Dibesarkan di sebuah rumah bordil, ia tak pernah membayangkan dirinya akan terpilih sebagai Saintess yang ditakdirkan menyelamatkan dunia. Baginya, takdir itu terasa mustahil. Ia lahir sebagai rakyat jelata yang selalu dipandang rendah, tetapi setelah menjadi Saintess, orang-orang mulai memujanya tanpa benar-benar mengenalnya.
Di tengah kehidupan yang penuh pertentangan itu, ia bertemu seorang ksatria yang tidak menghakimi masa lalunya maupun memuja statusnya. Pria itu tidak pernah menjanjikan keselamatan, tetapi selalu berada di sisinya, menghadapi setiap cobaan bersama, bahkan rela mempertaruhkan nyawanya.
Di balik sikapnya yang dingin, tersembunyi ketulusan yang perlahan mengubah hidupnya. Bersama ksatria itu, ia belajar menerima dirinya sendiri dan menemukan harapan di dunia yang selama ini hanya memberinya penghinaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon flowy_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sesuatu yang Familiar
Violet keluar dengan wajah berkerut menahan tangis. Air matanya nyaris tumpah. Saat melihat taman yang telantar karena bunga-bunganya telah layu di musim dingin, ia merasa pemandangan itu begitu mirip dengan hatinya.
Air matanya pun jatuh satu per satu. Dari setiap tetes air mata yang jatuh, cahaya putih keperakan yang samar merembes ke dalam tanah.
Saat itu juga, mawar-mawar yang layu karena musim dingin mulai bermekaran dengan cepat. Namun, Violet terus berjalan tanpa menghentikan tangisnya. Setiap kali kakinya melangkah, bunga mawar kembali bermekaran di belakangnya.
Violet masih tak menyadari apa yang terjadi. Ia justru sibuk memikirkan di mana dirinya bisa menangis tanpa diganggu.
Di mana aku bisa menangis? Di kapel? Aku berharap tidak ada seorang pun yang mencariku. Apa ada tempat seperti itu?
Ketika air matanya kembali jatuh, bunga bakung yang seharusnya baru bermekaran di musim semi ikut mekar sebelum waktunya. Bunga-bunga itu menebarkan aroma yang pekat, tetapi Violet yang terus terisak hingga hidungnya tersumbat tidak mampu menciumnya. Kepalanya mulai terasa pusing.
Lebih baik, aku pergi ke taman belakang. Di sana tidak ada orang.
Dengan langkah berat, Violet pun berjalan ke sana.
Sebenarnya, Violet merasa pesta ini seperti tempat semua orang menilainya. Bukan hanya Countess Loraine, tetapi juga orang-orang lain. Dan ia merasa, mereka semua menganggap dirinya bodoh dan tidak berguna.
Apa Marquis menginginkan aku mendengar ini?
Violet terus berjalan tanpa tujuan sampai akhirnya menemukan tempat yang sepi. Ia berlutut dan membenamkan wajah di kedua lututnya.
Lalu, apa gunanya memakai gaun secantik ini?
Saat masih menjadi rakyat jelata, setidaknya ia masih bisa saling tersenyum dengan orang-orang yang bernasib sama. Meskipun tempat itu dipenuhi segala macam kotoran, mereka tidak akan tersenyum di hadapannya lalu mencibir bahwa ia bodoh di belakangnya.
Angin musim dingin yang dingin perlahan merenggut kehangatan tubuhnya.
“Sulit dipercaya, ternyata kamu ada di sini.”
Suara merdu yang lembut terdengar samar.
Suaranya begitu indah hingga Violet bahkan tidak menyadari bahwa suara itu ditujukan kepadanya.
“Berdirilah.”
Suara yang sulit dikenali sebagai suara laki-laki atau perempuan itu kembali terdengar di telinganya. Namun, suara tersebut segera tenggelam oleh isak tangis Violet.
Ia tidak ingin mengatakan apa pun.
Ia juga tidak ingin mendengar apa pun.
“Sudah kubilang, ayo berdiri. Kita tidak punya banyak waktu.”
