di tepi ranjang hotel. Ponselnya masih tergeletak di samping, dengan layar gelap yang baru saja menampilkan wajah Levin beberapa menit lalu.

Ia tersenyum kecil. Cemburuan dan manja… dua kata itu selalu menempel pada sosok tunangannya. Kadang melelahkan, kadang bikin gemas, tapi justru itulah yang membuat hatinya terasa penuh.

Levin memang bukan orang sempurna. Tapi cara dia mencintai aku… begitu tulus, begitu nyata. Bahkan rasa cemburunya pun sebenarnya hanyalah wujud dari ketakutan dia kehilangan aku.

Jingga menghela napas pelan, lalu tersenyum lagi.

Ponsel Arin tiba-tiba bergetar. Ia melirik layar, dan matanya langsung membesar—nama Roy terpampang jelas. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.

Tanpa pikir panjang, ia buru-buru bangkit dan berlari ke balkon kamar hotel, takut kalau Jingga mendengar suaranya dari toilet.

Dengan sedikit gugup, ia mengangkat panggilan itu.

“Ha… halo,” ucap Arin pelan, suaranya nyaris berbisik.

“Hai, Rin,” suara Roy terdengar tenang di seberang. “Kamu lagi sibuk?”

Arin tersenyum sendiri, menahan rasa senang yang meluap. “Oh, enggak. Aku cuma lagi rebahan aja.”

“Hm, syukurlah.”

Nada Roy terdengar ringan, tapi hangat.

Arin terkekeh kecil.

“Kalau sekarang sih santai. Besok baru pusingnya.”

Roy ikut tertawa kecil. “hmmm.. Kamu harus jaga kesehatan.”

Arin menggigit bibir, wajahnya memerah. “Iya, aku usahain. Kamu juga jangan terlalu capek kerja, ya.”

Obrolan pun mengalir ringan. Namun tiba-tiba—pintu kamar terbuka. Jingga masuk dengan langkah santai sambil membawa botol minum.

“Rin, kamu ngapain di balkon? Udara malam dingin lho, nanti masuk angin.”

Arin langsung terperanjat. Dengan cepat ia menutup percakapan itu.

“Ah, nggak apa-apa, Ji. Cuma mau liat suasana kota malam ini aja,”ucapnya terburu-buru, berusaha menyembunyikan rona merah di pipinya.

Jingga menatap curiga sekilas, tapi hanya menggeleng sambil tersenyum. “Dasar, ada-ada aja kamu. Ayo masuk, besok kita sibuk lho.”

Arin mengangguk cepat dan mengikuti Jingga ke dalam, sementara di hatinya masih bergetar oleh suara yang tadi terdengar begitu dekat.

Lalu Arin berbaring di ranjang hotelnya, lampu kamar sudah redup. Tapi matanya sama sekali tak bisa terpejam. Ia menatap layar ponsel yang sudah ia letakkan di samping bantal. Seolah menunggu sesuatu yang entah apa.

“Kenapa deg-degan banget sih?” gumamnya pelan, sambil menekan dadanya yang masih berdebar tak karuan.

Arin membalikkan badan, menarik selimut hingga menutupi wajahnya sendiri. Ia tersenyum malu, lalu terkekeh kecil. “Gila, Rin… kamu kenapa jadi begini…”

Namun senyum itu perlahan memudar ketika ia sadar satu hal: ia tidak boleh sampai ketahuan. Tidak oleh Jingga, tidak oleh siapa pun. Semua masih terlalu rapuh, terlalu baru, dan terlalu manis untuk diungkapkan.

Ponselnya bergetar pelan—sebuah pesan singkat masuk. Arin buru-buru meraihnya.

Seketika wajahnya kembali merah.

Pesan itu sederhana saja:

“Selamat tidur, Rin. Jangan lupa mimpi indah ya.”

Arin menutup mulutnya dengan tangan agar tidak bersuara terlalu keras. Tapi senyum itu—tak bisa ia sembunyikan sama sekali.

1
csgym
bagus ceritanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!