Dia adalah monster yang dibuang dunia. Tapi matanya menyimpan rahasia yang membuat Langit gemetar.
Liu Xuanyuan — yatim piatu, dijuluki "Monster Bermata Ganda", hidup diabaikan di gerbang Sekte Awan Langit. Tidak ada yang tahu bahwa Pupil Ganda di matanya bukan kutukan, melainkan jendela ke segala kemungkinan yang takdir sembunyikan. Hingga sebuah cincin kuno jatuh ke tangannya, dan kebenaran tentang orang tuanya, tentang langit, dan tentang dirinya mulai terungkap satu per satu.
Dia tidak lahir untuk dipimpin. Dia lahir untuk memburu takdir yang ditulis orang lain.
Perjalanan dari penjaga gerbang yang tidak diinginkan... hingga menjadi satu-satunya yang berani menatap Langit Abadi dan berkata: "Aku tidak menerima takdirmu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RENDY Marcelius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERTEMUAN DI PUNGGUNG PEGUNUNGAN
Jalan tanah menanjak tajam, berkelok di antara tebing batu yang terjal. Angin pegunungan bertiup kencang, menerbangkan debu dan daun kering ke wajah mereka. Xuanyuan berjalan di depan, satu tangan menekan luka di rusuknya yang belum benar-benar kering. Langkahnya masih berat, tapi tidak lagi ragu. Di belakangnya, Lian Yue berjalan tenang, matanya sesekali menengok ke belakang, memastikan tidak ada yang mengikuti.
"Kita sudah berjalan seharian," katanya pelan, suaranya tertiup angin. "Matahari akan terbenam. Di atas sana ada gua yang aku lihat dari kejauhan tadi. Kita istirahat di sana."
Xuanyuan mengangguk. Mereka mendaki menuju celah batu gelap yang tersembunyi di balik semak berduri. Di dalamnya kering dan sejuk, lantai batu datar cukup untuk berbaring. Xuanyuan duduk di mulut gua, menatap ke bawah ke arah Kota Awan Merah yang kini tampak seperti hamparan atap kecil berasap di lembah.
Ia mengeluarkan cincin perak tua dari dalam jubah. Cincin itu terasa dingin di telapak tangannya, dan saat cahaya matahari terbenam menyentuh permukaannya, bayangan samar terbentuk di udara di depannya sosok pria tua berjubah panjang, wajahnya penuh kerutan tapi matanya tajam seperti elang yang belum pernah menutup mata.
Kau memanggilku, anak kecil? tanya Lang Wuyan, suaranya bergema di dalam pikiran Xuanyuan tanpa mulut bergerak.
"Aku ingin tahu lebih banyak. Tentang siapa aku. Tentang apa yang tersegel di dalam diriku. Tentang... mengapa semua orang seakan takut padaku bahkan sebelum aku melakukan apa-apa."
Lang Wuyan diam sejenak, menatap langit yang berubah warna menjadi ungu gelap.
Dunia ini terbagi menjadi mereka yang mengabdi pada Langit, dan mereka yang diburu olehnya. Orang tuamu bukan penjahat. Mereka adalah penjaga gerbang yang tidak pernah diakui. Mereka menyadari satu kebenaran yang berusaha dikubur Tian Jue bahwa Langit Abadi bukan surga. Itu adalah penjara. Dan kau, Xuanyuan... kau adalah kunci yang bisa membuka pintu itu. Itulah sebabnya mereka menyegelmu. Bukan untuk menahan kekuatanmu. Tapi untuk menyembunyikanmu dari mereka yang ingin menghancurkanmu sebelum kau dewasa.
"Kenapa mereka tidak membawaku pergi? Kenapa meninggalkanku di gerbang sekte yang paling rendah?"
Karena di tempat paling rendah, di tempat yang tidak ada yang peduli, di situlah kau paling aman. Tidak ada yang mencari rahasia di bawah sepatu mereka.
Xuanyuan menunduk, menggenggam cincin itu erat-erat. "Jadi aku adalah beban sejak lahir. Ancaman yang harus disembunyikan."
Kau adalah harapan. Tapi harapan selalu terlihat seperti kutukan bagi mereka yang tidak berani memegangnya.
Angin di mulut gua tiba-tiba berubah. Bau besi dan darah tercium samar. Pupil Gandanya berdenyut, dan ia menegakkan badan. "Ada yang datang. Bukan satu. Banyak."
