Siapa perempuan yang ingin menjadi mandul .?? tidak ada satupun yang menginginkan itu semua, setiap wanita pasti ingin punya keturunan punya buah hati yang akan menjadi pelengkap dalam bahtera rumah tangga nya, sebagai pemanis dalam cinta yang di arungi bersama teman hidupnya.
Namun rencana yang kuasa tetap lah rencana nya siapa yang dapat menghindar atau mengelak jika ia sudah berkehendak, itu lah yang di alami kora.
11 Tahun pernikahan nya ia selalu mendambakan ada buah hati yang sudi tumbuh dalam rahim nya, 11 tahun penantian yang panjang. Pernikahan yang sempurna, memiliki suami yang sempurna ternyata bukan lah obat dari sebuah penawar kebahagiaan.
pernikahan yang dikira akan berjalan seumur hidup harus kandas kala tuntutan dan penghianatan yang terjadi. kora tidak marah tidak juga menyalahkan siapapun ia memilih mengalah dan merelakan cinta nya pergi dan memilih menghilang untuk menemukan arti kebahagiaan yang sesungguhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SeinXD, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CH 23
Perjalanan bisnis kali ini yang memakan cukup banyak waktu membuat Hendra kelelahan, jam tangan nya sudah menunjukan pukul 23.15 malam. Ia juga baru sampai di rumah, saat melangkah masuk didapatinya kora yang tersenyum kearah nya yang menantinya pulang.
Wanita itu begitu cantik berbalutkan gaun hitam yang sedikit menunjukan lekuk tubuh nya, Hendra terpana akan kecantikan itu. Hendra tersenyum senang.
Kora berjalan kearah nya dan meraih punggung tangan nya, kora mengecup punggung tangan Hendra dengan lembut seolah mengatakan selamat datang ke rumah, kora menarik lengan kekar Hendra menuju meja makan, disana sudah ada banyak makanan yang ia siapkan dengan sepenuh hati.
" ayo makan, kamu pasti lapar karena menempuh perjalanan yang jauh.!"
Hendra hanya mengangguk saja ia menuruti apa yang kora mau, kora menarik kursi dan menyuruh Hendra duduk ia melayani Hendra dengan sepenuh hati.
Kora mengambil piring menaruh Nasi serta lauk pauknya di piring itu untuk suami nya, Hendra merasa kehangatan yang tak dapat ia jelaskan. Rasa lelahnya seolah terangkat saat melihat kora dengan senyum manisnya.
" terima kasih!"
Kora tersenyum saat mendengar ucapan terima kasih dari suaminya, ia duduk di sebrang sang suami untuk menemani nya makan. Hendra makan begitu lahap rasa masakan yang selama ini ia rindukan yang tidak dapat ia rasakan di luaran sana, jika masalah masak memasak istrinya inilah yang paling jagonya.
Melihat Hendra makan dengan begitu lahap membuat air mata kora jatuh, ia bukan menangis karena sedih melainkan karena terharu. Sudah begitu lama ia tak pernah melihat pemandangan ini, sudah begitu lama entah yang keberapa itu tak bisa ia hitung.
Kora segera mengusap air matanya takut jika Hendra melihatnya menangis, ia berusaha tersenyum di tengah rasa sesak di dadanya.
" sayang!"
Kora mengangkat kepalanya saat suara lembut Hendra memangilnya, Hendra menatap mata kora yang sembab.
" kamu kenapa?"
Kora segera mengelap sisa sisa air mata di matanya, ia tak ingin Hendra tau lelaki itu sudah sangat lelah dengan pekerjaan nya ia tak ingin membebani Hendra karena hal sepele ini.
" tidak apa-apa, tadi hanya kelilipan!"
Hendra hanya mengangguk kan kepala lalu kembali melahap makanan nya, ia sibuk dengan makanan nya karena perut nya benar-benar keroncongan.
" aku akan menyiapkan air hangat untuk kamu mandi, makan lah yang banyak!"
" hmm"
Kora bangkit berdiri dari kursi menuju kamar, ia akan menyiapkan air hangat untuk Hendra mandi. Ini sudah Tengah malam tak baik jika harus mandi dengan air dingin.
Ting
Pesan masuk di ponsel Hendra membuat nya menghentikan kegiatan nya, ia melihat pesan singkat dari Tiara.
" malam ini apa kamu akan kesini?"
Hendra mengabaikan pesan itu, ia segera beranjak dari sana untuk mandi. Kora merapikan meja dengan telaten dibantu beberapa orang pembantunya yang masih terjaga.