Merasakan bahunya diguncang, Violet perlahan mengangkat tubuhnya. Ketika mendongak, matahari ternyata sudah benar-benar tenggelam dan hari telah memasuki awal malam. Namun, tempat itu masih terasa seperti siang hari karena sosok putih bersih yang berdiri di hadapannya.
Violet tertegun.
Seseorang berpakaian putih berdiri di sana sambil tersenyum lembut, begitu putih dan bersih hingga mengingatkannya pada peri salju dalam dongeng. Rambutnya dipotong pendek dengan rapi, berwarna perak seperti rambut Violet. Sepasang mata keemasan yang lembut menatapnya dengan hangat.
Apakah dia utusan dewa yang turun dari langit?
Violet sempat ragu sebelum bertanya sambil terisak.
“Kakak cantik siapa?”
Violet tumbuh di antara para wanita, jadi baginya, setiap orang cantik adalah seorang kakak.
“Maaf, tapi aku laki-laki.”
Orang itu—atau lebih tepatnya, anak laki-laki itu—langsung membantah.
Violet tampak bingung dan segera meminta maaf. Anak laki-laki itu hanya tersenyum lebar.
Saat ia tersenyum, wajahnya seakan ikut bercahaya. Senyumnya lembut seperti cahaya bulan. Jika ada senyum yang bisa disebut bercahaya, mungkin senyum orang inilah yang paling tepat menggambarkannya.
Kalau Saintess yang sesungguhnya memang ada, mungkin dia akan terlihat seperti ini.
Pikiran itu melintas begitu saja di benak Violet.
“Kenapa kau menangis?”
Mendengar pertanyaan lembut itu, Violet tidak tahu harus menjawab apa. Ia takut menceritakan alasan tangisnya kepada orang yang baru pertama kali ditemuinya.
Bagaimana kalau dia juga sama? Di depanku tersenyum seperti malaikat, tetapi di belakangku mungkin saja dia akan menyebutku bodoh.
Kalau dia tahu aku seorang rakyat jelata, mungkin senyum indah itu akan hilang. Bisa saja dia malah menertawakanku karena menangisi sesuatu yang menurutnya sepele.
Atau mungkin mengatakan bahwa semua itu memang sudah seharusnya terjadi dan tidak ada alasan untuk menangis.
Violet pun menghindari tatapannya.
“Aku sudah menunggumu begitu lama sampai akhirnya aku menemukanmu. Tapi saat bertemu, ternyata kau sedang menangis. Aku jadi ikut sedih. Apalagi kau tidak mau memberitahuku alasannya.”
Namun, anak laki-laki itu tidak menyerah.
Violet yang sejak tadi menghindari tatapannya akhirnya memberanikan diri menatap wajahnya. Benar saja, wajah anak laki-laki itu tampak sedih.
Melihat wajahnya yang begitu indah berubah karena kesedihan, Violet merasa seolah telah melakukan kesalahan besar yang tak mungkin dimaafkan.
Ia terdiam cukup lama.
Entah kenapa, rasanya aku bisa mempercayainya.
Ada sesuatu dalam dirinya yang terasa berbeda dari Ledian—kekuatan yang tak dapat dijelaskan, sekaligus keakraban yang membuat Violet merasa nyaman.
Apa yang harus kulakukan?
Setelah berpikir sejenak, Violet akhirnya mulai berbicara dengan terbata-bata.
"Orang-orang... mereka semua bilang aku rakyat jelata... Mereka menertawakanku dan... sangat membenciku."
Violet kembali terisak hingga tidak sanggup melanjutkan kalimatnya.
“Ya ampun...”
Dengan wajah penuh iba, anak laki-laki itu menariknya ke dalam pelukan.
Tangis Violet perlahan mereda dalam pelukan yang hangat itu.
Entah mengapa, napas anak laki-laki itu terdengar semakin cepat, seolah ia sedang menahan amarah. Namun, ketika kembali berbicara, suaranya tetap lembut.
“Apakah kau merasa kesulitan tinggal di sini?”
“Ya. Sangat sulit.”
Mendengar jawabannya, anak laki-laki itu menepuk-nepuk punggungnya dengan lembut.
“Katanya dunia selalu dipenuhi kebahagiaan. Tapi kenapa kau justru terlihat begitu sedih?”