Lian Yue bangkit seketika, tangannya mencengkeram belati di pinggang. "Pengejar?"
"Dan bukan yang biasa."
Langkah kaki terdengar di jalan setapak di bawah gua. Lima sosok muncul di cahaya senja — jubah abu-abu dengan bordir pedang perak di dada. Mereka berjalan dengan langkah yang sama, serasi, seakan satu kesadaran dalam lima tubuh. Pemimpin mereka, pria berwajah pucat dengan bekas luka melintasi pipi, berhenti mendongak ke arah gua.
Liu Xuanyuan. Turun. Kami tidak ingin memaksa. Tapi jika kau menolak, kami akan membakar bukit ini sampai ke akar-akarnya.
Xuanyuan berdiri, berjalan keluar ke mulut gua. Ia tidak membawa senjata selain pedang tulang hitam yang patah di pinggangnya. "Siapa kalian? Bukan prajurit Kerajaan Langit Timur. Dan bukan pemburu bayangan."
Pria itu tersenyum tipis, senyum yang tidak sampai ke mata.
Kami adalah Pengawal Pedang Sekte Awan Tajam. Namaku Xiao Kun. Dan kau... adalah sepupuku yang tidak pernah aku kenal.
Xuanyuan tertegun. Kata itu menggantung di udara, berat dan asing. "Sepupu? Aku tidak punya keluarga."
Itulah yang mereka katakan padamu. Itulah yang mereka katakan pada kami juga. Sampai tanda lahirmu terlihat. Sampai jejak darahmu terdeteksi di Benua Tengah. Xiao Kun melangkah maju, tangannya terbuka seakan tidak bermusuhan. Klan kita hancur saat kau masih bayi. Orang tuamu menyelamatkanmu. Sisanya... dibuang, diasingkan, dijadikan pelayan, atau dilatih menjadi anjing penjaga seperti kami. Aku dibesarkan di sekte ini, diberi makan dengan hinaan setiap hari, diberi tahu bahwa aku ada hanya untuk melayani mereka yang lebih kuat. Dan sekarang... kau muncul. Anak yang disembunyikan. Anak yang dilindungi. Sementara kami menanggung semua penderitaan atas nama darah yang sama.
Suara Xiao Kun meninggi, penuh amarah yang tertahan lama.
Aku membencimu, Liu Xuanyuan. Setiap hari aku berlatih sampai tulangku retak, sampai darahku mendidih, sementara kau tumbuh di tempat nyaman, tidak tahu apa-apa. Dan sekarang mereka menyuruhku menangkapmu. Membawamu hidup-hidup ke hadapan para tetua. Kau tahu kenapa? Karena darahmu... adalah yang paling murni. Mereka tidak ingin membunuhmu. Mereka ingin memanenmu.
Xuanyuan menatapnya, tidak marah, tapi sedih. "Kau membenciku karena aku tidak menderita seperti kau? Padahal aku tidak tahu tentangmu. Aku tidak tahu tentang siapa pun."
Karena kau hidup sementara yang lain mati! Xiao Kun meledak, Qi-nya melonjak tajam, angin kencang berputar di sekelilingnya. Tubuhnya memancarkan cahaya merah yang semakin terang. Ini Tubuh Tirani. Semakin aku terluka, semakin aku marah, semakin kuat aku. Dan aku sudah menahan amarah ini selama dua puluh tahun. Hari ini... aku ingin melihat seberapa kuat anak yang disembunyikan itu.
Ia melompat ke atas mulut gua, tanah berderit saat kakinya mendarat. Empat pengikutnya tetap di bawah, membentuk formasi, memastikan tidak ada pelarian.
Xuanyuan mencabut pedang patahnya. Ia tahu peluangnya kecil luka di tubuhnya belum sembuh, Qi-nya masih dibatasi segel pertama, dan lawan di depannya memiliki kekuatan yang jauh lebih besar. Tapi ia tidak mundur.
"Aku tidak datang untuk mengambil apa-apa darimu, Xiao Kun. Dan aku tidak meminta dilindungi. Tapi jika kau menghalangi jalanku... aku tidak akan menahan diri."
Baiklah. Buktikan bahwa darahmu layak diburu!
Xiao Kun melesat maju, kepalan tangannya menyapu udara dengan kekuatan yang membelah angin. Xuanyuan menangkis dengan gagang pedang, benturan itu mengirimkan getaran hingga ke bahunya, membuatnya mundur tiga langkah, napasnya tersengal. Pedang patah di tangannya bergetar hebat, retakan baru muncul di permukaannya.