Setelah merapikan meja ia masuk kamar untuk membereskan kameja Hendra yang berserakan di lantai, kebiasaan suaminya ini hanya membuat kora menggelengkan kepalanya.
Saat mengangkat kemeja itu ia tak sengaja menemukan sebuah ating yang terselib di balik kameja, kora mengambil anting kecil itu ia memperhatikan nya.
" kenapa anting ini ada disini? mungkin tadi tak sengaja menempel disini. !"
Kora menyimpan anting tersebut dan akan menanyakan nya pada Hendra nanti, siapa tau itu anting milik rekan kerja nya yang tak sengaja menempel pada kameja milik Hendra.
Ceklek
Hendra keluar dari kamar mandi ia melihat kora tenggah asik membaca buku di atas ranjang, Hendra tersenyum memperhatikan istri nya itu. Tubuh atletis milik Hendra begitu tampak seksi membuat kora menggigit bibir bawahnya menahan rasa gejolak dalam hatinya.
Ia berpura-pura fokus pada bukunya padahal diam diam ia memperhatikan sang suami, ia berharap Hendra akan menghampiri nya. Namun tak seperti yang ia kira ternyata Hendra malah segera mengenakan pakaian tidur dan berbaring di samping nya.
Hendra mulai terlelap dalam tidur nya ia membelakangi kora, kora hanya menatap punggung sang suami yang tampak naik turun seperti nya ia sudah begitu lelap dalam tidurnya.
Rasa sepi yang perlahan menggerogoti hatinya membuat kora hanya bisa berdiam diri sembari menatap punggung sang suami, ia mendekati hendra dan memeluk nya dari belakang.
Ia menghirup aroma khas dari pria itu, ia begitu merindukan nya rindu sosok hangat yang ada dalam diri Hendra. Sudah lama lelaki ini tak menyentuh nya ia rindu rindu sentuhan hangat itu.
Ting
Ting
Ting
ponsel Hendra terus berbunyi namun kora tak memperdulikan nya ia lebih memilih memeluk Hendra dan mencari sesuatu yang hangat di sana.
...----------------...
" sialan "
tiara mengumpat sembari melepar ponsel nya di atas kasur, ia kesal karena Hendra tak membalas pesan nya bahkan untuk membaca pesan itu saja tidak.
Tiara menarik nafasnya pelan ia berusaha mencari cara agar segera dapat memikat Hendra di sisinya, ponsel nya tiba-tiba saja berbunyi ada panggilan masuk.
Tiara segera meraih ponsel itu berharap yang menghubungi nya sekarang adalah Hendra, namun raut wajahnya berubah saat melihat siapa yang menelpon.
" hallo"
" mama"
Suara kecil di sebrang telpon membuat Tiara meremas kasurnya, ia berusaha Tempak seperti biasa ketus dan dingin, ia tak ingin terlihat rapuh pada sosok kecil itu.
" ada apa?"
" kapan mama pulang?"
" tidak tau!"
" mama!"
" sudah lah, jangan rewel aku ngantuk ingin tidur!"
Tiara hendak mematikan telpon nya, namun suara kecil itu membuat nya terdiam beberapa saat.
" i miss you mama!"
Tiara merasakan getaran kecil yang menyentuh hati kecilnya, ia sungguh juga merindukan nya namun ia tak akan melibatkan nya dalam masalah ini. Biarkan lah ia yang akan menanggung ini semua.
setelah mematikan panggilan telpon Tiara membuang kembali ponsel nya, ia menatap langit-langit kamarnya tampaknya ada sebuah harapan dalam matanya namun harapan itu terlalu kecil dari ambisi nya.
Ia berharap suatu saat mahluk kecil itu dapat hidup lebih baik dari nya, berharap kelak tak ia akan melupakan dirinya yang memang tak pernah pantas menjadi sosok seorang ibu yang baik. Ia ingin agar sosok itu tumbuh dengan baik tanpa ada dirinya disana.
" terbanglah setinggi-tingginya jangan pernah menoleh pada ku, tumbuh lah lebih baik.!"
Air matanya mengalir tanpa aba-aba sosok yang selama ini berusaha kuat akhirnya luluh juga ketika hanya mendengar suara kecil yang begitu merindukan nya, ia merasa tidak pernah pantas menjadi seorang ibu ia tidak pernah berusaha untuk memperbaiki apa apa biar lah kebencian demi kebencian itu tumbuh agar kelak tak ada batu sandungan yang bisa menghalanginya mencapai apa yang ia mau.