“Tidak. Duniaku justru dipenuhi kesedihan.”
Lily dan Rose juga tidak bahagia.
Violet sebenarnya ingin menambahkan itu, tetapi anak laki-laki itu tidak mengenal mereka, jadi ia memilih diam.
Anak laki-laki itu menggerakkan pandangannya ke sana kemari, seolah baru saja mendengar sesuatu yang sulit dipahami. Tampaknya ia sedang berusaha mengerti maksud perkataan Violet. Sikapnya terlihat begitu polos.
Barulah Violet berani menatapnya lagi.
Sekilas, anak laki-laki itu tampak seperti seorang gadis. Namun, setelah diperhatikan lebih saksama, Violet bisa melihat tonjolan kecil di lehernya. Wajahnya memiliki garis-garis lembut yang nyaris menyerupai seorang wanita.
Ia memang sangat cantik, tetapi entah mengapa Violet merasakan sesuatu yang familiar darinya.
Seolah menyadari tatapan Violet, anak laki-laki itu tersenyum lembut.
“Jadi, kau juga ingin bertemu denganku?”
Violet tidak mengenalnya. Ia hanya memiringkan kepala dengan bingung.
“Aku sangat ingin bertemu denganmu. Aku sudah menunggumu begitu lama. Sangat lama.”
Ada perasaan mendalam yang tersirat dalam kata-katanya, membuat Violet sedikit takut.
Namun, mata keemasannya tetap menatap wajah Violet tanpa goyah.
“Aku datang sampai sejauh ini untuk mencarimu, Violet.”
"....."
“Aku ingin bertemu denganmu.”
"....."
“Aku tidak membencimu. Sungguh. Entah kau rakyat jelata atau bukan, itu tidak penting bagiku.”
Wajah anak laki-laki itu tampak serius dalam bayang-bayang cahaya bulan. Ada sesuatu dalam dirinya yang membuatnya terlihat begitu bersungguh-sungguh, bahkan nyaris putus asa.
Dan entah mengapa, itu menggoyahkan hati Violet.
“Jadi, maukah kau ikut denganku?”
Anak laki-laki itu mengulurkan tangannya. Di bawah cahaya bulan, tangannya tampak begitu putih.
Begitu lembut dan hangat.
Dia bilang tidak masalah meskipun aku rakyat jelata. Dia orang yang begitu baik. Mungkin tidak apa-apa jika aku mengikutinya.
Tempat itu terasa begitu menakutkan, seolah-olah bisa menelannya kapan saja.
Memang, Violet bisa mengenakan pakaian bagus dan menyantap makanan lezat di sini. Namun, hatinya selalu merasa tidak nyaman.
Violet menatap tangan yang terulur di hadapannya. Ia hendak meraihnya, tetapi baru menyadari bahwa anak laki-laki itu mengenakan jubah putih bersih milik seorang pendeta.
Selama ini, Violet bahkan tidak menyadari bahwa pakaian itu merupakan jubah seorang pendeta. Mungkin karena jubah tersebut terlihat begitu cocok saat dikenakan olehnya, berbeda dengan para pendeta lain yang tampak kurang cocok mengenakannya.
Violet tertegun dan kembali menatap anak laki-laki itu.
Ia sedang menatap Violet dengan begitu sungguh-sungguh.
Jangan-jangan... ini kesempatan terakhirku?
Tepat saat pikiran itu terlintas—
“Ah!”
Sebuah bilah pedang berwarna perak tiba-tiba mengarah ke arahnya. Violet terkejut dan menjerit.
Logam tajam dengan kilatan dingin itu adalah sesuatu yang paling ditakutinya, terlebih setelah sekian lama tidak melihatnya.
Tepatnya, bilah pedang itu bukan diarahkan kepada Violet, melainkan ke leher anak laki-laki tersebut. Namun, rasa takut yang ditimbulkannya begitu besar hingga kedua kaki Violet hampir kehilangan tenaga dan membuatnya terjatuh.
Saat Violet gemetar ketakutan melihat bilah pedang yang berkilau kebiruan di bawah cahaya bulan, terdengar suara yang begitu dingin.
“Siapa kau?”
Violet sangat mengenal suara itu.
Tuan Muda Carlise, putra sulung keluarga Rivera.