Lian Yue ingin maju membantu, tapi dua pengawal di bawah melepaskan serangan jarak jauh panah cahaya yang menancap di batu di dekatnya, memaksanya tetap bertahan di dalam gua.
Xuanyuan sendirian.
Xiao Kun menyerang lagi, lebih cepat, lebih keras. Setiap pukulan meninggalkan jejak di batu. Xuanyuan tidak bisa mengalahkannya dengan kekuatan kasar. Ia tahu itu. Tapi Pupil Gandanya terbuka lebar di balik kain yang sedikit terlepas. Ia tidak melihat pukulan ia melihat celah. Di antara gerakan lengan, di antara langkah kaki, di antara aliran Qi yang bergejolak tidak seimbang.
"Kau kuat," desis Xuanyuan sambil menghindari pukulan yang menghancurkan dinding batu di sampingnya. "Tapi kau tidak pernah diajari cara mengendalikan kekuatan ini. Kau hanya diajari cara melepaskannya."
Diam! Apa yang kau tahu tentang penderitaanku!
Pukulan berikutnya menghantam bahu Xuanyuan, melemparnya ke dinding gua. Darah memuncrat dari mulutnya. Xiao Kun berdiri di atasnya, tinju terangkat, bergetar dengan energi yang siap meledak. Matanya menyala merah, tapi di kedalaman api itu... ada keraguan. Ada kesepian yang tak terucap.
Xuanyuan menatapnya lurus, tepat ke mata yang penuh amarah itu.
"Aku tidak datang untuk menjadi tuanmu, Xiao Kun. Aku datang untuk mencari tahu siapa yang membakar rumah kita. Siapa yang memisahkan kita. Dan jika kau ingin membunuhku... lakukanlah. Tapi setelah itu, siapa yang akan menemani kau memburu mereka yang menjadikan kita anak yatim?"
Tangan Xiao Kun berhenti. Tinjunya gemetar di udara. Amarah di matanya bergetar, retak, dan di baliknya muncul kebingungan yang dalam.
Kau... kau bukan seperti yang aku bayangkan, bisiknya, suaranya pecah. Aku membayangkanmu sombong. Lembut. Tidak tahu penderitaan. Tapi kau... kau terlihat lebih hancur dariku.
"Kita adalah dua sisi dari luka yang sama, sepupu. Aku tidak lebih baik darimu. Kau tidak lebih buruk dariku. Mereka hanya menempatkan kita di tempat yang berbeda agar kita saling membunuh."
Xiao Kun menurunkan tangannya perlahan. Cahaya merah di tubuhnya meredup, meski matanya masih waspada. Ia menatap Xuanyuan lama, lalu berbalik memunggungi.
Aku tidak akan membawamu kepada mereka. Tapi aku juga belum mempercayaimu. Aku akan mengawasimu. Dan jika aku melihat kau menjadi seperti mereka yang menghancurkan klan kita... aku sendiri yang akan mengakhiri hidupmu.
Ia melompat turun ke bawah, memberi isyarat pada empat pengikutnya untuk mundur.
Kita pergi. Laporkan kepada tetua bahwa targetnya kabur ke pegunungan dalam. Jangan ikuti.
Saat sosok mereka menghilang di jalan setapak, Xuanyuan merosot ke tanah, napasnya terengah-engah, rasa sakit di seluruh tubuhnya kembali menyerang. Lian Yue berlari keluar, berlutut di sampingnya, memegang wajahnya yang berdarah.
"Kau gila? Dia hampir membunuhmu!"
Xuanyuan tersenyum tipis, menyeka darah dari bibirnya.
"Tidak. Dia hampir menemukan keluarganya."
Di kejauhan, di antara puncak gunung yang tertutup kabut, sebuah menara putih yang tersembunyi di awan bergetar pelan. Di dalamnya, seorang tetua dengan wajah keriput menatap bola kristal yang kini menampilkan bayangan dua sosok di mulut gua.
Pertemuan terjadi. Benih perselisihan mulai tumbuh. Tapi bukan seperti yang direncanakan. Xiao Kun... kau memilih jalan yang berbahaya. Biarkan saja. Semakin dalam mereka melangkah, semakin banyak rahasia yang terungkap. Dan semakin banyak yang terungkap... semakin mudah bagi Langit untuk menghapus mereka.