Berbeda dengan Violet yang begitu terkejut, anak laki-laki yang lehernya tengah ditodong pedang justru tampak tenang. Ia bahkan tersenyum kepada Violet seolah ingin menenangkannya.
Namun, begitu melihat tubuh Violet yang gemetar ketakutan, senyum di wajahnya seketika lenyap. Wajahnya berubah dingin.
“Bukankah sudah jelas dari jubah ini? Aku hanya seorang pendeta yang kebetulan lewat.”
Carlisle langsung menjawab, “Seorang pendeta datang ke kediaman Rivera? Jangan menganggapku bodoh dengan permainan kata seperti itu.”
Untuk pertama kalinya, Violet merasakan niat membunuh yang begitu nyata.
Bahkan saat Lily dan Rose meninggal, ia tidak pernah merasakan tekanan seperti ini. Ini adalah aliran kekuatan yang begitu besar, sesuatu yang sama sekali belum pernah ia rasakan sebelumnya.
“Namun, bukankah Duke Caldeor seharusnya datang kemari, Tuan Muda Carlisle?”
Pedang Carlisle masih belum diturunkan.
“Marquis tidak pernah mengundang Yang Mulia Duke.”
"Benarkah? Kalau begitu, bagaimana ini? Beliau sedang berada di sini sekarang."
Mendengar itu, Carlise sedikit mengernyit. Pedangnya masih terarah kepada anak laki-laki itu, yang berada dalam posisi berbahaya.
Duke Caldeor? Siapa dia?
Violet merasa pernah mendengar nama tersebut beberapa kali.
“Kalau kau menyentuhku, kurasa kau tidak akan bisa pergi dengan selamat, Tuan Muda Rivera. Bukankah saat datang tadi kau melihat kereta milik Duke?”
Senyum yang diberikan anak laki-laki itu kepada Violet terasa begitu hangat, seolah ingin menenangkannya. Namun, ketika berbicara kepada Carlise, suaranya berubah dingin.
Terlebih lagi, ia berbicara kepada Carlise tanpa menunjukkan rasa hormat sedikit pun. Perubahan itu terasa begitu asing hingga seluruh tubuh Violet seketika menegang.
Perasaan apa ini?
Saat Violet berusaha memahami perasaan aneh yang tak bisa ia jelaskan, Carlise akhirnya menurunkan pedangnya.
“Saintess adalah bagian dari keluarga Rivera.”
“Bukankah semua hubungan itu akan terputus begitu Saintess dewasa dan resmi menjadi bagian dari kuil?”
Anak laki-laki yang mengenakan jubah pendeta itu menjawab dengan tawa sinis yang dingin. Suaranya terdengar semakin rendah dan tajam.
“Lagipula, sepertinya bukan hanya Anda yang berpikiran seperti itu.”
Ia berkata demikian sambil menatap Violet. Namun, tidak ada sedikit pun sisa hawa dingin yang tadi terpancar dari wajahnya. Tatapannya kembali lembut dan hangat seperti sebelumnya.
“Sayang sekali, ada pengganggu yang datang, Violet.”
Ia meraih tangan Violet dan membantunya berdiri.
"Lain kali, kuharap kau mau menggenggam tanganku."
Ia tersenyum lembut, lalu membungkuk dan mengecup punggung tangan Violet.
Barulah Violet menyadari bahwa tinggi anak laki-laki itu ternyata hampir sama dengan Carlisle.
Dengan senyum yang begitu indah dan memikat, anak laki-laki itu melambaikan tangan kepada Violet sebelum akhirnya pergi.
-
Malam terasa dingin.
Meski sudah mengenakan mantel, tubuh Violet tetap gemetar.
“Bukankah Ayah sudah memperingatkanmu?”
Setelah anak laki-laki itu pergi, Carlisle menatap Violet dengan tajam. Nada bicaranya terdengar dingin dan penuh teguran, membuat Violet tanpa sadar meringkuk ketakutan.
Carlisle memang tampak marah. Dari sudut pandang mereka, hal itu memang wajar. Sedikit saja lengah, Violet bisa saja direbut oleh pihak kuil.
Violet mendongak dengan mata berkaca-kaca. Ia takut pada pria ini. Apalagi setelah melihat pedang yang berkilat di tangannya, rasa takut itu semakin kuat.
Violet masih mengingat pasukan kerajaan.
Orang-orang di sekitarnya dibantai tanpa ampun.
Dan kini, pedang itu masih berada di tangan kiri Carlise. Senjata tajam yang bisa digunakan untuk membunuh seseorang.
Melihat wajah Violet yang ketakutan, Carlisle terdiam.
Ia tidak mengatakan apa-apa untuk beberapa saat, lalu mengulurkan tangannya.
Violet tersentak dan segera menghindarinya.
Carlisle menghela napas pelan.
"Jika kau ingin berada di sini lebih lama, aku akan menemanimu."
Setelah berkata demikian, ia mundur beberapa langkah.
Sikapnya seolah sedang berusaha menenangkan seekor binatang liar agar tidak ketakutan.
Namun, Violet tetap tidak ingin kembali ke kediaman itu.
Para wanita yang tadi cekikikan sambil menertawakannya pasti masih ada di sana.
Tidak. Mungkin hampir semua orang di sana sedang menertawakannya.
Saat sebelumnya mendengar percakapan para pelayan, Violet masih bisa menerimanya meski hanya dengan menangis sedih. Namun sekarang, ia benar-benar tidak sanggup kembali ke sana.
Apa benar ada orang yang datang hanya untuk merayakan ulang tahunku?
Violet kembali terduduk dan memeluk lututnya.
Kapan semua ini akan berakhir?
Saat dulu dipukuli oleh nenek Ruth, setidaknya Violet masih punya harapan bahwa semuanya akan berakhir ketika nenek Ruth lelah memukulinya. Setelah memohon dengan rendah hati sambil mengakui kesalahannya dan menerima pukulan bertubi-tubi, para kakak akan memperlakukannya lebih baik. Bahkan Nenek Ruth terkadang memberinya permen.
Anehnya, setelah dipukuli, keadaan Violet justru sedikit membaik.
Namun, sekarang rasanya seperti terus-menerus dipukuli tanpa akhir.
Dan kali ini, ia merasa siksaan itu akan berlangsung seumur hidup.
Begitu pikiran itu muncul, keputusasaan kembali menghampirinya. Air matanya pun jatuh lagi.
Angin musim dingin menusuk tubuhnya.
Saat itulah sesuatu yang hangat tiba-tiba menutupi punggungnya.
Violet mendongak.
Carlisle hanya menatapnya dalam diam. Ia tidak tahu apa yang sedang dipikirkannya.
Bagaimanapun, dia pasti sama seperti mereka.
Pikiran itu membuat Violet semakin kesal.
Ia sebenarnya ingin melemparkan mantel yang diberikan Carlisle kepadanya, tetapi rasa takut membuatnya tidak berani.
Pedang yang masih berada di tangan Carlisle begitu menakutkan.
Senjata yang dipenuhi hawa membunuh itu seolah bisa menusuknya kapan saja.
Saat Violet masih terus menangis, tiba-tiba suara Carlise kembali terdengar.
“Apakah kau berniat membuat semua bunga di taman ini bermekaran?”
Mendengar ucapan itu, Violet mengangkat kepalanya.
Awalnya ia mengira sedang turun salju, tetapi ternyata bukan. Bunga-bunga musim semi yang bermekaran di pepohonan, meski belum waktunya, justru berguguran ke arahnya.
Padahal sekarang musim dingin. Angin dingin berembus tajam, tetapi bunga-bunga tetap bermekaran.
Di belakang Carlisle pun mawar-mawar kuning mulai mekar.
Violet melihat rerumputan hijau bermunculan di sekeliling tempat ia duduk.
Ia berkedip bingung. Setetes air mata jatuh dan meresap ke rerumputan.
Saat itu juga, bunga-bunga di sekitarnya mengeluarkan aroma yang semakin kuat.
Violet bahkan melupakan rasa takutnya terhadap Carlisle yang masih membawa pedang.
Ia bangkit dan memandang sekeliling.
Bunga-bunga bermekaran di mana-mana. Tidak seperti bunga di taman yang dirawat dan dipangkas oleh tangan tukang kebun, bunga-bunga itu tumbuh liar dan mekar sesuka hati, masing-masing menebarkan keharumannya.
Hawa dingin musim dingin perlahan menghilang. Pepohonan yang sebelumnya gundul kini kembali menghijau.
“Jangan-jangan... aku yang melakukan semua ini?”
Violet bergumam pelan.
Ia menyentuh kuncup mawar putih di sampingnya. Seketika, bunga itu mekar, seolah menyambutnya dengan gembira seperti anak anjing yang baru bertemu pemiliknya.
Violet menatap telapak tangannya.
Padahal ia tidak melakukan apa-apa.
“Jangan gunakan kekuatan sucimu untuk hal seperti ini.”
“Aku tahu.”
Untuk pertama kalinya, Violet menjawab dengan nada menentang.
Bagaimana aku bisa mengendalikannya kalau aku sendiri bahkan tidak tahu caranya?
Pikiran itu membuatnya kesal.
Violet tidak menyukai putra sulung itu. Tepatnya, bukan benar-benar membencinya. Ia hanya merasa tidak nyaman dan takut berada di dekat Carlise.
Carlisle pun sepertinya juga tidak menyukai Violet. Namun, sekarang ia tidak menunjukkan sedikit pun perasaan seperti itu.
Carlisle mirip dengan Marquis. Sulit mengetahui apakah mereka menyukai atau membencinya.
Jika Marquis, Violet masih bisa menerimanya karena ada jarak di antara mereka. Namun, Carlisle berbeda. Ia tidak pernah menunjukkan perasaannya, tetapi dengan mudah mendekati Violet dan justru melakukan hal-hal yang menyakitinya.
Ia pernah mengatakan bahwa gaunnya tidak cocok untuknya. Ia juga tetap mengusir Seina meskipun Violet sudah memohon.
Bagi Violet, Carlisle adalah orang yang aneh.
Ia selalu membuat Violet berharap, lalu menghancurkan harapan itu.
Bahkan hari ini, bukankah dia menghunuskan pedang kepada anak baik tadi?
Violet melepas mantelnya dan mengulurkannya kepada Carlise.
Carlisle hanya mengenakan kemeja, jadi ia pasti kedinginan. Lagipula, Violet tidak ingin mengenakan mantel yang tadi dipakainya.
Carlisle menatapnya dengan wajah dingin.
Jantung Violet seakan jatuh ke dasar perut, tetapi kali ini ia tetap berusaha mempertahankan pendiriannya. Ia tidak ingin berutang budi kepadanya.
Violet masih ingat bagaimana Carlisle baru saja menghunuskan pedang kepada sang pendeta dan memancarkan niat membunuh yang begitu kuat.
Kalau anak laki-laki itu tidak mengatakan bahwa dirinya seorang pendeta, mungkin ia sudah terbunuh di tangan Carlise.
Sama seperti Violet yang mungkin sudah mati di tangan pasukan kerajaan jika dirinya bukan seorang Saintess.
Sejak kematian Lily dan Rose, Violet yang masih kecil mulai memahami bahwa nyawa orang-orang dari kalangan rendah seperti mereka ternyata tidak semahal yang selama ini ia bayangkan.
Saat mengusir Seina pun, Carlisle begitu kejam.
“Pakai. Kau bisa kedinginan.”
Violet juga tidak menyukai cara bicaranya yang terdengar begitu dingin.
Semakin ia merasa tidak suka, semakin kesal pula dirinya.
Dengan campuran rasa takut dan keras kepala, Violet menghindari tatapannya.
“Apakah kau menyesal karna tidak mengikuti pendeta tadi?”
Itulah pertama kalinya Violet mendengar nada menyindir dalam suara Carlisle.
Kali ini, Violet pun menjawab terus terang tanpa berusaha menyembunyikan perasaannya.
“Ya! Aku menyesal tidak mengikutinya!”
Sambil berteriak, Violet berlari menjauh.
Seharusnya tadi aku benar-benar mengikutinya.
Violet memang sempat ragu, tetapi karena anak laki-laki itu ternyata seorang pendeta, Violet tidak jadi meraih tangannya. Kalau saja dia bukan pendeta, mungkin Violet sudah langsung menggenggam tangannya.
Namun, apa pun alasannya, pada akhirnya Violet memang tidak mengikutinya.
Kenapa Tuan Muda Pertama itu selalu memasang wajah tidak senang setiap kali melihatku? Kenapa aku terus dimarahi?
Hari ini, Violet benar-benar ingin sendirian. Bahkan melihat wajah Ledian pun tidak ingin.
Ia berlari menuju kapel, berniat bersembunyi di sana. Namun, di tengah langkahnya, terdengar suara langkah kaki mengejarnya.
Seluruh tubuh Violet seketika terasa dingin.
Jangan-jangan karena tadi aku membentaknya, dia mau membunuhku!
Ketakutan membuat Violet berlari semakin cepat. Namun, belum jauh ia berlari, Carlise sudah berhasil meraih pinggangnya.
“Lepaskan! Lepaskan aku!”
Entah mengapa, Violet benar-benar marah.
Carlisle mengangkat tubuhnya dengan memeluk pinggangnya. Wajahnya terlihat begitu menakutkan, tetapi Violet terus meronta dan berusaha melepaskan diri.
Ku mohon, aku ingin keluar dari sini.
Kenapa aku tidak bisa melakukan apa pun sesuka hatiku? Bahkan melarikan diri atau sekadar menyendiri pun tidak boleh?
Tempat ini bukan tempatku. Ada yang aneh. Aku sangat takut..
Violet menangis tersedu-sedu.
Di tempat air matanya jatuh, rerumputan kembali tumbuh.
Carlisle menatap wajah Violet yang basah oleh air mata, lalu menghela napas pelan.
“Sepertinya tukang kebun akan cukup kerepotan.”
Violet mendengar gumamannya.
Ia merasa kesal karena saat dirinya menangis di depan mata, Carlisle justru mengkhawatirkan tukang kebun yang bahkan tidak terlihat, tanpa sedikit pun berusaha menghiburnya.
Kalau Ledian, dia tidak akan seperti ini.
Tanpa disadari Violet, sikap Carlisle justru terus melukainya.
“Sudah kubilang, lepaskan aku! Aku paling tidak suka padamu!”
Violet mengatakannya dengan lantang.
Carlisle sempat terdiam, tetapi sesaat kemudian lengannya justru semakin erat melingkari pinggang Violet.
Ketika menyadari Violet mulai kesulitan bernapas, barulah ia mengendurkan tangannya.
“Karena kau sudah memutuskan untuk tetap tinggal di sini, ketahuilah bahwa kau tidak akan bisa pergi.”
“Aku paling benci cara bicaramu yang begitu formal!”
Violet mendengus marah.
Carlisle terdiam selama beberapa detik sebelum akhirnya berkata,
“Kalau begitu, kurasa kita menginginkan hal yang sama. Jadi, mulai sekarang aku akan bicara denganmu tanpa basa-basi. Kau tidak akan pernah bisa meninggalkan tempat ini, dan kau juga tidak akan bisa masuk ke Kuil.”
“Lepaskan aku!”
“Dan aku tidak akan melepaskanmu.”
Mendengar suara Carlise yang dingin, tubuh Violet kembali gemetar ketakutan.
Ia juga merasa sangat tidak nyaman ketika Carlisle membawanya dengan menjepit tubuhnya di bawah lengan.
Memangnya aku ini barang bawaan? Bagaimana bisa seseorang memperlakukan manusia seperti ini?
“Aku sudah cukup melihat tingkah kekanak-kanakanmu, setidaknya demi Ayah, aku harap kau bisa bersikap sesuai dengan kehormatanmu.”
Bagaimana mungkin dulu aku menganggap pria seperti ini sebagai seorang pangeran?
Ah, kalau ada yang melihatku sekarang dari belakang, betapa memalukannya ini. Mereka pasti akan menertawakanku.
Violet menutupi wajahnya dengan kedua tangan karena malu.
Ia benar-benar membenci pria yang sedang menggendongnya.
Apa karena statusku rendah, dia merasa boleh memperlakukanku seperti barang?
Pikiran itu semakin membuatnya marah. Air mata Violet pun terus jatuh tanpa henti.